
“Nasehati? Nasehati apa? Kapan kau pernah menasehati aku, lagian selama ini kau terlihat tenang-tenang saja, kenapa hari ini berubah?”
“Kau keterlaluan Nur,” ujar Randi pergi meninggalkan Nurul sendirian.
Setelah kepergian Randi, Nurul tak merasa marah dan tersinggung, dia hanya menarik nafas dengan tenang, agar emosinya juga tak ikut meluap seperti Randi suaminya.
Keesokan harinya ketika Nurul hendak pergi bekerja, dia mencoba untuk menghampiri suaminya dan membangunkannya untuk bekerja.
“Kau saja yang bekerja, aku biar dirumah saja,” jawab Randi dengan sura kesal.
“Kau kesal pada ku, Bang?” tanya Nurul ingin tau.
“Buat apa kesal kepada seorang direktur seperti dirimu.”
“Maksud mu apa?”
“Pergilah bekerja, aku biar dirumah saja.”
Mendengar jawaban yang sama dari suaminya, Nurul mencoba untuk menanggapi perkataan suaminya dengan bijak. Untuk itu dia pun tak jadi berangkat kerja pagi itu.
Akan tetapi, selama mereka berdua di rumah, keduanya saling diam, tak ada yang buka mulut saat itu, Nurul yang merasa suaminya masih kesal, dia pun mencari kesibukan, dengan mengerjakan tugas perusahaan di rumah.
Walau demikian, Randi tetap tak memandangnya sama sekali, dia bahkan tak keluar dari kamarnya pagi itu.
Nurul mencoba membujuk suaminya dengan memasak makanan kesukaan Randi dan menghidangkan tepat dihadapannya.
“Kita makan yuk, Bang,” ajak Nurul dengan sikap manis.
Sekali bicara, sepertinya Randi diam saja, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Untuk itu, Nurul mengulanginya sekali lagi.
“Ayolah sayang, nanti keburu dingin lhoh!” ujar Nurul sembari menyentuh punggung Randi yang mencoba untuk membelakanginya.
Karena merasa Nurul telah memaksanya untuk makan, Randi langsung marah dan membanting nasi di piring itu kelantai, hingga piringnya pun pecah berantakan.
Nurul masih menyikapinya dengan tenang dan sabar, walau hatinya di dalam mulai begejolak menunjukan rasa amarah yang meluap-luap, namun dia tetap menahannya.
“Ya udah, kalau kau nggak mau makan, mestinya tadi kau bilangin, jangan main banting begini,” jawab Nurul sembari keluar kamar tanpa menyentuh piring yang pecah itu.
Melihat Nurul pergi tanpa membersihkan piring yang pecah, hati Randi semakin kesal, ingin rasanya dia memaki Nurul yang telah mengabaikan dirinya.
__ADS_1
Sedangkan Nurul saat itu kembali melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja, tanpa memperdulikan Randi yang sedang di sulut amarah membara.
Mesti bekerja, tapi hati Nurul tak tenang sama sekali, sehingga tugas yang sedang dikerjakannya selalu salah.
Malam hari saat suasana mulai hening, Nurul mencoba masuk kedalam kamar secara perlahan, namun saat itu dia melihat Randi masih saja tidur.
“Ada apa dengan suamiku ini, apakah dia nggak lapar apa?” tanya Nurul pada dirinya sendiri.
Setelah di pastikannya suaminya masih tidur, Nurul pun kembali menutup pintu itu dengan pelan, lalu dia tidur diruang tamu sendirian malam itu.
Di saat malam semakin larut, Randi merasakan kalau perutnya begitu lapar, akan tetapi dia berusaha untuk menahannya, karena Randi tak mau kalau Nurul melihatnya mencari makanan ke dapur.
Hati Randi sebenarnya sedih melihat Nurul di perlakukan seperti itu, akan tetapi Randi tak ingin Nurul bekerja yang jabatannya lebih tinggi dari dirinya, rasa iri itulah yang membuatnya menderita.
Keesokan harinya, kesabaran Nurul telah habis, tanpa berbasa basi lagi, pagi itu dia langsung pergi bekerja seperti biasa.
Sementara itu, Randi masih tetap berkurung di dalam kamarnya, karena merasa Nurul telah pergi meninggalkan dirinya, Randi bangkit dari tempat tidur dan langsung turun dari ranjang yang terbuat dari besi itu.
Akan tetapi, Randi lupa kalau di depan ranjangnya ada piring pecah yang di bantingnya sendiri, pecahan piring itupun terpijak olehnya yang mengakibatkan kaki Randi terbelah dan mengeluarkan darah.
Emosinya langsung meluap-luap saat itu, pecahan kaca yang masih menempel di kakinya di coba Randi untuk mencabutnya secara perlahan, namun darahnya masih tetap mengalir dan berserakan dikamar itu.
Siang itu di saat jam istirahat, Nurul mencoba untuk pulang kerumahnya, rasa herannya tiba-tiba muncul ketika melihat darah berceceran di mana-mana, akan tetapi Nurul yakin pasti Randi menginjak pecahan kaca dari piring yang dia banting sendiri di kamarnya.
Saat Nurul membuka pintu kamarnya, dia melihat Randi sedang duduk bersender ke kepala ranjang, seraya sesekali mengernyitkan dahinya.
“Akhirnya senjata memakan tuannya sendiri,” kata Nurul seraya kembali menutup pintu kamarnya.
Melihat Nurul bersikap dingin padanya, Randi langsung emosi, dia membanting, barang yang berada di kamar itu, dengan kesal pula Randi memukul dinding Dengan tangannya.
Nurul diam saja di luar, dia telah membaca sikap suaminya yang sedang marah pada dirinya, untuk tidak memperpanjang masalah Nurul langsung kembali ke perusahaan.
Karena merasa hening sekali, Randi melihat keluar, ternyata Nurul sudah pergi meninggalkan dirinya, dengan linangan air mata Randi mencoba untuk menarik nafas panjang.
Tak ingin menanggung beban sendiri, Randi langsung mengambil kunci mobil dan pergi keluar untuk mencari suasana nyaman.
Di tengah perjalanan Randi berubah pikiran, dia membelokan setir mobilnya menuju rumah kedua orang tua Nurul yang berada di Kawasan kumuh.
Mendengar suara deru mobil di halaman rumah, Fatma langsung berlari keluar, tapi alangkah sedihnya hati Fatma karena yang datang saat itu hanya Randi seorang.
“Mana Nurul nak?” tanya Fatma ingin tau.
__ADS_1
“Nggak tau!” jawab Randi kesal.
Mendengar suara Randi yang bernada kesal itu, Fatma langsung mengejarnya dan menahan tubuh Randi untuk berhenti sejenak.
“Ada apa sih, Bu?” tanya Randi seakan menunjukan rasa tak Sukanya pada Fatma yang menariknya dari belakang.
“Ada apa dengan mu Randi? Kenapa kau kelihatan begitu kesal pada Ibu?”
“Aku kesal pada putri mu, karena kalian nggak pernah mengajarkan sopan santun padanya, kalian tak pernah mengajarkannya bagai mana cara menghormati suami!” ujar Randi dengan nada penuh amarah.
Mendengar gelagat Randi yang begitu kasar, Fatma membaca, kalau saat itu telah terjadi perang antara putrinya dengan Randi.
Setelah mengetahuinya, Fatma langsung tersenyum senang, karena Nurul yang selama ini pendiam, ternyata bisa membuat Randi kesal dan marah.
Karena sudah mengetahui apa yang terjadi antara Nurul dan Randi, lalu Fatma membiarkan Randi masuk kedalam kamar Nurul.
Dengan diantar oleh Ahong, Fatma langsung menuju rumah Nurul yang berdiri dekat dengan perusahaan yang di pimpinnya.
Karena Nurul tak berada dirumah, Fatma langsung menuju kantor, di mana Nurul sedang bekerja saat itu.
Setiba di kantor, Fatma tampak sedikit bingung, kemana harus bertanya, ruangan Nurul. Lalu seorang karyawan datang menghampiri Fatma.
“Ada yang bisa saya bantu Bu?”
“Saya mau ketemu Nurul,” jawab Fatma sedikit tenang.
“Nurul? Nurul siapa?”
“Itu, Nurul yang menjadi direktur perusahaan ini.”
“Emangnya Ibu siapa?” tanya karyawan itu.
“Saya Ibunya,” jawab Fatma, seraya menarik nafas panjang.
“Ibu, benar anda Ibu dari Bu Nurul?”
“Iya, kenapa emangnya?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1