
“Papa jangan tidur dulu dong ! ayo kita makan, nanti Papa bisa sakit kalau nggak makan.”
“Kalau Mama mau makan, makanlah sendiri, Papa udah kenyang.”
“Tapi kata Bi Inah, sedari tadi siang Papa belum makan sama sekali.”
“Papa akan makan, kalau Mama mau merestui pernikahan putri kita satu-satunya, jangan ganggu dia dengan apa saja yang menurut Mama baik.”
“Nggak bisa gitu dong !”
“Terserah Mama !” jawab Margono sembari kembali tidur.
Malam itu, Margono mencoba menahan rasa laparnya, dia lebih baik kelaparan dari pada harus menjauh dari putri tercintanya.
Setelah perdebatan itu, terhenti, Margono dan Resti sama-sama tertidur dengan ranjang yang terpisah. Margono meneteskan air matanya, karena istri yang tercinta telah jauh melangkah dari dirinya.
Sedangkan Resti, di tak mau perduli dengan kemarahan suaminya, dalam fikirannya dia tetap menyusun rencana yang akan dia kerjakan untuk esok harinya.
Pagi itu sebelum Margono suaminya bangun, Resti telah pergi terlebih dahulu, dia sibuk mencari orang untuk di suruh memotret wajah Alhuda.
Setelah berulang kali melakukan negosiasi, akhirnya Resti mendapatkan seorang pria untuk memotret wajah Alhuda.
“Aku mau saja melakukan apa yang Ibu suruhkan. Tapi, aku ingin tau terlebih dahulu apa tujuan Ibu memotret wajah Alhuda untuk Ibu.”
“Kenapa kau ingin tau, apa yang akan saya lakukan pada foto Alhuda ?”
“Apa Ibu tau, untuk mengambil foto seorang yang terpandang itu sangat sulit sekali.”
“Siapa yang terpandang, ngaco kamu ! udah jelas dia itu anak seorang pemulung, apakah menurutmu dia itu terpandang apa !”
“Terserah Ibu, saya kan Cuma bilang kalau Ibu mau ! kalau nggak ya nggak apa !”
“Eee ! tunggu ! baiklah, saya punya niat untuk memisahkan mereka berdua, karena anak pemulung itu telah merebut Ranita dari keluarga kami.”
“Apakah Ibu kenal dengan wajah Pria yang telah menikahi putri Ibu itu ?”
“Nggak, tapi kalau saya melihatnya, saya pasti mengenal dia.”
“Baiklah, berapa Ibu sanggup membayarnya.”
“Tiga juta, untuk satu kali pemotretan.”
“Baik, uangnya kes ya, Bu.”
“Nggak bisa dong, saya akan bayar anda separoh nya, nanti sisanya menyusul setelah rencana selesai.”
“Baikalah, Ibu bayar saja saya dua juta dulu, dua hari lagi Ibu jemput foto Alhuda kesini.”
“Jangan lama dong ! saya butuh fotonya cepat !”
“Kalau Ibu butuh cepat, saya minta dua kali lipat yang telah Ibu tetapkan.”
“Haah ! semuanya selalu meminta uang lebih.” Gerutu Resti.
__ADS_1
“Gimana ? apakah Ibu setuju ?”
“Ya udah, saya setuju aja deh !” jawab Resti seraya menyerahkan uang enam juta ketangan pria yang dibayarnya itu.
Setelah kesepakatan selesai, Resti pun pergi meninggalkan pria itu, dia kembali kekantor tempat dia bertugas.
Di saat wajah Resti nongol dari balik pintu semua orang mulai mencibir padanya.
“Katanya Bu Resti orang kaya, kok putrinya menikah dengan anak seorang pemulung. Apa nggak malu ?” ucap Sila seraya melirik kearah Resti.
“Itu makanya Sil, kalau ngomong jangan sombong.” Timpal hazel sembari mencolek pinggang Sila.
Resti yang mendengar semua orang mengejek dan menyindir dirinya, hatinya merasa terbakar saat itu, tanpa menggubris ucapan teman-temannya, Resti pun berlari menuju ruangannya.
“Kurang ajar ! berani sekali mereka mengejek dan menyindir ku.” Gerutu Resti kesal.
Sementara itu pria yang dia suruh untuk memotret wajah Alhuda, ternyata dia adalah Andika, putra bungsu Mang Ojo, adik kandung dari Alhuda sendiri.
“Andika yang berfropesi sebagai pelukis jalanan, tak merasa kesulitan untuk menggambar wajah Alhuda, agar terlihat tidak begitu jelas, Dika menambahkan variasi bunga di dekat wajah Alhuda.
Setelah sore itu, bertemu, Andika langsung memberikan Foto itu pada Resti, dan diapun pergi meninggalkan tempat itu.
Tanpa memeriksanya terlebih dahulu, Resti langsung saja mengambil dan ikut pergi meninggalkan tempat itu.
Tanpa berlama-lama, Resti langsung saja menuju rumah dukun yang dimaksud.
“Ini foto mereka berdua.” Kata Resti seraya menyodorkan foto Ranita dan Alhuda.
“Masalah itu, tergantung dengan berapa lama uangnya masuk ke rekening ku.”
“Gimana ? udah dipikirkan ?” tanya dukun itu mendesak.
“Baik, nanti akan ku transfer ke rekening Bapak.”
“Terimakasih.” Kata dukun tersenyum ramah.
Setelah kesepakatan dilakukan dengan pak Kardi si dukun tua itu, Resti mohon pamit untuk kembali pulang.
Dirumah Margono telah menunggu seraya menikmati segelas kopi hangat. Dia mencoba mencari kesibukan dengan membaca koran.
Tapi lembar demi lembar hanya dibolak balik saja, menandakan kalau Margono sedang tidak bersungguh-sungguh membaca koran.
Matanya yang melotot kearah koran, kini berpindah ke gaun biru bermotifkan bunga Kamboja.
“Dari mana saja Kau, Ma ?”
“Buat apa Papa nanya ?”
“Apa maksud mu ?”
“Bukankah kita sudah memikirkan untung kita masing-masing, lalu buat apa memikirkan Mama !” jawab Resti dengan wajah jutek.
“Aku jadi semakin nggak mengerti maksudmu ?” kata Margono heran.
__ADS_1
“Terserah !” jawab Resti seraya berlalu meninggalkan suaminya.
Melihat istrinya seperti itu Margono hanya bisa geleng kepala. Sembari menarik nafas Panjang.
“Dasar keras kepala ! dikasih tau yang baik nggak mau degarin. Apakah dia pergi kedukun itu, ya ? ah semoga saja nggak !” kata Margono menduga-duga.
Tapi itulah kenyataannya, Resti memang kembali dari rumah dukun yang terkenal itu, tanpa sepengetahuan suaminya.
Sementara itu dirumah sakit, Retno telah sadar dari sakitnya. Tapi tubuhnya masih terasa lemah, secara perlahan Retno juga sudah bisa bicara, pertama kali kata yang terucap dari bibirnya adalah Niko, putra kesayangannya.
“Mana Niko ? Niko ! Mana putra Mama Niko ! antar kan Mama ke Niko ?”
“Ibu memanggil Niko ?”
“Iya, tolong panggil Niko, sus !”
“Baik, saya akan panggilkan Niko untuk Ibu.” Kata suster itu seraya keluar dari ruang rawat.
“Di saat Retno memanggil-manggil nama Niko, sementara itu diluar sana Hermawan dan putrinya sibuk hilir mudik karena gelisah.
“Tenanglah Pa ? jangan membuat aku gelisah.” Kata Safitri pada Papanya.
“Kenapa kalian ikuti Papa ! duduk lah dengan tenang disana !”
“Papa kok malah marahin kami sih !”
“Habis, kalian ganggu konsentrasi Papa saja.”
“Konsentrasi ? konsentrasi apa ?”
“Udah, udah, udah !”
Di saat Hermawan sedang sibuk memikirkan keadaan istrinya, tiba-tiba dari ruang rawat Retno keluar seorang perawat sembari membawa buku ditangannya
“Apa ada disini keluarga Bu Retno ?”
“Saya, sus ! Saya suaminya.” Jelas Hermawan.
“Dan saya putrinya Sus.” Jawab Safitri.
“Nama mu siapa ?”
“Safitri Sus !”
“Niko nya ada ?”
“Niko ? buat apa Niko Sus ?”
“Pasien berulang kali menyebut nama Niko.”
“Papa ! Mama udah sadar Pa.” panggil Safitri kesenangan.
“Benarkah itu fitri ?”
__ADS_1
Bersambung...