
Di saat zaki sedang bekerja, Gita datang dan menghampiri ruang UGD tersebut. Melihat Zaki bekerja sendiri, Gita merasa tak tega, jiwa kemanusiaannya muncul seketika, keinginannya untuk menolong sesama tampak jelas dengan caranya menghampiri Zaki.
“Maafkan saya dok !”
“Nggak apa.” Jawab Zaki pelan.
“Tapi dokter nggak marah kan ?”
“Nggak.” Jawab Zaki seraya terus bekerja membersihkan luka Randi yang mulai mengering.
Karena merasa bersalah, karena tidak patuh pada pimpinannya, Gita langsung mengambil kain pembersih luka Randi dari tangan dr. Zaki.
“Maafkan saya dok, biar saya aja yang membersihkan lukanya ?”
“Kamu nggak takut ?”
“Kan ada dokter nanti yang akan membela saya.”
Mendengar kepolosan Gita, Zaki jadi tersenyum lebar, dengan lembut Zaki memberikan kain kasa itu ketangan Gita.
“Kamu udah lama bekerja disini ?”
“Udah dok.” Jawab Gita dengan suara lembut.
“Udah berapa tahun ?”
“Udah enam tahun dok ?”
“Apakah kamu pernah menangis melihat korban yang nggak disentuh oleh para perawat, pada hal meraka begitu butuh bantuan tangan lembut seorang perawat seperti mu. Mereka juga butuh sentuhan hati yang halus dari seorang perawat seperti dirimu.” Kata Zaki seraya menyentuh dada Gita.
Di saat Zaki menyentuh dadanya, Gita langsung berhenti bekerja, jantungnya terasa hendak lepas dari gagangnya, denyut nadinya terasa berhenti memompa seketika.
“Tangan lembut ini.” Kata Zaki seraya menggenggam tangan Gita. “Serta hati yang halus ini.” Lanjut Zaki seraya kembali memperagakan apa yang telah dilakukan pada Gita sebelumnya. “Jangan sampai ternodai oleh prosedur rumah sakit.”
“Bab, baik dok !” jawab Gita gelagapan.
“Kamu tau ! tugas seorang perawat adalah merawat pasiennya, apapun jenis penyakitnya dan bagai manapun kondisi pasiennya. Setiap pasien yang datang kerumah sakit ini mereka semua sama, butuh pelayanan yang baik dari jemari yang kreatif seperti tangan kalian ini.”
“Baik dok.” Jawab Gita yang saat itu serasa berada diatas pelangi.
Bayangan indah yang ada difikirannya, membuat Gita melayang sejenak, membayangkan betapa indahnya di cintai oleh seorang dokter tampan dan tajir seperti dokter Zaki.
__ADS_1
“Kamu udah menikah ?”
“Belum dok !”
“Kenapa ?”
Gita tidak menjawab, hanya kepalanya yang tertunduk malu saat pertanyaan itu di tujukan pada dirinya. Senyumannya yang manis tampak terkuak di antara hidungnya yang mancung.
Gita yang bertubuh semampai itu sudah lama bekerja menjadi pembantu dokter Zaki, dia selalu ada kapan dan dimanapun Zaki bertugas, karena Zaki memang menginginkan perawat yang cantik yang selalu menemaninya kemana dia akan pergi.
Karena menurut Zaki, memandangi wajah cantik seseorang setiap hari dapat menghilangkan rasa stress yang selalu bergelayut di pundaknya.
“Saya udah tau jawabannya.?” Jawab Zaki meninggalkan Gita sendirian.
Setelah Zaki pergi, tampak Gita menyentuh kembali dadanya yang telah disentuh Zaki sebanyak dua kali itu.
“Oh, Tuhan. Semoga dia dapat menjadi pendamping hidup yang layak untuk ku.” Ujar Gita dalam hatinya sendiri.
Hingga malam menjelang pun, Gita tak bisa memejamkan matanya, tangan Zaki yang halus dan putih bersih telah menyentuh dadanya dan hal itu sulit sekali untuk di lupakan Gita. Dia membolak balik kan tubuhnya kekanan dan kekiri berulang-ulang kali.
Terasa sesak, dada Gita saat itu, matanya yang bening seperti terus berharap setetes embun untuk jiwanya yang haus akan belaian seorang suami.
“Perlu bantuan saya dok ?” tanya Gita dengan suara lembut.
“Nggak usah, udah siap kok !” jawab Zaki sembari meninggalkan Gita sendirian.
Perasaan Gita begitu kacau sekali saat itu, dia seperti salah tingkah setiap bertemu dengan Zaki. Padahal Zaki tak memperlihatkan pada Gita sedikit pun kalau dia mencintai Gita.
Begitu juga saat melakukan operasi pada pasien yang mengalami usus buntu, ketika Zaki meminta diambilkan gunting, Gita malah membersihkan keringat Zaki, padahal saat itu, Zaki tak berkeringat sama sekali.
Nia yang melihat gelagat Gita yang aneh pagi itu, merasa sedikit curiga tapi dia mencoba untuk menahan diri dan terus diam.
“Tolong ambilkan gunting !” perintah Zaki pada Gita, yang saat itu sedang merasa bingung.
“Baik dok !” jawab Gita seraya menyerahkan benang pada Zaki.
Zaki tidak marah, walau sudah dua kali Gita salah dalam melakukan tugasnya, karena Gita tak langsung tanggap, makanya Zaki mengambilnya sendiri.
Setelah hal itu terjadi, Gita merasa malu, setelah operasi selesai di laksanakan Gita langsung berlari menuju toilet rumah sakit.
Diruangan itu Gita menangis histeris, dia begitu merasa bersalah sekali pagi itu.
__ADS_1
Di saat Zaki melihat Gita berlari keluar, Zaki sudah merasa, kalau Gita merasa bersalah dengan kelalaiannya di pagi itu, tapi Zaki tidak langsung menegurnya, hanya Zaki datang kekamarnya dan memberikan sapu tangan pada Gita yang sedang menangis.
“Setelah selesai menangis, nanti datang keruangan saya !” perintah Zaki pada Gita.
Dengan rasa takut, Gita langsung berlari memohon pada Zaki, agar dia tak dipecat dari pekerjaannya.
“Tolong saya dok, saya mohon, saya jangan dipecat ! saya sangat butuh pekerjaan ini, karena saya masih punya kedua orang tua yang harus saya biayai hidupnya.” Jelas Gita pada dr. Zaki.
Melihat Gita berlutut di hadapannya, Zaki langsung mengangkat tubuh Gita dan memeluk gadis itu dengan lembutnya.
Merasa di peluk oleh orang yang selama ini menjadi incarannya, Gita merasa begitu heran sekali, tapi dia diam saja saat berada dalam pelukan Zaki, Gita tampak begitu menikmati aroma tubuh Zaki yang wangi.
“Nggak ada yang akan memecat mu !” jawab Zaki sedikit kaku.
“Benarkah dok ?”
“Iya.” Jawab Zaki sembari menganggukkan kepalanya. “Lain kali kalau bertugas harus berhati-hati, karena bisa fatal akibatnya kalau seorang dokter dan perawat bekerja dalam keadaan ragu dan nggak konsentrasi penuh.”
“Iya, dok.” Jawab Gita senang.
“Kamu udah sarapan ?” tanya dr. Zaki pada Gita pagi itu.
“Belum dok.” Jawab Gita dengan jujur.
“Ayo ! ikut saya ke kantin !”
“Baik dok.”
Dengan senang hati, Gita langsung mengikuti Zaki ke kantin rumah sakit, untuk sarapan pagi.
Di saat itu, Zaki terus menerus mencuri pandang kearah Gita yang sedang asik menikmati nasi goreng pesanannya.
“Nanti siang kamu punya waktu ?” tanya Zaki pada Gita.
“Nggak dok !” jawab Gita tampa memikirkan terlebih dahulu, apa yang akan di katakan Zaki pada dirinya. Karena saat itu Gita merasa kalau Zaki akan mengajaknya pergi bermain bersama dengannya.
“Kalau kamu punya waktu, tolong kamu pantau terus perkembangan anak yang kecelakaan semalam, kalau terjadi sesuatu, cepat kalian laporkan.”
“Baik dok !” jawab Gita pelan.
Bersambung...
__ADS_1