Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 14 ketiban rezeki


__ADS_3

“Waaah, Ibu baik sekali, jarang loh ada orang sebaik Ibu.” Ujar Handoko.


“Ibu juga punya seorang anak sebaya dengan kamu, sekarang dia sedang kuliah. Di dalam hati Ibu, hendaknya putra Ibu akan mendapatkan perlakuan baik dari setiap orang.” Kata Fatma terbawa suasana. “Ya udah, silakan kalian makan.”


“Baik Bu !” Jawab mereka serentak.


Para wartawan dan wartawati itupun menyantap hidangan yang sudah disuguhkan Fatma pada mereka. Setelah selesai makan Nita dan Laila membersihkan tempat para wartawan itu duduk.


“Nah sekarang perut kalian sudah kenyang kan, kalian boleh bertanya apa saja, Ibu akan menjawabnya.”


Kemudian para wartawan itupun mulai mengajukan pertanyaan yang bersifat umum dan Fatma pun menjawabnya dengan senyuman lembut.


Dua hari kemudian saat Fatma berbelanja di pasar, tanpa disengaja dia melihat wajahnya ada terpampang di halaman depan sebuah surat kabar.


“Subhanallah !” Ucap Fatma pelan. “Mang saya mau beli koran Mamang.”


“O, Bu Fatma ya ?” Tanya penjual koran itu.


“Iya saya sendiri Mang.” Jawab Fatma.


“Waah, Bu fatma sekarang sudah menjadi orang hebat ya ?”


“Nggak Mang, aku masih Fatma yang dulu.” Jawab Fatma dengan suara lembut.


“Buktinya ! Wajah Ibu ada dimana-mana, di majalah, di koran, dan bahkan dijadikan orang sebagai sumber cerita.”


“Itu mereka yang menjadikan aku seperti itu, Mang ! Selagi tidak merugikan keluargaku itukan wajar-wajar saja.”


“Ibu memang mempunyai hati yang mulia, ya !”


“Kemuliaan itu hanya milik Allah, Mang ! Kita hanya diberi sedikit amanah agar kita dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.”


“Iya, Ibu benar.” Jawab Mang Parto sang penjual koran sembari membenahi topinya.


“Ya udah ! Berapa harganya Mang ?”


“Ambil saja Bu, nggak usah bayar.”


“Nanti Mamang rugi lho !”


“Kan cuma satu, kalau banyak rugi besar saya.”

__ADS_1


“Kalau begitu terimakasih ya, Mang.”


“Ya Bu sama-sama !”


Setelah melihat koran itu, Fatma kemudian menyelipkannya didalam keranjang. Dan dia pun melanjutkan belanjaannya, setelah selesai Fatma pun buru-buru pulang ke rumah dengan menggunakan becak.


Diperjalanan hendak menuju rumah, Fatma melihat banyak orang PU, mendatangi lokasi kawasan kumuh mungkin ada sekitar lima belas orang. Dari kejauhan Fatma memandangi gerak-gerik orang itu.


Ternyata mereka sedang mengukur daerah Kawasan kumuh dari segala sudut. Dalam hati Fatma berkata. “Apa Kawasan kumuh ini akan dijadikan rumah susun berstandar, seperti yang dijanjikan presiden ?” Sambil melangkah pelan Fatma terus saja melirik para pekerja itu.


“Heh, Ada apa Bu Fatma ?” Tanya Bu Anita heran.


“Lihat deh Nit, sepertinya tempat kita ini akan disulap menjadi kawasan rumah susun.”


“Waaah, bagus itu.” Jawab Bu Nita.


“Yang saya takutkan, dibalik semua ini ada campur tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab, sehingga merusak semuanya.” Kata Fatma.


“iya, benar itu Bu.” Jawab Bu Nita.


Tidak beberapa lama kemudian, para pekerja itu pun keluar dan melewati warung Fatma. Salah seorang diantara mereka mengajak yang lainnya mampir, maka merekapun mampir di warung nasi Fatma, sambil beristirahat.


“Ngomong – ngomong ada hal apa ya Pak, datang ke Kawasan kumuh ?”


“Ooo, kami berencana akan membangun Kawasan ini menjadi sebuah perumahan susun yang berstandar. Seperti yang di harapkan Bapak waktu itu, pada Presiden”


“Apa ini adalah rancangan dari Bapak Presiden ?” Tanya Fatma lagi.


“Hm, benar sekali Bu, tapi kami pekerja disini atas perintah atasan kami."


“Ooo, Gitu ya pak.”


“Iya Bu.” Jawab para pekerja itu.


“Silahkan di nikmati hidangannya !” kata Fatma, setelah informasi yang dia inginkan telah di dapatnya.


“Ya, sama–sama Bu.”


Semenjak hari itu, banyak sekali bahan dasar bangunan yang diangkut ke daerah Kawasan Kumuh . Rumah Mang Ojo yang terletak di Jalan Utama, mendapat sorotan dari berbagai wartawan, dan mulai hari itu pula warung Fatma ketiban rezeki.


Porsi makanan yang biasanya hanya sedikit, bisa dikatakan hanya hitungan kilo, saat itu menjadi lima kali lipat.

__ADS_1


Pada kesempatan itu pula, Fatma menarik beberapa orang para pekerja lagi, menjadi lima belas orang.


Sementara rumah makan yang di kelola Mang Ojo, sedikit diperbesar. Fatma orangnya tidak pelit, selain dari gaji karyawannya dijatah setiap hari, Fatma juga selalu membagi mereka satu bungkus makanan perorang nya.


Begitu juga dengan ibu-ibu lainnya yang masih menjadi pemulung, Fatma juga mengirimi mereka nasi bungkus.


Warung Fatma yang sedang, ternyata tak sanggup menampung para pembeli yang rame, sehingga membuat para pembeli hanya duduk diluar, di atas tumpukan karung kotor.


Tapi bagi mereka itu tak pernah jadi masaalah, yang terpenting mereka dapat menikmati makanan yang lezat dan murah.


Walau warung Fatma terletak di Kawasan kumuh, Fatma tetap menjaga kebersihan warungnya sehingga tak pernah terjadi konflik antara Fatma dengan pelanggannya, masakan Fatma memiliki ciri khas di hati mereka.


Dengan bantuan kelima orang anaknya ditambah pula dengan lima belas orang karyawannya, Mang Ojo memperbesar warung nasi miliknya, hingga dua kali lipat.


Setelah warung itu berdiri kokoh dan megah, Mang Ojo mengadakan syukuran dengan mengundang anak yatim makan bersama di warungnya, dan tak lupa pula dengan para gelandangan dan orang terlantar yang di kenalnya. Hingga menghabiskan puluhan porsi.


Dari pertama buka sampai tutup, warung itu tetap saja rame pengunjung. Kelima anak Mang Ojo dan ditambah para karyawannya, selalu siap tempur. Setiap pesanan tersedia tepat waktu.


Makanan ketering yang dipesan para pekerja selalu siap kapan saja mereka jemput. Sekalipun tak pernah terdengar keluhan dari para konsumennya, semuanya berjalan lancar dan terkendali.


Mang Ojo sebagai kepala keluarga, dia bertugas sebagai kasir, mengatur dan mengendalikan keuangan warung nasinya. Walau diusianya yang semakin tua, dan sering diserang penyakit rematik, Mang Ojo tetap merasa kuat dan sehat.


Kini hari terus berlalu, mengukir bulan menghasilkan tahun, suka dan dukanya hidup dikawasan kumuh terus bergulir siring dengan waktu.


Perumahan kumuh yang sedang dibangun kini telah Nampak tegak kokoh berdiri indah menjulang ke angkasa.


Dihalaman bagian depannya ada taman bunga lengkap dengan permainan anak-anak. Sementara di bagian belakang dibuat kolam renang dan tempat wisata yang sangat indah.


Ada gedung olah raga disebelah kanannya, sementara disebelah kiri terdapat arel parkir.


Setelah rusun itu dibangun, gubernur Jakarta pun meresmikannya. Kini Kawasan kumuh kota Jakarta telah disulap menjadi Kawasan bersih sampah oleh pemerintahan, tak ada lagi barang rongsokan yang terlihat di sana serta karung-karung kotor yang bertumpukan di mana-mana.


Di kesempatan itu Fatma ketiban rezki yang melimpah, ratusan pesananpun di terimanya saat itu.


Untuk tidak mengecewakan pelanggannya Fatma menambah lagi karyawannya menjadi dua puluh orang, dan membuat rumah makan baru dijalan lintas.


Untuk rumah makan yang baru dibangunnya, Fatma mempercayakan Intan sebagai pengelolanya. Tidak tanggung-tanggung rumah makan yang di kelola Intan, memiliki sepuluh karyawan.


Bila dapat pesanan baru, Fatma selalu memerintahkan Intan untuk mempertanggung jawabkan nya. Dan Intan pun menyanggupinya, karena Intan memiliki bakat yang istimewa dalam bidang berbisnis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2