
“Baik Pak,” jawab Niko sembari menarik kursi yang berada tepat di hadapan meja petugas itu.
“Saudara sudah tau, kalau yang menjadi dalangnya adalah Mama saudara sendiri?”
“Sudah, Pak.”
“Saudara tau dari mana, kalau Mama saudara kami tangkap?”
“Adik saya yang melihatnya tadi siang, saat dia terjebak macet ketika hendak pulang kerja.”
“Ya, Bu Retno udah lama kami jadikan target, tapi kami merasa kesulitan untuk menangkapnya, karena orang suruhan dari Mama saudara masih buron hingga saat ini.”
“Jadi, dari mana Bapak tau, kalau yang menjadi dalang dari perampokan itu adalah Mama saya?”
“Papa saudara yang melaporkannya, Pak Hermawan.”
“Ooo,” jawab Niko sembari menganggukkan kepalanya.
“Saudara udah paham sekarang bukan?”
“Kalau memang yang merampok itu Mama kandung saya, dan yang di rampoknya adalah anaknya sendiri, yang didalamnya juga ada hak nya dia, jadi apakah saya bisa membebaskan Mama saya, dengan mencabut laporan saya itu, Pak.”
“Sebenarnya bisa saja, karena Mama saudara belum di ajukan penahannya, tapi saudara harus membayar!”
“Baik Pak, nanti akan saya bayar semua dendanya,” potong Niko sebelum petugas itu selesai bicara.
“Baiklah, saya begitu percaya pada Bapak, karena Bapak juga seorang pengacara yang andal.”
“Terimakasih, jadi saya boleh bawa Mama saya pulang sekarang bukan?”
“Baik, silahkan ikut saya.”
Karen Retno belum di proses, jadi Niko bisa menebus Mamanya secepat mungkin. Di balik jeruji besi itu, tampak Retno duduk sendiri, menunggu orang yang datang untuk menyelamatkannya.
“Niko!” kata Retno sembari menghampiri putranya yang datang untuk dirinya.
Niko tak menjawab, tapi disaat dia menganggukkan kepalanya, petugas itu langsung pergi setelah dia membuka kunci jeruji itu.
“Bebaskan Mama nak, Mama nggak mau di penjara,” ujar Retno seraya berharap pada Niko.
Tak sepatah kata pun yang terucap dari bibir Niko, akan tetapi di raihnya tangan Retno untuk keluar dari balik jeruji besi itu.
Cengkraman tangan Niko yang kuat, seolah-olah tak ingin melepaskan Mamanya itu, membuat Retno ketakutan sendiri.
Dengan langkah yang begitu cepat, Niko terus menggenggam tangan Mamanya itu hingga keluar dari kantor polisi, Intan yang melihat suaminya berjalan kaku, dia pun mengikutinya dari belakang.
Pintu mobil di buka, dan Retno masuk kedalam, walau di hantui rasa bersalah, namun Retno tak mau meminta maaf pada putranya itu.
Di kursi paling belakang, tampak Retno duduk diam sendirian, tak ada yang mesti dia ucapkan saat itu.
Setiba dihalaman rumahnya, Niko membukakan pintu untuk Mamanya dan memegang tangan Retno hingga tiba di dalam.
Tak sepetah kata pun yang di ucapkan Niko saat itu, selain diam dan langsung pergi meninggalkan Retno yang penuh dengan tanda tanya.
Setelah masuk kedalam mobil, Niko kembali melajukan kendaraannya, tanpa berkomentar sedikit pun. Intan yang merasakan sikap aneh suaminya itu, langsung bertanya tentang Mamanya.
“Gimana keadaan Mama, Bang?”
“Alhamdulillah, Mama sehat kok dek.”
__ADS_1
“Tapi, kenapa Abang diam saja, ngomong kek, atau apa gitu sama Mama.”
“Nggak perlu, sayang. Orang seperti Mama itu nggak perlu di ladeni, nanti kalau kita ladeni, dia malah marah lagi pada kita.”
“Kok polisi tau ya, Bang! Kalau Mama yang menjadi dalang di balik perampokan restoran kita?”
“Papa yang melaporkannya.”
“Papa?”
“Iya, mungkin karena Papa udah kesal melihat tingkah laku Mama yang berlebihan.”
“Ooo, gitu ya.”
Setelah membahas masalah itu, keduanya tampak diam, mereka terlihat fokus pada laju kendaraan yang berada di hadapan mereka saat itu.
Dua hari setelah itu, Retno datang kerestoran milik Intan, awalnya Retno tak mau masuk, dia hanya berdiri saja di halaman restoran itu.
Aida yang melihat kehadiran Retno, langsung memberitahukannya pada Intan.
“Benar Buk’e, kalau di luar ada Mamanya Bang Niko?”
“Iya, Neng.”
“Aduh, lagi ngapain dia kesini ya, mana Bang Niko nya lagi pergi kerja lagi,” ujar Intan ketakutan.
“Jadi gimana ini neng?”
“Aku juga bingung Buk’e.”
melihat Intan diam saja, Aida pun terpaksa harus diam juga.
“Tapi Neng, kalau Buk’e yang ngomong sama Mamanya den Niko, takutnya nanti kami berantem lagi kayak dulu.”
“Itu kalau Buk’e ngasih hati pada nya, nggak usah di layani, nanti kan dia capek sendiri.”
“Masalahnya, mulutnya itu lho, neng. Bikin Buk’e kesal,” jawab Aida.
“Yang sabar aja Buk’e, emang mulutnya ember kok.”
“Ya udah, biar Buk’e tanyain seleranya, mau masuk atau mau berantem.”
“Hisss! Buk’e! kok ngomong segitu nya.”
“Habis, Buk’e kesal sama tu orang.”
“Ya udah, kesalnya di simpan dulu.”
“Baiklah,” jawab Aida sembari menghampiri Retno yang masih senderan di samping mobil miliknya.
" Kamu!"
“Ada apa?” tanya Aida ketus.
“Kamu lagi! Neg saya menengok wajah mu itu, tau kagak!”
“Aku Cuma nanya, Ibu mau ngapain datang kesini?”
“Itu urusan saya!” bentak Retno sembari membetulkan kaca mata yang berada di atas kepalanya.
__ADS_1
“Huuh! Di tanya baik-baik pun, malah jawabnya seperti itu, dasar orang tua nggak berguna!” ujar Aida sembari membalikkan tubuhnya dari hadapan Retno.
“Hei, apa kata mu tadi?” tanya Retno sembari menarik baju Aida dari belakang.
“Heh! Ngajak berantem ya?”
“Siapa yang mengajak mu berantem, nengok mukamu aja, aku udah bosan, tau!” jawab Retno kembali masuk kedalam mobilnya.
Melihat Retno kembali kemobilnya, Intan menjadi heran, perasaannya mulai takut dengan kehadiran Retno di halaman restoran miliknya.
Kemudian Intan bergegas menghubungi Niko suaminya yang saat itu sedang bekerja.
Saat ponsel milik Niko berdering, dia pun segera mengangkatnya, Niko berdiri sembari menghadap ke jendela kaca.
“Assalamu’alaikum, sayang.”
“Wa’alaikum salam.”
“Ada apa sayang?”
“Di restoran ada Mama, Bang.”
“Ada Mama? Ngapain Mama kesana?”
“Aku nggak tau Bang, tapi sewaktu Buk’e menghampirinya, Mama nggak bilang apa-apa, dan sekarang dia pun udah kembali kedalam mobil miliknya.”
“Ya, udah, kalau Mama nggak datang ke restoran, kamu bersama anak-anak nggak usah keluar.”
“Apa bagus kayak gitu Bang?”
“Habis mesti gimana lagi sayang, kita mesti jaga-jaga, demi keselamatan kalian lhoh.”
“Ya udah, aku nggak keluar.”
“Ya, terimakasih atas perhatiannya sayang.”
Intan tak menjawab, dia hanya memandang Bu Retno dari balik gorden kamarnya, hatinya semakin takut, ketika Retno nggak keluar dari dalam mobilnya.
“Buk’e, ngapain Mama di dalam mobilnya?”
“Nggak tau atuh neng! Buk’e juga takut mendatanginya, soalnya, kayaknya Bu Retno itu orangnya nekad sekali.
Di saat Intan dirundung rasa takut, kemudian teringat olehnya Mang Ojo, karena hanya Mang Ojo yang bisa melawan Retno bicara, diam-diam Intan menelfon Bapaknya di rumah.
Setelah bolak balik di hubungi, akhirnya telfon rumah itu di angkat oleh Leni.
“Eh, Neng Intan, ada apa?”
“Bapak ada Bi?” tanya Intan pelan.
“Tadi ada Neng, tapi sekarang entah pergi kemana.”
“Tolong carikan ya Bi, ada perlu soalnya.”
“Oh, baik Neng,” jawab Leni sembari meninggalkan telfon itu tergeletak di atas meja.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1