Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 102 Bangkit dari keterpurukan


__ADS_3

Air mata dan rasa duka yang mendalam, telah menyelimuti suasana pagi itu, di rumah sakit. Setelah pihak polisi melakukan otopsi, pada jasad Gita, jasad itu pun di perbolehkan untuk di bawa pulang, guna di semayamkan.


“Syukur Alhamdulillah, putri mu meninggal dalam keadaan husnul khotimah, Pak,” kata Mang Ojo pada Ahong.


“Maksud Bapak apa?”


“Orang Islam yang meninggal dalam keadaan suci, mereka itu disebut mati syahid, dan Allah akan menempati mereka di dalam surga yang telah di janjikan.”


“Benarkah putri ku Gita mati Syahid?”


“Iya, bukankah sebelum dia meninggal, kalian sekeluarga telah masuk Islam? Itu disebut Mu’alaf. Orang yang baru masuk Islam, dia bagaikan seorang bayi yang suci di hadapan Allah, tiada noda yang menutupi hatinya.”


“Apakah aku nggak salah dengar, Pak?” tanya Leni kurang percaya.


“Benar, Bu. Bersyukurlah Ibu, karena arwah Gita langsung di tempatkan pada tempat yang layak disisi Allah azzawajala.”


“Aamiin! Semoga saja apa yang Bapak katakan itu, akan terbukti.”


“Insya Allah.”


Setelah mendengar penjelasan dari Mang Ojo, kalau putrinya akan di masukan kedalam surga, hal itu menjadikan kabar yang sangat menggembirakan sekali buat Ahong dan istrinya.


Siang itu juga, jasad Gita di mandikan dan di kafani dengan layak, suatu keanehan, terlihat saat itu, Aida yang ikut memandikan Gita, dia bicara pada Marni, kalau dari tubuh Gita tercium olehnya bau yang sangat wangi sekali.


“Benarkah itu, Aida?”


“Iya, Mar. untuk apa aku mengada-ngada, kalau kau nggak percaya tanya sendiri Bu Fatma yang juga ikut memandikannya.”


Tak yakin dengan yang dikatakan Aida, Marni pun mendatangi Fatma yang saat itu sedang menangis sedih di sisi jasad Gita.


“Kata Aida, sewaktu memandikannya tadi, dari tubuh Gita keluar aroma yang sangat wangi, benarkah itu Bu?”


“Iya, Mar,” jawab Fatma dengan pelan.


“Waah, berarti Gita masuk syorga dong!”


“Insya Allah Mar, Gita meninggal dalam keadaan teraniaya dan terzolimi. Jadi, Gita kembali ke hadirat Allah dalam keadaan husnul khotimah .”


“Iya, semoga saja begitu Bu.”


Setelah selesai jasad Gita di sholatkan, barulah semua orang mengantarkannya di persinggahannya yang terakhir. Air mata Duka mengiringi do’a untuk Gita siang itu.

__ADS_1


Di malam ketiga dan ketujuh, Mang Ojo mengadakan do’a bersama seraya membaca suroh Yasin secara bersama-sama, agar Arwah Gita di terima disisi Allah.


Setelah seminggu lebih kepergian Gita, Zaki masih saja berduka, dia tak makan dan tak mau keluar rumah, Zaki merasa patah hati saat itu, karena gadis yang dicintainya meninggal dalam keadaan tragis dan mengenaskan.


Mang Ojo yang melihat putranya selalu murung dan berduka, dia pun datang menghampirinya memberikan semangat hidup untuk Zaki yang telah larut dan hanyut dalam kesedihan yang panjang.


“Kejadian yang baru kau alami, jadikan itu pelajaran untuk masa yang akan datang, karena nggak semua pelajaran itu kau dapatkan di jenjang Pendidikan, ada kalanya, pelajaran itu kau dapatkan dari pengalaman hidup.”


“Iya, Pak,” jawab Zaki dengan genangan air mata.


"Kalau begitu untuk apa bersedih lagi?"


“Jika saja hari itu aku nggak mengatakan putus pada Gita, tentu hal ini nggak bakalan terjadi menimpa dirinya.”


“Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, karena semua yang telah terjadi, itu merupakan takdir, jalan hidup yang harus kita tempuh, baik susah mau pun senang, hal itu akan tetap kita lewati.”


“Iya, Pak.”


“Yang harus kamu lakukan saat ini, bangkit, dan tunjukan pada dirimu, kalau kau bukan Zaki yang lemah, kita boleh saja bersedih dan berduka, tapi semua itu ada batas waktunya.”


“Iya, Pak.”


“Jika kamu terus larut begini, maka kau akan kehilangan segalanya, bukan hanya kehilangan Gita, tapi kau juga akan kehilangan masa depanmu, karirmu dan bahkan pekerjaanmu.”


Mendengarkan nasehat dari Bapaknya, Zaki terus saja menangis tiada henti, Mang Ojo tak marah melihat Zaki menangis, karena dengan cara seperti itu, Zaki dapat mengurangi sedikit beban yang di pendam nya.


Lama Mang Ojo, duduk di sisi Zaki yang terus saja menangis seperti anak kecil, setelah tangisnya sedikit mereda, lalu Mang Ojo menyuruh Zaki berwudhuk, untuk melaksanakan, sholat, agar hati dan pikirannya bisa tenang.


Sesuai perintah Bapaknya, Zaki langsung mengerjakannya, dia mengambil air wudhu dan langsung mengerjakan sholat sunat.


“Sampaikan niat hati mu kepada Allah, katakan kalau hati mu sedang berduka, biar Allah meringankan beban itu dari hatimu,” ujar Mang Ojo dengan tenang dan pelan.


Zaki yang selalu menuruti perintah dari Bapaknya, dia pun bermunajat dengan khusuk kepada Allah, agar di beri kekuatan dan kesabaran dalam menerima musibah itu.


Di lihatnya Zaki sedikit tenang, barulah Mang Ojo keluar dari kamar putranya, sembari menarik nafas panjang, Mang Ojo mencoba duduk di atas sofa.


“Gimana keadaan Zaki, Pak?” tanya Fatma ingin tau.


“Dia begitu terpuruk, Bu,” jawab Mang Ojo dengan suara lembut.


“Lantas, bagai mana sekarang ini?”

__ADS_1


“Biarkan di tenang dulu, Bapak udah memberikan nasehat padanya, siapa tau dengan nasehat itu, Zaki bisa kembali bangkit dari keterpurukannya.”


“Ya, semoga saja begitu, Pak.”


Dua hari setelah Mang Ojo menasehati Zaki, pagi itu tampak Zaki keluar dari kamarnya dengan berpakaian dinas rumah sakit. Melihat putranya kembali bangkit, Mang Ojo tersenyum bahagia.


Satu tahun setelah kepergian Gita, hari-hari yang di lalui, bagi Zaki sudah seperti biasa saja, dia tak lagi mengingat Gita yang telah tiada. Zaki berusaha untuk menutupi kesepiannya dengan mencari pengganti Gita, yaitu Defi, dokter cantik yang selalu bersamanya setiap saat.


Malam itu, Zaki mengutarakan niatnya pada Mang Ojo untuk melamar Defi, semua keluarga mendukung baik niat Zaki tersebut.


Di hadapan semua orang Mang Ojo, mengajak Defi bicara dan menanyakan tentang rencana mulia mereka berdua.


“Benar kalian berdua mau menikah?” tanya Mang Ojo Pada Defi yang saat itu begitu malu untuk bicara.


Zaki yang melihat Defi diam, dia juga ikut melirik kearahnya, suasana tampak hening, di saat Defi tak mau buka mulut untuk bicara.


“Diam berarti setuju!” kata Mang Ojo menjawab sikap diam Defi.


Karena niat hatinya telah di jawab Mang Ojo, Defi hanya tersenyum manis, sementara yang lain juga ikut tersenyum lebar.


“Sekarang Bapak mau tanya, sebenarnya nak Defi bertempat tinggal dimana?”


“Saya tinggal di Padang Pak,” jawab Defi dengan suara lembut.


“Apakah kedua orang tua mu masih hidup?”


“Masih Pak.”


“Apa pekerjaan mereka?”


“Papa seorang guru di SMA, sementara Ibu seorang biduan di Kota Padang.”


“Kapan rencana mu, akan memberitahukan masalah ini pada mereka?” tanya Mang Ojo menunggu jawaban dari Defi.


“Secepatnya Pak.”


“Baiklah, kami akan tunggu jawaban dari kedua orang tua mu.”


Defi tersenyum saat penyatuan itu, hatinya yang sudah lama menginginkan Zaki menjadi imam dalam hidupnya, hari itu baru dapat terwujud.


Seminggu setelah hasil rapat itu di utarakan, Defi langsung berangkat ke Kota Padang, dengan diantar oleh keluarga Mang Ojo kebandara, Defi siap untuk berpisah sementara dengan kekasih hatinya Zaki.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2