
Merasa tersanjung, Ujang pun tersenyum lebar, walau dia termasuk orang yang tak mengerti banyak tentang Agama, tapi dia bagian dari orang yang di percaya Intan, karena Ujang adalah orang yang jujur dalam segala hal.
Setelah di lihatnya Mang Ojo berdiri, lalu mereka pun menghentikan pembicaraannya, ujang langsung saja menemui Mang Ojo.
Akan tetapi sebelum Ujang berbicara, Mang Ojo telah lebih dulu bicara, sehingga ujang terpaksa harus mendengarkannya.
“Kamu tau Ujang? Saat saya mengangkat tangan tadi, saya udah memberi isyarat pada mu, kalau saya itu sedang beribadah, berarti jangan di ganggu, lalu kenapa kamu masih ngotot juga untuk datang menghampiri saya?”
“Ada kabar buruk Pak.”
“Kabar buruk apa?” tanya Mang Ojo ingin tau.
“Restoran milik Neng Intan di bobol maling tadi malam Pak.”
Mendengar berita itu, Mang Ojo langsung ingat akan dirinya, karena di usianya yang semakin tua, penyakit selalu saja dengan mudah datang menyerang.
“Banyak barang yang diambilnya, Jang?”
“Semua perhiasan Neng Intan dan uang hasil jual beli yang selama ini di simpan Bu Aida di brangkas semuanya habis ludes.”
Mendengar berita itu, Mang Ojo manggut-manggut, dia begitu sedih sekali mendengarkan kabar duka itu, akan tetapi di depan para keluarga besarnya, Mang Ojo sengaja tidak memperlihatkan perasaan sedihnya.
Mang Ojo sengaja melakukan hal itu, agar yang lainnya tidak panik dan tetap tenang dan terkendali.
“Baiklah, mari kita lihat kesana,” ajak Mang Ojo pada yang lainnya.
Di saat mereka semua hendak ke restoran milik Intan, Aida dan kariawan lainnya yang telah hadir di restoran, langsung kaget, melihat semuanya berantakan.
Aida yang merasa tak senang langsung berlari kekamar Intan dan dipatinya brangkas milik Intan udah terbuka, perhiasan dan uang hasil penjualan mereka selama ini habis di bawa pencuri itu.
Aida menjerit-jerit memanggil Ujang, yang selalu menjaga restoran milik Intan jika malam hari, sampai suaranya serak pun, Aida tak melihat ada Ujang di tempat itu.
“Kurang ajar! kemana perginya si Ujang, kenapa dia belum juga nongol, padahal dia udah di beri kepercayaan penuh oleh Neng Intan.”
“Atau jangan-jangan, Ujang yang melakukan ini semua,” ujar Astuti pada Aida yang sedang panik.
“Ah, nggak mungkin, ujang itu orang kepercayaan Mang Ojo lho, dia kan udah puluhan tahun bekerja disini.”
“Siapa tau aja, melihat uang Intan yang begitu banyak, Ujang langsung tergiur dan berniat untuk membawanya kabur,” ucap seorang Ibu lainnya.
“Nggak, saya percaya sekali dengan Ujang, dia itu orang baik.”
“Kok kamu ngotot sekali belain Ujang, kalau saja dia terbukti mencuri gimana?” tanya lia, yang tak senang kalau Aida membela Ujang.
“Jangan souzon dulu! Ujang ada bersama saya kok,” bantah Mang Ojo, saat dia datang menghampiri restoran milik Intan.
Bersama yang lain Mang Ojo langsung masuk kedalam, memeriksa semuanya secara detail, tak ada barang-barang yang rusak, hanya saja maling itu masih sempat menikmati makan gratis direstoran milik Intan.
__ADS_1
“Lalu gimana ini pak?” ujar Aida ketakutan.
“Iya, Pak!” nanti kalau kami di pecat Neng Intan, lalu kami harus kembali mulung dong.”
“Nggak ada yang di pecat! Udah, udah, kalian kembali bereskan semua barang yang berantakan, mulailah kembali kalian masak, jangan perlihatkan pada orang lain, kalau kita baru saja kehilangan.”
“Baik, Pak,” jawab para Ibu-Ibu serentak.
Mang Ojo beserta lainnya, yang melihat langsung restorannya di bobol maling, mereka hanya bisa pasrah walau sedih, namun pria berhati emas itu tak mau memperlihatkan rasa sedihnya di hadapan para karyawan yang lainnya.
Semua itu sengaja dia lakukan agar semangat karyawannya tak menciut hanya karena ulah seseorang yang berbuat jahat.
“Sekarang kalian kembalilah bekerja, buktikan pada pencuri itu bahwa lima juta yang telah mereka curi akan di ganti Allah dengan dua kali lipat nantinya.”
“Aamiin!” jawab karyawan serentak.
Setelah mereka semua kembali dari restoran, kejadian itu langsung di kabarkan Mang Ojo pada Alhuda dan Dika.
“Benar begitu Pak?” tanya Alhuda tak percaya.
“Kamu lihat sendiri nanti kesana, sebelum pergi kerja ya nak, kasih semangat para karyawannya, agar mereka tetap bekerja semaksimal mungkin.”
“Baik Pak, nanti saya akan mampir kesana,” jawab Alhuda dengan suara lembut.
“Ada apa Bang?” tanya Ranita yang saat itu sedang mengemasi putranya yang hendak berangkat kesekolah.
“Rumah Intan kemalingan, dek,” jawab Alhuda.
“Namanya aja musibah Dek, kapan saja bisa datang kan?”
“Kayaknya ada yang aneh deh, Bang,” ujar Ranita menduga-duga.
“Aneh gimana maksud mu?”
“Kayaknya mereka udah merencanakannya sebelum Intan dan Niko pergi.”
“kamu ya, kalau mikir itu, kayaknya jauh sekali kedepan sana, jangan samakan dong kejadian ini dengan sketsa gambar yang sedang kamu rancang.”
“Kan, mulai deh!” ujar Ranita bermanja pada suaminya.
“Nggak, Abang Cuma bercanda kok sayang.”
“Ayo, kita berangkat sekarang,” ajak Ranita pada suaminya, yang saat itu udah selesai berkemas.
“Baiklah, si kecil Papa mana nih, biar Papa aja yang gendong kemobil ya.”
“Ok, Pa,” jawab Robi seraya berlari ke pelukan Papanya.
__ADS_1
Di saat Alhuda dan Robi siap untuk berangkat, Ranita merasa keram di perut bagian bawahnya. Melihat hal itu, Alhuda langsung menurunkan Robi dan membantu Ranita yang merintih menahan rasa sakit.
“Perut mu sakit sayang?”
“Iya, Bang,” jawab Ranita dengan sura lirih.
“Apa perlu kita kerumah sakit sekarang?”
“Entahlah, aku nggak tau.”
“Kelihatannya kamu sering sekali merasakan sakit, Abang takut nanti akan membahayakan ke kandungan mu.”
“Baiklah, kita kerumah sakit aja dulu, baru nanti kerumah Intan.”
Di saat mereka sedang bicara, Robi memperhatikan saja, tampak olehnya, kalau Mama kesayangannya mengalami rasa sakit.
“Mama sakit ya, Pa?”
“Dedek bayi tu, iri melihat Abangnya di gendong, makanya dia nendang perut Mama hingga sakit.”
“Idih! Dedek kok jahat sekali sama Mama! Nanti Mama nangis lhoh,” ujar Robi seraya mencium perut Ranita yang sedang sakit.
“Nggak sayang, dedek nggak jahat kok, sebenarnya dia itu kepingin di gendong juga sama Papanya, sama kayak Abang.”
“Benar begitu Ma.”
“Iya sayang, ayo kita segera berangkat, nanti terlambat.”
“Ayo Pa!” ajak Robi seraya menarik jemari telunjuk Alhuda.
“Baik sayang.”
Sesuai dengan rencana yang mereka persiapkan, pagi itu setelah mengantar Robi kesekolahnya, Alhuda bersama Ranita langsung menuju rumah sakit, tempat dimana Zaki bertugas.
Dengan perlahan Alhuda membantu istrinya turun dari mobil, seraya menggandeng tangan istrinya, mereka berdua langsung menuju ruang pendaftaran.
Di saat mereka sedang menunggu, tiba-tiba saja dari kejauhan, Ranita melihat Retno, orang tuanya Niko, berjalan menuju kearahnya.
Karena tak ingin berurusan dengan retno, Ranita pun berusaha menyembunyikan wajahnya, dengan menutupinya menggunakan kertas tisu.
Alhuda yang melihat istrinya seperti itu, dia langsung bertanya pada Ranita.
“Kenapa di tutupi wajahnya sayang?”
“Tuh, di depan kita ada Mamanya Niko, Bang.”
“Mama Niko? dimana?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*