Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 138 Permintaan maaf


__ADS_3

“Selamat siang Pak!”


“Selamat siang, Bapak yang bernama Handoko.”


“Benar Pak,” jawab Handoko seraya menyalami pimpinan petugas itu.


“Ini, saya bawa surat penangkapan untuk anak Bapak.”


“Surat penangkapan, emangnya anak saya salah apa?”


“Anak Bapak telah membakar rumah orang tua istrinya.”


“Apa?”


“Saat ini rumah mewah yang ada di Kawasan kumuh itu telah rata dengan tanah.”


“Ya, Allah, apa yang telah kau lakukan nak?” tanya Handoko pada dirinya sendiri.


“jadi, kami harap ikutlah Bapak dengan kami ke kantor.”


“Baik, saya akan ikut bersama Bapak,” jawab Handoko.


Bersama polisi, Handoko harus ikut ke kantor, untuk melihat putranya yang akan di tanya nanti, Setelah dia tiba di kantor, Handoko melihat Riza tersenyum dengan manis pada Papanya.


“Apa yang telah kau lakukan nak?”


“Aku melakukan semuanya Pa,” jawab Riza tersenyum puas.


“Kamu melakukan apa sayang?”


“Aku melakukan apa saja yang ku inginkan, semuanya karena Nurul, istri ku tersayang, kemana dia pa,” ujar Riza sembari menangis di pangkuan Handoko.


“Bapak tau, kalau Riza mengalami gangguan jiwa, lalu kenapa Bapak membebaskan dia berkeliaran ke mana-mana?”


“Tapi anak saya ini udah sembuh Pak,” tegas Handoko pada polisi.


“Sembuh apanya, Pak! Bapak tau, kasus peledakan rumah Mang Ojo di Kawasan kumuh telah di tangan polisi sekarang, bukan hanya rumah saja yang terbakar, dua orang saat ini sedang kritis di rumah sakit, sedangkan yang lainnya sedang di rawat.”


“Sebenarnya hal ini terjadi, karena dia kehilangan istrinya, Pak.”


“Kenapa istrinya menghilang?”


“Hanya karena pertengkaran rumah tangga, Pak.”


“Kalau hanya karena pertengkaran rumah tangga biasa, nggak mungkin kan istrinya lari dari rumah, saya yakin pasti adahal yang membuatnya dalam bahaya, makanya dia berusaha untuk kabur dan meninggalkan suaminya.”


Lalu polisi itu menghampiri Riza, yang saat itu tangannya sedang di borgol, polisi itu duduk di atas meja, tepat di hadapan Riza.


“Rupanya kau udah jadi jagoan sekarang ya?”


“Jagoan apa, Pak?”

__ADS_1


“Kau udah hebat, bisa meledakan rumah Mertua mu itu.”


Mendengar ucapan polisi itu, Riza hanya diam saja, matanya yang indah tampak mengukir rasa senang, karena telah di puji.


“Saya rasa, kau akan melakukannya lagi bukan, menyakiti orang tua itu, sampai dia tiada.”


“Iya, akan ku cincang tubuhnya, begitu juga dengan putranya yang payah itu.”


“Kenapa kau begitu dendam padanya?”


“Karena dia telah menyembunyikan istri ku.”


“Kalau memang istrimu di sembunyikan di rumah itu, lalu kenapa kau meledakan rumahnya, berarti kau mau membunuh istrimu sendiri dong!”


“Aku sengaja melakukannya, karena mereka menyembunyikan istri ku di suatu tempat.”


“Ooo, jadi benar kamu yang telah meledakan rumah tua bangka itu.”


“Iya, bukan itu saja, dulu sewaktu anaknya menolak cintaku, aku juga mencuri semua lukisan milik Abangnya, agar anak-anak panti itu kelaparan, dan mengemis bantuan pada Papa ku.”


“Ooo, rupanya kau juga yang melakukan pencurian itu ya?”


“Iya, aku senang sekali, aku puas! karena setelah itu, Nurul terpaksa menikah dengan aku.”


Handoko yang mendengar jawaban dari putra satu-satunya itu, hatinya bagai teriris, kepiluan telah menorehkan luka yang sangat dalam, air matanya pun mengalir membasahi luka yang berdarah.


“Riza sayang Papa, apa yang telah kau lakukan, nak? ternyata kau yang melakukan semua rencana ini, sehingga anak-anak panti itu menderita kelaparan. Papa merasa begitu berdosa pada anak-anak yang tak bersalah itu nak,” rintih Handoko di dalam hatinya.


“lalu, selain kamu mencuri lukisan, kamu membakar rumah, apa lagi yang kamu lakukan sayang?”


“kau mengancamnya?”


“iya,” jawan Riza begitu yakin.


“Mengancam gimana ya?”


“Ku bilang begini, begini pak, hei keluarga resek, awas kalian ya, jika kalian nggak mengembalikan Nurul aku akan membunuh kalian satu persatu.”


“Waah, ternyata kau juga mengancamnya ya.”


“Iya, aku harus membunuhnya setelah lepas dari tempat ini.”


“Kenapa kau ingin membunuh mereka semua, kan mereka nggak salah apa-apa pada mu.”


“Nggak bersalah gimana? udah jelas mereka menyembunyikan Nurul, istri saya."


“Sebenarnya, mereka pun juga sedang mencari keberadaan Nurul, yang sudah anda siksa, mereka juga melaporkan kehilangan Nurul pada kami, dan kami semua juga sudah berusaha mencari Nurul, tapi hingga saat ini istri anda itu belum kami temukan.”


“Alaah! Itu mah Cuma alasan doang!”


“Kalau boleh kami tau, dari mana kamu mendapatkan bahan peledak itu?”

__ADS_1


“Kalau itu sih, gampang mendapatkannya Pak.”


“Gampang gimana?”


“Semuanya pakai uang, kalau nggak ada uang, Bapak juga nggak bisa makan bukan?”


“Iya, kamu emang benar, semuanya harus pakai uang.”


Mendengar kejujuran Riza, yang di introgasi oleh polisi, Handoko tak dapat berbuat apa-apa, untuk itu saat itu juga Riza resmi menjadi tahanan.


Riza menangis, ketika baju tahanan, di pasangkan ke badannya, dia meratap pilu di balik jeruji besi yang dingin. Karena merasa tertekan selama berada di dalam penjara, Riza pun mengalami depresi berat.


Sementara itu, siangnya Handoko mendatangi rumah Mang Ojo, untuk meminta maaf, karena ulah anaknya, Mang Ojo kehilangan segalanya. Kehilangan Nurul dan kehilangan harta benda juga.


Di saat handoko datang kerumah Mang Ojo, Handoko melihat, tak ada lagi tempat yang terluang untuk keluarga dermawan itu, semuanya sudah rata dengan tanah, hanya sisa puing-puing bekas pembakaran yang masih tersisa.


Ketika mereka semua melihat, mobil Handoko berhenti di parkiran restoran milik Intan, mereka semua merasa heran, karena Handoko datang sendiri kesana tanpa ada pengawalan mau pun supir pribadinya.


“Assalamu’alaikum,” sapa Handoko mengucapkan salam.


“Wa’alaikum salam, oh Bapak, silahkan duduk,” jawab Mang ojo pada Handoko.


Dengan tenang Handokolangsung duduk, diam di atas sofa, sepertinya Handoko terasa sulit untuk mengawali pembicaraan mereka siang itu.


Karena Handoko tak mau bicara, Mang Ojo langsung memulainya, karena bagi Mang Ojo, siapapun yang pertama kali mengawalinya, hasilnya pasti tetap sama.


“Saya tau pasti Bapak merasa berat itu memulainya, dan saya juga yakin, kalau Bapak nggak sanggup untuk berkata apa pun pada kami, tapi saya yakin kok, bapak bertujuan akan menyelesaikan semuanya dengan tenang.”


“Maafkan saya Pak, atas kesalahan Riza, semuanya jadi hancur, tapi Bapak tenang saja, saya berjanji, akan membatu biaya pengobatan keluarga Bapak yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit dan membangun kembali rumah yang telah hancur, persis seperti semula.”


“Terimakasih, atas tanggung jawab yang Bapak berikan pada kami.”


“Tapi saya mohon pada Bapak, tolong cabut tuntutan yang telah kalian layangkan ke polisi.”


“kenapa harus di cabut, kan anak Bapak benar-benar telah terbukti bersalah.”


“Saya tau itu pak.”


“Lalu? Apa ada alasan Bapak memohon seperti itu pada saya?”


“Saya nggak tega melihat putra saya satu-satunya harus mendekam di balik jeruji besi, pak. Kalau Bapak bersedia mencabut tuntutannya, saya bersedia memasukan putra saya kerumah sakit untuk di rehabilitas.”


“Ooo, begitu.”


“Karena di rumah sakit, anak saya bisa mereka rawat dengan baik, sementara kalau di kantor polisi, mereka akan menekannya.”


“Baiklah, saya akan mencabut tuntutan untuk Riza.”


“Terimakasih,”


“Sama-sama Pak.”

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2