Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 46 Pesta yang mewah


__ADS_3

Rasa harupun mewarnai suasana malam itu. Seperti yang telah direncanakan Dika selama ini, tiba-tiba saja pintu rumah mewah itu terbuka dengan sendirinya bersamaan dengan ruang pamerannya.


Dari dalam muncul puluhan anak-anak panti yang membawakan bunga untuk Mang Ojo sekeluarga. Dengan diiringi musik kasidah, para anak-anak itu menari dan menyanyi, disaat bersaman pengurus panti keluar dengan menggandeng seorang perempuan yang mengenakan hijab.


“Pak, Ibu, ini calon istriku ! Aku mohon restui pernikahan kami berdua.”


“Tapi mana orang tuanya Nak ?” tanya Mang ojo heran.


“Dia anak yatim piatu Pak, dia kuangkat dari jalanan dan ku tempatkan disini, di hatiku.”


Dengan senyum manis, Fatma melangkah mendekati gadis itu. “Angkat kepala mu anakku.” Kata Fatma pada gadis yang ada dihadapannya.


Mendengar kata dari Fatma, gadis itupun mengangkat kepalanya dan dipandangi oleh seluruh anggota keluarga. Dibalik jilbab nya yang berwarna pink, mereka melihat kecantikan gadis itu.” Ibu merestui pernikahan kalian berdua.”


Dengan linangan air mata, merekapun saling berpelukan satu sama lain. Rasa haru pun mewarnai acara lamaran malam itu.


Keesokan harinya, penghulu pun datang bersama wali hakim. mereka telah menunggu. Untuk pelaksanaan Ijab qobul.


Setelah acara pernikahan usai, tiba-tiba saja seluruh pelayan datang dengan tugasnya masing-masing, Dika segera dirias begitu pula dengan mempelai wanitanya.


Ruang pameran berubah menjadi pelaminan. Nurul yang dipercaya Dika sebagai juru masak, telah siap menghidangkan dua ribu tamu undangan.


Tepat pukul sepuluh para tamupun sudah berdatangan, mereka semua memberikan ucapan selamat pada mempelai.


Tampak Dika dan Yulia duduk tenang di atas pelaminan, mereka sangat serasi sekali.


Sementara Niko, Intan dan yang lainnya, hanya terheran-heran sendiri, menyaksikan keanehan yang di buat Dika, semuanya sengaja dilakukan Dika sebagai kejutan di hari pernikahannya.


Dari sekian banyak tamu undangan Ranita melihat Mama dan Papanya, begitu juga dengan kedua orang tua Niko, mereka juga hadir di pesta itu.


“Aduh kacau, kata Ranita pada Alhuda.”


“Kacau apanya sayang ?”


“Tuh lihat disudut sana ada Orang tuaku dan orang tua Niko, pasti mereka membuat kacau lagi.”


“Ooo, biarkan aja. Abang yakin mereka nggak bakalan membuat onar lagi.”


“Abang yakin ?” tanya Ranita tak percaya.


“Yakin, Sembilan puluh lima persen.”


“Kita lihat saja nanti, apa yang bakalan mereka lakukan dihari yang baik ini.” Kata Ranita dengan berbisik pelan.


Awal mula suasana berjalan lancar, dari kejauhan Resti melihat putrinya tampak begitu cantik dan anggun, dipangkuannya ada seorang nak kecil yang masih berusia sekitar satu tahun.

__ADS_1


Anak itu sangat mirip wajahnya dengan Ranita, seraya berbisik pelan sama suaminya, Resti berencana hendak mendekati putrinya itu. Tapi Margono melarangnya.


“Kenapa, Pa ?”


“Nggak usah, nanti Mama bikin gaduh disini.” Jawab Margono pelan.


“Tapi dia Ranita putri kita, Pa ?”


“Papa tau itu, tapi jangan sekarang.”


“Huuh !” kata Resti menggerutu.


“Ayo, kita makan aja. Kata Margono pada istrinya.


Resti mengikuti perintah suaminya dan makan dengan begitu lahapnya. Begitu juga dengan Retno yang saat itu juga melihat Niko bersama Intan serta seorang anak perempuan dipangkuan putranya.


Acara itupun berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, semuanya menikmati hidangan lezat yang telah tersedia dihadapan mereka semua.


Saat mereka semua hendak menyantap hidangan resepsi itu, tanpa sengaja, Retno melihat Fatma sedang asik menyalami para tamu undangan.


“Huh, pemulung itu lagi, sedang apa dia berada disini ? “ tanya Retno pada suaminya.


“Mana, Ma ?”


“Itu Pa, dipojok sebelah sana !”


“Lagi ngapain mereka ya, Pa ? bukankah ini pernikahannya Dika ? teman Papa itu ?”


“Benar sih, dia sama mengajar dengan Papa, dia sangat pintar sekali, Ma. Makanya dia diterima ditempat Papa mengajar tanpa persyaratan apapun.”


“Benar, ini rumah Dika teman Papa itu ?”


“Benar Ma ! ini kan rumah barunya. Selain jadi Dosen, dia juga seorang seniman yang handal, karya lukisannya aja bernilai ratusan juta, dan lihat yang sebelah sana itu.” Kata Hermawan menunjuk ke suatu Gedung berlantai tiga.


“Ada apa dengan Gedung itu Pa ?”


“Semua itu milik Dika yang dibangunnya atas hasil dari lukisan yang telah terjual. Yang disebelah sana itu juga itu juga rumah panti yang telah di bangunnya.” Jelas Hermawan pada istrinya.


“Wah, masih muda, tampan dan tajir lagi !” sanjung Retno di hadapan suaminya.


“Ssst !” jangan keras-keras nanti didengar orang.” kata Hermawan pada istrinya.


“Berarti dia itu seorang jutawan dong Pa ?”


“Ya begitulah kira-kira.”

__ADS_1


“Yang Mama nggak habis pikir, itu si pemulung ngapain mereka disini, coba ?”


“Kali aja, mereka bekerja dengan Dika, Ma.”


“Maksud Papa, mereka itu pembantunya Dika ?”


“Barang kali begitu ! kan orang kaya biasa memelihara pembantu rumah tangga lebih dari satu orang. Apa lagi Dika itu selain jadi seorang Dosen, dia pintar melukis. dan bahkan satu lukisan sampai bernilai puluhan juta, wajar kan kalau dia memelihara pembantu ?”


“Iya juga sih.” Pikir Retno.


Sama halnya dengan Retno, Resti juga terkagum-kagum melihat kejadian hari itu. Serta merasa heran kenapa Mang Ojo sekeluarga ada di acara semewah itu.


“Pa, coba lihat ! apakah itu anaknya Ranita yang sedang mereka gendong ?”


“Sepertinya benar, Ma ! ternyata putri kita telah mempunyai seorang anak, pasti sangat lucu ya, Ma !”


“Benar Pa, pasti sangat lucu.” Jawab Resti seraya menangis.


“Kenapa Mama nangis ?” tanya Margono heran.


“Gara-gara berharap kepulangan putri kita, Mama sampai kena tipu oleh dukun keparat itu.”


“Apa ? Dukun ?”


“Iya, Pa ! Mama pergi kedukun tanpa sepengetahuan Papa, tapi Mama kena tipu, ternyata dukun itu palsu. Padahal Mama sudah keluarkan uang banyak untuk dia. sebenarnya Mama udah lama curiga, kenapa guna-guna nya nggak mempan.”


“Kalau saja Mama mau sedikit sabar dan berlapang dada menerima pernikahannya saat itu, pasti hasilnya nggak begini kan ?” Kata Margono pada istrinya.


Saat mereka sedang asik berbicara, tiba-tiba saja Mang Ojo dan Fatma telah berada disamping mereka berdua.


“Selamat siang Bu, selamat siang Pak !” sapa mereka berdua.


“Siang !” jawab Resti tampa menoleh terlebih dahulu.


Tapi alangkah terkejutnya mereka berdua saat dipandanginya ternyata wajah Mang Ojo dan Fatma.


“Hah, ternyta kalian ? Sungguh nggak tau diri ya ! ngapain kalian disini ? nggak sadar ! kalau acara resepsi ini, hanya dikususkan untuk orang kalangan atas aja, bukan pemulung seperti kalian ?” seru Resti dengan suara lantang.


Suara itu ternyata mengundang banyak pasang mata tertuju pada Mang Ojo dan Fatma.


“Benar itu Jeng.” Kata Retno. “Saya udah neg ! melihat wajah ereka berdua. Sesekali , mbok ya ngaca dikit dong ! kalau udah miskin ya miskin aja, jangan mimpi untuk jadi orang kaya !”


timpal Retno dengan kata kasarnya.


“Aku benar-benar heran ? Kenapa orang seperti mereka ini nggak pernah ngaca diri.” Tambah Resti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2