Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 65 Sakit yang menakutkan


__ADS_3

Setibanya di depan rumah sakit, Alhuda dan Ranita langsung keluar dari mobilnya, lalu mereka berdua bergegas menuju rumah sakit.


“Ada yang bisa saya bantu Bu ?” tanya seorang perawat pada Ranita .


“Zaki ada ? oh maaf, dr. Zaki nya ada ?” tanya Ranita pada perawat itu.


“Ada Bu, dr. Zaki masih di ruangannya.”


“Baiklah, biar kami kesana aja.” Jawab Ranita seraya menggandeng tangan Alhuda.”


“Maaf Bu ! apakah udah janjian dengan dr. Zaki ?”


“Belum, emangnya kenapa ?”


“Kalau belum janjian sebaiknya Ibu tunggu diruang tunggu aja dulu, nanti setelah dr. Zaki keluar baru Ibu bisa bertemu dengannya.”


“Kenapa seperti itu ?”


“Karena itu udah merupakan prosedur rumah sakit Bu.”


“Dr Zaki itu kan adik saya, apa saya nggak boleh bertemu dengan adik sendiri.”


“Boleh Bu, tapi kalau jam tugas dr. Zaki telah selesai.”


“Aah ! prosedur apanya ! semuanya mesti diatur dirumah sakit ini.” Jawab Ranita seraya memaksa masuk.”


“Ibu ! Ibu ! jangan seperti itu lah, nanti saya yang disalahkan !"


“Bilang sama orang yang membuat prosedurnya, nggak semua peraturan itu yang di buat prosedurnya !”


“Ibu ! Ibu ! tolonglah kami Bu !” kata perawat itu seraya menghalangi pergerakan Ranita.


“Aah ! lama-lama, kamu ini bikin kesal saya ya ?”


“Maafkan saya Bu, saya terpaksa harus melakukannya.”


Karena merasa dihalangi, Ranita pun kesal, tampa di sadari oleh Alhuda, Ranita langsung berlari sendiri keruangan Zaki. Alhuda dan perawat itu pun ikut-ikutan berlari mengejar Ranita yang semakin menjauh.


“Zaki ! Zaki !” teriak Ranita di tengah-tengah keramaian rumah sakit.


Zaki yang mendengar Namanya di panggil seseorang, dia pun langsung berlari keluar.


“Eh, kak Ranita !” kata Zaki seraya mencium tangan Ranita dan Alhuda.


“Kamu lihat sendirikan ? dia sendiri mencium tangan kakaknya, lalu kenapa kamu mesti menghalangi kami ?”


“Maafkan kami Bu, kami bekerja sesuai menurut prosedur yang telah diterapkan di rumah sakit ini.”


“Maaf sus, kalau nanti ada keluarga saya yang datang, nggak usah di halangi.”


“Baik dok.” Jawab perawat itu seraya pergi meninggalkan Ranita dan yang lainnya.


“Huuh, dasar sombong !” gerutu perawat itu pada Ranita.


“Siapa yang sombong ?” tanya Yuli yang saat itu ada di samping Mini.

__ADS_1


“Itu tuh ! perempuan yang barusan masuk.”


“Emangnya dia itu siapa ?”


“Ngakunya sih, saudaranya dr. Zaki.”


“Ooo, yang tadi itu ?”


“Iya, belagu banget gayanya.”


“Ya wajarlah dia itu sombong, dia itu kan seorang arsitek terkenal di kota ini, dan suaminya itu seorang direktur Bank.”


“Apa iya ?”


“Iya Min. kamu itu kan orang baru di rumah sakit ini, jadi kamu belum tau keluarga dr. Zaki bukan ?”


“Belum !”


“Mereka itu orang tajir Min, padahal menurut cerita semua orang, Bapak dr Zaki hanya seorang pedagang kacang rebus keliling sedangkan Ibu nya seorang pemulung.”


“Loh, kok bisa seorang pemulung jadi kaya raya.”


“Roda itu kan selalu berputar Min, kadang di atas, kita pun tersenyum dan jika berada dibawah, langsung nyungsep deh.”


“Ah, kamu ! orang serius dibawa bercanda lagi !”


“Aku ini ngomongnya serius Min.”


“Waah ! enak dong, dapat suami seorang dokter tampan seperti dr.Zaki dan kaya raya.”


“Kamu ini ya ? orang lagi menghayal pun nggak boleh.”


“Karena yang kamu khayal kan itu sudah punya kekasih Min !”


“Kekasih ? emangnya siapa kekasih dr.Zaki itu ?"


“Itu, si Gita !”


“Waah enak dong Gita, dari miskin bisa jadi kaya mendadak dong !”


“Bahkan dr Zaki udah membuatkan sebuah rumah untuk Gita dan keluarganya.”


“Tapi Gita itu kan non Muslim Yul, kok bisa suka dr. Zaki padanya ?”


“Cinta itu buta Min, dia nggak memandang siapa saja, kalau udah suka, ya ! langsung nemplok deh.”


“O gitu ya.” Jawab Mini seakan- akan mengerti apa yang dimaksudkan Yuli saat itu.


Di saat mereka berdua sedang asik menceritakan keluarga dr. Zaki, Ranita dan Alhuda juga sedang berkomunikasi dengan Zaki tentang penyakit yang sedang di alaminya


.


“Lalu gimana ini ki ? kakak takut sekali !”


“Menurut pemeriksaan ku, kakak itu nggak kenapa-napa ! kalau ku lihat dari fisik kakak, kakak tampak sehat, tubuh kakak juga nggak mengalami demam tinggi, tapi ini seperti penyakit cacar.”

__ADS_1


“Penyakit cacar ? tapi kenapa dalam semalaman baunya udah langsung menyengat, Ki ?”


“Itu yang membuat aku heran kak !”


“Aduh gimana ini Bang ?” tanya Ranita ketakutan.


“Sabar sayang, setiap penyakit pasti ada obatnya, asalkan kamu tenang dan selalu istighfar kepada Allah.”


Jangankan Ranita, Alhuda saja tak tahan dengan bau busuk yang menyengat di tubuh Ranita.


“Ya udah, sekarang kita pulang saja dulu, nanti biar Zaki yang kerumah untuk mengobati mu.”


“Benar kak, sebentar lagi aku kesana !”


“Kamu nggak bohong kan sayang ?”


“Nggak kak, masa aku bohong pada kakak ku yang cantik ini.”


“Baiklah, kami pulang dulu.”


“Iya, hati-hati di jalan.”


“Iya sayang.” Jawab Alhuda pada adiknya.


Setelah alhuda dan Ranita pergi, tinggallah Zaki sendiri di ruangan itu, di dalam hatinya dia selalu berpikir tentang penyakit yang sedang melanda kakaknya itu.


“Aneh, kok penyakit itu tiba-tiba muncul, padahal katanya semalam belum ada ?” tanya Zaki pada dirinya sendiri.


Sementara itu, alhuda yang melihat istrinya ketakutan, dia langsung membawa Ranita kerumah orang tuanya


Setibanya di parkiran rumah mewah itu, Ranita langsung disambut oleh Fatma Ibunya, seraya menangis histeris Ranita bersimpuh di hadapan Ibunya itu.


Sementara itu, Fatma yang tak mengerti apa-apa, merasa heran dengan kejadian itu, dia pun berusaha menenangkan Ranita, mesti saat itu dia mencium bau tak sedap dari tubuh Ranita.


“Ada apa sayang, bicara lah ?”


“Ibu, aku kena penyakit kutukan ini, Bu !” ucap Ranita seraya memperagakan tangannya yang terkena penyakit itu.


Di saat Ranita memperagakan penyakit itu pada Ibunya, justru di situlah tampak penyakit itu semakin melebar dan bernanah, bukan hanya di tangan Ranita saja penyakit itu berkembangnya, penyakit itu juga menyelimuti tubuh Ranita.


Melihat hal itu Ranita pun menangis histeris, bahkan Ranita tak bisa mengenakan pakaiannya mesti selembar pun.


Melihat hal itu Ranita pun menangis tiada henti, saat itu juga Zaki dan Gita datang kerumah untuk mengobati penyakit Ranita yang semakin parah dan berbau busuk.


Mesti demikian Mang Ojo selalu memperingati pada setiap anak-anaknya, agar tidak menggunakan masker.


“Kenapa seperti itu Pak ?” tanya Nurul heran.


“Sayang, kalau kita menggunakan masker dalam mengurusnya, pasti kak Ranita mu merasa tersinggung, dan lama kelamaan bukan kesembuhan yang akan dia dapatkan, justru penyakitnya akan semakin parah.”


“Baiklah Pak.” Jawab Nurul dengan suara lembut.


Bukan hanya nurul, saja yang mengurus Ranita, Intan dan Yulia pun selalu setia merawat dan menjaga Ranita dengan sabar dan ikhlas.


“Gimana ini, Dek ? kayaknya penyakit kakak ini, nggak bakalan sembuh ?”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2