Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 132 Kemalingan


__ADS_3

“Mengenai anak Bapak Riza, Nurul semalam bicara pada Abangnya, kalau selama mereka satu kantor, Riza selalu menunjukan sikap anehnya, putri saya merasa takut.”


“Bapak merasa takut, dengan laporan putri Bapak itu?”


“Saya mau yang terbaik untuk anak-anak kita, Pak.”


“Ya, saya sangat mengerti sekali.”


Setelah di tunggu beberapa saat, tak ada sedikit pun komentar dari Pak Handoko, Mang Ojo merasa tak enak hati, di cobanya untuk bertanya sekali lagi.


“Sebenarnya saya malu untuk mengatakannya pak, tapi untuk saat ini saya udah punya jawaban dari permintaan saya waktu itu, jadi saya udah memakluminya.”


Mang Ojo yang merasa tak puas dengan pertanyaan yang di ajukannya, akhirnya mereka berdua kembali pulang dengan keputusan yang hampa.


Fatma yang melihat suaminya kembali, langsung berlari menghampirinya.


“Gimana Pak, apa katanya?”


“Dia nggak bicara apa-apa, Bu.”


“Maksudnya nggak bicara apa-apa, gimana ya?”


“Bapak itu nggak menjelaskan apa-apa tentang putranya itu, saat Bapak tanyakan tentang putranya itu dia hanya menjawab, saya malu menceritakannya Pak, hanya itu jawabannya.”


Fatma benar-benar tak mengerti dengan jawaban dari suaminya itu, akan tetapi dia berusaha untuk memahaminya.


Riza yang mendengar berita penolakan itu dari Papanya, dia tampak tenang dan biasa-biasa saja, tak ada tersirat sedikit pun di wajahnya, kalau dia itu marah. Seperti tak terjadi apa-apa, Riza pun kembali bekerja, menjadi sekretaris pribadi Nurul.


Sebulan telah berlalu, kejadian itu tak lagi di kenang dan di ingat baik oleh Nurul mau pun Riza, mereka tetap bekerja seperti biasa.


Pagi itu sebelum Dika putra Mang Ojo hendak ke ruangan lukisnya, tiba-tiba saja dia di kejutkan, kalau ruang pamerannya telah di bobol pencuri, puluhan lukisan yang bernilai ratusan juta raib, di bawa pergi.


Dika hanya duduk terhenyak di dalam galerinya, tak terasa Dika meneteskan air mata, dia menangis bukan karena semua lukisannya telah hilang, akan tetapi Dika menangis, memikirkan nasib anak panti yang mengharapkan curahan dana dari dirinya.


Mesti selama ini Alhuda, Zaki dan yang lain terus membantu, baik berupa uang atau pun tenaga, namun, Dika tak mau terlalu berharap kepada mereka semua.


Bagi Dika, untuk satu lukisan yang terjual, dia bisa memberi makan anak-anak panti, akan tetapi, jika tak ada lukisan yang mesti di jual, tentu Dika merasa khawatir sekali.


Kesedihannya semakin memuncak, di saat Dika melihat anak-anak kecil berlarian di depan Panti, mereka anak-anak yang lucu yang tak mengerti akan kesulitan hidup, karena yang ada dipikiran mereka saat itu hanya makan dan bermain.


Tanpa bicara sepatah pun, Dika langsung mendatangi rumah Mang Ojo, Dika melaporkan kejadian itu pada Bapaknya.


“Banyak lukisan mu yang hilang Dik?”


“Banyak Pak,” jawab Dika dengan suara lirih.


“Ada berapa?”


“Puluhan juga.”

__ADS_1


“Wow,” ujar Mang Ojo seraya menarik nafas panjang.


“Kapan kejadiannya nak?”


“Mungkin dini hari tadi Pak, soalnya, malam itu sampai jam dua aku masih melukis, selesai melukis aku menutup pintu dan menguncinya, tapi aku nggak melihat ada yang mencurigakan di sekitar galeri itu.”


“Udah kau laporkan ke polisi?”


“Belum Pak!”


“Laporkan secepatnya, biar polisi bisa melacak.”


“Baik Pak,” jawab Dika bergegas untuk keluar rumah.


Ketika hendak keluar, Dika berpapasan dengan Zaki yang hendak pergi bekerja.


“Hei, Dika? Tumben pagi-pagi begini kamu datang kesini. Gimana kabar putrimu sehat kan?”


“Alhamdulillah, sehat Bang,” jawab Dika sembari tersenyum lembut.


“Ada apa?” tanya Zaki ingin tau.


“Lukisan ku di curi orang Bang.”


“Di curi?”


“Iya, Bang.”


“Sepertinya dini hari tadi.”


“Banyak Dik?”


“Lumayan, main puluhan juga.”


“Ya Allah, kasihan sekali dengan anak-anak panti.”


“Itu yang sedang ku pikirkan saat ini Bang, aku bingung, harus minta bantuan pada siapa.”


“Tenang saja, nanti malam kita berkumpul disini, nanti akan kita bahas masalah itu bersama-sama.”


“Baik, Bang, tapi pagi ini aku mau laporkan kejadian ini ke polisi dulu.”


“Ooo, silahkan!”


Defi yang mendengar dengan samar-samar perbincangan antara Zaki dan Dika, mencoba untuk memastikannya.


“Ada apa Bang?”


“Dika kemalingan, puluhan lukisannya di curi orang.”

__ADS_1


“Ya Allah, kapan kejadiannya Bang?”


“Katanya sekitar dini hari tadi.”


“Siapa yang melakukannya ya?”


“Entahlah sayang, tapi Dika udah melaporkan kejadian itu ke polisi kok, biar hukum yang akan menyelesaikannya.”


“Ya, mudah-mudahan semuanya kelar, kasihan anak-anak panti, mereka butuh biaya yang banyak.”


Setelah melaporkan kasus perampokan itu ke polisi, malam harinya seluruh anggota keluarga Mang Ojo mengadakan rapat keluarga, membahas masalah keuangan yang menyangkut kebutuhan anak panti yang begitu banyak.


Sekitar jam delapan malam semua anggota keluarga telah duduk satu meja dengan Mang Ojo, Zakia dan Leni pun sibuk di dapur membuat makanan ringan untuk mereka santap di malam itu, hadir juga Ema yang ikut membantu kegiatan di dapur.


“Jadi gimana caranya, kita mengatasi masalah ini sayang? Nggak mungkin kan, kalau semua masalah ini kita serahkan pada Dika, sementara biaya untuk anak-anak panti ini nggak sedikit lhoh,” ujar Mang Ojo saat itu.


Setelah Mang Ojo memecahkan masalah biaya anak-anak panti di dalam rapat keluarga, akhirnya mereka semua sepakat akan menanggung biaya keseluruhan anak panti bersama-sama.


Sementara itu, untuk menyambung kebutuhan anak-anak panti, Dika kembali menggoreskan kuasnya di atas kampas putih, namun setelah dua lukisan selesai, tak seorang pun yang mau membelinya, kepanikan pun terjadi setelah lima bulan berlalu.


Baik Alhuda dan yang lainnya telah kehabisan uang tabungan mereka, untuk itu Dika terpaksa harus mencari donatur agar dapat membantu keuangan anak-anak panti.


Di saat itulah Direktur tempat Nurul bekerja bersedia menanggung semua biaya anak-anak panti, tapi dengan satu catatan, agar Nurul bersedia menikah dengan putranya.


Nurul menangis histeris, karena mereka masih saja mengharapkan Nurul untuk di jodohkan dengan anaknya. Mang Ojo pun bersikeras untuk menolaknya, agar bantuan dari Pak Handoko di batalkan saja.


“Mereka minta Nurul agar bersedia menikah dengan putranya Pak.”


“Nggak, Bapak nggak setuju, kamu tau sendirikan Dika, pria itu seorang psikopat! Bapak nggak mau Nurul jadi korban kekerasannya.”


“Bapak tau dari mana kalau dia itu psikopat, Pak!”


“Itu kata Nurul nak! bapak mohon carilah bantuan ketempat yang lain dulu, siapa tau masih ada di luar sana yang bersedia mengulurkan bantuannya untuk anak-anak panti.”


“Baik Pak, akan ku coba.”


Bukan hanya Dika saja yang mencoba bergerak kesana kemari mendatangi semua perusahaan namun Zaki, Alhuda dan Niko juga bergerak untuk meminta bantuan.


Namun alhasilnya tetap tidak memadai, siang itu, Mang Ojo pergi ke panti untuk memeriksa keadaan anak-anak di sana, semuanya tampak berubah dari yang biasanya.


“Benar Pak, panti ini akan di tutup?” tanya seorang penghuninya.


“Nggak! Siapa yang bilang kalau panti ini akan di tutup.”


“Bukankah, Pak Dika sudah kehabisan dana untuk membiayai mereka semua.”


“Pak Dika masih punya dana kok, kalian nggak usah kuatir.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2