
“Dalam minggu ini Pak, semuanya sudah intan persiapkan, Bapak dan Ibu hanya tinggal berangkat aja.”
“Oh, ya Allah !” seru Mang Ojo seraya melaksanakan sujud sukur, disusul pula oleh seluruh anggota keluarganya.
Dalam kesempatan itu Mang Ojo tampak menangis terharu air matanya membasahi pipinya yang sudah keriput.
“Akhirnya do’a Bapak dan Ibu mu terwujud juga nak.” kata Mang Ojo seraya meneteskan air mata.
“Kau dapat uang nya dari mana nak ? kok bisa membayarkan Ibadah haji Bapak dan Ibu ?” tanya Fatma heran.
“Itu semua keuntungan dari rumah makan berkah Bu.”
“Bukan kah, baru-baru ini kau mengeluarkan uang begitu banyak untuk biaya sekolah sepuluh orang anak-anak itu nak ?”
“Kalau untuk biaya sekolah mereka semua sampai tamat kelas enam, uangnya udah aku transfer ke rekening sekolah mereka Bu.”
“Jadi Ibu dan Bapak nggak usah khawatir, karena semuanya udah Intan selesaikan lima bulan yang lalu.”
“Sungguh tiada Bapak sangka nak, ternyata kau punya niat untuk memberangkatkan kami ketanah suci. Bapak sungguh terharu, sehingga nggak ada yang dapat Bapak ucapkan, selain kata terimakasih pada Allah. Karena Dia telah memberi kami anak-anak yang sangat luar biasa seperti kalian.”
“Bapak ! semua ini tentu nggak terlepas dari kerja sama kita sekeluarga, Intan bisa berhasil juga karena didikan Bapak dan Ibu.” Kata putri kedua Mang Ojo itu.
Sekarang tenangkan hati Bapak dan Ibu, karena dalam waktu dua minggu lagi, tanah suci Makkah telah memanggil.”
Lalu dengan rasa haru dan deraian air mata, Mang Ojo dan Fatma memeluk kelima anak-anaknya. Hatinya terasa tersentuh sekali, karena di usia senjanya, Allah masih memberikan kesempatan untuk bersujud didepan Ka’bah.
Di hari-hari keberangkatannya ke tanah suci, Mang Ojo dan Fatma sering sekali keluar rumah untuk melaksanakan manasik haji, Alhuda yang memiliki mobil kantor selalu setia mengantar jemput kedua orang tuanya.
Dan untuk kedai nasinya, yang saat itu sedang berkembang begitu pesat, telah di percayakan nya pada Nurul. Karena Fatma ingin fokus pada Ibadah yang akan dilaksanakannya.
Di acara pelepasan Mang Ojo dan Fatma mereka mengadakan syukuran untuk melepas kepergian kedua orang tua mereka agar selamat sampai ke tujuan dan kembalinya nanti.
Seminggu setelah pertemuan itu, Mang Ojo dan istrinya berangkat ketanah suci. Mereka dilepas dengan do’a bersama anak-anak yatim dan fakir miskin.
Ditanah suci Mang Ojo beserta istrinya menunaikan ibadah haji dengan tenang, tanpa mengalami gangguan sama sekali.
Tapi ada suatu keanehan berulang kali terjadi yang dialami oleh Fatma istri Mang Ojo. Selama berada di tanah suci.
“Pak tadi Aku melihat Intan bersama kita ?”
“Ibu, nggak usah berfikir yang macam-macam, kita kesini pergi Ibadah.”
“Aku tau itu Pak.”
Fatma melihat Intan ikut menunaikan ibadah haji bersamanya. Berkali-kali hal itu diberitahu Fatma pada suaminya, namun Mang Ojo tetap tak melihatnya.
Mang Ojo pun menasehati istrinya agar tidak memikirkan yang lain selain Allah, namun Fatma tetap saja melihat Intan ada bersamanya selama menunaikan ibadah haji.
“Nggak mungkin Aku salah lihat, Pak ! Dia pasti Intan putri kita.”
“Sudahlah, Bu ! Bapak kan sudah menasehati Ibu untuk fokus saja dengan ibadah kita, jangan pikirkan yang lain itu akan menjadikan konsentrasi kita menjadi rusak.”
__ADS_1
“Baik pak !” jawab Fatma mematuhi nasehat suaminya.
Intan memang anak yang berbakti, selain dia cepat tanggap, Intan taat beribadah. Dia pandai membuat hati kedua orang tuanya senang.
Di bidang studi, Intan juga meraih begitu banyak prestasi dan jurusan manajemen yang diambilnya di bangku kuliah, membuat jiwa bisnisnya lebih tajam dari yang lainnya.
Mungkin itu yang membuat Fatma sering melihatnya di Makkah.
Dalam melaksanakan Ibadah haji, Mang Ojo dan Fatma dapat mencium batu hajarul aswad, seperti yang di inginkan bagi setiap jama’ah yang kesana.
Mang Ojo dan Fatma merasa senang dan puas, karena pada hari itu niatnya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima telah tercapai dengan baik dan sempurna.
Sementara Mang Ojo yang masih berada di tanah suci Makkah, Intan dan yang lainnya sibuk mengurus segala sesuatunya dirumah, dengan dibantu Ranita, Intan membuatkan kado sepesial untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
“Gimana Dek, kamu puaskan dengan rancangan kakak ?”
“Sangat puas sekali, kakak memang hebat, gaya bangunan yang kakak buat pun sangat bagus, sampai-sampai, bapak selalu memuji kalau dia mampir ke restoran ku.”
“O ya ?”
“Kakak tau nggak, sebenarnya hati ku sangat sedih sekali waktu itu, ingin sekali aku membongkar rahasia ini, tapi jika rahasia ini ku bongkar, pasti bukan kejutan kan Namanya ?”
“Aduh ! adek kakak ini memang luar biasa.”
Di saat mereka berdua sedang asik ngobrol bersama, Alhuda pun datang menghampiri mereka.”
“Ayo, lagi membahas apa ?” tanya Alhuda tersenyum lebar.
“Iya, kak !” jawab Alhuda seraya mencium tangan Ranita.
“Gimana pekerjaannya sayang, aman kan ?”
“Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar kak.”
“Gaji seorang direktur Bank, besar lho.”
“Ah kakak, bisa aja kok !”
“Kamu ada nabung kan ?”
“Insya allah, setiap aku terima gaji, Bapak selalu menyuruh aku menyimpannya, untuk masa depan ku nanti.”
“Iya, begitulah sebaiknya, karena masa depan mu masih panjang dan butuh perjuangan untuk mencapainya.”
“Iya, kak terimakasih.” Jawab Alhuda tersenyum.
“O iya, kayaknya kakak harus pergi nih, masih banyak pekerjaan yang harus kakak kerjakan, nanti kalau Bapak dan Ibu udah pulang kabarkan kakak ya, sayang !”
“Iya, nanti kalau mereka udah berencana mau kembali ke Indonesia, kami pasti kabarkan kakak kok.”
“Ya udah, kakak permisi dulu, jaga dirimu dan adik-adik, pastikan dia aman di dalam pengawasan mu.”
__ADS_1
“Baik kak.” Jawab Alhuda seraya mengiringi Ranita masuk kedalam mobilnya.
“Da !”
“Hati-hati ya kak !”
“Iya, sayang.” Jawab Ranita dengan suara lembut.
Di hari-hari menunggu kepulangan Mang Ojo, hati Intan masih belum merasa puas, dia masih ingin membuat sesuatu yang orang lain tak menyangka sama sekali.
“Aduh, aku mesti melakukan apa lagi ya ?”
tanya Intan pada dirinya sendiri. “O, aku ada ide !” ucapnya sembari bergegas mencari taksi.
“Mau kemana Neng ?” tanya sopir taksi itu ingin tau.
“lanjut aja dulu Pak, nanti aku kasih tau.”
“O, baiklah.” Jawab Sopir seraya melajukan kendaraannya.
Setibanya didepan rumah Ranita, taksi itu langsung berhenti, dan Intan bergegas untuk turun.
“Sebentar ya Pak !” kata Intan pada sopir taksi yang sedang menunggu.
Lalu dengan cepat Intan, menuju pintu yang ada satpam penjaganya disana.
“Pak, bisa panggilkan kak Ranita, bilang Intan datang ingin ketemu.”
“Baik Neng.” Jawab Satpam itu seraya bergegas menemui tuannya.
Tak lama berselang dia pun kembali bersama dengan Ranita.
“Hei Intan ada apa dek ?”
“Kak, aku butuh Bang Niko untuk bantuin aku nantinya.”
“Bang Niko ?”
“Iya, dia itu kan kenal dengan Bapak, jadi apa salahnya kalau dia juga kita ikut sertakan dalam rencana ini.”
“Ooo, baiklah, nanti akan kakak kabarkan padanya.”
“Terimakasih, ya kak. Aku permisi dulu !”
“Nggak minum dulu sayang !”
“Nggak kak lain kali aja, soalnya aku lagi keburu.”
“O gitu ya, baiklah !” jawab Ranita seraya tersenyum manis.
Bersambung...
__ADS_1