
“Benar kata perawat ini Pa, tapi Mama memanggil-manggil nama Bang Niko ?”
“Niko ? untuk apa Mama mu menanyakan Niko ?”
“Entahlah Pa ? Fitri nggak tau.”
“Ibu Retno, hanya ingin bertemu dengan Niko, apa Niko ada Pak ?” tanya Suster itu pada Hermawan.
“Nggak, sus. Niko sedang pulang ganti pakaian.” jawab Hermawan berbohong.
“Wah gawat, apa perlu saya panggilkan dia pulang ?” tanya Hermawan Pada perawat itu.
“Ya, lebih cepat lebih baik.” Jawab Suster itu.
“Iya Pa. Pasti Bang Niko merasa senang kalau dia tau Mama udah siuman.”
“Baiklah akan Papa jemput Niko pulang, tapi Papa mesti jemput kemana Fit ?”
“Ya kerumah kak Intan lah.”
“Masalahnya Fit, Papa nggak mungkin kerumah Kak Intan, kan mereka baru Papa marahin tadi.”
“Papa sih, ikut-ikutan memarahi keluarga kak Intan, apa karena mereka orang miskin dan keluarga pemulung ?”
“Kamu kok malah membela mereka sih ! bukannya Papa.”
“Jika saja nanti Fitri mendapatkan suami orang miskin, pasti kalian memperlakukan hal yang sama padanya.”
“Ah udah, udah ! kamu kok jadi ngomong kayak gitu sih ? soal jodoh itu kan ada ditangan tuhan, jadi nggak perlu dibahas sekarang, yang perlu kita bahas sekarang bagai mana cara menjemput Niko agar segera kembali kerumah ini."
“Papa pikirin aja sendiri ! itu kan masalah Papa ! lagian Fitri mau ketempat Mama dulu.”
“Heh, Fit ! tunggu ! gimana solusinya !”
“Papa cari aja sendiri ?”
“Huuh fitri ! bukannya ngasih solusi, eh dia malah pergi begitu saja.” Gerutu Hermawan.
Badrun yang mendengarkan teriakan Hermawan, dia langsung menghampiri majikannya.
“Tuan mau saya kasih solusi ?”
“Solusi apa ?”
“Solusinya biar saya pikirin nanti dijalan, gimana kalau sekarang saya menemui Den Niko dulu tuan ?”
“Baiklah, sekarang pergilah kamu kerumah Niko dan katakana padanya kalau Mamanya udah siuman.”
“Baik tuan.” Jawab Badrun
Setelah Badrun pergi, Hermawan langsung menemui perawat yang menjaga ruangan Retno istrinya.
“Apa boleh saya yang masuk, menemani istri saya, sus ?”
“Silahkan kalau Bapak mau menemani istri Bapak.”
“Terimakasih, sus.” Kata Hermawan seraya melangkah menuju ruang rawat istrinya.
__ADS_1
Dari kaca jendela, Hermawan melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya, Retno lebih memilih berbaring di rumah sakit dari pada merestui Putranya menikah. Sungguh begitu sempit jiwanya sebagai seorang Ibu.
Sebenarnya hati Hermawan merasa sakit sekali karena dia tak mampu mendidik istrinya menjadi istri yang patuh dan taat pada perintah suaminya.
Begitulah cara manusia berfikir, selalu inginkan yang terbaik mesti terkadang mereka harus menghalalkan berbagai macam cara. Walaupun mereka tau kalau jalan yang mereka tempuh itu salah, namun mereka tetap pada prinsip awal, inginkan hal yang instan.
Begitu juga dengan Retno dan Rasti mereka menghalalkan segala cara agar keinginannya terpenuhi, mesti harus berjibaku melawan maut seperti Retno.
Setelah keluarga mengetahui kalau Mama tercintanya sadar dari koma, Hermawan berlari secepat mungkin menemui istrinya.
“Mama mau Niko, Pa ?” pinta Retno pada suaminya.
“Baik, akan Papa jemput Niko untuk Mama.”
Jawab Hermawan dengan perasaan girang.
Mesti dia tak berfikir sama sekali kalau Niko telah diusirnya.
Sesuai permintaan Retno, Hermawan langsung berlari keluar ruangan. Dan memberitau kepada anak-anaknya yang lain tentang keinginan Mamanya itu.
“Mama mu mengiginkan Niko secepatnya, kita mesti gimana ?” tanya Hermawan bingung.
“Kan Papa udah menyuruh Pak Badrun menjemput Bang Niko kan ?” tanya Fitri.
“ O iya, tapi kenapa begitu lama ya ?”
“Kalau kerumah kak Intan, ya lama lah Pa ! Kan tempatnya jauh ?”
“Tapi kenapa begitu lama ya ?” tanya Hermawan pada anaknya.
“tapi Fitri ragu Pa, apakah Bang Niko mau atau nggak ?”
“Iya juga sih !”
“Lalu apa lagi yang mesti di ragukan ?”
“Kenapa nggak papa aja yang jemput Bang Niko, bukankah Bang Niko pergi karena Papa usir dan papa kasar pada mertuanya ?”
“Ah, Papa nggak mau jemput abang mu fit !”
“Kenapa ? Papa malu ya ?”
“Malu ? Kenapa mesti malu, kan dia itu Papa yang ngusir.”
“Lalu gimana dengan permintaan Mama, Pa ?”
“Kan udah ada Badrun yang jemput, nanti kalau Papa yang jemput, dia keras kepala lagi.”
"Gimana kalau kamu aja yang jemput nya Fit ?"
"Nanti kalau Bang Niko nya nggak mau gimana ?"
“Pasti dia Mau.”
“Baik, tapi kalau Bang Niko nggak mau datang jangan salahkan Fitri Ya ?”
“Kamu ini Fit, belum berangkat udah kembali.” Kata Hermawan menyakini putrinya itu.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu biar aku yang menyusul Pak Badrun.” Jawab Fitri sembari meraih tas sandang yang tergeletak di atas kursi tunggu.
Disaat Fitri hendak menjemput Niko, hati Hermawan merasa tak tenang, dia berjalan hilir mudik, menunggu kedatangan Fitri dan Niko.
Dia begitu yakin kalau Niko pasti datang menemui Mamanya yang sudah siuman.
“Tenang, Pa ! jangan membuat kami cemas.” Kata lia memberi saranan pada Papanya.
“Tapi Papa nggak sabaran menanti kedatangan Niko, sayang ?”
“Loh kenapa Papa mesti nggak sabaran !”
“karena kalian itu, bikin Papa stress ! rusak konsentrasi aja !” gerutu Hermawan seraya kembali duduk.
Sementara itu, Badrun yang udah datang duluan, dia pun menghampiri, Niko.
“Hei, ada Pak Badrun rupanya.”
“Iya Den.”
“Mau nemui aden !”
“Ada perlu ?” tanya Niko seraya duduk di samping Badrun.
“Mama aden udah siuman Den.”
“Oh, syukurlah.” Jawab Niko singkat.
Lalu mereka berdua pun sama-sama diam sejenak, sepertinya tak ada masalah yang akan mereka bahas dalam pertemuan itu.
Tak berapa lama kemudian Intan pun keluar, seraya membawa segelas kopi panas untuk suaminya.
Setibanya dia diluar, Intan kaget saat melihat seseorang ada bersama Niko.
“Heh, ada tamu rupanya ?”
“Non.” Sapa Badrun seraya sedikit menundukkan badannya.
Melihat Badrun menundukan kepalanya, Intan pun tersenyum lebar, tapi dia merasa sedikit heran, karena tak pernah seumur hidupnya ada orang yang membungkukkan badannya saat bertemu dengannya.
Lalu dengan pelan Intan pun menghampiri suaminya.
“Siapa dia Bang ?”
“Dia sopir Abang.”
“Ooo. Tapi, lain kali kalau kita bertemu Bapak nggak perlu membungkukan badan segala, karena Bapak kan udah tua, semestinya kami yang seperti itu."
Mendengan ucapan Intan, Niko menjadi heran karena menurutnya seorang sopir itu memang harus seperti itu, hormat pada majikan bila mereka bertemu.
“Kenapa begitu sayang ? kan Pak Badrun ini sopir kita.”
“Walaupun Pak Badrun bekerja sebagai sopir, tapi bukan berarti kita menganggapnya rendah kan Bang ? sama seperti Abang dengan atasan, kalau kalian bertemu apakah Abang juga menundukkan badan seperti itu ?”
“Nggak !”
“Kenapa nggak ?”
__ADS_1
“Ya beda lah sayang, Abang kan bekerja sebagai pengacara !”
Bersambung...