Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 26 Pemaksaan kehendak


__ADS_3

“Habis, Papa mesti gimana Ma ? harus ikut-ikutan Mama, memarahin Niko, gitu. Menurut Papa biarkan dia memilih jodohnya sendiri ! Jangan paksakan kehendak Mama itu pada Papa dong ! dan dalam masalah ini kita tak sepakat, titik !” kata Hermawan dengan suara lantang.


“Kalau begitu, baiklah Mama akan merestuinya ! cepat Papa kejar dia !”


“Baiklah kalau Mama sudah merestuinya, papa bakalan kejar dia.”


Setelah Hermawan berlari keluar, ternyata Niko sudah tak ada, dia pergi dengan membawa sepeda motor miliknya. Dan Hermawan pun berlari mengejar hingga kejalan, tapi Niko tak terlihat lagi.


“Sial dia sudah keburu pergi !” gerutu Hermawan, seraya memukul tembok didinding rumahnya.


“Gimana, Pa ? Niko nya ada ?”


“Dia sudah pergi, Ma ? Papa udah mengejarnya, tapi Niko nggak terlihat lagi.” Jelas Hermawan pada istrinya.


Mendengar kata suaminya itu, jantung Retno berdesir begitu kuat, lalu tubuhnya terasa lemah dan Retno langsung terkapar.


Pak Badrun, sopir pribadi Niko, terkejut dan berlari menolong majikannya itu.


“Ayo Badrun kita bawa Ibu kerumah sakit !” kata Hermawan seraya mengangkat tubuh istrinya keatas mobil.


“Mari tuan..” jawab Badrun, sambil berlari membukakan pintu mobil. Dengan sigap Badrun langsung menstater mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi, guna melarikan Retno kerumah sakit.


“Tenang Badrun, untuk menyelamatkan satu orang kita nggak mungkin kehilangan tiga nyawa sekaligus bukan ?”


“Baik tuan, jawab Badrun dengan suara lembut.


Setibanya didepan rumah sakit Pak hermawan langsung berteriak-teriak memanggil perawat.


“Suster ! suster ! ada pasien yang anfal !” teriak Hermawan dengan suara lantang.


Sesaat kemudian para perawat keluar dengan membawa alat kejut jantung, masih diatas mobil Bu Retno langsung mereka tolong, sehingga nyawanya dapat di selamatkan.


Setelah bisa bernafas kembali baru Retno dibawa keruangan UGD. Diruangan itu Ranita melihat Mama Niko, sedang didorong kedalam ruangan, bertepatan disebelahnya.


Tapi Ranita diam saja “ Pasti ini gara-gara yang sama.” Hati Ranita berkata.


Tak banyak komentar, para perawat itu dengan sigap memasang infus dan selang oksigen. Hermawan berkali-kali mencoba menghubungi Niko, namun tak ada jawaban.


“Badrun !” panggil Hermawan.


“Saya tuan !” jawab Badrun.


“Kamu tau kemana Den Niko mu pergi ?”


“Tau tuan ?”


“Sekarang cepat kamu susul dia, bilang kalau jantung Mamanya anfal lagi, dan berada dirumah sakit.”


“Baik tuan.” jawab Badrun seraya berlari menuju mobilnya.


Tak berapa lama kemudian, dijalan utama menuju bundaran hotel, Badrun melihat Niko sedang duduk di trotoar jalan.

__ADS_1


Dia tampak begitu sedih sekali, terlihat dari sorot matanya yang hampa dan Badrun pun menghampirinya.


“Den, Aden ! sapanya dari atas mobil.


Niko menoleh kearah suara itu berasal, dan berdiri menghampiri sopir pribadinya itu.


“Ada apa Pak ?”


“Mama, Aden !”


“Kenapa dengan Mama, Pak ?”


“Dia anfal lagi den, sekarang ada di rumah sakit.”


“Apa ! Mama anfal ?”


“Iya Den ! tuan udah berusaha menghubungi Aden namun nggak ada jawaban.


“Hp saya tinggal dikamar Pak, saya perginya keburu-buru, sehingga lupa membawanya.”


“Kalau begitu ayo Den, ikut Bapak kerumah sakit.”


“Ayo Pak ! Ayo !” jawab Niko seraya bergegas menuju rumah sakit.


Sepeda motor yang dikendarai Niko melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Badrun merasa kuatir sekali dengan keselamatan majikannya.


“Aduh Den Niko ! kenapa ngebut Den ? ya Allah, lindungi majikan ku yang baik ini, dari marabahaya Desah Badrun dengan suara pelan.


Namun karen Niko melajukan sepeda motornya semakin kencang lagi, jantung Pak Badrun juga ikut berdetak dengan kuat.


Beberapa saat kemudian tibalah mereka berdua dirumah sakit, dengan keburu-buru Badrun menggandeng tangan Niko, untuk menemui Mamanya.


Didalam ruang UGD, Niko melihat Mamanya dalam keadaan tak sadarkan diri. Ada selang oksigen dan infus ditangannya.


Disebelahnya juga ada Ranita yang sedang dirawat. Tapi Niko diam saja, hatinya menduga pasti masalah yang sama juga terjadi pada sahabatnya itu.


“Mama, ini Niko Ma ! Ma bangun, Ma ! Niko udah datang.”


“Mamamu anfal Nik, sakit jantungnya kambuh saat mendengar kau pergi dari rumah. Papa udah mencoba mengejarmu, tapi kau sudah jauh. Mamamu merestui pernikahanmu dengan Intan, nak ! asalkan kau jangan pergi dari rumah.”


“Maafkan Niko, Pa ! tadi Niko tersulut emosi, hingga membuat papa dan Mama susah.”


“Udahlah, nak ! Ini semua bukan salahmu kok, Mamamu aja yang memaksa kan kehendaknya.


Kami terlalu keras padamu, nanti kalau Mama sudah sembuh, kita lamar intan bersama-sama.” Kata Hermawan dengan tenang.


“Terimakasih, Pa.”


“Iya, sama-sama.”


Diam-diam percakapan Niko dan Papanya didegar oleh Ranita, hatinya jadi semakin sedih dan sakit.

__ADS_1


Ranita merasa keluarganya tidak tulus menyayanginya. Dan lebih mementingkan harta ketimbang kebahagian anaknya.


“Tak begitu lama kemudian, Niko pun menghampiri Ranita, yang saat itu sedang mencoba untuk memejamkan matanya.


“Kau sedang tidur nit ?” tanya Niko dengan suara pelan.


“Niko ?”


“Ssst, jangan panggil kuat-kuat, Mama ku lagi anfal.” Jelas Niko.


“Pasti karena masalah itu kan ?”


Niko tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya saja, pertanda, pertanyaan Ranita telah mendapatkan jawaban dari dirinya.


“Aku juga, Nik !”


“Apa hingga saat ini, keluargamu belum merestuinya ?"


Belum.” Jawab Ranita sembari menggelengkan kepalanya.


“Lalu apa rencana mu Nit ?”


“Jika mereka nggak mau merestuinya, aku akan tetap, menikah dengan Alhuda, dan bersedia menanggung resiko apa pun itu, karena selama ini aku udah beri kesempatan itu pada mereka berdua."


“Jadi kau menikah tampa restu mereka ?”


“Iya, Nik.”


“Semoga saja dengan cara itu, pintu hati mereka terbuka ya Nit.”


“Iya, terimakasih atas simpatiknya Nik.”


“Iya, sama-sama.”


Takut kedua orang tua Ranita mengetahui rencana mereka, Niko pun segera pergi dari tempat itu dan kembali ketempat Mamanya berada.


Benar saja, setelah Niko pergi, Mama Ranita pun masuk kedalam dan menghampiri putrinya yang tampak terbaring lemah tak berdaya.


“Kau belum mau ngomong sama Mama sayang ?” tanya Resti dengan suara lembut.


Di saat Mama Ranita bicara, sebenarnya hati Ranita terasa terhenyuh saat itu, tapi Ranita terpaksa melakukannya.


“Maafkan aku Ma, aku terpaksa harus melakukannya, karena semua ini demi masa depanku.” Gumam Ranita pelan.


“Sebenarnya Mama bukannya nggak mau merestui pernikahan mu sayang, tapi ! mbok ya dipikirkan dulu ! masa orang kaya hanya dapat anak seorang pemulung. Malu dong.” Ucap Resti memberi bayangan pada putrinya yang masih diam.


Walau Ranita mendengar semua yang di katakan Mamanya, namun tak sepatah katapun yang di jawabnya, dia lebih memilih bungkam dari pada mengomentari yang tak perlu.


“Gimana nduk, ngomong dong ! apa kek, asalkan Ranita mau bicara dengan Mama.”


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari putrinya, Resti hanya bisa menarik nafas panjang sembari mengeluh.

__ADS_1


“Ternyata kau lebih memilih bungkam ketimbang bicara sama Mama sayang.”


Bersambung...


__ADS_2