
Hati Retno begitu cemas sekali, takut kalau semua perhiasan itu di berikan Hermawan pada Intan, karena sebagian perhiasan itu milik dirinya juga.
“Aduh hermawan! Kemana kau ini sebenarnya. Jangan bilang kalau semua perhiasan itu kau berikan pada putri pemulung itu ya.” gerutu Retno pelan.
Fitri yang melihat Mamanya mondar mandir di depan rumah, datang menghampirinya.
“Ngapain sih, Ma? Dari tadi kok mondar mandir kayak gosokkan aja?”
“Mama lagi pusing Fit!” ujar Retno, sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Pusing, pusing kenapa Ma?”
“Itu Papa mu, membawa semua perhiasan Mama.”
“Papa membawa perhiasan Mama?”
“Iya Fit.”
“Nggak mungkin, untuk apa coba?”
“Untuk diberikannya kepada Intan.”
“Kenapa harus perhiasan Mama, yang di berikan Papa pada kak Intan.”
“Itu masalahnya Fit, Mama jadi heran dengan tingkah laku Papa mu ini.”
Fitri merasa heran sekali, karena tak mungkin Papa nya melakukan hal yang di maksud Mamanya, karena selama ini, Papanya tak pernah melakukan hal seperti itu.
Seraya menatap ke arah Mamanya, Fitri berfikir sendiri di dalah hatinya, karena setelah sekian tahun menikah dengan Mamanya, baru kali ini terjadi hal semacam itu.
“Mama yakin, kalau Mama nggak membuat kesalahan?”
“Maksud mu apa Fit?”
“Maksud ku, Mama yakin kalau dalam perhiasan yang Mama simpan, nggak ada benda yang lain.”
“Benda yang lain, benda yang lain apa Fit?”
“Mama mengambil perhiasan orang barang kali.”
“Ooo. Jadi kau menuduh Mama mu ini mencuri punya orang?”
“Entahlah, Mama pikirkan aja sendiri!”
“Jaga ucapan mu ya Fit, Mama mulai nggak suka dengan cara mu itu!” bentak Retno dengan keras.
“Kenapa Mama mesti marah, kalau memang Mama nggak mencuri ya nggak apa-apa!”
“Tapi cara mu itu Fit, kau seolah-olah menuduh Mama yang mengambil barang orang lain.”
“Aku nggak ada bicara seperti itu, kenapa Mama bicara seperti itu, atau jangan-jangan Mama benar telah mencuri uang orang lain.”
“Diam!” bentak Retno.”
“Ya udah, aku masuk dulu kekamar.”
Setelah Fitri pergi, Retno bukannya tambah tenang, pikirannya justru bertambah kalut, kepergian Hermawan suaminya membuatnya merasa takut.
Satu jam menunggu di depan rumahnya, tiba-tiba Hermawan pun datang, belum sempat turun Hermawan dari dalam mobilnya, Retno udah datang menyusul suaminya itu.
__ADS_1
“Kembalikan, cepat kembalikan!” kata Retno dengan nada memaksa.
“Kembalikan apa, suami baru datang juga, bukan di sambut dengan senyum manis, eh, malah bicara nggak karuan.”
“Ayo dong Pa, kembalikan perhiasan Mama yang papa ambil!” desak Retno kemudian.
“Perhiasan apa?”
“Semua perhiasan Mama yang Papa ambil dari dalam lemari, cepat kembalikan.”
“Papa nggak pernah menyentuh perhiasan Mama!” bentak Hermawan dengan suara keras.
“Papa serius?”
“Iya, Papa serius.”
“Lalu kemana perginya perhiasan Mama yang banyak itu, kok udah nggak ada lagi di kamar.”
“Itu makanya jadi orang tua jangan berbuat culas, perhiasan mantu pun di curi, rasakan akibatnya, hilangkan semua kan?”
“Tapi Mama nggak yakin, ini pasti ulah kelakuan Papa.”
“Terserah! Bicara jujur pun nggak ada gunanya, lalu untuk apa bicara, lebih baik masuk kamar dan tidur.”
Melihat sikap suaminya seperti itu, Retno semakin kesal di buatnya, dia pun mengikuti Hermawan sampai ke dalam kamar, sementara itu Hermawan yang melihat kamarnya berantakan, hanya bisa gelang-gelang kepala.
“Bicara dong Pa. Papa bawa kemana semua perhiasan Mama itu?”
“Udah Papa kasihkan ke Intan,” jawab Hermawan dengan santai.
“Apa! Papa memberikan semua perhiasan Mama ke Intan anak pemulung itu?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak, Papa serius.”
“Papa tau nggak, di dalam perhiasan itu, ada perhiasan Mama juga, Pa!”
“Mana Papa tau.”
“Kok Papa ngomongnya kayak gitu sih.”
“Mama tau nggak, berapa kerugian yang di alami Intan?”
“Mana Mama tau.”
“Lima miliar, Ma! Perhiasan dan semua uangnya habis di bawa kabur oleh orang suruhan Mama itu.”
“Aalah! Itu hanya akal-akalan anak pemulung itu saja Pa! mana ada dia punya uang sebanyak itu.”
“Mama ingin tau dari mana putra kita mendapatkan uang sebanyak itu?”
“Peduli amat, buat apa Mama tau, dia sendiri nggak mau mengurus Mama.”
“Heh, Mama mesti dengar dulu penjelasan Papa! Niko itu mendapatkan uang dari hasil ketiga restorannya Ma.”
“Tiga restoran?”
“Iya, jadi selain restoran berkah yang ada di Jakarta ini, Intan juga buka dua cabang, satu di Batam dan satunya lagi di kota Padang.”
__ADS_1
“Wow! Jadi putra kita itu orang kaya ya, Pa?”
“Sekarang nggak lagi Ma, modalnya udah habis di rampok oleh Mamanya sendiri.”
“Papa nyindir Mama ya?”
“Bukan hanya nyindir Ma, tapi semua itu kenyataan bukan?”
“Sebentar lagi putramu itu akan jadi miskin, karena nggak punya modal lagi untuk berjualan, ketiga restoran yang dia kelola akan bangkrut dan mengalami gulung tikar, kemudian dia akan menjadi seorang pemulung seperti ayah mertuanya Ma.”
“Ah, Papa jangan nakut-nakutin Mama, kenapa sih!”
“Siapa juga yang nakuti Mama, Papa ini bicara serius, tadi Papa dari rumah Niko, dan dia sendiri yang bilang ke Papa seperti itu.”
“Baguslah kalau begitu, berarti perempuan sial itu akan di depak dari restoran milik Niko.”
Mendengar Retno bicara seperti itu, Hermawan jadi penasaran, sepertinya tanpa sepengetahuan suaminya, Retno sudah berbuat sesuatu.
“Perempuan sialan, perempuan sialan siapa Ma?”
“Itu Pa, perempuan yang bekerja di restoran Intan.”
“Perempuan yang bekerja direstoran Intan? Emangnya kenapa dengan Dia?”
“Mama beratem Pa, sama perempuan itu, awalnya kami Cuma bertengkar mulut, habis itu main tarik-tarikan,” jelas Retno pada suaminya.
“Jadi siapa yang kalah?”
“Ya Mama sih, tapi, malamnya, Mama langsung suruh pereman untuk mengambil semua perhiasan dan barang berharga milik anak pemulung itu. Biar tau rasa dia!” ujar Retno dengan bangganya.
“Ya Allah, sadarkanlah istri ku yang durjana ini ya Allah, karena dia telah menzolimi putranya sendiri,” ucap Hermawan sembari menengadahkan kedua tangannya.
“Hiss! Papa ini kalau ngomong, nggak pakai pikiran ya, emangnya siapa yang jadi istri durjana itu! Mama maksudnya?”
“Ya iya, siapa lagi kalau bukan Mama, emangnya Papa punya istri dua apa!”
“Papa ya, kalau ngomong suka nyebelin tau nggak.”
“Nggak, Papa nggak tau.”
“Iiih! Bikin kesal aja kelakuannya.” Gerutu Retno.
“Ingat ya! sebentar lagi putramu bakal jadi pemulung, persis seperti yang kau do’akan.”
Retno hanya diam saja, mendengar ucapan suaminya itu, suaminya benar, sebentar lagi Niko akan jadi pemulung karena kehabisan modal.
“Berarti orang suruhan Mama itu membohongi Mama dong Pa.”
“Membohongi Mama gimana?”
“Mereka hanya ngasih Mama, kalung dan tiga gelang serta empat buah cincin seberat satu emas dan uang satu juta, katanya brangkas Intan udah kosong.”
“Mama serius?”
“Iya, Pa. Mama nggak bohong.”
“Berarti mereka udah menipu Mama, lagian mana ada di zaman sekarang ini, orang jujur Ma, apa lagi kalau mereka udah melihat uang, habislah sudah,” ujar Hermawan.
“Jadi kita mesti gimana Pa, Mama takut kalau Niko jadi pemulung nantinya.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*