Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 91 Pertikaian


__ADS_3

“Itu, tu. Dihadapan Abang! Apa Abang melihatnya?”


"Ooo, yang dihadapan Abang ini.”


“Iya,” ujar Ranita sembari melindungi wajahnya dengan tisu tersebut.


“Kayaknya, dia nggak ngenalin Abang, dek.”


“Itu karena dia sedang asik bicara dengan seseorang.”


“Kalau begitu tunggu sebentar,” ucap Ranita sembari menghampiri Retno dan duduk di sampingnya.


Perlahan dalam percakapan Retno itu, dia sedang kesal dengan seseorang yang telah di perintahnya.


“Kamu ini gimana sih, itu aja nggak becus!”


Secara samar, Ranita mendengar Retno sedang berkata becus. Hati Ranita menduga, kalau Retno saat itu sedang membahas hal yang sangat penting.


“Becus, jika ada ujung kaliamat yang mengatakan, becus, pasti kata sebelumnya, nggak, atau bisa jadi tadi Bu Retno sedang bilang kata nggak becus.”


Setelah mendengar sedikit ucapan dari Retno, Ranita pun kembali kesamping suaminya, dan duduk tenang bersama Alhuda. Sementara itu, Retno yang sedang bicara rahasia, selalu melirik kesana kemari.


“Ada informasi?” tanya Alhuda pada istrinya.


“Dia sedang bicara rahasia dengan seseorang, kalau aku nggak salah dia bicara “Becus” kata becus bisa di awali dengan nggak, atau bisa jadi dia berkata nggak becus pada seseorang.”


“Siapa yang nggak becus?”


“Atau barang kali, dia bilang nggak becus pada orang suruhannya, Bang.”


“Orang suruhannya?”


“Siapa orang suruhannya itu ya?” tanya Ranita pada dirinya sendiri.


Ranita yang tadinya sedang sakit perut mendadak hilang setelah dia sibuk mengurus, Retno yang sedang bicara dengan seseorang.


Dalam pemikirannya, Ranita sedang mencurigai Retno sebagai dalang di balik pencurian yang


dilakukannya di rumah Intan.


Akan tetapi sebelum mendapat cukup bukti, Ranita masih mengantongi kata yang terdengarnya dari mulut Retno pada seseorang di dalam henfon.


“Ranita!” panggil seorang perawat.


Mendengar namanya di panggil Ranita langsung berdiri dan menghampiri perawat yang telah memanggil namanya.


Di saat Retno mendengar nama Ranita di panggil, dia langsung menoleh kearah Alhuda yang sedang duduk di kursi tunggu.


Merasa tak senang, Retno langsung saja menghampiri Alhuda yang sedang duduk.


“Kamu anaknya pemulung itu ya?” tanya Retno dengan suara lantang di hadapan orang banyak.


Alhuda yang di datangi Retno dan bicara dengan nada ejekan, membuat Alhuda merasa tersinggung sekali, darahnya langsung mendidih, secara reflek, Alhuda langsung mendorong tubuh Retno, hingga dia terjatuh.


“Kurang ajar! kau telah mempermalukan aku di hadapan semua orang, kalau begitu kau bisa ku tuntut ke pengadilan.”


“Silahkan, Ibu kira aku takut dengan ancaman yang Ibu berikan, sekalian saya juga bisa lapor Ibu karena telah menyuruh orang merampok di rumah Niko kemaren malam.”

__ADS_1


“Jaga mulut mu, kau kira saya ini orang bodoh, yang mencuri di rumah putranya sendiri.”


“Itu urusan mu sendiri, bukan urusan ku,” jawab Alhuda seraya meninggalkan Retno yang masih kesal dengan perlakuan Alhuda pada dirinya.


Bukan saja Retno yang kesal dengan perlakuan Alhuda, sebaliknya Alhuda juga merasa sakit hati pada Retno yang selalu menghina keluarganya selama bertahun-tahun.


“Abang ribut dengan siapa tadi?” tanya Ranita ingin tau.


“Dengan Bu Retno.”


“Emangnya dia bicara apa dengan Abang?”


“Masih seperti dulu, menjatuhkan harga diri kami di hadapan orang banyak.”


“Abang tersinggung ya? karena selama ini, Mama juga memperlakukan keluarga Abang sangat buruk sekali.”


Mendengar ucapan Ranita, Alhuda tak menjawabnya, dia hanya diam saja, akan tetapi, dia sangat mengerti sekali perasaan istrinya saat itu.


“Udah, nggak usah terlalu dipikirkan, nanti nggak baik untuk kesehatan kandungan mu.”


Di hadapan dokter yang melakukan USG pada kandungan Ranita, Alhuda mencoba bertanya tentang hasil dari pemeriksaannya kali itu.


“Gimana dok, dengan kandungan istri saya?”


Dr. Ferdi tak langsung menjawab, dia hanya menghampiri Alhuda dan menyuruhnya duduk.


“Begini, Pak. setelah di lakukan pemeriksaan tadi, saya melihat kandungan Bu Ranita sehat dan bayi nya pun berada di tempat yang semestinya, jadi untuk kali ini saya akan beri Ibu vitamin.”


“Baik dok.”


“Baik dok, terimakasih,” ujar Ranita seraya meninggalkan dokter itu bersama asistennya.


Setelah kandungan Ranita di periksa, mereka berdua pun kembali menuju rumah Mang Ojo, selama di perjalanan Alhuda masih saja teringat pada kejadian sewaktu di rumah sakit.


Ranita yang selalu melirik kearah suaminya, tampak heran melihat suaminya sedikit melamun dalam mengendarai mobil.


“Hei, ada apa sayang? Nanti kita tabrakan lhoh!” ujar Ranita sembari menyentuh tangan suaminya.


“Oh, maaf, Abang kebawa suasana,” jawab Alhuda pelan.


“Tentang kejadian di rumah sakit tadi?”


“Iya, sayang.” Mendengar pengakuan suaminya, Ranita hanya diam saja, karena suaminya benar, kalau selama ini, baik orang tua Niko mau pun orang tuanya sendiri, mereka berdua sama saja selalu menyakitkan.


Sebenarnya Ranita begitu malu sekali, karena kedua orang tuanya yang berpendidikan tinggi itu tak bisa mengendalikan dirinya, berbeda dengan Mang Ojo yang hanya masyarakat bawahan.


Tak terasa sudah, tanpa dirasakan mereka pun tiba di restoran milik Intan. Keduanya langsung masuk kedalam dan memeriksa keadaan restoran itu.


“Selain perhiasan dan uang apakah masih ada lagi yang hilang Bu?” tanya Ranita pada Aida.


“Nggak Neng, Cuma itu saja yang mereka ambil.”


“Ada sekitar berapa perhiasan dan uang yang hilang itu, Bu?” tanya Alhuda pula.


“Aduh! Saya nggak tau Den, tapi semuanya banyak juga sekitar ratusan juta.”


“Apakah selama kalian bekerja disini, ada kira-kira orang lain yang bisa dicurigai?”

__ADS_1


“Nggak Den,” jawab Aida dengan pelan.


“Benar nggak ada?”


“Iya, Den.”


“Kira-kira siapa yang melakukan semua ini?”


“O, iya, Den. Siang kemaren ada Bu Retno yang datang kesini, dia menanyakan Den Niko dan Intan.


“Menanyakan Den Niko dan Intan?”


“Iya, Den.”


“Lalu Ibu jawab Apa?”


“Dia datang dengan marah-marah, sehingga kami sempat bergaduh dan bertengkar, mulutnya yang kasar itu sempat membuat saya emosi dan menghajarnya.”


“Apa? Ibu menghajarnya?”


“Iya, Den. Saya minta maaf, tapi hal itu sudah terjadi dan tanpa kami konsep sedikit pun.


“Aduh! Bu Aida, kenapa jadi tersulut emosi sih, kalau dia lapor ke polisi gimana, Ibu sendirikan yang susah nantinya.”


“Iya sih, habis gimana lagi Den, saya tersulut amarah waktu itu.”


“Jadi, ada yang terluka sewaktu kalian bertengkar?”


“Nggak Den, hanya wajah Bu Retno yang terlihat sedikit memar.”


“Kalau yang saya lihat kemaren itu nggak sedikit Namanya Bu Aida,” bantah Yuli.


“Ssst, diam kamu!” bentak Aida seraya menahan suara amarahnya pada Yuli.


Ranita yang melihat mereka berdua bertengkar, langsung saja menyelanya.


“Jadi memarnya parah ya Bu Yuli?”


Mendengar pertanyaan dari Ranita Yuli tak langsung menjawabnya, matanya yang indah melirik tajam kearah Aida yang tampak mengedipkan matanya sebelah.


“Ooo, pakai Bahasa isyarat ya,” ledek Ranita pada keduanya.


“Bukan begitu Neng.”


“Lalu apa?”


“Sebenarnya semua itu salah Bu Retno sendiri Neng, omongannya itu sangat kasar sekali.”


“Lain kali, kalau ada yang bicara kasar seperti itu, jangan di ambil hati, aggap saja mereka seorang pembeli yang mengomentari masakan kita.”


“Baik Neng,” jawab Bu Aidan pelan.


“ya sudah, silahkan kalian lanjut bekerja.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2