
“Lagi pula Aku ingin membalas budi baiknya pada kita Bu, karena keberhasilan kita ini tak terlepas dari pertolongannya untuk keluarga kita. Kak Ranita memiliki hati yang bersih dan tulus, yang sayang pada Bapak dan Ibu, serta adik-adikku. Lalu apa lagi yang Ibu ragukan tentang Dia, Bu ?”
“Sayang ! selain Masaalahnya muncul diantara kamu dan Ranita, Ibu sangat khawatir keluarga Ranita, apakah orang tuanya setuju kalian menikah atau tidak. Itu masaalahnya.”
“Benar kata Ibu mu nak ? bukankah kita sama-sama tau kalau Ranita itu anak seorang pejabat, mana mungkin mereka mengizinkan putri tunggalnya menikah dengan anak mantan pemulung, seperti kita !” timpal Mang Ojo, yang membenarkan kata istrinya.
“Aku tau itu Pak, tapi apa salahnya kalau kita mencobanya terlebih dahulu, kalau hasilnya tak memuaskan, kita akan coba lagi, lagi dan lagi.”
“Baiklah kalau itu keputusan mu, Bapak dan Ibu akan mencobanya nanti.” Kata Mang Ojo seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Malam berlalu begitu cepatnya, mata Mang Ojo sulit sekali untuk di pejamkan, pikirannya buntu untuk menghadapi orang tua Ranita, di larut malam, kakinya yang renta melangkah menuju kamar mandi untuk ambil air wudhu.
Disaat semua orang sedang tertidur, Mang Ojo mencoba bermunajat kepada Allah Swt. Memohon agar diberi kemudahan untuk menjalani semua yang akan mereka lalui nantinya.
Gagasan yang telah dia rancang dan rencanakan, ternyata membuatnya semakin kesulitan.
Keesokan harinya dengan diawali “Bismillah” Mang Ojo bersama istrinya berangkat menuju rumah Ranita, diiringi oleh Alhuda dan Zaki.
Setibanya dirumah Ranita , satpam penjaga langsung menghalangi kendaraan Alhuda.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu ?” tanya satpam itu.
“Kami mau menemui orang tua Ranita, apa dia ada dirumah ?” jawab Alhuda.
“Kebetulan mereka belum berangkat kerja.”
“Apa Bapak bisa antar kami, menemuinya ?”
“Tentu, mari !” ajak satpam itu.
“Terimakasih.” Jawab Alhuda seraya memarkirkan mobilnya di garasi.
Setelah mobil diparkirkan Mang Ojo beserta keluarga pun turun dan berjalan mengikuti satpam penjaga itu.
“Waaah, sungguh cantik sekali rumah kak Ranita !” seru Zaki.
“Sssst ! Jangan ribut, nanti orang tua kak Ranita marah.” Kata Fatma menenangkan Zaki.
“Baik, Bu !” jawab Zaki mematuhi perintah ibunya.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum ! Nya, Nyonya ! didepan ada tamu yang ingin bertemu dengan Nyonya.” Kata satpam penjaga itu mengabari majikannya.
“Ada apa Bud ?” tanya Resti, mamanya Ranita.
“Ini nyah, tamunya !”
“Ooo, suruh mereka nunggu diruang tamu, Bud !” perintah tuannya.
“Baik, Nyah ! Mari Pak, Bu, kita menunggu diruang tamu aja.”
“Baik.” Jawab Mang Ojo singkat. Seraya mengikuti satpam itu untuk menuju ruang tamu.
Lama mereka menunggu, sudah lebih satu jam, namun orang tua Ranita belum juga muncul menemuinya. Hati Mang Ojo merasa tak enak, dirinya merasa disepelekan oleh orang tua Ranita.
“Kok lama sekali, mereka datangnya ?” kata Zaki tak sabaran.
“Tenang, Zaki ! begitulah kalau kita berurusan dengan pejabat, mereka jarang yang mau menghargai orang rendahan seperti kita ini.” Kata Mang Ojo pada anaknya.
Tak berapa lama kemudian, orang tua Ranita pun keluar untuk menemui tamunya.
“Nah, itu dia Bu ! dah mulai menampakkan batang hidungnya !”
“Tenang aja Bang mereka nggak bakalan dengar, kan telinga mereka bukan untuk mendengarkan suara rakyat.”
“Zaki ! Bapak nggak suka kamu ngomong gitu nak ?”
“Iya, Pak !” jawab Zaki dengan suara lembut.
Kemudian Mama dan Papa Ranita menghampiri Mang Ojo dan keluarganya. Mereka duduk begitu sopan sekali saat itu.
“Ada urusan apa, ya ? Maaf kami nggak punya banyak waktu untuk melayani tamu berlama-lama. Kalau ada perlu, langsung aja jangan berbelit-belit.” kata Resti dengan suara lantang.
“Baiklah, saya Orang tuanya Alhuda, tujuan kami kesini untuk menyampaikan perihal lamaran anak saya untuk Ranita.” Jelas Mang Ojo mewakili putra sulungnya.
“Apa ! lamaran ? Anak saya mau kalian lamar ?”
“Iya, Bu !”
“Kalian ini siapa ? dan berasal dari mana ? bebet, bibit dan keturunan apa ? bisa di uraikan satu- persatu ?” kata Rasti dengan pongahnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Mama Ranita, jantung Mang Ojo sekeluarga terasa mendidih. Di coba untuk tetap tenang, sabar dan berfikir sebelum bicara.
“Agar Ibu ketahui, sebenarnya kami ini berasal dari daerah Kawasan kumuh, saya penjual kacang rebus dan istri saya seorang pemulung.” Jawab Mang Ojo secara gamblang.
“O iya, kalau saya nggak salah lihat ! kalian kan, yang mengajak anak saya ke kawasan kumuh, dan membuat harga diri kami hancur di mata para pejabat lainnya ?”
“Yang ngajak anak Ibu ke kawasan kumuh bukan kami, tapi anak Ibu sendiri yang ingin bermain kesana !”
“Bohong ! Kalau kalian nggak ngajak dia kesana, dia nggak bakalan kenal dengan kalian semua !” bentak Resti dengan suara Lantang.
“Emangnya menurut Ibu, salah ya, kalau ada orang bermain ke kawasan kumuh ?”
“Ya salah, lah ! Kawasan kumuh itukan kotor, nggak cocok untuk putri seorang pejabat seperti Ranita !”
“Astagfirullah ! eling Bu, eling ! agar Ibu ketahui, yang memilih Ibu untuk jadi anggota dewan itu, ya kami ini, rakyat jelata, jadi Ibu jangan merasa tinggi dari kami. Kalau kami nggak milih Ibu, Ibu nggak bakalan jadi anggota dewan ! Jangan sombong !” balas Mang Ojo dengan suara yang lantang dan tak kalah dengan teriakan orang tua Ranita.
“Itu bukan urusan kalian, sekarang kalian angkat kaki, dari rumah saya !” teriak Rasti seraya mengacung-acungkan telunjuknya kearah keluarga Mang Ojo. “Dasar nggak tau diri, udah cocok kalian tinggal dikawasan kumuh, ngapain harus merangkak kesini !”
“Dasar perempuan sombong ! Ibu tau kagak ide siapa ini semua ? Ini idenya Ranita, putri tercinta ibu !” Jawab Zaki yang sedari tadi menahan emosinya.
“Benar, ini semua ide anak Ibu sendiri.” Timpal Alhuda. “Kalau kalian nggak sudi menerima lamaran kami, nggak masalah, tapi tolong dijaga ucapannya, jangan merendahkan orang tua saya.” Jawab Alhuda tersulut emosi.
“Itu makanya, tau diri ! Satpam !”
“Iya, nyah !”
“Usir mereka keluar !” seru Resti sembari menarik tangan suaminya untuk segera pergi.
“Ayo Pak, Bu, kita keluar saja !” ajak satpam penjaga.
“Maaf, semua ini sengaja saya lakukan demi kebahagiaan anak kita.” ucap Mang Ojo berharap.
“Bukan kebahagiaan anak saya, tapi kebahagiaan anak kalian yang ingin menikmati hasil jerih payah keluarga saya !”
“Udahlah Pak, kita pergi aja ! nggak perlu bicara lagi.” ajak Alhuda dengan suara lembut.
“Tapi nak ? Bagai mana dengan pernikahan kalian ?”
Bersambung...
__ADS_1