
“Di luar, Zaki marah pada Randi yang mengatakan kalau Nurul itu perempuan sial,” ujar Fatma yang nggak mau menyimpan rahasia pada suaminya.
“Sepertinya mereka berdua sedang bermasalah ya, Bu?”
“Iya Pak, tapi tadi ketika Nurul, ku datangi kerumahnya mereka tampak biasa-biasa saja, nggak ada menampakkan kalau dia punya masalah.”
“Bapak udah lama kenal Nurul, Bu. Anak kita itu selalu diam kalau sedang bermasalah, dia juga patuh kalau kita menasehatinya, mungkin saja Randi udah begitu keterlaluan padanya, makanya Nurul tak menganggapnya sama sekali.”
Merasa tak senang dengan apa yang di lakukan Randi pada putrinya, pagi-pagi sekali setelah Mang Ojo selesai sholat subuh, dia langsung mendatangi Nurul, Mang Ojo pergi secara diam-diam kerumah Nurul bersama zaki.
Saat tiba di depan rumah Nurul, Zaki langsung mengetuk pintu rumah itu, tidak menunggu lama, Nurul langsung membukanya, betapa terkejutnya Nurul saat itu karena yang datang adalah Bapaknya bersama dengan Zaki.
“Bapak?”
“Boleh Bapak masuk,” ujar Mang Ojo seraya mencubit pipi gadisnya yang manis.
Nurul tak menjawab, hanya tangan lembutnya saja yang memeluk lengan tangan Bapaknya dengan pelan.
“Ada apa dengan mu, sayang? Kenapa kau mengabaikan suami mu?”
“Aku nggak mengabai kan siapa-siapa kok Pak,” jawab Nurul dengan suara lembut.
Di saat Nurul bicara dengan Bapaknya, tanpa sengaja, Zaki melihat ada banyak bercak darah dirumah Nurul, Zaki pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri darah itu.
“Kenapa ada darah sayang? Apa yang terjadi.”
“Itu darah Randi, yang udah mengering.”
“Maksud mu apa?”
Nurul diam saja, di saat Zaki bertanya pada Nurul, Zaki melihat ada hal yang sedang disembunyikan adiknya tentang pertengkaran mereka berdua.
“Kaki Randi terbelah karena pecahan kaca, kemaren.”
“Kaca, kaca apa?” tanya zaki sembari mengikuti jejak darah itu hingga menuju kamar milik Nurul.
Setelah pintu dibuka, betapa terkejutnya Zaki ketika melihat isi kamar itu berantakan dan ada darah di mana-mana.
“Ada apa ini sayang, apa yang terjadi? “ tanya Zaki sembari menghampiri Nurul.
“Nggak terjadi apa-apa di rumah ini Bang, semuanya aman saja kok,” jawab Nurul tenang, seperti tak terjadi apapun dirumah itu.
__ADS_1
“Lalu kenapa darahnya tak di bersihkan, dan kenapa kau nggak mengumpulkan semua yang berserakan ini?”
“Tangan siapa yang mencincang, maka bahunyalah yang akan memikulnya,” jawab Nurul yang hanya tersenyum dingin menanggapi pertanyaan dari Zaki.
Di saat itu perasaan Mang Ojo sedikit heran, tentang putri kecilnya itu. Dia tak mau bicara jujur, akan tetapi dia tersenyum menanggapi hal seperti itu.
Melihat hal itu Zaki langsung pergi ke dapur, untuk mengambil kain pel, di saat itulah, Nurul sepertinya menunjukan rasa tak sukanya pada zaki.
“Bang Zaki mau kemana?”
“Mengambil kain pel, untuk membersihkan darah yang udah mengering ini sayang.”
“Jangan Bang!”
“Kenapa?”
“Biarkan Randi sendiri yang akan membersihkannya nanti, bukankah dia yang memecahkannya.”
“Tapi dia itu suami mu sayang.”
“Suami macam apa! jika menghadapi hal sekecil ini saja dia tak sanggup.”
“Maksud mu?”
“Iya, sayang, kalau kau nggak mau bicara maka permasalahan ini nggak bakalan selesai.
“Randi menginginkan putra dari ku.”
“Lalu?”
“Abang lihat sendirikan, hingga hari ini aku belum juga hamil.”
“Kalian kan baru menikah sayang, baru sekitar lima bulan, kenapa harus keburu-buru.”
“Hal sama juga ku ucapkan pada Randi, tapi dia langsung marah pada ku, yang pada inti ini semua, Randi tak mengingin kan aku bekerja, aku hanya boleh jadi istri yang patuh dan duduk diam dirumah.
“Sebenarnya, seorang istri itu berkewajiban untuk mentaati perintah suaminya, jika suami memberi izin pada istri untuk keluar dari rumah, maka istri boleh keluar dari rumah, akan tetapi, jika suami melarangnya, jangan sekali-kali kamu melanggarnya,” jelas Mang Ojo.
“Sebelum kami menikah, kami nggak punya kesepakatan tentang itu kok, lagian selama ini, Randi aman-aman saja dengan pekerjaan ku, dia nggak pernah mengeluh, apa apa lagi marah seperti saat sekarang ini.”
“Lalu, kenapa semua isi kamarmu berantakan sayang?” tanya Zaki ingin tau.
__ADS_1
“Pagi itu dia begitu marah sekali pada ku, dia nggak mau pergi kerja, aku udah berusaha untuk bersikap lembut dan baik padanya, tapi dasar dia nggak punya etika, makanya dia menghancurkan semua isi kamar kami.”
“Jangan seperti itu sayang, nggak baik mengatakan kalau suami kita sendiri nggak punya etika.”
“Emang kenyataannya begitu kok, pagi itu ketika dia marah, ku urungkan niat ku untuk bekerja, ku masakan dia mkanan kesukaannya, bukannya senang, malah dia melempar piring beserta isinya kebawah, seumur hidup ku, baru kali ini aku merasakan kekasaran seorang pria pada ku.”
“Bersabarlah sayang, karena nggak semua suami itu punya sikap baik dan lembut,” kata Zaki menasehati adiknya.
“Baru lima bulan menikah saja, kelakuannya udah seperti ini, gimana kalau udah berlanjut setahun atau lima tahun yang akan datang nanti.”
“Kalau kita bersabar dan patuh hal itu nggak bakalan terjadi lagi, percayalah sayang.”
“Baik, suruhlah dia pulang, kalau memang dia ingin kembali pulang, tapi jangan pernah berharap aku akan menjemputnya kesana!” tegas Nurul yang berhati dingin.
Mang Ojo begitu kenal sekali dengan putrinya itu, mesti pun dia berhati selembut salju, tapi dia punya prinsip yang teguh.
Karena tak mendapatkan solusi yang di harapkan, akhirnya Mang Ojo dan Zaki pulang kembali ke kawasan kumuh, yang terpenting bagi Mang Ojo, dia telah mengetahui inti permasalahan yang sebenarnya.
Setiba di depan rumah, Mang Ojo langsung masuk kedalam, di ruang makan Mang Ojo melihat Randi sedang asik menikmati hidangan yang telah di sajikan untuk sarapan pagi.
Mang Ojo menatap Randi dengan pandangan yang penuh amarah, dadanya bergemuruh saat itu, hal yang paling tak di kehendaki telah di lakukan Randi tanpa seizin dirinya.
Mang Ojo langsung saja membelokan dirinya menuju kamar, rasa amarahnya seperti telah memuncak.
“Ada apa pak? kok pulangnya langsung marah?” tanya Fatma pada suaminya.
“Lihat menantu mu itu, kata Nurul dia nggak punya etika sama sekali.”
Mendengar ucapan dari suaminya, Fatma langsung keluar dari kamar, benar saja, di luar ada Randi yang sedang makan di ruang makan, dengan mengangkat sebelah kakinya ke atas dan mengacak-acak semua hidangan yang ada di atas meja.
“Ya Allah Randi! Kenapa kau melakukan semua ini?”
“Kalau mau makan, silahkan!” ujar Randi seraya menunjuk bangku yang berada di sampingnya.
“Berperilakulah seperti seorang manusia di rumah ini, jangan tunjukan etika yang tak baik itu, karena sikap mu membuat kami muak,” ujar Fatma yang selama ini tak pernah menunjukan amarahnya.”
Mendengar suara ribut-ribut di ruang makan, seisi rumah juga ikut keluar menyaksikan hal itu. Zaki yang melihat Randi seperti itu, dia langsung menghampiri Randi.
“Kalau hal ini kau lakukan lagi, nanti selesai makan, kau keluar saja dari rumah ini, emangnya kau siapa hah!”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*