Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 112 Menemui Randi di Jakarta


__ADS_3

Merasa mendapat izin dari Ibunya, Nurul pun kembali kerumah orang tuanya setelah pulang dari kerja, sementara rumahnya yang baru di jaga oleh satpam, yang di gaji oleh Nurul.


Dua hari setelah Nurul tinggal dirumah Bapaknya, Randi pun datang kerumah itu bersama kedua orang tuanya.


Randi begitu heran, karena saat itu rumahnya telah di jaga oleh seorang satpam, padahal sewaktu dia pergi dari situ, tak ada satpam yang bertugas disana.


“Pak Randi!” sapa satpam itu, ketika melihat mobil Randi melintas didepannya.


“Sejak kapan kamu bertugas dirumah saya?” tanya Randi heran.


“Saya satpam perusahaan Pak, tugas saya menjaga aset perusahaan jika tak ada yang menempatinya.”


Mendengar kata dari satpam itu, Randi semakin heran, sehingga dia pun terpancing untuk turun dari mobilnya.


“Maksud mu apa ya?”


“Bukankah rumah ini milik Bu Nurul, kenapa kau bilang ini aset perusahaan.”


“Itu kalau Bu Nurul, masih menempatinya, Pak.”


“Emangnya Bu Nurul kemana?”


“Bu Nurul di jemput oleh keluarganya, Pak.”


“Semenjak kapan?”


“Semenjak Bapak pergi meninggalkannya.”


“Benar begitu?”


“Iya, Pak.”


“Gawat!” ujar Randi, sembari berlalu meninggalkan satpam itu.


“Ada apa nak?” tanya Rumana saat melihat Randi datang menghampiri mobilnya.


“Nurul udah di jemput oleh keluarganya Bu.”


“Aduh, kalau begitu kita kebablasan ini.”


“Itu semua karena kelalaian mu Randi, kau tinggalkan istrimu hingga beberapa hari tanpa kau nahkahi lahir dan batin, itu berarti kau telah melanggar pernikahanmu sendiri.” Ujar Riswan pada putranya.


“Aku sakit hati Ayah.”


“Sakit hati kenapa?”


Mendengar pertanyaan dari Ayahnya, Randi diam saja, hatinya terasa begitu sakit sekali, karena Nurul pergi dari rumah tanpa memberitahu dia terlebih dahulu.


“Dasar anak pemulung, kalau orang tuanya tak berpendidikan, anaknya pun ikut tak punya etika, mesti di sekolahkan setinggi apa pun.” Gerutu Randi kesal.


“Siapa yang kau maksudkan itu Randi?” tanya Rumana ingin tau.

__ADS_1


“Siapa lagi, kalau bukan Nurul,” jawab Randi seraya mematikan mesin mobilnya, ketika telah masuk garasi.


“Sepertinya, udah mulai lantang kau menghujat istrimu ya, Ran?”


“Kenapa emangnya Bu?”


“Karena menurut Ibu, ucapan itu sangat cocok jika ditujukan pada diri mu, bukan pada Nurul.”


“Ibu ini kenapa sih. Selalu saja belain anak pemulung itu.”


“karena yang menurut Ibu, orang yang nggak punya etika itu ya kamu.”


“Yang anak Ibu itu aku lhoh, bukan Nurul.”


“Kau mungkin sudah lupa Randi, kalau keluarga Nurul itu begitu banyak membantu kita, bukan hanya Ibu dan Ayah saja yang di bantunya, tapi kau juga, bukan?”


“Iya, aku tau, tapi apa semua itu harus ku kembalikan padanya, nggak kan?”


“Mereka juga nggak minta untuk di kembalikan,” ujar Rumana menasehati putranya.


“Ya udah terserah Ibu aja, sekarang Ibu dan Ayah mau turun atau nggak!”


Mendengar Randi bicara seperti itu, barulah Rumana dan Riswan sadar kalau mereka sudah tiba dirumah milik Nurul.


Ketiganya langsung turun, dan berjalan menuju rumah, dengan pelan Randi membuka kunci rumahnya, di saat itu Rumana melihat kaki Randi di balut dengan perban.


“Kaki mu kenapa Ran?” tanya Rumana ingin tau.


“Ooo.”


“Ayo masuk!” ajak Randi kepada kedua orang tuanya.


“Waah! rumahmu luas juga ya Ran,” ucap Rumana terkagum-kagum.


“Ini bukan rumah Randi Bu, ini rumah istrinya Nurul. Kan kita sama-sama tau, kalau Nurul dapat hadian rumah dan mobil dari perusahaan tempat dia bekerja, ya ini rumahnya.”


Mendengar ucapan dari Ayahnya, hati Randi terasa sakit sekali, karena mereka berdua selalu saja menyakiti hatinya, dengan membanting tubuhnya ke sofa, Randi mencoba menarik nafas panjang, setelah sebongkah perasaan yang menyakitkan telah menyesak di dadanya.


“Ayah dan Ibu ini kenapa sih, selalu saja memuji Nurul, kalian kan tau sendiri, istri macam apa itu yang meninggalkan rumah dan suaminya sendiri.”


“Nurul itu nggak salah Randi, yang salah itu kamu yang nggak pernah pulang. Pergi dari rumah diam-diam, tentu saja Nurul sedih dan takut tinggal dirumah sebesar ini. Jangankan Nurul, Ibu pun takut tinggal sendiri di sini.”


“Mulailah, salahkan aku terus!” ujar Randi yang merasa selalu di pojokan oleh kedua orang tuanya.


Di saat mereka sedang bicara, tiba-tiba Riswan melihat ada darah yang mengering di lantai, berserakan di mana-mana.


“Itu darah apa Ran?”


Mendengar pertanyaan dari Ayahnya, Randi langsung berpaling kearah darah yang ditunjuk oleh Ayahnya itu.


“Kurang ajar, ternyata dia belum membersihkan darah yang berceceran dilantai, dasar istri nggak berguna!” gerutu Randi sembari duduk di atas sofa.

__ADS_1


“Ayah duduklah, jangan pikirkan yang macam-macam dulu.”


Tak senang melihat darah masih berserakan di atas lantai, Randi langsung membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya Randi ternyata nasi dan pecahan piring itu pun masih berserakan di lantai.


Bau pengap dan busuk seperti telah mengisi seluruh ruangan itu, Rumana yang melihat seisi kamar Randi berantakan, dia begitu terkejut sekali.


“Ooo, ternyata udah terjadi perang antara kalian berdua.”


“Nggak ada perang yang panas di rumah ini Bu, kami hanya bertengkar mulut saja kok, tapi karena Nurul keras hati, ya aku jadi marah padanya.”


“lalu kenapa semua barang bisa berantakan, kalau kalian hanya bertengkar mulut, mustahil kan?”


“Itu semua aku yang lakukan, aku sakit hati padanya, karena dia lebih mementingkan pekerjaan ketimbang suaminya sendiri.”


“Kenapa kau lakukan itu nak?”


“Karena aku kesal padanya Bu.”


“Padanya? Padanya siapa maksud mu?”


“Ya, pada Nurul Bu.”


“Jadi kalau kesal, kau menghancurkan semua isi rumah mu, ingat Randi, Ibu dan Ayah nggak pernah mengajari itu pada mu.”


“Tapi itu semua terjadi, karena aku tersulut emosi padanya, Bu.”


Mendengar Randi bicara semakin meninggikan volume suaranya, Riswan pun mengajak putranya untuk duduk bersama, membicarakan perihal kejadian yang sebenarnya pada mereka berdua.


“Duduklah disini!” kata Riswan seraya sedikit menekan pundak Randi.


“Kenapa aku Ayah suruh duduk?” tanya Randi heran.


“Sebenarnya kau ini sedang bicara dengan siapa nak? dengan teman kah, dengan istrimu kah atau dengan atasan mu?”


“Bicara sama Ayah dan Ibu,” jawab Randi dengan suara lembut.


“Kalau bicara sama Ayah dan Ibu, tentu volume suaranya di rendahkan, tapi kau nggak melakukannya bukan, kenapa?”


“Aku sedang emosi Ayah,” jawab Randi datar.


“Kau emosi dengan istri mu, kenapa Ayah dan Ibu yang kau jadikan sasaran emosi mu?”


“Itu karena Ayah dan Ibu selalu saja menyudutkan aku, seakan-akan yang bersalah itu aku, bukan anak pemulung itu,” ujar Randi dengan nada kesal.


“Sekali lagi kau sebut kata-kata itu di hadapan Bapak dan Ibu, maka kau pun akan kehilangan kami berdua untuk selamanya,” tegas Riswan pada putra tunggalnya itu.


“Maksud Ayah apa? kenapa Ayah dan Ibu menyalahkan aku!”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2