Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 50 Kejutan untuk Randi


__ADS_3

“Bapak nggak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta, dari sini Bapak hanya memperlihatkan saja bentuk bidang tanah yang akan Bapak bangun dan posisi tanah itu terletak dimana dan berbatasan dengan apa.”


“Apakah dengan cara seperti itu, kakak mu bisa melukis sketsa bangunannya.”


“Benar Pak !”


“Waah ! kalau begitu baiklah, rencana Bapak juga akan membangun sebuah hotel di sini, nanti Bapak akan hubungi kakak mu itu.”


“Ya, silahkan.” Jawab Intan singkat.


Di saat pembangunan restorannya sedang berlanjut, Intan pun menyerahkan pembangunannya ke tangan Pak Joko. Lalu Intan dan Niko pun menuju kota Padang.


Kota Padang yang terkenal dengan masakan rendangnya, membuat Intan tertarik untuk mempelajarinya.


Untuk itu Sebelum restoran selesai di bangun, Intan belajar kursus cara memasak, masakan Padang yang kata orang lezatnya menggugah selera.


Di kota Padang, selain panorama yang sangat Indah, hasil tangkapan para nelayannya pun sangat bagus, begitu juga dengan hasil pertaniannya yang melimpah.


Selama berada di kota Padang, Intan dan Niko sangat senang sekali, bahkan mereka berniat akan membangun rumah pribadi mereka di sana.


“Kak Ranita, tolong bantuin aku dong ?”


“Bantuin apa lagi dek ?”


“Tolong kakak buatkan aku sebuah rumah sederhana, tapi terkesan mewah, yang terletak bersebelahan dengan restoran yang akan kami bangun.”


“Apa kamu punya uang untuk penambahan bangunannya sayang ?”


“Ada kak, untuk membuat sebuah rumah sederhana, aku masih punya uang untuk itu.”


“Baiklah, nanti ntar malam, kakak kerjakan, soalnya kakak sedang banyak pekerjaan di kantor.”


“Baik kak.” Jawab Intan dengan lembut.


Tidak tanggung-tanggung, untuk pembangunan dua buah restoran dan satu rumah sederhana, Intan sampai mengeluarkan uang ratusan juta rupiah.


Karena selain hasil dari restorannya selama di Jakarta, uang dari Niko pun tak kalah banyaknya, semua habis untuk biaya pembangunan itu.


Apa lagi Niko seorang pengacara yang hebat, pekerjaannya selalu dihargai dengan puluhan juta bahkan sampai ratusan. Walau Niko tidak memilih targetnya, tapi target itulah yang selalu berharap pertolongan dari Niko.


Setelah pembangunan restoran Intan selesai, maka restoran itu pun resmi di buka untuk umum, dan semua biaya pengelola telah masuk dalam rancangan penghitungan dana restorannya.


Untuk kali pertama, Intan sebagai koki handal di dalamnya, lalu untuk minggu selanjutnya, Intan membuka lowongan pekerjaan untuk semua koki hebat di kota padang, maka bersama merekalah, akhirnya restoran itu berjalan dengan lancar.


Untuk pasokan kebutuhan restoran milik Intan, putri Mang Ojo itu langsung turun kelapangan, untuk mencari hasil tanaman dan sayur yang berkualitas. Di sanalah Intan bertemu dengan Rumana dan Riswan, seorang petani sayur yang terkenal.


Riswan selalu memasok sayurannya hampir keseluruh pedagang sayur di kota Padang, selain sayurannya yang segar, mutunya pun terjamin.


Karena sudah lama berlangganan, Intan memasukan Rumana kedalam restorannya, sebagai orang nomor satu. Intan menyerahkan penuh kebutuhan restorannya ketangan Rumana, bahkan Intan menyerahkan tanggung jawab restoran kepada Rumana dan riswan.

__ADS_1


Semenjak itulah, kehidupan Rumana jauh meningkat, sehingga Riswan dan Rumana bisa pergi ke Jakarta untuk mengunjungi putra tunggalnya.


Pagi itu tanpa di sangka, oleh Randi, tiba-tiba pintu kamar kosnya diketuk oleh seseorang.


“Tok, tok, tok !”


“Siapa ?” tanya Randi dari dalam.


Tapi karena Rumana ingin memberi kejutan pada putranya, tepat di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh, dia bersama suaminya diam saja tak menjawab.


Tak begitu lama kemudian, pintu pun kembali di ketuk dari luar, Randi yang sedang berpakaian, segera bergegas menuju pintu untuk membukanya.


“Assalamua’laikum !” ucap Riswan dan Rumana serentak.


“Wa’alaikum salam !” Randi yang melihat kedatangan kedua orang tuanya, langsung saja bersimpuh dan memeluk keduanya dengan erat.


Bersama kedua orang tuanya itu, Randi menangis histeris, rindu yang telah lama di pendam nya, pagi itu telah terobati.


“Ayah, Ibu ! kenapa datangnya nggak bilang-bilang dulu !”


“Kami nggak mau merepotkan mu sayang.”


Mendengar suara seseorang di luar Sutoni teman sekamar Randi langsung keluar.


“Siapa Ran, yang datang ?”


“Kedua orang tua aku, Ton.”


“Iya, Ton.”


Setelah Toni tau kalau yang ada dihadapannya itu adalah orang tuanya Randi, Toni langsung menyalami mereka serat mencium tangan keduanya.


“Kamu dari mana nak ?” tanya Rumana ingin tau.


“Dari Surabaya Bu.”


“Ooo, Surabaya ya ?”


“Iya.”


“Surabaya itu jauh dari sini ?”


“Lumayan.”


“Lumayan apa, lumayan jauh, atau lumayan dekat.”


“Hm.” Toni pun tersenyum lebar, sebelum dia menjawab pertanyaan yang di ajukan Rumana pada dirinya.


“Surabaya itu jauh Bu.” jawab Randi, menjelaskan pada orang tuanya.

__ADS_1


“Ya udah, kalau kalian sama-sama jauh, kalian harus berhati-hati selama menuntut ilmu disini. Buktikan pada kami, kalau kalian itu adalah seorang pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan.


“Baik Yah.” Jawab Randi dengan suara lembut.


Karena jauh-jauh datang dari kota Padang, tentu Riswan dan Rumana butuh istirahat untuk merebahkan tubuhnya yang sudah mulai menginjak masa tuanya.


“Untuk itu, Riswan memutuskan untuk mencari penginapan yang ada disekitar tempat tinggal Randi.


“Ayah dan Ibu sekarang udah jadi orang sukses ya ?” tanya Randi saat melihat gelagat kedua orang tuanya yang sudah berubah.


“Alhamdulillah, nak. Ayah dan Ibu sekarang sudah menjadi kepercayaan seorang investor dari Jakarta.


“Investor ? maksud Ayah apa ?”


“Mereka datang dari Jakarta ke Padang untuk membuat restoran yang sangat mewah, mereka mencari chef terhebat di kota Padang, mereka juga memilih hasil bumi yang berkualitas di kota Padang dan kami orang kepercayaan mereka selama ini nak.”


“Alhamdulillah, berarti hidup kita nggak susah lagi kan Yah ?”


“Alhamdulillah, Nak. semua ini rezki yang di berikan Allah kepada kita semua.”


“Aamiin !”


Semuanya menjadi senang mendengarkan kabar bahagia itu, Randi yang merasa tertekan karena perekonomian keluarganya yang sulit, saat itu dapat bernafas lega.


Setelah beberapa hari di Jakarta, Riswan dan Rumana pun kembali ke kota Padang, mereka melanjutkan kembali aktifitasnya, di restoran milik Intan.


“Ooo, jadi anak Ibu ada yang kuliah di Jakarta ya ?”


“Iya non, Dia kuliah di Jakarta, saat ini sudah masuk semester empat.”


“Ngambil jurusan apa Bu ?”


“Kedokteran Non.”


“Bagus itu, Adek ku juga ada seorang dokter.”


“Benarkah itu Non ?”


“Iya, Bu. tapi saat ini dia udah bertugas di Jakarta.


“Ooo, udah bertugas ya Non ?"


“Udah Bu.” jawab Intan sembari menyiapkan menu restorannya pagi itu.


Intan memang cekatan orangnya, Rumana sampai kesulitan bekerja jika mengikuti gaya yang dilakukannya.


Setelah semuanya di pastikan taka da lagi yang terbenkalai, Intan bersama Niko langsung kembali ke Jakarta, dengan bantuan Rumana, Intan membawa oleh-oleh sebagai buah tangan banyak sekali.


Ada kerupuk sanjai, karak kaliang dan makanan ringan lainnya, serta pernak Pernik yang sangat indah, hasil kerajinan dari daerah masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2