Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 120 Mengalami keguguran


__ADS_3

Sepertinya Allah memberikan sekanario sedemikian rupa untuk keluarga Mang Ojo, permasalahan selalu saja datang silih berganti, antara satu dengan yang satunya lagi.


Siang itu semua tampak senang melihat Rumana telah keluar dari penjara, sambil bersenda gurau di ruang tamu, Riswan langsung mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke kota Padang.


“Kenapa Ayah dan Ibu ingin cepat pulang?” tanya Nurul ingin tau.


“Kami ingin kembali ke tanah kelahiran kami nak, biarlah kami menghabiskan sisa hidup kami di sana.”


“Apakah Ibu dan Ayah nggak menunggu setelah kelahiran bayi ku?"


“Nggak usah nak, nanti kalau kau punya kesempatan bawalah dia menemui kami di Padang, kami pasti senang sekali.”


Nurul tak bisa menjawab perkataan Ibu mertuanya itu, karena saat itu air telah menggenangi matanya yang indah.


“Kau anak yang baik Nurul, kau menantu Ibu yang sangat sempurna, kau memiliki hati yang tulus, Ibu dan Ayah sangat bangga sekali. Untuk itu kami berdua akan selalu berdo’a semoga setelah kelahiran bayimu ini, kau mendapatkan suami yang lebih baik dan bertanggung jawab.”


“Insya Allah Bu,” jawab Nurul seraya memeluk Ibu mertuanya itu.


Setelah meminta izin untuk kembali ke kampung halamannya di kota Padang, kini Nurul tinggal sendiri menanggung rasa sedih karena di tinggal oleh orang yang disayanginya.


Di saat pesawat lepas landas, tiba-tiba saja Nurul mengalami rasa sakit yang teramat sangat di perutnya, Nurul menjerit sangat kuat sekali, sehingga seluruh saudaranya menjadi terkejut.


Nurul berusaha memegang perutnya yang sakit, namun darah kental tiba-tiba saja mengalir di kedua betisnya, tak berapa lama kemudian, Nurul pun pingsan.


Defi yang melihat darah di kedua betis Nurul, dia merasa begitu yakin kalau Nurul mengalami keguguran.


Defi bersama yang lain, segera melarikan Nurul kerumah sakit, sepanjang perjalanan Fatma terus saja menangis tiada henti.


“Ibu yang sabar ya,” ujar Zakia pada Fatma yang larut dalam kesedihan.


“Aku yakin, kalau Nurul mengalami keguguran Kia,” kata Fatma dengan suara lirih.


“Iya, aku juga merasa begitu Bu.”


“Ternyata bayinya pun tak ingin tinggal bersama kita.”


“Iya, Bu,” jawab Zakia yang turut menangis bersama Fatma.


Rasa sedih yang dialami Fatma, juga dirasakan oleh yang lainnya, Ahong yang saat itu mengendarai mobil Zaki, bahkan hampir saja menyerempet seorang pejalan kaki, karena terlalu cepat mengendarai mobilnya.


“Aaaaa!” teriak semua orang yang berada di dalam mobil.


“Hati-hati Pak!” ujar Mang Ojo pada Ahong.


“Baik, Pak,” jawan Ahong dengan suara lembut.


“Jangan karena ingin menyelamatkan satu nyawa, maka akan kehilangan tujuh nyawa sekaligus.”

__ADS_1


“Iya, pak.”


Setelah mendapatkan peringatan dari Mang Ojo, Ahong mulai mengendarai mobilnya dengan berhati-hati, karena dia takut akan mengalami kecelakaan seperti yang di alami Randi waktu itu.


Beberapa jam menempuh perjalanan, mobil pun memasuki arel parkiran, saat itu beberapa orang perawat langsung datang memberi pertolongan pada Nurul. Dan putri kecil Mang Ojo itu pun ditangani oleh dokter di ruang UGD.


Mang Ojo dan yang lainnya merasa kuatir sekali, mereka berjalan hilir mudik di ruang tunggu, tak ada yang mampu bicara saat itu, karena mereka fokus pada Nurul yang sedang menjalani perawatan.


Di saat semua orang menunggu dengan penuh konsentrasi, dari dalam ruang UGD, tampak Zaki keluar dengan keringat bercucuran.


“Ada apa, kenapa kamu sedih?” tanya Fatma yang sudah tak sabaran.


“Nurul mengalami keguguran Bu,” ujar Zaki pelan.


“Kenapa bisa jatuh? Bukankah kandungan Nurul udah mencapai lima bulan lebih.”


“Bahkan, kami udah melihat gumpalan jabang bayi itu Bu.”


“Oh, malangnya nasib mu nak,” kata Fatma sembari melihat Nurul dari jendela.


Dua hari setelah mengalami masa kritisnya, akhirnya Nurul pun sadar kembali, pandangan matanya begitu liar melihat ruangan yang berada di sekelilingnya.


“Aku berada dimana?” tanya Nurul ingin tau.


“Kamu berada dirumah sakit nak.”


“Mana bayi ku Bu?” tanya Nurul saat itu.


Fatma tak langsung menjawabnya, karena dia ragu untuk bicara, takut kalau Nurul tak siap menerimanya nanti. Untuk itu Fatma mencoba untuk menoleh ke yang lainnya.


Semuanya tampak menganggukkan kepala, seperti sedang memberi isyrat, kalau Fatma harus menjawabnya dengan jujur. Lalu, dengan memberanikan diri, Fatma mencoba untuk berkata jujur pada Nurul.


“Bayi mu nggak mau bersama kita Nak.”


Mendengar ucapan dari Ibunya, Nurul hanya berlagak biasa saja, dia bahkan tidak sock sama sekali mendengar kabar itu.


Fatma merasa heran dengan sikap Nurul yang begitu dingin, dia pun mencoba untuk mencari tau yang sebenarnya.


“Ada apa dengan mu, nak?”


“Ada apa dengan ku? Maksud Ibu apa?”


“Kamu nggak sedih kehilangan bayi mu.”


“Aku udah capek untuk bersedih Ibu, aku udah lelah untuk menangis, kalau memang semuanya ingin pergi, biarlah mereka pergi, semoga Allah menerima mereka di surganya.”


“Aamiin!” jawab semuanya serentak.

__ADS_1


Melihat Nurul tidak larut dalam kesedihannya, Fatma tampak tersenyum gembira, karena rasa takutnya tak lagi mendera hatinya.


Saat itu semuanya tampak senang dan tak berlarut dalam kesedihn yang panjang, tiba-tiba dari luar terdengan seseorang mengetuk pintu, semuanya secara serentak menoleh keluar.


“Ada yang datang,” ujar Intan sembari menggendong putrinya.


“Assalamua’alikum.”


“Wa’alaikum salam.”


Lalu ketiga orang pria yang baru datang, langsung masuk kedalam ruangan tempat Nurul di rawat, Mang Ojo yang tidak mengenal pria yang datang itu, mencoba untuk menyambutnya dengan ramah.


“Pak!” sapa Nurul tersenyum pada ketiganya.


Lalu salah seorang menoleh pada Mang Ojo, yang terlihat terheran-heran menyambut kedatangan mereka.


“Bapak orang tuanya Nurul?”


“Iya, pak,” jawab Mang Ojo sembari menyambut uluran tangan dari pria itu.


“Saya CEO, tempat Nurul bekerja.”


“Ooo, Bapak seorang CEO, ya?”


“Tapi kalau dirumah sakit ini, saya bukan siapa-siapa, jadi Bapak nggak usah sungkan dengan saya.”


Mang ojo yang tak mengerti apa-apa, tampak tersenyum ramah, melayani ketiga orang pria itu.


“Saya dengar, katanya Nurul mengalami keguguran, makanya saya bersama rekan dan anak datang kesini.”


“Iya, Pak. kemaren setelah melepas kepulangan kedua orang tuanya di Bandara, Nurul langsung mengalami sakit, makanya dia kami bawa kesini.


Mendengar penjelasan dari Mang Ojo, pria itu tampak menganggukkan kepalanya, pertanda dia sangat paham dengan apa yang di katakan Mang Ojo saat itu.


“Ngomong-ngomong, Bapak tau dari mana kalau Nurul sedang mengalami keguguran?”


“Kemaren sore, sekretaris Nurul saya suruh melihat kondisi Nurul yang sudah tiga hari tak masuk kerja, lalu pembantu dirumah Bapak yang memberi tau kalau Nurul mengalami keguguran.”


“Ooo, gitu.”


“Sekretaris Nurul adalah putra saya sendiri,” jawab Pria itu kemudian.


“Ooo!” hanya kata-kata itu yang sanggup mereka ucapkan saat itu.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2