Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 38 Menyadari kesalahan


__ADS_3

“Itu kan pekerjaan, pada intinya, Abang juga bekerja atas suruhan pimpinan Abang kan, begitu juga dengan Pak Badrun, dia juga bekerja dibawah perintah Abang. Pak Badrun terima gaji dari Abang dan Abang terima gaji dari pimpinan Abang. Sama kan ?”


“Ya, kamu benar sayang.”


“Yang pada intinya kalian sama-sama bekerja atas perintah seseorang, jadi nggak perlu menundukan badan kalau bertemu, cukup berjabatan tangan saja dan ucapkan salam.”


“Wah ! ternyata istri Aden pintar juga ya ?”


“Biasa-biasa aja kok Pak.” Jawab Intan sembari beranjak menuju dapur.


Di saat Intan pergi, Badrun datang menghampiri majikannya, yang saat itu sedang tersenyum-senyum sendiri karena bahagia dengan kecerdasan istrinya.


“Den, Aden !” sapa Badrun pada Niko.


Niko yang saat itu sedang melamun, terkejut saat Badrun memanggil Namanya.


“Hei, ada apa Pak ?”


“Ini rumahnya Non Intan ya ?”


“Iya, Pak ! rumah ini dia bangun atas untung dari rumah makan yang ada disamping itu.”


“Wah, istri Aden orang kaya rupanya, bisa membuat rumah seindah dan semegah ini.”


“Biasa aja kok Pak.”


“Ah Aden sepertinya nggak senang ya ?”


“Senang kok Pak. Hanya saja karena pernikahan aku, Papa dan Mama nggak mau merestuinya.”


“O iya, Den ! Bapak bawa kabar gembira untuk Aden.”


“Kabar apa itu Pak ?”


“Mama Aden udah siuman, dan Dia memanggil-manggil nama Aden terus. Jadi Tuan pesan agar Aden datang ke rumah sakit.”


“Buat apa kesana Pak, kalau hanya mendapat omelan Papa aja.”


“Tapi kayaknya, Papa aden sangat menyesal, dia sering menangis dan melamun.”


“Maafkan aku Pak, tolong sampaikan sama Papa, kalau aku nggak bisa kerumah sakit. Aku benar-benar kecewa dengan perbuatan mereka berdua.” Jawab Niko pada Badrun.


“Tapi Den, nanti Bapak yang dimarahi Papa Aden.”


“Katakan saja seperti itu Pak, bukankah Papa dan Mama udah mengusir ku, jadi buat apa lagi mereka mengingat-ingat aku, anggap aja aku udah mati.”


“Bang !” potong Intan pada suaminya, yang tiba-tiba saja muncul seraya membawa segelas kopi. “ Nggak baik menaruh dendam pada orang tua, walau bagai mana pun, mereka itu orang tua Abang.”


“Abang melakukan semua itu, agar mereka sadar dengan apa yang telah mereka lakukan pada Abang, sayang.”

__ADS_1


“Abang tau nggak, merekalah perempuan yang telah bertaruh nyawa melahirkan Abang kedunia ini, membesarkan dan merawat Abang sepenuh hatinya. karena mereka lah Abang ada di dunia ini. Dia itu perempuan yang paling berjasa dalam hidup Abang.”


Di saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba dari ujung jalan Niko melihat Fitri adiknya, datang untuk menyusul Pak Badrun.


“Fitri ?”


“Bang Niko !” teriak Fitri seraya berlari mengejar Niko dan memeluknya dengan erat.


“Kenapa kamu datang, sayang ?”


“Mama udah sadar Bang, dia menyebut nama Abang terus, kata Papa, Abang disuruh kerumah sakit untuk menemuinya.”


“Abang nggak bisa kesana sayang !”


“Kenapa ? lantaran Papa udah ngusir Abang ?”


“Bukan itu masalahnya, Abang butuh waktu untuk bisa kembali.”


“Jika terjadi sesuatu pada Mama Abang, apakah Abang nggak menyesal nantinya ?” tanya Intan pada suaminya.


“Abang melakukan semua itu, hanya karena Abang menginginkan Papa dan Mama itu sadar, bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.”


“Benar Abang nggak dendam pada mereka ?”


“Iya, sayang !”


“Lalu gimana ini Den ?”


“Bapak pulanglah, katakan Pada Papa, kalau aku belum bisa pulang sekarang.”


“Baik Den.” Jawab Pak Badrun sembari pergi meninggalkan Niko dan yang lainnya.


“Hati-hati ya Pak !”


“Iya Den.”


Setelah berpamitan dengan Niko, Badrun pun kembali kerumah sakit, bersama dengan Fitri untuk menemui Hermawan, dan mengabarkan tentang yang diperintahkan Niko padanya.


Tidak begitu lama, dari jauh Hermawan melihat Fitri berjalan terburu-buru, dia berjalan sendiri tanpa ada Niko bersamanya. Hermawan sudah merasa kalau Niko tak akan datang sebelum dia sendiri yang menjemput putranya itu.


Menyusul pula di belakangnya Pak Badrun yang juga kembali tanpa membawa Niko bersamanya.


“Mana Abang mu ?” tanya hermawan tak sabaran.


“Abang nggak mau ikut !”


“Kenapa, fit ?”


“Katanya, kan ada Papa yang selalu setia menemani Mama, kalau Abang ini hanya seorang anak yang durhaka. Tak pantas rasanya menemui orang tua yang sudah Abang durhakai."

__ADS_1


“Mendegar penjelasan dari Fitri, Hermawan pun menangis histeris. “Fitri ! Tolong antar kan Papa pada Abang mu ?”


“Ngapain Pa ?” tanya Fitri heran .


“Papa mau minta maaf pada Abangmu, ulah Papa, Abangmu menderita dan merasa dirinya menjadi anak yang durhaka.”


“Papa sih ! Ngapain Papa mesti ikuti Mama ! Menghina keluarga kak Intan, hanya karena mereka orang miskin ?”


“Kamu kok malah membela mereka ?”


“Papa harus ingat satu hal, bahwa maut, jodoh dan rezki itu sudah menjadi ketetapan Allah Swt. Kita hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Dan bahkan untuk menolaknya pun kita nggak punya hak untuk itu, seperti yang dialami Bang Niko saat ini.


“Kau benar nak, Papa tau itu kok.”


“Apakah Papa tau kalau Bang Niko pun nggak mengetahui kalau jodoh yang ditakdirkan Allah untuk dirinya berasal dari keluarga pemulung. Dia juga pasrah menerimanya Pa, ingat itu ?”


Mendengar penjelasan dari putrinya, hati Hermawan merasa tenang. Dia begitu menyesali semua yang telah dia lakukan pada putra satu-satunya itu.


“Bang Niko benar Pa, kalau kak Intan itu adalah orang kaya, rumah yang mereka tempati sewaktu pesta itu, sebenarnya itu rumahnya kak Intan.”


“Ooo, jadi itu benar rumahnya Intan ? bukan Gedung sewaan ?”


“Nggak Pa, itu rumah kak Intan, istri Bang Niko benar-benar orang kaya Pa !” cerita Fitri bersemangat.


"Kak Intan juga punya Abang seorang direktur Bank, serta punya adik seorang dokter."


"Benar begitu Fit ?"


"Iya pa ! dan adik kak Intan itu bekerja di rumah sakit ini."


Mendengar cerita dari Fitri, Hermawan langsung minta diantar kerumah Mang Ojo, dengan diantar oleh Fitri, Hermawan langsung menemui Mang Ojo dan Niko, di rumahnya.


“Saya mewakili keluarga, meminta maaf sama Bapak dan Ibu, karena ulah kelakuan istri saya acara pernikahan putri Bapak jadi berantakan.


Dan kau Niko, Papa minta maaf pada mu dan istrimu, karena telah mengusir kalian waktu itu.”


Mendengar pernyataan maaf dari Papanya, Niko langsung bersujud memohon maaf, karena dia merasa gagal menjadi seorang anak yang baik untuk keluarganya.


Momen yang mengharukan itu pun tak dapat dielakkan lagi, mereka semua menangis karena bahagia.


Setelah bercerita Panjang lebarnya, Hermawan disuguhi hidangan yang lezat yang tak pernah dia duga dari semula.


Kini tekat Hermawan sudah bulat akan mengiklaskan putranya Niko bersama istrinya. Hidup damai dan bahagia.


“Niko ? kemarilah Nak, nanti jika kau butuh Papa dari segala sisi manapun yang kau inginkan, Papa siap membantumu lahir dan batin.


Tapi Papa punya satu permintaan untuk mu.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2