Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 53 Shock


__ADS_3

Siang itu setelah memeriksa Randi, dr. Zaki kemudian pergi meninggalkan nya, untuk memeriksa pasien yang lainnya. Sedangkan Gita selalu berada dibelakangnya setiap saat.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan pada pasien yang menjalankan pemulihan masa operasi, Zaki langsung mengajak Gita keluar.


Gita menurut saja pada apa yang diperintahkan zaki pada dirinya.


Untuk menghilangkan rasa stress sehabis bekerja, Zaki membawa Gita kesuatu tempat, di dalam mobil mewah yang dikendarai Zaki, Gita terlihat tak berkomentar.


“Kenapa diam ?” tanya Zaki ingin tau.


“Emangnya dokter mau bawa saya kemana ?”


“Ketempat yang kamu belum pernah melihatnya.”


“O ya ? tempat seperti apakah itu ?” tanya Gita heran.


“Nanti kamu akan lihat sendiri tempat apa yang bakal aku tunjukkin ke kamu.”


“Baiklah.” Jawab Gita yang terlihat biasa-biasa saja.


Benar saja tanpa di duga oleh Gita, ternyata Zaki membawanya ke suatu tempat yang sangat indah, suasana alam yang sejuk serta suara gemuruh air terjun membuat Gita begitu terpesona sekali.


Percikan air yang jatuh dari tebing yang tinggi membuat suasana di sekitarnya tampak berkabut dan dingin.


“Kamu suka tempat ini ?” tanya Zaki pada Gita.


“Suka ! suka sekali !” jawab Gita seraya memeluk erat tubuh Zaki.


Sementara itu, Zaki tampak diam saja, dia hanya tersenyum manis saat Gita memluk dirinya, akan tetapi Gita kemudian menyadarinya, kalau Zaki itu adalah pimpinannya di rumah sakit.


“Maafkan saya dok, saya nggak sengaja.” Ucap Gita meng klarifikasi tentang apa yang telah dia lakukan pada Zaki.


“Kenapa minta maaf ? kamu takut memeluk ku ?”


Gita diam saja, hanya bibirnya yang tersenyum manis saat bola matanya yang bening menatap Zaki dengan begitu dalam.


“Di bawah gemuruhnya air terjun yang mengalir deras, jaki memegang kedua tangan Gita dan menaruhnya di dadanya yang bidang.


“Aku mencintaimu Gita !” ucap Zaki saat itu.


Mendengar ucapan Zaki, Gita diam saja. Gita merasa tak percaya sama sekali, kalau apa yang ada dipikirannya akan menjadi satu kenyataan.


“Kenapa dokter lakukan itu pada saya.” Ucap Gita dengan bola mata yang tampak berkaca-kaca.”


“Tak ingin membuat orang yang di cintainya, merasa tertekan dengan ucapan cinta darinya, Zaki langsung memeluk Gita dan mencium keningnya dengan lembut.”

__ADS_1


“Oh, saya nggak menyangka sama sekali, kalau dokter akan mencintai saya. Apa yang harus saya lakukan !” ujar Gita seraya menangis histeris di pelukan Zaki.


Air mata bahagia itu terus saja mengalir tiada henti. Gita yang begitu mencintai Zaki, tak yakin dengan harapan yang telah dibayangkannya akan menjadi satu kenyataan.


Dada Gita terasa sesak sekali saat itu, hatinya yang tak pernah percaya dengan penjelasan Zaki membuatnya merasa gemetar dan lemah.


Gita mengalami sock, saat hayalan yang di impikannya jadi kenyataan. Di dalam pelukan Zaki, Gita pun terkulai lemah tak berdaya.


Melihat hal itu, Zaki hanya tersenyum senang, karena dia sangat mengetahui kalau selama ini Gita menginginkan cinta lebih dari dirinya.


Tapi Zaki sengaja menggantung harapan itu, agar dia dapat membaca pikiran Gita, sampai di mana gita sanggup memperjuangkan cintanya itu.


Merasa Gita tak sanggup untuk berdiri lagi, Zaki pun duduk di belakang Gita seraya mengarah ke air terjun yang tiada hentinya mengalir.


Tubuh Gita yang ramping di peluk dari belakang oleh Zaki, Gita yang merasa mendapat perhatian khusus dari Zaki, merasa begitu malu sekali.


“Hei, buka mata mu sayang ?” ucap Zaki lembut.


Gita yang mendengar, suara Zaki berbisik di telinganya, mencoba untuk tetap menyembunyikan wajahnya kedalam pelukan Zaki.


“Hei, nggak usah malu sayang, saat ini kan Abang udah menjadi kekasih mu ?”


“Tapi aku malu !”


“Hei, gita sayang ! angkat kepalamu !” perintah Zaki seraya mengangkat dagu gita yang lancip dan indah itu.


Zaki yang melihat kekasihnya merasa malu, diapun diam saja, hanya senyumannya yang terlihat semakin merekah di bibirnya yang tipis.


Seraya terus memeluk Gita, Zaki tampak tersenyum-senyum sendiri.


“Jadi sampai kapan kita begini sayang ?”


“Kenapa dokter melakukan ini semua pada saya ?”


“Jangan panggil dokter kenapa sayang ? panggil aja Abang !”


“Hm.”


“Ayo kita pulang ?” ajak Zaki pelan.


Gita tetap tidak menjawab, rasa malu itu masih saja tersembunyi pada wajahnya yang memerah.


Lalu mereka berdua pun kembali pulang kerumahnya masing-masing. Di atas mobil tampak Gita diam saja, Zaki yang selalu melirik padanya, hanya bisa tersenyum-senyum sendiri.


Kejadian yang tiada di duga itu, memang telah membuat Gita menjadi sock, rasa malu yang tiada terhingga telah membuatnya tak mampu menatap wajah Zaki.

__ADS_1


Setibanya Gita di depan rumah kontrakannya, dia langsung turun tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Sehingga Zaki menyalakan kalakson mobilnya agar Gita bisa menoleh padanya. Namun tetap saja Gita diam dengan seribu kebisuannya.


Zaki tak merasa marah, mesti Gita diam, karena Zaki tau selama ini Gita memang suka padanya, walau Gita tak mengungkapkannya namun hal itu terlihat jelas dari gelagatnya.


Sehari setelah Zaki mengungkapkan perasaannya, Gita tak lagi tampak hadir dirumah sakit, setelah satu jam ditunggu, Gita tetap saja tak terlihat. Zaki merasa kehilangan sekali saat itu.


Mesti selama ini Gita sering tak hadir, hal itu tak pernah menjadi perhatian pada diri zaki, tapi untuk kali ini, zaki benar-benar begitu kehilangan sekali.


Siang itu setelah jam kerjanya berakhir, Zaki mendatangi Gita di rumah kontrakannya, bertepatan yang membukakan pintu saat itu adalah Ibunya.


“Assalamua’laikum.” Ucap Zaki seraya tersenyum manis.


Walau perempuan itu mendengar Zaki mengucapkan salam, akan tetapi dia hanya diam saja dan tak menjawab sama sekali.


“Gita ada Bu ?” tanya Zaki pada perempuan itu.


Matanya yang tampak sedikit kabur, berusaha menatap wajah Zaki dari dekat.


“Anda siapa ?”


“Saya dr.Zaki, atasan Gita, putri Ibu.”


“Putri saya sakit.”


“Sakit ? sakit apa ?”


“Dari semalam dia mengalami demam tinggi.”


“O ya ? boleh saya memeriksa keadaannya ?”


“Ya, silahkan.” Jawab perempuan paro baya itu, sembari mengiringi Zaki dari belakang.


Zaki melihat rumah kontrakan Gita yang kecil dan sempit, banyak dinding yang lapuk dan berlobang, Zaki begitu kasiahan sekali, karena dirumah yang sempit dan kecil itu, Gita bersama kedua orang tuanya tinggal disana.


“Siapa yang datang Ma ?” tanya Gita pada perempuan yang di panggilnya Mama itu.


“Ada dokter, dari rumah sakit tempat kau bertugas nak.”


“Jangan izinkan dokter itu masuk Ma, bilang padanya aku nggak mau menemuinya.”


“Tapi Abang udah disini Git.” Jawab Zaki seraya duduk di sisi ranjang milik Gita yang udah mulai reot.


“Aduh ! kenapa dokter masuk ?” jawab Gita seraya memukul dada Zaki yang bidang.


“Hei, ada apa sayang ?” tanya Zaki heran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2