
Setelah mendapat jawaban dari Zaki, Randi merasa pusing untuk memikirkan pertanyaan selanjutnya, karena kalau Randi tak bicara Zaki juga diam tak berkomentar sedikit pun.
Karena saling diam, tak terasa sudah, akhirnya mereka berdua tiba di depan rumah kontrakan Randi, di halaman depan kontrakan itu, Zaki memarkirkan kendaraannya dan dia pun ikut turun bersama Randi.
Zaki yang sudah merasa dekat dengan Randi, tanpa berbasa basi dia langsung menggandeng tangan Randi. Melihat Zaki menggandeng tangannya, Randi merasa senang sekali.
Setibanya di depan rumah kontrakan Randi, Zaki pun duduk di sebuah bangku yang terbuat dari papan.
Tak berapa lama kemudian seorang Ibu muda keluar dari dalam kamar Randi dengan membawa segelas teh hangat.
“Silahkan di minum tehnya nak.” ucap Ibu itu seraya menaruhnya di hadapan Zaki.
“Terimakasih banyak, Ibu udah repot-repot membuatkan saya minum.”
“Nggak apa, hanya sekedar minuman aja kok.”
Jawab Zakia sembari pergi meninggalkan Zaki dan Randi.
Akan tetapi, setelah beberapa langkah Zakia berjalan, Randi pun kemudian memanggilnya.
“Ibu ! duduklah disini.” Ucap Randi pada perempuan itu.
Lalu Zakia menoleh kearah Randi yang memanggil Namanya, seraya berbalik dan menghampiri Randi dan Zaki.
“Ada apa nak Randi ?” tanya Zakia ingin tau.
“Tadi aku dari Jakarta, dari rumah bang Zaki, kalau Ibu mau, tadi saya mencarikan pekerjaan yang layak untuk Ibu di rumah orang tua Bang Zaki. Di sana Ibu tinggal pilih, mau bekerja dirumah makan milik kakaknya Bang Zaki, atau bekerja di rumah orang tuanya Bang Zaki sendiri.”
Mendengar penjelasan dari Randi Zakia langsung menangis tersedu-sedu, hatinya terasa begitu pilu sekali. Sementara Randi yang melihat Zakia menangis nyalinya langsung menjadi ciut, Randi takut kalau Mamanya Krisna merasa tersinggung dengan ucapannya.
“Aduh ! gimana ini Bang ?” tanya Randi ketakutan.
“Ibu, Ibu baik-baik saja kan ?” tanya Zaki pada perempuan itu.
“Iya nak ! Ibu baik-baik saja.” Jawab Zakia seraya menoleh kearah Zaki.
Mendengar Zakia baik-baik saja, hati Randi merasa sedikit tenang, perasaan takutnya saat itu telah berubah menjadi bahagia.
“Randi !” kata Zakia seraya memeluk Randi dengan lembut sekali, kau anak baik, Ibu sangat sayang sekali pada mu. Hari ini kau telah berjuang lagi untuk kami berdua, agar kami dapat hidup yang layak, huhuhu !” zakia menangis histeris di hadapan Randi.
Zaki dan Randi sangat paham sekali, kenapa Zakia menangis, hati nya begitu pilu karena Randi begitu perhatian sekali pada dirinya.
“Terimakasih nak, kebaikan mu semoga di balas oleh tuhan mu.”
“Terimakasih Bu, semoga pekerjaan ini sangat cocok dengan Ibu, dan dapat membantu sekolah Krisna nantinya.”
“Iya, nak.” jawab Zakia.
“Ibu Bang Zaki itu sangat baik orangnya Bu, dia selalu perhatian pada kita orang miskin, asalkan pandai saja Ibu dengannya, apa saja yang dia punya pasti diberikan pada Ibu.”
__ADS_1
“Iya nak.” jawab Zakia seraya mengemasi pakaiannya dan melipatnya satu persatu.
“Tenanglah Bu, nanti kami akan datang ke Jakarta menengok Ibu, yang paling terpenting Ibu tetap jaga kesehatan selama di sana.”
“Baik nak.” jawab Zakia dengan suara lirih.
Zaki yang melihat Randi berusaha untuk membujuk Zakia, dirinya mengacungkan jempol untuk usaha yang dilakukannya itu, karena di usianya yang terbilang masih muda dia telah memiliki hati yang sangat baik.
“Gimana ? apakah Ibu udah siap ?” tanya Zaki.
“Ibu mau nungguin putra ibu pulang, boleh nak ?”
“Tentu Bu ! saya akan tungguin Ibu sampai kapan bisa berangkatnya.” Jawab Zaki dengan suara lembut.
“Baiklah terimakasih nak.”
Lalu dengan diam, Zakia duduk di hadapan Zaki dan Randi, setelah beberapa jam duduk diam, tiba-tiba dari kejauhan Randi melihat Krisna pulang dengan menggunakan seragam polisi.
“Putra Ibu sekolah di kepolisian ?”
“Iya nak, hanya menunggu satu setengah tahun lagi, setelah itu dia tamat.”
“Bagus itu.” Kata Zaki seraya memperkenalkan dirinya pada Krisna.
“Zaki !”
Setelah saling berkenalan, lalu Zaki bicara pada Krisna tentang Ibunya itu.
“kami sengaja menunggu mu sedari tadi, kemaren Randi datang ke Jakarta untuk meminta pekerjaan untuk Mama mu, dan orang tua Abang bersedia mempekerjakan Mama mu di rumah, kalau kau nggak keberatan hari ini juga kami berangkat ke Jakarta.
“Benar itu Ma ?”
“Iya, sayang, biar Mama dapat uang untuk biaya sekolah mu nak.”
“Baiklah, tapi Mama jangan terlalu capek ya, tetap jaga kesehatan selama di sana.”
“Kamu nggak perlu kuatir, Orang tua Abang nggak seperti juragan itu kok.”
“Terimakasih Bang, aku titip Mama ya Bang.”
“Iya.” jawab Zaki singkat. “O iya, ini Abang ada sedikit uang, manfaatkan sebaik-baiknya.”
Ucap Zaki seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna putih ketangan Randi, bagilah dengan adil.”
“Baik Bang, terimakasih.”
Setelah saling berpamitan Zakia langsung mengikuti Zaki dari belakang dan diiringi oleh Randi serta Krisna.
Untuk yang terakhir kali nya, Krisna berpelukan dengan Zakia. Mereka menangis histeris sekali, seperti tak akan pernah bertemu lagi.
__ADS_1
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, agar kalian dapat membahagiakan orang tua kalian.”
“Baik Bang ! terimakasih nasehatnya.
Semenjak hari itu Zakia bekerja dirumah Fatma dan Mang Ojo, selama bekerja di rumah Mang Ojo, hati Zakia merasa senang sekali, sedikit pun dia tak merasa ada tekanan.
Apa lagi Fatma orangnya sangat baik, Zakia selalu mendapat uang tambahan setiap minggunya, uang itu di tabung oleh Zakia di kamarnya.
Tanpa sengaja, pagi itu Fatma melihat Zakia menghitung uang tabungannya secara diam-diam di dalam kamarnya.
“Untuk apa uang yang kau tabung itu Kia ?” tanya Fatma ingin tau.
Mendengar suara majikannya, Zakia berencana untuk menyembunyikannya, agar tak di lihat oleh Fatma.
“Nggak usah malu, Ibu nggak akan marah kok.”
“Uang ini aku tabung, aku berencana mau membuat sebuah rumah kecil untuk Krisna Bu."
"Niat mu sangat bagus sekali, jadi uangnya udah terkumpul banyak ?”
“Baru tiga juta Bu ?”
“Kalau kau rajin menabung, niatmu untuk membuat sebuah rumah pasti akan terlaksana.”
“Iya, Bu.” jawab Zakia.
Pagi itu, di saat azan subuh berkumandang di seluruh Kawasan kota Jakarta, seperti biasa Zakia pun terbangun dari tidurnya, Zakia langsung saja menuju kamar mandi untuk mencuci muka, tapi pagi itu Zakia melihat setiap keluarga yang bangun langsung mengambil air wudhu.
Dalam hati Zakia merasa tertegun sejenak, melihat keluarga Fatma taat dalam beribadah, Zakia berdiri di sudut ruang tamu seraya memandang kearah ruang Ibadah.
Fatma yang memperhatikan Zakia dia hanya tersenyum saja, karena Fatma tau kalau Zakia seorang non muslim.
Lama Zakia termagu, melihat keluarga yang santun dan taat itu, dalam hati kecilnya, Zakia ingin sekali memiliki keluarga yang rukun seperti itu.
Selesai semuanya mengerjakan sholat berjama’ah, mereka pun keluar dari tempat itu, tapi di luar Zakia masih menatap mereka semua dengan perasaan kagum.
“Ada apa ?” tanya Fatma ingin tau.”
“Ibu sedang beribadah ya ?”
“Iya, seorang muslim, wajib menyembah Allah. tuhan seluruh manusia.” Jawab Fatma dengan suara lembut.
“Tuhan seluruh manusia ?”
“Iya Kia !”
“Berarti, tuhan aku juga ya Bu ?”
Bersambung...
__ADS_1