Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 71 Di siksa Tante Meri


__ADS_3

Melihat keluguan orang tua angkat Yulia, Dika jadi tersenyum-senyum geli, akhirnya orang tua yang lugu itu, manut juga pada mereka dan ikut naik mobil yang dikendarainya.


Seperti awalnya Joko dan istrinya enggan naik mobil, begitu juga setelah sampai dirumah Dika, mereka juga enggan untuk masuk kedalam. Joko dan istrinya bertahan didepan pintu rumah.


Berbagai macam cara dilakukan Dika beserta istrinya untuk membujuk orang tua angkatnya itu, hingga dia pun menyerah.


Pagi hari saat Yulia memasuki ruang kamar orang tuanya, tampak pria tua itu masih bermalas-malasan diatas ranjangnya.


“Ada apa dengan Ayah, Bu ?” tanya Yulia heran.


“Nggak ada apa-apa Lia ? hanya saja Ayahmu nggak mau turun dari tempat tidurnya.”


“Apa Ayah sakit, Bu ?"


:Nggak Lia, Ayahmu nggak sakit, hanya saja dia enggan turun, katanya sekali-kali nggak apa-apalah !”


“Iya nggak apa-apa, aku nggak marah kok ?”


“Benar kamu nggak marah nduk ?”


“Iya, aku nggak marah pada Ayah dan Ibu, berbuatlah sesuka hati kalian disini, asalkan kalian berdua merasa bahagia.”


“Iya ! terimakasih Nduk ! Ibu sangat senang sekali, kamu nggak lupa dengan kami.”


“Nggak, aku nggak bakalan lupa pada kalian berdua, karena Ayah dan Ibu sudah berjasa merawat dan membesarkan ku. Tapi apa kalian nggak lapar ?”


“Ya lapar dong Lia.”


“Kalau begitu, ayo kita makan.” Ajak Yulia pada orang tuanya itu.


Dengan senang hati joko pun turun dari ranjangnya, dia berjalan mengikuti langkah kaki putrinya menuju ruang makan. Sambil makan merekapun bercengkrama dan tertawa bersama.


Di saat itu Yulia menyempatkan diri bertanya pada Ayahnya tentang Meri yang selama ini mengaku sebagai tantenya itu.


“Ayah nggak kenal dengan Meri, Lia ! setahu Ayah, semenjak Ayahmu meninggal dunia, beliau menitipkan mu pada Ayah untuk dirawat dan dibesarkan, tapi Ayahmu tak ada menyebut nama Meri, waktu itu.”


“Lalu siapa orang yang mengku sebagai Meri itu ?”


“Entahlah Lia, Ibu juga nggak tau, siapa Meri itu sebenarnya. Tapi kalau memang dia tante mu, Ibu mau lihat seperti apa orangnya. Dia itu mirip Ayahmu atau nggak.”


“Iya Bu, besok kalau dia datang akan aku beritahu pada Ibu !” Jawab Lia dengan sedikit lega.


“Tapi ingat Lia, kamu jangan terlalu mudah percaya dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai tante mu !”


“Iya Ayah, aku mengerti dan aku lebih berhati-hati lagi.”

__ADS_1


Bersamaan dengan itu disaat Lia bersama orang tuanya sedang makan, tiba-tiba saja tante Meri datang, dengan wajah yang menyimpan sejuta amarah.


Diapun menggedor gedor pintu dengan kuatnya, padahal didepan pintu ada bel yang dipasang.


Tapi karena emosinya Meri jadi lupa kalau dia sedang berada dirumah seorang konglomerat.


“Kayaknya kamu kedatangan Tamu Lia !” kata Nadin pada putrinya itu.


“iya sepertinya begitu, tapi kenapa kasar banget ?”


“Udah kamu tengok dulu kesana gih? Ibu jadi ngeri !”


“Tenang Bu, tenang ! biar aku yang bukakan pintunya.” Jawab Yulia sembari bergerak menuju pintu.


“Iya, silahkan !”


Diluar dugaan Yulia, ternyata yang datang adalah tante Meri yang telah diusir Dika, dia datang lagi dengan amarah yang meluap-luap.


“Lambat amat buka pintunya !” bentak Meri pada Yulia.


“Tante ? kenapa tante masih kesini ? kan tante udah diusir Bang Dika ?"


“Bodo amat ! kata Meri sembari menyelonong masuk. Tapi alangkah kegetnya dia saat dilihatnya ada dua orang yang sedang asik menikmati makanan dirumah Yulia.


“Lia ! Lia !” Teriaknya , hingga menggemparkan seluruh isi ruangan itu.


“Dasar bodoh kau ini ! siapa orang tua itu ?”


“Dia Ayah dan Ibuku.” Jawab Yulia dengan tenang.


“Apa ? dia Ayah dan Ibumu ? nggak salah ?”


“Kenapa emangnya ? tante kaget ya ?”


“Nggak mungkin, Ayah dan Ibumu sudah lama meninggal, cepat usir orang tua itu Lia ! dia orang yang mengaku-ngaku sebagai orang tuamu !”


“Apa hak tante mengusirnya, kan udah kubilang kalau mereka ini orang tuaku, apa Tante tak mengenal mereka ?”


“Heh, dengar anak bodoh ! kata Meri seraya menarik paksa tangan Yulia.


“Aduh ! Sakit tau ?” teriak Yulia kesakitan.


“Kalau begitu usir dia ! mereka ini hanya ingin menghabiskan seluruh harta suamimu. Jadi cepat usir mereka, Lia !” bentak Meri dengan kesal.


“Nggak akan ! justru tantelah yang akan ku usir dari rumah ini ! nah cepat keluar ! sekarang juga, atau !”

__ADS_1


“Atau apa ?”


“Atau ku teriaki maling !” ancam Lia pada tante Meri.


“Kurang ajar ! Beraninya kau berbuat seperti itu pada tante mu ini !” kata Meri seraya mendorong tubuh Yulia, hingga dia hampir terjatuh.


“Hentikan ! Siapa kau ini hah !” bentak Joko pada Meri.


“Ooo, ada pemulung yang mimpi mau jadi raja rupanya !”


“Tutup mulut tante ! dia itu orang tuaku ! tante nggak berhak bicara kasar padanya.”


“Mulutmu yang harus ditutup Lia, sepertinya kau semakin hari semakin dungu, mau aja dibodohi orang tua macam mereka.”


“Astagfirullah ! jangan-jangan, tante ini sebenarnya yang igin menipu kami ?” kata Yulia mempertanyakan tante Meri.


“Diam kau ! kalau bicara banyak sama kalian, tante bisa sakit jantung, sekarang begini aja, mana uang yang tante minta !”


“Aku nggak punya uang, lagian tante bukan siapa-siapa aku kan ?”


“Kurang ajar ! teriak Meri seraya merangkul rambut Yulia dan menjambaknya. “Kau memang nggak bisa diajak kompromi rupanya, rasakan siksaan ku ini !” kata Meri seraya menyeret rambut Yulia.


Yulia pun menangis histeris karena menahan rasa sakit. Namun walau di perlakukan kasar, Yulia tetap berusaha untuk bisa lepas dari tangan perempuan itu.


“Aduh sakit, tante !” teriak Yulia menahan sakit.


“Apa yang kau lakukan pada putriku !” cegat Joko saat melihat putrinya disiksa Meri.


“Diam kau orang tua ! jangan ikut campur urusan ku !” bentak Meri seraya terus menarik rambut Yulia menuju kamarnya.


“Aduh ! Lepaskan aku !” Jerit Yulia terus menerus. “Sakit, aauu, aduuuh !”


“Diam ! ayo tunjukan padaku, dimana kalian menyembunyikan uang dan perhiasan kalian ! Cepat ! Katakan dimana suamimu menyimpannya ?”


“Aku nggak tau tante !”


Melihat putrinya disiksa oleh orang yang ngaku sebagai tante Yulia itu, joko dan Nadin jadi marah, dia berlari kedapur untuk mengambil pisau, setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Joko langsung menikamkan pisau itu ketubuh Meri.


Tapi karena nasib mujur masih melindungi Meri, akhirnya pisau itu mengenai paha istrinya, Nadin. Melihat hal itu, Yulia langsung menjerit histeris, hingga suaranya terdengar ke panti asuhan.


Bu Ratika pengurus panti, langsung berlari keluar, untuk memastikan asal suara jeritan itu datangnya. Bersama beberapa orang warga lainnya.


“Ada apa Bu, siapa yang menjerit ?” tanya Murni salah seorang penghuni panti.


“Entahlah Mur, tapi tadi suaranya terdengar jelas dari rumah Yulia.”

__ADS_1


“Oh, kalau begitu mari kita lihat kesana !” ajak Murni pada Ratika.


Bersambung...


__ADS_2