Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 67 Kritis


__ADS_3

Dengan cepat pula, Inah langsung menghubungi majikannya Margono, yang saat itu sedang berada di kantor.


“Tuan ! hallo Tuan !” kata Inah dengan nada panik dan ketakutan.


“Hallo ! Inah, ada apa ?”


“Nyonya Tuan !”


“Nyonya ? ada apa dengan nyonya ?”


“Ooo, anu Tuan. Ooo, anu !”


“Anu apanya Nah, tenang dulu, Tarik nafas yang pelan, baru bicara !” kata Margono lewat telfon kantor.


“Nyonya tuan, nyonya pingsan !”


“Pingsan ? pingsan kenapa Nah ?”


“Nggak tau tuan, nyonya pingsannya di dalam mobil. Lalu seseorang mengantarnya pulang kerumah.”


“Siapa yang mengantarnya Nah ?” tanya Margono ingin tau.


Di saat Margono bertanya siapa yang mengantarkannya kerumah, Inah diam saja, karena saat itu Inah nggak melihat ada orang yang keluar dari dalam mobil milik Resti. Lalu Inah pun menanyakan hal itu Pada Parjo.


“Tunggu sebentar tuan, biar saya tanya dulu pada Parjo, siapa tau dia melihat ada orang yang mengantarkan nyonya pulang.”


“Iya, coba kau tanyakan pada Parjo ?”


Setelah mendapat perintah dari tuannya, Inah langsung berlari menuju ruang tamu, untuk menemui Parjo yang saat itu sedang memijat kaki Resti yang masih pingsan.


“Jo ! apakah kau melihat ada orang yang mengantarkan nyonya pulang?”


“Nggak, dan aku juga nggak merasa membukakan pintu gerbang tadinya.”


“Ah kau ini, jangan bawa bercanda dong, Jo ! Inah kan jadi takut !”


“Kalau didalam rumah kamu nggak perlu takut Nah, yang mesti takut itu aku, kan aku yang berada di luar pagar.” Jawan Parjo merinding.


Karena sama-sama merasa bingung, lalu Inah menyuruh Parjo sendiri yang bicara dengan majikannya.


“Halo tuan !”


“Halo, jadi kamu tau siapa orang yang mengantar nyonya pulang ?”


“Nggak tuan, jangankan melihat orang yang mengantar nyonya pulang, saya sendiri nggak ada membukakan pintu gerbang untuk nyonya tuan.”


Saat mendengar penjelasan dari Parjo, Margono langsung melihat kerah jam dinding yang sedang berdetak.


“Hm ! baru pukul Sembilan, nggak mungkinkan, ada hantu yang keluar di jam segini ?” kata Margono pada dirinya sendiri.


Karena merasa hal yang tak wajar, Margono langsung kembali pulang kerumahnya, di tengah jalan Margono masih kepikiran dengan pengakuan Inah yang tak masuk akal itu.

__ADS_1


Namun walau bagai mana pun Margono sudah mengetahui kalau istrinya mulai bermain-main dengan ilmu hitam yang akan menjerat lehernya sendiri.


Dengan kecepatan penuh, tibalah Margono di depan rumahnya, tanpa menunggu lagi dia langsung masuk kedalam rumah itu. Benar saja diruang tamu telah terbaring istrinya tak sadarkan diri.


“Dari jam berapa kamu melihat mobil Ibu berada di parkiran, Nah ?”


“Barusan Tuan, sekitar setengah Sembilan tadi.”


“Jadi benar kamu nggak ada membukakan pintu gerbang, Jo ?”


“Benar Tuan, kalau pun seandainya tadi saya tertidur, pasti setiap mobil yang masuk kedalam lampunya langsung menyorot ke mata saya.”


“Ya udah, kalian boleh kembali bekerja.”


“Baik Tuan.” Jawab Inah dan Parjo serentak.


Atas perintah majikannya, Parjo dan Inah langsung kembali bekerja menurut tugasnya masing-masing.


Sementara itu, Margono dengan setia duduk di samping istrinya, seraya menunggu Resti siuman, Margono berusaha untuk memijat jemari istrinya dengan lembut.


Beberapa jam kemudian Resti sadar dari pingsannya, di lihatnya sekeliling, suasana ruangan yang berbeda membuat hatinya sedikit lega.


“Alhamdulillah, Mama udah berada dirumah kan, Pa ?”


“Iya, saat ini Mama udah berada dirumah, kalau boleh Papa tau, Mama dari mana tadi. Kok tiba-tiba, mobil Mama udah berada di parkiran tanpa lewat pintu gerbang.”


Mendengar keterangan dari suaminya, Resti menjadi sedikit heran, akan tetapi dia baru sadar, kalau sebenarnya dia baru kembali dari rumah nyai Romlah.


“Nyai Romlah dukun itu !” tanya Margono dengan rasa heran.


“Iya, Pa !”


“Ngapain Mama kesana ?”


“Mama mau Ranita kembali pada kita, Pa ? hanya itu saja !”


“Mama ingin Ranita kembali kan ? caranya mudah kok ! ngapain harus kerumah dukun !”


“Tapi Mama nggak tau jalan keluarnya Pa.”


“Rubah sikap Mama yang arogan itu, akui Alhuda itu sebagai bagian dari keluarga kita, dan terima anaknya menjadi cucu Mama. Selesai bukan ?”


“Tapi Pa !”


“Tapi apa lagi Ma ? Papa capek ! Papa mau istirahat, berurusan dengan Mama, seperti nggak ada habis-habisnya.” Kata Margono seraya meninggalkan Resti yang duduk sendirian.


“Nyai Romlah telah meneluh putri kita Pa !” jawab Resti dengan suara lantang.


Mendengar ucapan dari Resti, jantung Margono langsung mendidih, langkah kakinya yang gontai terhenti seketika, mimik wajahnya pun telah menggambarkan amarah yang sedang di pendam nya.


“Kata siapa nyai Romlah telah meneluh putri kita ?”

__ADS_1


“Kata nyai Romlah sendiri, ternyata tanah kuburan yang dia minta untuk meneluh putri kita Pa, huhuhuk !”


“Ya Allah ! Resti ! Ibu macam apa kau ini Resti !” teriak Margono seraya melayangkan tamparannya ke pipi Resti.


Saat pukulan itu mendarat di wajah Resti, Ibu satu anak itu langsung terjungkal kebelakang, wajahnya tampak memar dan bibirnya pun berdarah.


Resti pun menangis histeris, rasa sakit bekas tamparan itu pun tak lagi di rasakannya, asalkan Margono bersedia mengantarnya kerumah Ranita saat itu juga.


“Buat apa Mama kesana ! mau mencari masalah !”


“Mama mohon Pa ! putri kita saat ini sedang sekarat !”


“Kalau Mama mau pergi, pergilah sendiri !”


“Ayolah Pa, Mama mohon !”


Melihat Resti bermohon padanya, hati Margono tampak sedikit iba, dengan pelan dia pun menyuruh istrinya untuk berkemas-kemas.


“Baik Pa.” jawab Resti pelan.


Kejadian yang baru dia alami membuat hati Margono sedih, istrinya yang telah dianggapnya berubah, ternyata bermain api di belakangnya. Rasa kecewa pun harus di pendam nya saat itu.


Di atas mobil tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, suasana tampak begitu hening. Di depan rumah mewah Mang Ojo, Margono membelokan stir mobilnya dan kendaraannya pun masuk kedalam arel parkir.


“Kenapa berhenti di sini Pa ?” tanya Resti heran.


“Tapi Mama mau melihat Ranita, kan ?”


“Iya.”


“Ya udah, turun !” perintah Margono.


Dengan berat hati dan segudang tanda tanya, Resti pun dengan pelan turun dari mobilnya.


“Ini rumah Mang Ojo, mertuanya Ranita ! orang yang selama ini kau anggap sampah itu !” jawab Margono dengan nada menyindir istrinya.


“Papa serius, ini rumah Mertuanya Ranita ?”


“Kenapa ? apa menurut Mama nggak mungkin, seorang pemulung memiliki rumah semewah ini ?”


Resti tak menjawab, hanya matanya saja yang selalu melirik ke setiap sudut yang di pandangnya indah dan mewah.


Sementara itu Margono yang selalu melirik kearah Resti, tampak tersenyum-senyum sendiri.


“Kenapa ? heran?” kata Margono setengah mengejek.”


Papa ini kenapa sih, dari tadi, kok kayak menyudutkan, Mama terus ?”


“Lihat Pipimu, memar kan, itu makanya, kalau jadi istri itu yang nurut pada suami, bukan hanya mementingkan diri sendiri aja. Ingat kalau kita udah punya anak dan suami yang harus di jaga marwahnya.”


“Iya ! Mama tau !” jawab Resti ketus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2