
“Baiklah, mari kita kerumah nyai Romlah.” Kata Resti memenuhi permintaan semua orang.
Dengan langkah gontai, Resti mengiringi Alhuda dan Dika yang berjalan duluan. Setibanya di depan rumah nyai Romlah, Dika langsung turun dari mobil dan menghampiri rumah nyai Romlah, yang saat itu sedang asik membaca jampi-jampi.
“Prak !” meja pun langsung di tampar Dika dengan kuatnya, sehingga hal itu membuat jampi-jampi yang di baca nyai Romlah langsung hilang dari ingatannya.
“Kurang ajar ! Kau telah salah mengirimkan teluh mu !” kata Dika seraya menarik kerah baju nyai Romlah.
“Ada apa ini ? tolong lepaskan !” bentak nyai Romlah dengan suara keras.
“Kembalikan dulu tanah kuburan yang kau ambil, baru ku lepaskan !” kata Dika sembari mengangkat kerah baju nyai Romlah lebih tinggi lagi.
“Tapi tanahnya telah di pakai.” Jawab Romlah.
“Biar saja ! cepat ambilkan !” bentak Dika lebih keras lagi.
“Baik, baik.” Jawab nyai Romlah ketakutan.
Lalu dengan pelan, nyai Romlah mengambil tanah yang ada di dalam bungkusan.
“Ini tanahnya itu !” jawab nyai Romlah seraya menyodorkan tanah itu ketangan Dika, lalu dengan kasar Dika merebutnya dan memberikannya pada Alhuda.
“Tugas Ibu belum selesai, sekarang hantarkan kami ke kuburan yang Ibu ambil tanahnya.” Kata Alhuda pada Resti.
“Baiklah.”
Resti mengikuti saja apa yang diminta Alhuda dan Dika, semua itu sengaja dia lakukan asalkan Ranita kembali membaik dan sembuh dari sakit yang di deritanya.
Benar saja, setelah tanah kuburan itu dikembalikan, penyakit yang diderita Ranita kembali berangsur sembuh, tubuhnya yang bernanah dan mengeluarkan aroma busuk saat itu telah tampak mengering.
Mang Ojo sekeluarga merasa senang dan bahagia, karena Ranita orang yang paling berjasa dalam keluarganya saat itu telah kembali tersenyum.
“Alhamdulillah, saat ini kita telah dapat berkumpul lagi seperti semula, dan rencana Bapak, kita akan melaksanakan syukuran untuk kesembuhan Kakak kalian, apa kalian setuju ?”
“Setuju !” jawab mereka serentak.
“Baiklah, mulai besok kita lakukan acara syukurannya.”
Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat acara syukuran itu di laksanakan dengan sederhana, Mang Ojo mengundang anak-anak panti. Di saat itu hadir juga , wanita yang mengaku sebagai Tante Yulia.
Setelah beberapa bulan berlalu, Ranita telah kembali sehat dan beraktifitas seperti biasa.
Namun, bukan hanya Alhuda yang mengalami masa-masa sulit, Dika juga merasakan hal yang sama. Saat itu rumah tangga mereka sedang di uji dengan berbagai macam cobaan.
__ADS_1
kekuatan iman yang telah ditanamkan orang tua mereka sejak dini, tentu sangat bermamfaat bagi mereka di saat-saat sulit. Dalam menjalani mahligai rumah tangga tentu kesabaranlah yang sangat dibutuhkan agar keharmonisan keluarga tetap kokoh.
Dirumah Dika, wanita yang mengaku sebagai tantenya Yulia, datang lagi, dan mencoba menagih sesuatu pada Yulia.
“Bagai mana Lia ? apakah kau udah bilang sama suamimu ?”
“Belum tante, aku nggak berani.” jawab Yulia seraya tertunduk takut.
“Nggak berani ? apa beratnya sih ! tinggal ngomong gitu aja ?”
“Aku nggak berani ngomong tante !”
“Tante nggak menyuruh kamu bohong Lia ! tante hanya menyuruhmu minta sedikit uang pada suamimu, itu saja apa susahnya sih !”
“Sedikit menurut tante ?”
“Iya hanya sedikit aja Yulia !”
“Tante, uang satu miliar itu nggak sedikit, sedang aku sendiri yang istrinya belum pernah melihat uang sebanyak itu di rumah ini !”
“Ya jelaslah ! kau kan hanya gadis jalanan, yang kau tau hanya uang recehan aja, kalau bagi Dika uang satu miliar itu belum seberapa tau ?”
“Nggak tante, aku nggak mau mengorbankan suamiku hanya untuk keinginan pribadi tante.”
“Heh, Yulia !” ujar Meri seraya menjambak rambut Yulia. “Dasar bodoh ! apa kau tau ? Harga satu lukisan suamimu itu ? bernilai ratusan juta, bodoh !” bentak Meri dengan kasarnya.
“Dasar dungu !” lanjut Meri sambil tangan kanannya mendorong tubuh Yulia hingga terjatuh. Padahal saat itu Yulia sedang mengandung anak pertamanya.
Disaat bersamaan Dika datang dan berlari menghampiri istrinya, tapi alangkah terkejutnya Dika ketika dilihatnya ada tante Meri bersama Yulia.
“Apa-paan ini ? kenapa tante mendorong istri saya ?” tanya Dika heran, saat melihat wajah Yulia agak sedikit tegang.
“Siapa yang mendorong istrimu ?” jawab Meri berkilah.
“Ada apa sayang ?” tanya Dika pada istrinya, yang saat itu terlihat agak sedikit tegang.
“Ah, eh ! nggak ada apa-apa kok Bang.” Jawab Yulia dengan gugup.
“Sebenarnya ada apa ya, tante. Apa yang sedang kalian bicarakan ?” tanya Dika curiga.
“Ah nggak ada apa-apa Dika, tante hanya ingin mengajarkan Yulia, agar pandai-pandai menjadi istri seorang dosen yang kaya raya.”
“Maksud tante apa Ya ?”
__ADS_1
“Maksud tante, rumahmu inikan mewah, kalau tante perkirakan harganya pasti miliaran rupiah, jadi dia harus berhati-hati. Jangan sembarangan menerima orang masuk, apa lagi orang nggak kita kenal. Betul begitu kan Yulia ?”
kata tante Meri seraya mengedipkan matanya kearah Yulia.
Melihat hal itu Yulia hanya menunduk, perasaan takut bercampur bingung membayangi fikirannya. Dika yang selama ini berprofesi sebagai seorang dosen, tau persis apa yang dialami istrinya. Dengan tegas Dika pun berkata pada Meri, orang yang mengaku sebagai tante Yulia itu
“Tante, sebelum sidang memutuskan siapa tante ini sebenarnya, nggak usahlah tante datang dulu ke rumahku ini !” kata Dika pada Meri.
“Apa maksudmu ? jadi kau melaporkan tante ke polisi ?”
“Iya, saat ini kasusnya sedang diselidiki, kalau benar tante , tantenya sah Yulia, maka tante boleh tinggal disini, tapi jika tidak, jeruji besi telah menanti tante disana ?” kata Dika menjelaskannya pada Meri.
“Ooo, jadi kau mengancam tante, bagus itu. Mungkin kau mengira tante takut dengan ancaman mu itu ?” dasar sombong !” kata Meri marah dan emosi.
“Nah, sekarang tante boleh pergi. Silahkan, pintu rumahku sudah terbuka untuk menendang tante keluar !”
“Kurang ajar ! awas kau Dika ! tante pastikan kau akan membayar semua penghinaan ini !” teriak Meri seraya meninggalkan rumah Dika.
Setelah Meri pergi, Dika mengajak istrinya masuk, dan membuatkannya segelas teh hangat.
“Nah minumlah sayang !” kata Dika dengan lembut.
Yulia meminum teh hangat yang disuguhkan suaminya itu. Perasaannya begitu takut kalau Dika memarahinya, sehingga tangannya sedikit gemetar.
“Aku takut, Bang ?”
“Kenapa mesti takut sayang ? Lia mau bicara sesuatu pada Abang ?”
“Iya Bang !”
“Bicara jujur itu lebih bagus, dari pada harus berbohong.”
“Iya Bang.” Jawab Lia merunduk. “Sebenarnya tante Meri itu menyuruh aku minta uang Abang, tapi aku nggak mau, itu sebabnya tante Meri marah dan mendorong tubuh ku hingga terjatuh.”
“Benar begitu ?”
“Benar Bang.”
“Sebenarnya untuk apa dia minta uang pada mu ?”
“Entahlah aku nggak tau Bang.”
“Tapi kenapa sewaktu Abang tanya Lia nggak menjawab dengan jujur ?”
__ADS_1
“Itu karena tante Meri marah padaku , kalau aku mengadukan hal ini pada Abang !”
Bersambung...