Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 143 Mencari sekretaris baru


__ADS_3

Sementara itu, Nurul dapat menghirup udara bebas, setelah Riza kembali mendapat perawatan di rumah sakit jiwa.


Sesampainya Nurul dan Handoko di rumah, Rohana langsung menghampiri mereka, Rohana merasa ketakutan sekali melihat kejadian itu, teringat olehnya kejadian yang telah menimpa Alisa, betapa sadisnya Riza saat itu dia tega menghabisi Ibu kandungnya sendiri.


Bukan hanya sekedar membunuh Ibunya, tapi Riza juga memutilasi Ibu kandungnya sendiri, hanya karena Alisa tak memenuhi permintaan Riza untuk di belikan sebuah sepeda motor.


Riza marah dan menghancurkan seisi rumah, Alisa yang marah karena kelakuan Riza, akhirnya menjadi amukan anak kandungnya sendiri.


“Gimana kabarnya Den Riza Non?” tanya Rohana memastikannya.


“Riza udah mendapatkan perawatan yang maksimal di rumah sakit Bu, dia aman di sana.”


“Ibu takut sekali melihat kejadian tadi.”


“Bukan Ibu saja yang merasa ketakutan, saya lebih takut lagi dari yang biasanya.”


“Semoga saja hal ini nggak terulang lagi ya non.”


“Iya, Bu, semoga saja begitu,” jawab Nurul seraya mengambil Radit dari gendongan Rohana.


Radit yang mulai tumbuh besar, dia tersenyum ketika melihat Nurul mengambilnya dari gendongan Rohana.


“Anak Mama, apa udah makan sayang?”


“Udah Ma,” jawab Radit singkat.


Bersama dengan Nurul dan Rohana, Radit bermain di halaman belakang rumah, karena mulai hari itu, Nurul tak memberi izin pada Rohana untuk mengajak Radit bermain di halaman depan, karena sangat berbahaya sekali bagi kesehatan dan keselamatan putra nya.


Seperti biasa, hari itu Nurul pergi kekantor untuk bekerja, Nurul yang sudah lama tak memiliki sekretaris pribadi, di sarankan oleh Handoko untuk mencari sekretaris sendiri.


Nurul tak menanggapinya, dia hanya terus bekerja tanpa mengindahkan permintaan Handoko Papanya itu.


“Bu, di panggil Bapak ke ruangannya,” ujar salah seorang karyawan suruhan Handoko.


“Sekarang?”


“Iya, Bu.”


“Baiklah, saya akan kesana sekarang,” jawab Nurul sembari meninggalkan ruangannya.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam, silahkan masuk nak,” ujar Handoko pada putrinya.


“Katanya Papa manggil aku?”


“Iya, duduklah dulu.”


Mendengar suruhan Papanya Nurul langsung saja menarik kursi yang ada di hadapan meja Handoko.


“kemaren kan Papa udah menyarankan kamu untuk mencari sekretaris baru, apakah udah di cari?”


“Belum, Pa.”

__ADS_1


“kenapa?”


“Belum sempat, masih sibuk dengan pekerjaan.”


“Pekerjaan itu nggak akan ada selesainya nak, lagian kalau kau punya sekretaris sendiri, pasti pekerjaan mu lebih ringan lagi dari yang sekarang.”


“Aku nggak bisa mencarinya Pa, aku takut mereka asal kerja nantinya.”


“Gimana, kalau Papa aja yang mencarikan sekretaris untuk mu?”


“Terserah Papa ajalah, aku nurut aja kok.”


“Baik, besok sekretaris mu akan datang.”


“Baik, Pa,” jawab Nurul dengan pelan.


“Sekarang kembalilah ke ruangan mu.”


“Baik Pa.”


Melihat anak mantunya itu patuh dan penurut, hati Handoko menjadi senang, setelah kepergian Nurul, Handoko langsung menghubungi rekan bisnisnya, yang juga seorang konglomerat kaya.


Di tengah-tengah rapat yang membahas hasil pendapatan perusahaannya yang merosot tajam, Mirwan merasa kesal sekali siang itu, karena pengeluarannya tak dapat di tutupi pada bulan itu.


Gimana sih kerja kalian semua, kenapa nilai jual kita sampai merosot begitu tajam, apakah nggak ada ide kreatif, dari kalian agar harga jual kita kembali melonjak?”


Semua anggota rapat hanya tertunduk diam, tak ada yang dapat mereka jawab, dari pertanyaan yang di ajukan pimpinan mereka saat itu.


Suasana terasa begitu hening sekali, Mirwan hanya memperhatikan para karyawannya yang diam, jangankan untuk menggaji karyawannya, bahkan untuk menutup utang saja, perusahaan yang di kelola Mirwan tak mampu membayarnya.


Tanpa berfikir panjang, Mirwan langsung merogoh kantong celananya, di lihatnya ada panggilan yang tak terjawab dari Handoko. Di saat itu Mirwan langsung mendapat ide, untuk bekerja sama dengan Handoko.


Selama Nurul bekerja dengan Handoko, perusahaan Handoko tampak berkembang semakin pesat, Handoko bahkan mendanai anak-anak panti dari perusahaan miliknya.


Nurul yang langsung menjadi donatur dari perusahaan itu, selalu datang untuk memantau keadaan anak panti.


“Hallo! Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam, gimana kabarnya sekarang Wan, perusahaan mu masih aman kan?”


“Alhamdulillah, semuanya masih aman terkendali," jawab Mirwan berbohong.


“Oh, syukurlah,” jawab Handoko pelan.


“Nggak biasanya nih, lagi ada angin apa ya, Ko.”


“Ini, Wan! Aku mau nanyain putramu,” ujar Handoko.


“Putra ku, putra yang mana, Ko?”


“Itu, putramu yang belum nikah?”


“Ooo, Bima maksud mu?”

__ADS_1


“Iya, Bima. Dimana dia sekarang?”


“Ada, saat ini dia lagi di kantor bersama ku, ada apa rupanya Ko?”


“kalau kau mau, Bima bekerja bersama ku saja, karena saat ini putriku sedang butuh sekretaris baru.”


“O gitu, baiklah, nanti akan kutanyakan dulu padanya, siapa tau dia suka dengan jabatan itu.


O iya, Ko. Gimana kabarnya Riza, apakah masih dirumah sakit saat ini?”


“Iya, Wan. Saat ini aku nggak bisa mengharapkannya lagi, keadaannya sekarang sangat menyedihkan sekali, dan aku terpaksa harus membawanya ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan mentalnya.”


“Semoga saja dia cepat sembuh ya, Ko.”


“Insya Allah, Wan. Kita hanya bisa berdo’a semoga penyakit yang di deritanya segera sembuh.”


“Aamiin!”


“Baiklah Wan, aku tunggu informasinya besok ya?”


“Oh, iya,” jawab Riswan sembari menutup telponnya.


Mendengar kabar gembira dari Handoko, peluang besar udah terbayang di pelupuk mata, setelah Bima bekerja dengan Handoko, kesempatan itu akan dimamfaatkannya untuk meminta bantuan pada Handoko.


Dengan bergegas, Riswan langsung menuju ruangan putranya, di dalam tampak Bima sedang bekerja, Riswan menyuruh karyawannya memanggil Bima untuk menemuinya di lobi.


“Baik, Pak,” jawab pria itu sembari bergegas menemui Bima di ruang kerjanya.


“Tok, tok, tok!”


Mendengar suara pintu di ketuk dari luar, Bima langsung menoleh kearah sumber suara itu berasal.


“Silahkan masuk!” ujar Bima dengan sopan.


“Bapak di panggil, untuk menemui Pimpinan, di lobi.”


“Baik saya akan kesana sekarang.”


“Baik, Pak,” jawab Pria itu seraya pergi meninggalkan Bima yang akan meninggalkan ruangannya.


Sesuai perintah dari Papanya, Bima langsung turun kebawah, untuk menemui Papanya di lobi Gedung. Dari jauh Bima melihat Papanya sedang duduk di sofa sembari menikmati segelas jus manga.


“Papa, memanggil saya?”


“Oh, silahkan duduk, nak,” ujar Riswan pada Bima.


“Baik, Pa,” jawab Bima dengan suara lembut.


“Kau tau kan nak, kalau saat ini perusahaan kita akan mengalami kebangkrutan, semua hasil penjualan dari perusahaan kita telah merosot tajam, jangan kan untuk memulai kembali, untuk menggaji karyawan kita di bulan depan saja, Papa udah kesulitan untuk mencari solusinya.”


Bima tampak diam ketika Mirwan mejelaskan keadaan perusahaan kepada dirinya, bukan hanya Riswan saja yang merasa gamang saat itu, bahkan seluruh karyawan pun sudah merasa gelisah. Mereka semua takut di PHK, oleh perusahaan.


Bersambung...

__ADS_1


\*Selamat membaca\*


__ADS_2