Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 20 Perjodohan


__ADS_3

“O iya Den, boleh kagak Mamang bertanya sesuatu sama Den Niko ?”


“Oh, silahkan aja ! Mamang mau nanya apa ?”


“Ini Den, Mamang mau tanya, tapi Aden jangan tersinggung dulu !”


“Iya Mang, nggak apa-apa, Aku nggak bakalan tersinggung kok, Mamang ngomong aja.”


“Gini , apa selama ini Aden sudah punya gebetan ?”


“Maksud Mamang, kekasih ?” tanya Niko seraya melirikan matanya kearah Intan.


Melihat hal itu, Intan jadi menunduk karena menahan rasa malu.


“Ooo, kalau yang itu, kayaknya belum sih Mang ! nggak ada yang mau sama Aku, Mang.”


“Benar nggak ada yang Mau ?”


“Iya Mang, sepertinya Aku, bakalan dapat jodohnya lama nih.”


“Gimana kalau Mamang jodohkan kamu sama Intan !”


“Apa ? Sama Intan ?”


“Iya sama Intan, putri Mang yang baik hati ini !” kata Mang Ojo seraya mencubit pipi Intan yang berada disampingnya.


Mendengar perkataan Bapaknya, Intan jadi malu, di tutup wajahnya dengan telapak tangan.


.”Bapak ini ngomong apa sih ?”


“Kalau sama Intan, aku mau Mang ! mau banget.” Jawab Niko tampa berbasa-basi.


Mendengar kejujuran Niko, Intan pun terkejut alang kepalang, karena tak disangkanya sama sekali, kalau Niko secepat itu akan menjawab pertanyaan yang di ajukan Bapaknya.


“Abang serius ?”


“iya, sayang.”


“Tapi, Bapak kan Cuma bercanda tadi.”


“Nggak Intan, Bapak nggak bercanda, Bapak begitu suka dengan Den Niko, selain dia baik, dia ini anak yang sholeh.”


“Emangnya kamu nggak mau dengan Niko ?”


Intan tak menjawab pertanyaan yang di ajukan Mang Ojo pada dirinya, dia tak berani untuk menjawabnya, karena rasa malu.

__ADS_1


“Diam berarti suka.” Jawab Mang Ojo memutuskan sendiri.


“Bapak !” jawab Intan malu.


“Tapi kamu harus ingat satu hal, kami hanya orang miskin, tinggal di daerah Kawasan kumuh, yang orang kaya dan para pejabat merasa jijik dengan keberadaan kami. Jika Aden ingin menikah dengan Intan Aden harus siap menanggung malu dan hinaan orang.”


“Aku siap Mang !”


“Jangan cepat-cepat mengambil keputusan, karena masalah ini menyangkut masa depan Den Niko sendiri.”


“Iya Mang, Aku mengerti itu.” Jawab Niko penuh tanggung jawab.


Mendengar kesanggupan Niko, Intan jadi malu dan dia berlari ke kamarnya. Niko yang tak sanggup menahan diri, ikut berlari mengejarnya.


“Jangan di kejar, biarkan saja dia malu, itukan tabiat seorang wanita ! Tapi jika malu sudah nggak ada lagi itu baru kita pertanyakan.” Kata Mang Ojo seraya menarik tangan Niko.


“Jadi kapan Aku bisa bawa orang tua Ku kesini Mang ?” tanya Niko tak sabaran


“kalau kamu sudah siap, lebih cepat lebih baik.”


“Wah, wah, wah ! Ada rapat paripurna kayaknya nih ?” ledek Ranita dari ruangan depan.


“Ini, masaalah Niko dengan Intan, Mamang ingin menjodohkan mereka berdua, itupun kalau orang tua Den Niko setuju !”


“Ooo, rupanya Neng Ranita kepingi juga, ya ? tapi siapa yang cocok untuknya ?” Ledek Mang Ojo.


“Wah, kalau gitu, kecewa deeeh !” jawab Ranita memelas.


“Nggak usah kecewa ! Kan masih ada Aku !” seru Alhuda dari sudut ruangan.


Mendengar suara Alhuda yang tampa basa-basi itu, semua mata pun saling beradu pandang, mereka seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Jadi, kamu benar suka sama Kakak, Alhuda ?” tanya Ranita tak percaya.


“Kenapa nggak, kakak cantik dan berbudi baik. Rugi rasanya kalau Aku menolak wanita secantik itu.”


Mendengar penuturan dari Alhuda, wajah Ranita langsung memerah tak tahan mendengar pujian dari Alhuda.


“Kamu serius Nak ?” tanya Mang Ojo tak percaya.


“Ya, Aku serius Pak, kalau kak Ranita nya setuju.”


“Tapi kakak Cuma bercanda, Dek ! kenapa harus dimasukan kedalam hati ?”


“Kakak bisa menganggap hal ini bercanda tapi Aku nggak !” tegas Alhuda.

__ADS_1


“Tapi kakak lebih tua dari kamu, lho ? apa mungkin kamu mau menikah dengan wanita tua ? Sementara, kamu tampan, berbakat dan direktur bank lagi !”


“Bukankah Rasullullah, menikahi Siti Khodijah dengan perbedaan usia yang terpaut jauh ? Kenapa nggak mungkin kak, jangankan beda lima tahun, beda sepuluh tahun pun nggak masaalah kok ?”


“Benar begitu ?”


“Dan hal itupun banyak dilakukan orang lain, kenapa kita nggak bisa ?” kata Alhuda dengan suara lantang. ”Lagian Aku nggak mau menikah dengan wanita, yang belum ku kenal kebaikan hatinya. aku juga ingin punya istri yang tulus menyayangi kedua orang tuaku. Dan semua itu kutemui didalam diri kakak.”


Mendengar penuturan Alhuda yang transparan itu, Mang Ojo tak dapat berbuat apa-apa. dalam hatinya dia begitu kagum pada putra sulungnya itu, berani ambil resiko demi kebahagian orang tuanya.


“Kalau begitu kita akan adakan dua pernikahan sekaligus, itupun kalau keluarga Neng Ranita dan Den Niko setuju. Untuk itu, bicaralah kalian berdua pada mereka baik-baik, siapa tau niat baik kalian akan di kabulkan oleh Allah Swt.”


“Baik Mang.” jawab keduanya serentak.


Sementara itu, disaat Mang Ojo memikirkan tentang pernikahan kedua anaknya , diruang lain para tamu masih asik menikmati acara yang saat itu masih berlangsung.


Kemudian Mang Ojo berdiri untuk menemui Istrinya, membahas pernikahan kedua orang anaknya itu.


Fatma tidak menolaknya sama sekali, dia menurut saja apa yang dikatakan Mang Ojo. Fatma sangat setuju sekali dengan rencana yang di gagas suaminya itu.


“Bagai mana kalau orang tua Ranita dan Niko nggak menyetujui perjodohan ini Pak ? apa kita punya jalan keluarnya ?” tanya Fatma pada suaminya.


“Sebentar, Aku mesti mikir dulu. Bagai mana jalan keluar yang baik untuk mereka ini ?” kata Mang Ojo memutar balikan otaknya. “ Ya Allah, Aku nggak nemu jalannya Bu, semuanya kelihatan buntu.”


“Aku dapat jalan keluarnya, Pak !” jawab Alhuda dari balik gorden pintu orang tuanya.


“Apa itu, nak ?” tanya Mang Ojo ingin tau.


“Begini aja ! besok Bapak dan Ibu datang kerumah orang tua kak Ranita, untuk melamarnya.”


“Tapi apa kamu punya uang untuk lamarannya nanti ?”


“Kalau soal itu, Ibu nggak usah pikirkan, tabungan Ku ada untuk itu.”


“Oh, syukurlah, tapi apa kamu yakin dengan keputusan mu itu, nak ? karena ini bukan main-main, ini untuk masa depanmu nantinya.”


“Kenapa Ibu meragukan keputusan Ku ini, Bu ?”


“Karena menurut Ibu kau mengambil keputusan secara tergesa-gesa.”


“Ibu salah, kalau menganggap keputusan ku ini tergesa-gesa, Ibu dan Bapak tau sendiri siapa Ranita itu bukan ? selain cerdas dia juga memiliki budi pekerti yang baik, pria mana yang tak ingin menikah dengan wanita seperti itu.


“Iya, Ibu tau, tapi Ranita telah berumur jauh dari mu.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2