Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 136 Musibah ledakan


__ADS_3

“Baik, Bang!” jawab ke tiganya serentak.


Di saat mereka semua menanti kepulangan Nurul, Riza pun datang menghampiri rumah yang besar itu, ketika semua sedang lengah, Riza datang dan meletakkan dua buah granat di samping rumah Mang Ojo.


Dengan santai, tanpa takut sedikit pun Riza keluar dari halaman rumah itu dengan melenggang. Tepat pada saat itu Mang Ojo sedang melaksanakan sholat tahajud bersama Fatma istrinya, hatinya merasa berdetak, seperti ada sesuatu yang bakal terjadi.


Hal itu pun di katakana Mang Ojo pada istrinya Fatma, yang saat itu sedang khusuk bermunajat pada Allah.


Fatma yang melihat suaminya sedikit gelisah, hatinya pun bertanya-tanya, tak puas dengan menduga-duga saja, lalu Fatma menghampiri suaminya.


“Ada apa Pak, kenapa kelihatan gelisah?”


“Perasaan ku nggak enak Bu,” jawab Mang Ojo pelan.


“Nggak enak gimana, maksud Bapak?”


“Entahlah, dari tadi perasaan ku ini terasa nggak enak, seperti akan terjadi sesuatu.”


“Kalau gitu, kita panggil Zaki aja yuk,” ajak Fatma pada Mang Ojo.


“Baiklah,” jawab Mang Ojo sembari menghampiri pintu kamar Zaki.


“Tok, tok, tok! pintu pun diketuk dari luar.


Defi yang mendengar pintu kamarnya di ketuk, dia pun berusaha untuk bangun dan membukakannya.


“Eh, ada Bapak sama Ibu, ada apa?”


“Mana Zaki nak?”


“Bang Zaki sedang keliling di luar bersama Bang Niko, Pak.”


“Ada apa ya, kenapa Bapak kelihatan lelah sekali?”


“Perasaan Bapak nggak enak, nak.”


Di saat Mang Ojo sedang menyampaikan isi perasaannya, tiba-tiba dari arah samping kamar Leni terdengar suara ledakan yang sangat kuat.


“Aaaa!” teriak Leni dari dalam kamarnya.


“Ada yang meledak Pak!” teriak Fatma ketakutan.


“Tenang Bu, tenang!” ujar Defi menenangkan hati Ibunya.


Lalu tidak berselang lama, untuk yang keduanya, meledak lagi, boom yang kedua, kali ini berasal dari sebelah kamar Defi. putranya yang sedang tidur terpental kearah dinding hingga tak sadarkan diri.

__ADS_1


Defi pun menjerit histeris, api bergejolak membakar ruang kamar milik Defi dan Leni, asap hitam mengepul di mana-mana, Zaki dan Niko berusaha menyelamatkan Mang Ojo dan Fatma beserta istrinya.


Disaat api semakin membesar, zaki teringat denganEma dan Zakia serta putri kecil mereka, tanpa berfikir panjang lagi, Zaki langsung berlarian kedalam rumah, dan membuka semua jendela agar asap tebal, tidak memenuhi ruangan itu.


Dengan cekatan, Zaki dan Niko mencoba menyelamatkan mereka semua, tragedi yang memilukan terjadi di ruangan Leni, Ahong yang tertimpa reruntuhan beton, tak bisa di Tarik keluar, Leni yang berada di samping suaminya menangis histeris.


Niko berusaha, mati-matian untuk menyelamatkan Ahong, sementara itu api semakin membesar, asap tebal menyelimuti semua ruangan itu.


“Ibu pergilah keluar, duluan, biar saya yang akan menyelamatkan Bapak.”


“Tapi Nak, di luar api sangat besar.”


“Keluarlah lewat pintu dapur.”


“Baiklah, tapi bagai mana dengan Bapak?”


“Itu tanggung jawab Saya,” jawab Niko, sembari mencoba menggeser serpihan beton yang menimpa kaki Ahong.


Di luar semua orang tampak menangis sambil menahan rasa takut, banyak yang sedang terperangkap di dalam rumah, asap tebal telah menutup jalan menuju pintu rumah, Debi, Ema dan Zakia mencoba berpegangan pada tangan Zaki untuk bisa keluar dari ruangan itu.


Hanya mengandalkan isnting, Zaki mencoba mengingat-ingat jalan menuju halaman belakang, hingga akhirnya mereka berempat sampai kebelakang rumah.


“Cepat kalian kedepan, temui Bapak dan Ibu mereka semua begitu cemas sekali.”


“Baik den.” Jawab ketiganya sembari bergegas menuju halaman depan. Setelah ketiganya di nyatakan selamat, Zaki kembali masuk kedalam untuk menyelamatkan Leni dan Ahong.


“Bu Leni?”


“Iya, Den.”


“Ayo, saya antar Ibu keluar,” ajak Zaki pada Leni yang saat itu telah batuk-batuk karena menghisap asap tebal.


“Tapi den, Bapak masih di dalam bersama Den Niko,” ujar Leni pada Zaki.


“Soal Bapak, itu tanggung jawab saya, Ibu langsung saja kedepan sana, semua orang sedang menantikan Ibu.”


“Baik Den.”


Setelah Leni di nyatakan selamat, Zaki pun kembali kedalam, membantu Niko untuk melepaskan Ahong dari jepitan tembok yang menimpanya.


“Bang Niko!” panggil Zaki dari luar.


“Iya, Abang di sini dek,” jawab Niko yang terus berusaha membuang pecahan tembok yang menimpa tubuh Ahong.


Karena banyaknya asap hitam yang mengepul terhisap oleh Niko, pria muda itupun merasa sesak nafas, tubuhnya yang tadinya terasa kuat, tiba-tiba saja melemah, sementara tubuh Ahong masih terjebak di bawah reruntuhan batu.

__ADS_1


“Oh, ya Allah, Abang kenapa?”


“Nafas Abang sesak dek.”


“Oh, baiklah, akan aku bawa Abang keluar, tahan nafas Abang sebentar,” ujar Zaki seraya menggendong tubuh Niko.


Zaki meraba untuk bisa keluar bersama Niko yang dia gendong, bukan hanya Niko, Zaki juga merasakan sesak nafas, tapi dia masih sedikit kuat untuk tetap bertahan.


Setelah diantarkannya Niko keluar, Zaki kembali masuk kedalam, dengan tenaga yang masih tersisa, Dia pun berusaha untuk mengangkat bongkahan beton yang menimpa tubuh Ahong yang saat itu pingsan.


Zaki berusaha dengan cepat membuang serpihan beton yang menimpa tubuh Ahong dan menarik bagian kakinya hingga terlepas.


Zaki yang udah mulai pusing langsung berjalan pelan keluar sembari menggendong tubuh Ahong. Belum sampai ke pintu, tubuhnya mulai melemah, karena begitu banyak menghisap asap pekat yang ada didalam ruangan itu.


Niko yang udah mulai sedikit membaik, langsung menarik tubuh Zaki dan Ahong, hingga mereka berdua benar-benar telah berada di luar.


“Alhamdulillah, kita selamat dek.”


“Alhamdulillah, Bang.”


Beberapa saat kemudian ,setelah Zaki berusaha mati-matian menyelamatkan mereka semua, barulah mobil damkar datang bersama dengan ambulance.


Lalu bagi mereka yang telah melemah dan tak sadarkan diri, langsung di larikan kerumah sakit. Di saat itu Alhuda bersama Istrinya pun datang, begitu juga dengan Dika. Semuanya menangis sedih.


Mesti sudah selamat, namun tak sedikit kerugian yang di tanggung Mang Ojo sekeluarga. Ketika api telah selesai di padamkan, saat itu Mang Ojo melihat semuanya ludes terbakar.


“Baru saja kemaren kita semua tertimpa musibah, sekarang musibah itu datang lagi menimpa keluarga kita,” ucap Mang Ojo sembari menangis pilu.


Keesokan harinya, setelah kejadian itu di laporkan ke polisi dan polisi pun datang untuk menyelidikinya, lalu beberapa barang bukti pun di temukan.


“Gimana Pak, apakah udah ada bukti?” tanya Alhuda pada polisi.


“Udah dek, kami udah menemukan beberapa barang bukti, berupa dua granat tangan yang meledak.


“Granat tangan? Maksudnya?”


“Iya, jadi begini, sepertinya ada dua sumber ledakan yang terjadi malam itu di rumah orang tua adek, satu di sebelah selatan dan satunya lagi di sebelah utara."


“Dua bahan peledak ya Pak?”


“Iya,” jawab polisi itu. “Oh iya, dek. Apakah rumah ini di pasang cctv?”


“Ada Pak!”


“Mari kita lihat, dari cctv.”

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2