
“Tenang aja Pak ! Kalau jodoh nggak bakalan kemana.” Jawab Alhuda menenangkan hati kedua orang tuanya.
Sejak saat itu, perjodohan Alhuda dengan Ranita berakhir tak berujung, tak ada jalan keluar yang bisa di buat diantara mereka. Akan tetapi Ranita secara diam-diam datang kerumah Alhuda untuk menjemput cintanya yang terhalang oleh dinding perbedaan derajat.
Melihat hal itu, Mang Ojo merasa tak enak hati dengan orang-orang yang ada di sekitar nya, dengan lembut, Mang Ojo membujuk Ranita untuk bicara pada Mamanya.
Hal itupun diterima Ranita dengan senang hati. Malam hari saat keluarga Ranita berkumpul, Ranita langsung mengutarakan niatnya itu, dia bicara pelan dan lembut.
“Ma, kenapa ya ? Mama menolak kedatangan Mang Ojo sekeluarga ke sini ?”
“Mang Ojo itu siapa Nita ?”
“Dia itu datang untuk melamar ku, Ma ?”
“Melamar ? kamu udah mau menikah Nak ?”
“Iya, Ma.”
“Kalau kamu udah mau menikah, kenapa nggak bilang sama Mama dan Papa, kan kami bisa Carikan pria yang berpendidikan untuk mu, kaya, tampan dan kaya lagi.”
“Tapi aku nggak mau itu Ma ?”
“Lalu kamu maunya yang mana sayang ?”
“Aku hanya mau menikah dengan putranya Mang Ojo dan Bu Fatma.”
“Mereka itu orang Kawasan kumuh, Nita ! dia nggak cocok untuk mu, kita nggak selevel dengan mereka nak “
“Apa menurut Mama, orang kaya harus menikah dengan orang kaya juga ?”
“Nggak juga sayang, tapi mereka itu, hidup jauh sekali dibawah kita.”
“Tapi calon ku ini, seorang direktur Bank, lho Ma ?”
“Siapa pun dia, dia tetap keturunan pemulung yang mimpi jadi orang kaya.”
“Mama salah, Mama hanya menilai seseorang dari materinya saja, setuju atau nggak, aku akan tetap menikah dengan Alhuda putra Mang Ojo.” Tegas Ranita.
“Nggak !” teriak mama Ranita, itu nggak akan terjadi ! kau anak kami satu-satunya, penerus keturunan ini, dari rahimmu harus lahir anak-anak yang berdarah sederajat, bukan dari anak pemulung itu.”
“Kenapa Mama selalu saja membahas masaalah harta, harta dan keturunan ? Aku jadi capek mendengarnya, Ma !”
__ADS_1
“Tutup mulutmu Ranita ! rupanya kau telah dipengaruhi oleh keluarga pemulung itu, ingat, Ranita ! Jika kau menikah dengan anak pemulung itu, maka kau nggak akan mendapatkan harta warisan dari Mama sepersen pun !”
“Baik ! Kalau hanya masaalah harta yang jadi penghalangnya selama ini, nggak masalah.”
“Kau akan miskin tinggal dirumah susun yang kumuh itu Ranita !” teriak Resti, yang telah ditinggal pergi oleh putrinya.
“Lebih baik tinggal dirumah kumuh, tapi hati pemiliknya bersih dari pada tinggal dirumah bersih tapi hati pemiliknya !”
“Stop ! Jangan lanjutkan Nak !” teriak Pak Margono seraya menangis.
“Maafkan Aku, Pa ! Mama nggak memberi kesempatan untuk ku.”
“Papa tau itu sayang ! dan Papa nggak mau membahas masaalah itu lagi.” Kata Papa Ranita dengan suara terbata-bata, karena linangan air mata yang telah membuat lidahnya terasa kelu untuk bicara.
“lalu aku mesti gimana Pa ?”
“Sekarang Papa serahkan semuanya padamu, carilah mana yang terbaik menurut hati nurani mu.”
“Nggak bisa ! sekali kau membantah Mama, maka selamanya kau akan hilang dari hati Mama !” ujar Resti dengan suara nyaring.
“Terserah Mama ! yang paling penting Papa sudah memberi kebebasan pada ku.”
“Ingat Ranita ! kau putri Mama satu-satunya, yang akan mewariskan seluruh harta Mama ini nak ! tapi jika kau menikah dengan pria anak pemulung itu, maka kau akan jadi miskin Ranita dan tinggal di rumah susun yang pengap !”
“Kau akan menyesal nanti Ranita !”
“Aku bisa kok cari uang sendiri tampa harus mengemis pada Mama. Apa Mama tau kalau calon suamiku itu seorang direktur Bank, nggak kan ?”
“Sudahlah Nak, sudah ! pergi sana tidur ! Mamamu biar Papa yang urus.” Kata Pak Margono sembari menyuruh Ranita masuk kedalam kamarnya.
Setelah disuruh oleh Papanya pergi, barulah Ranita meninggalkan Mamanya yang sedang tersulut emosi. Didalam kamar Ranita menangis tersedu-sedu, air matanya tak mau berhenti mengalir.
Hati Ranita begitu sakit, saat Mama yang selama ini jadi panutan dalam hidupnya kini telah menghancurkan seluruh harapannya.
Disaat itulah Pak Margono datang menghampiri putri tunggalnya.
“Kenapa Nak ! masih terasa sakit. Kenapa sih kamu begitu ngotot mempertahankan hubunganmu dengan pria itu ?”
“Mama itu sudah keterlaluan Pa, sepertinya Aku ini hanya sebagai boneka mainan baginya.
Semuanya harus diatur, aku nggak boleh membantah, ok ! semuanya sudah ku turuti."
__ADS_1
"Iya, Papa tau itu sayang."
"Tapi ini masaalah sensitive, Pa ! ini masaalah masa depan ku ? kenapa sih Mama selalu memaksakan kehendaknya ?” jelas Ranita dengan uraian air mata.
“Itulah Mama mu, Nak ! Semestinya kau telah mengetahuinya semenjak dulu, siapa sebenarnya Mamamu itu ! Dia selalu memperhitungkannya dari segala segi, tanpa kecuali.”
“Tapi aku sudah dewasa Pa ? Aku bukan anak-anak lagi yang hidupnya bisa diatur oleh orang tuanya. Aku bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Papa tau itu nak !”
“Alhuda itu anak baik, Pa ! dia sekarang bekerja sebagai direktur sebuah bank, kenapa harus di tolak ! bukankah Mama menginginkan menantu yang pekerja keras ?”
“Udah, udah ! jangan dibahas lagi.” Kata Papa Ranita seraya menyuruh putrinya untuk tidak membahas masaalah itu.”
Beberapa hari kemudian saat hendak bekerja, diatas mobil Resti tetap saja menggerutu, hatinya terasa begitu sakit saat putri tunggalnya menentang keinginannya untuk membatalkan pernikahan dengan pria miskin yang berasal dari Kawasan kumuh.
“Kenapa sih Pa, ada orang miskin yang mimpi jadi orang kaya ? nggak pernah ngaca kali, ya ?” ucap Resti kesal.
“Udah, udah ! jangan sampai masaalah sepele ini mengganggu pekerjaanmu !” kata Pak margono seraya fokus dalam menyetir mobilnya.
“Gimana nggak ganggu, Pa ! jelas-jelas hal ini bikin Mama pusing !”
“Lalu kita mesti gimana Ma ? harus menyekap Ranita, biar nggak jadi nikah ?”
“Kalau Papa setuju, apa salahnya ?”
“Papa nggak setuju !” bentak Pak Margono.
“Setuju atau kagak , Mama tetap akan lakuin ! karena ini menyangkut nama baik keluarga kita !” tegas Resti.
"Nama baik apa Ma ?"
"Ya, nama baik keluarga kita, apa Papa lupa, kalau kita ini nggak sederajat dengan mereka."
“Kalau Mama bersikeras, ya ! terserah Mama saja, Papa nggak mau ngurusin !”
“Nggak mau gimana ? Ranita itukan anak kita berdua !”
“Justru Ranita itu anak kita berdua makanya, Papa melarang Mama untuk melakukan kekerasan pada dia, tapi Mama nggak mau menerima usulan dari Papa kan ?”
“Bukannya nggak mau Pa ! tapi kayaknya Papa itu nggak punya pendirian sama sekali.”
__ADS_1
“Nggak punya pendirian gimana maksud Mama ?”
Bersambung...