Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 27 Bertemu keluarga Pejabat


__ADS_3

Sebenarnya hati Ranita terasa begitu sakit sekali, karena perempuan yang sedang mengajaknya bicara, adalah orang yang selama ini sangat dihormati dan disayanginya, namun karena satu hal, dia terpaksa harus diam.


Sementara itu, Retno orang tuanya Niko sudah kembali sadar, saat pertama sekali matanya di buka dia telah melihat putra kesayangannya duduk di samping kirinya.


“Niko !”


“Mama, udah sadar ?”


“Sudah sayang.”


“Oh, syukurlah. Niko ada disini Ma ?”


“Maafkan Niko Ma ? ulah Niko Mama jadi begini.”


“Iya, sayang. Mama juga minta maaf pada mu, karena Mama telah keras dan bersikap egois.”


“Iya, Ma.”


“Nanti kalau Mama udah sadar, kita datang kerumah Intan ya nak, kita lamar gadis pujaan mu itu, bersama-sama.”


“Iya, Ma. Sekarang Mama jangan pikirkan itu dulu, Mama fokus aja dengan kesembuhan Mama dulu.”


“Iya, sayang. Tapi Mama udah agak baikan kok.” Jawab Retno sembari tersenyum manis.


Setelah dua Minggu dirawat dirumah sakit, Retno sudah di izinkan kembali pulang, hatinya yang kacau sudah terobati dengan kepulangan Niko bersamanya.


Ketika hendak pindah kekursi dorong, tiba-tiba saja Zaki hadir diantara mereka. Dia datang dengan berpakaian seorang Dokter, diiringi oleh dua orang perawat dibelakangnya.


“Hei ! Ada Bang Niko, rupanya ?” sapa Zaki.


“Hai, Zaki ? kamu udah jadi dokter rupanya ?”


“Belum Bang, surat izinku belum keluar, katanya masih nunggu tiga bulan lagi. Dan mungkin aku ditugaskan disini.”


“Wah ! bagus itu, Abang juga ikut senang mendengarnya.”


“O iya, kenapa Bang Niko berada disini ?”


“Ini Mama, dia sedang sakit, udah dua Minggu dirawat disini.”


“Ooo, ini Mama Abang ?”


“Iya, Ki ! ini Mama, Abang.”


“Kalau begitu selamat ya Bang, jangan datang lagi kesini !”


“Ok !” jawab Niko dengan ketawa yang lebar.


Setelah Zaki pergi, Niko kembali mendorong kursi roda Mamanya menuju mobil.


“Tadi itu siapa sayang ?” tanya Retno heran.


“Kenapa rupanya Ma ?”


“Kelihatannya kamu begitu akrab sekali dengannya.”


“Dia itu Ahmad Zaki, putra ketiga Mang Ojo, adik dari perempuan yang akan aku nikahi Ma.”


“Ah masa ? anak seorang pemulung bisa jadi dokter.”


“Emangnya nggak boleh, anak seorang pemulung jadi dokter ?”

__ADS_1


“Bukan gitu sih ! tapi Mama nggak percaya.”


“Kalau Mama nggak percaya, ya nggak apa-apa kok, nggak usah dipaksakan. Karena dengan memaksakan diri bisa buruk akibatnya bagi kesehatan jantung Mama nantinya.”


Mesti Retno mengizinkan putranya menikah dengan Intan, putri seorang pemulung, namun Retno masih saja berharap, kalau Niko mau membatalkan pernikahan mereka. Karena Retno tidak sepenuhnya setuju dengan keputusan yang telah diambilnya.


Disaat Mama Niko dibawa pulang kerumahnya, Zaki pun kembali memeriksa Pasien berikutnya. Setelah jam tugasnya selesai, ketika hendak pulang, tanpa sengaja Zaki melihat Mama Ranita sedang duduk gelisah.Dengan pelan Zaki pun mendekatinya.


“Ibu, Mamanya Kak Ranita, ya ?”


“Iya, anda siapa ?” tanya Resti heran.


“Saya dokter yang merawat Ranita.”


“Oh, dokter yang merawat Ranita ya ? gimana dengan kondisi putri saya dok ?” tanya Resti ingin tau perkembangan putrinya.”


“Sejauh ini, putri Ibu mengalami perkembangan yang cukup baik.”


“Tapi saya nggak melihat hal itu dari putri saya ?”


“Ah, masa !”


“Iya, dok. Hingga hari ini aja, dia belum mau di ajak bicara, apa lagi berjalan.”


“Baiklah, kalau begitu saya akan periksa kondisi anak Ibu dulu.”


“Ya silahkan Dok.” Jawab Resti mempersilahkan Zaki masuk kedalam.


Didalam ruang rawat Ranita, Zaki melihat Ranita terbaring lemah tak berdaya, hatinya begitu sedih saat itu, tapi ketika dia hendah melihat kondisi Ranita, Zaki malah kaget melihat Ranita tampak segar.


“Kak Ranita ?” sapa Zaki pelan.


“Zaki, kamu !”


“Iya kak.”


“Aku udah ditugaskan dirumah sakit ini kak ! hanya saja surat izin tugasku belum keluar.”


“Ooo, gitu ya ?”


“Gimana kabar Kakak sekarang ?”


“Kakak sebenarnya udah sehat sayang, tapi kakak sengaja bepura-pura sakit, agar Mama mau merestui pernikahan kami.”


“Ya ampun ! kakak sengaja melakukan semua ini, hanya karena ingin di beri restu ?”


“Iya sayang. Tapi hingga sejauh ini, Mama kakak masih belum memberikan keputusannya untuk kakak.


“Yang sabar ya kak.”


“Zaki !”


“Iya kak.”


“Gimana kabar Alhuda di sana ?”


“Dia baik-baik aja kak, Bang Huda, masih setia kok sama kakak, dia nggak akan menghianati ucapannya, walau orang tua kakak, nggak memberi izin.”


“Kalau menurut mu, apa yang harus kakak lakuin saat ini Zaki ?”


“Kakak, berusahalah terus untuk mendapatkan restu darinya, karena sekeras-keras nya batu, dia akan hancur jika di tetesi air secara terus menerus.”

__ADS_1


“Iya, kamu hebat sayang, nanti kalau Mama bertanya, kamu bilang pada mereka, keadaan kakak semakin parah ya ?”


“Ah, jangan gitu lah kak, nanti aku kena sangsi loh ?”


“Ya udah, nggak usah.” Jawab Ranita tersenyum lebar.


Setelah berbincang-bincang dengan Ranita, Zaki pun keluar dan Mama Ranita langsung menyongsong kedatangannya.


“Bagai mana keadaan putri saya dok ?”


“Putri Ibu baik-baik aja kok !”


“Maksud dokter itu apa ?”


“Saya tadi habih memeriksa kondisi tubuhnya, tapi dia baik-baik saja kok.”


“Ah, yang benar saja dok !”


“Saya nggak bohong Bu, coba Ibu lihat sendiri kedalam !” kata Zaki menyakinkan Mamanya Ranita.


Merasa penasaran, perempuan itu pun bergegas melihat kondisi Ranita, yang terlihat masih berbaring lemah.


“Saya nggak melihat ada kesembuhan pada Ranita, sepertinya dia masih sakit dok.”


“Itu karena Ibu terlalu keras padanya, ingat Bu ! nggak setiap anak itu bisa ditekan, kadang ada anak itu yang dengan cara lain, dia bisa berkomunikasi dengan kita orang tuanya.”


“Jadi maksud dokter anak saya itu tertekan jiwanya ?”


“Iya, Ibu bisa lihat sendirikan ?”


“Kalau boleh saya tau, sebenarnya nama dokter siapa ?”


“Saya, Ahmad Zaki.”


“O, Ahmad Zaki.”


“Kenapa Bu ?”


“Nggak, saya Cuma nanya, sepertinya saya pernah melihat dokter, tapi saya nggak ingat.”


“Masa secepat itu, Ibu lupa ?”


“Jadi ? benar ya, kita pernah jumpa ?”


“Ingatan Ibu agak sedikit payah ya !”


“Maksud dokter apa ?”


Saya Zaki ! adik dari Alhuda, yang pernah datang kerumah Ibu, untuk melamar Ranita, tetapi di tolak. Apa Ibu masih ingat ?” jelas Zaki pada Resti.


“Ooo ! Jadi kamu anak pemulung yang mimpi jadi orang kaya itu ?”


“Maaf, maksud Ibu apa ya ?”


“Gara-gara, kalian ! Sekarang anak saya terbaring tak berdaya.” Jelas Resti dengan suara lantang, membuat ruangan sebelah menjadi kaget.


“O ya ? apa itu gara-gara Bang Alhuda ?”


“Iya ! Semua itu gara-gara dia !”


“Apa Ibu yakin ?”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2