Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 75 Putus Asa


__ADS_3

“Jadi kita mesti gimana ?”


“Ya, kita izinkan aja mereka menikah.”


“Nggak bisa dong Ma ! Mama mau anak kita nggak satu akidah dengan kita.”


“Kalau gitu, kita larang aja mereka pacaran, agar kita nggak sibuk mengurusi masalah ini lagi.”


“Mau Papa mesti begitu.”


“Masalahnya apa Papa mau, mengatakan hal ini pada Gita ? kalau Mama sih ogah.”


“Kalau Mama aja nggak sanggup, gimana pula dengan Papa.”


Setelah perdebatan kecil itu tak mendapat jalan penyelesaiannya, maka merekapun sama-sama diam dengan seribu Bahasa.


Sementara itu, Gita yang masih dalam kesedihannya, mencoba untuk dapat menyesuaikan diri bersama dengan yang lain.


“Ada apa Git ?” tanya Aisah heran, saat melihat tingkah laku Gita yang kaku.


“Nggak ada apa-apa, Sah.”


“Tapi nggak biasanya kamu bersikap dingin seperti ini.”


Karena Aisah, terus mendesaknya, maka Gita mencoba untuk mengutarakan semua keluh kesahnya itu.


“Ooo, gitu masalahnya, jadi menurut mu gimana ? apakah kau udah mendapatkan jalan keluarnya ?”


“Belum Sah ! Papa dan Mama ku selalu saja membantah apa yang aku sampaikan kepadanya.”


“Sebenarnya, Papa dan Mama mu itu punya alasannya sendiri, Git. Karena nggak mudahkan, orang yang sudah puluhan tahun menganut keyakinan seperti itu, bisa berubah seketika dengan mudahnya.”


“Iya juga sih.”


“Lagian, kamu sendiri juga begitu kan ?


“Maksud mu apa ?”


“Kalau kau nggak punya hubungan dengan dr. Zaki, pasti belum tentu kau akan beralih akidah dengan secepat ini kan ?”


Mendengar perkataan Aisah, Gita hanya bisa diam tertunduk, sebab memang tak ada yang bisa dibantah saat itu olehnya.


“Jadi, apa pendapatmu tentang masalah ini Sah ?”


“Bukan hanya kau Git, tapi aku pun nggak punya jawaban untuk hal ini.”


“Kenapa ?”

__ADS_1


“Karena ini masalah keyakinan Git. Kalau salah ngomong, maka buruk akibatnya untuk masa depan kita nantinya.


Seraya menarik nafas panjang, Gita hanya terpana kosong, pandangan matanya yang nanar, tak lagi merespon apa pun yang berada dihadapannya.


Bertepatan saat itu, Zaki pun datang, ketempat Gita duduk. Sementara Aisah yang melihat kedatangan Zaki, dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


“Hei ! ada apa ? kok bengong aja ?


“Semuanya udah hancur Bang.”


“Apanya yang hancur ?”


“Semuanya ! harapan ku, keinginan ku, cinta ku dan hidup ku.”


“Kenapa bisa hancur sayang ?” tanya Zaki sembari membelai rambut Gita, yang saat itu tidak terikat.


“Aku udah capek Bang, aku udah capek membahas masalah ini pada keluarga ku.”


“Mereka masih nggak mau, memberimu izin ?”


“Iya, mereka tetap bersikeras pada keyakinan mereka, bahkan mereka menyuruh ku mengajak Bang Zaki untuk ikut kami, menganut keyakinan yang selama ini kami jalani.”


Mendengar kejujuran Gita, Zaki tak langsung tersinggung, apa lagi marah pada Gita, karena Zaki tau, hal semacam itu pasti akan terjadi di kemudian hari. Untuk itu Zaki berusaha mencari cara untuk masuk ke lubuk hati Gita yang sedang bimbang.


“Gita sayang, sama halnya dengan keluarga mu, keluarga Abang tentu tak mengizinkan putranya beralih akidah, apa lagi Abang ini kan seorang laki-laki, seorang pemimpin dalam rumah tangga kita nantinya.”


“Kalau, pemimpinnya saja tak punya pendirian dan suka beralih kepercayaan dengan begitu mudah, lalu gimana pula dengan yang di pimpinnya nanti, tentu kacau bukan ? karena seorang pemimpin itu akan dipertanggung jawabkan tentang kepemimpinannya nanti di hadapan Allah.”


“Iya juga sih.” Jawab Gita termakan ucapan Zaki.


“Untuk itulah, Abang tetap bertahan pada keyakinan yang Abang anut, sebab seorang pemimpin itu akan di pegang kepemimpinannya serta keyakinan yang di jalankan.”


“Jadi aku mesti gimana Bang ?”


“Berusahalah bicara baik-baik dengan kedua orang tua mu, kalau seandainya mereka tetap berpegang teguh pada pendiriannya, maka kita juga tak dapat berbuat apa-apa.”


Mendengar jawaban dari Zaki, Gita langsung menangis, akal sehatnya saat itu sudah tak ingin di fungsikannya lagi, pikirannya sudah kalut dan buntu. Meskipun Zaki tetap menenangkan pikirannya, namun Gita tak lagi mau meresponnya.


Siang itu, setelah jam kerjanya berakhir, Gita pulang sendiri dengan berjalan kaki, Zaki yang mencoba mengajaknya pulang, Gita selalu menolaknya.


“Ayolah ! biar Abang hantarkan pulang.”


“Nggak usah Bang, biar aku jalan kaki aja.” Jawab Gita pelan.


“Kenapa sayang ? apakah kamu masih memikirkan masalah pernikahan kita ?"


“Aku nggak punya jalan keluarnya lagi Bang. Jalan ku udah buntu, Papa dan Mama tetap nggak mengizinkan aku untuk beralih Agama.”

__ADS_1


“Kalau mereka nggak mengizinkan, kenapa harus di pikirkan ! bersabarlah, siapa tau suatu saat nanti pintu hatinya akan terbuka.”


Gita diam saja, karena semenjak hari itu, Gita memang banyak diam dari pada bersuara"


“Ayolah sayang, nanti capek loh ?”


“Nggak usah Bang, biar aku jalan aja, lagian udah dekat kok.”


“Ya udah, kalau kamu nggak mau, Abang juga nggak bisa maksa.”


“Abang duluan saja, aku masih ingin sendiri saat ini.”


“Baiklah, kalau begitu Abang pergi dulu.”


“Iya.” Jawab Gita singkat.


Disebuah jembatan, menjelang tib di rumahnya, gita masih sempat berfikir akan mengakhiri hidupnya di sana kalau Mama dan Papanya nggak mengizinkan dia untuk pindah Agama.


Dengan perlahan, gita mencoba menoleh kebawah, air sungan yang mengalir dengan deras, tentu dapat menyapu kesedihan yang sedang dia rasakan saat itu.


“Tapi ? jika aku bunuh diri, dengan siapa pula Papa dan Mama hidup, siapa yang akan merawatnya dan memberi mereka makan ? tentu mereka akan jadi seorang gelandangan, pengemis dan meminta-minta belas kasihan orang lain.”


Di saat hati nuraninya berkata, Gita kembali menyurutkan langkah kakinya sedikit bergeser kebelakang, dia begitu sedih, kalau seandainya dia tak ada, lalu dengan siapa kedua orang tuanya hidup.


“Oh, tidak !” teriak Gita di keramaian kota Jakarta.


Seorang Ibu yang melihat Gita saat itu, datang menghampiri dirinya, dengan pelan Ibu itu meraih pundak Gita Dengan lembut.


“Kenapa berteriak nak ?” tanya Ibu itu heran.


Saat merasa ada seseorang di sampingnya, Gita tak langsung menjawab, dia hanya diam saja, akan tetapi dia mencoba menatap tajam kearah wanita yang berada di hadapannya.


“Ibu siapa ?” tanya Gita ingin tau.


“Kebetulan Ibu sedang lewat, dan melihat mu berada di pinggir jembatan ini, kamu mau bunuh diri ya ?”


Gita diam saja, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, hatinya begitu miris, dengan kisah hidup yang sedang di hadapinya.


“Kamu seorang perawat ya ?”


Gita tetap diam, hanya saja kepalanya yang di anggukkan, pertanda pertanyaan si Ibu telah diresponnya dengan baik.


“Jangan lakukan itu nak ? orang yang berniat bunuh diri itu, akan tercela di mata Allah ! bahkan Allah sendiri yang melaknatnya, jangankan masuk syorga, mencium hawa syorga pun dia nggak bakalan bisa.”


“Oh, uhuhuhuk !”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2