Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 93 kehadiran Bayi yang lucu


__ADS_3

Sementara Yulia merasa begitu cemburu sekali, melihat suaminya berlutut di hadapan seorang wanita cantik.


“Kak Gita! Kakak senang dengan suasana rumah Ini?” ujar Dika sembari tangannya mengarahkan kerumah.


“Gita yang mulai membaik, dia tampak tersenyum saat Dika menanyakan hal itu pada dirinya.”


Melihat putrinya tersenyum manis, hati Leni merasa senang sekali, dia pun langsung menghampiri Gita yang saat itu masih terpana pada dirinya.


“Oh, Gita kau udah tersenyum lagi nak? Mama senang sekali,” ujar Leni sembari tersenyum lebar.


“Di rumah besar ini, kakak bebas berbuat apa saja, ada kami yang selalu mendukung kakak di sini.


Lagi-lagi saat itu Gita menganggukkan kepalanya, pertanda ucapan dari Dika di responnya dengan baik. Mang Ojo beserta yang lainnya yang menyaksikan hal itu, tersenyum senang, karena Gita sudah bisa tersenyum kembali.


Hati yang sebelumnya rapuh dan bahkan hancur, kini mulai menampakan reaksi yang positif.


Di saat semua hanyut dalam kesenangan mereka masing-masing, Yulia yang ikut menyaksikan kejadian itu, hatinya bagai teriris sembilu, kandungannya yang saat itu sudah mencapai bulannya, juga ikut merasakan kepiluan Ibunya.


Bayi yang belum mengenal kepahitan hidup dunia itu, mencoba untuk meronta di dalam kandungan Ibunya, hingga Yulia merasakan sakit, sakit yang tak dapat di ucapkan dengan kata-kata, sakit yang juga tak ada obat penawarnya.


Sontak saja hal itu membuat Yulia menjerit menahan rasa sakit, wajahnya yang putih bersih saat itu berubah menjadi merah, Yulia berusaha memegang perutnya dengan kuat, seperti ada yang hendak keluar dari dalam perutnya.


“Bang!” teriak Yulia seraya berusaha senderan di tiang rumah yang megah itu.


Zaki yang melihat Yulia meringis menahan rasa sakit, langsung saja membantu, Tubuh Yulia di gendong ke ruang praktek miliknya.


Sementara itu, Dika yang juga ikut melihat dari kejauhan turut serta berlari mengejar istrinya yang sudah di bawa Zaki ke ruang prakteknya. Belum sampai di depan pintu ruang praktek itu, ketuban Yulia udah pecah.


Hal itu membuat Zaki, kewalahan, untung saja ada Fatma yang ikut membantu, sehingga Yulia bisa di baringkan di atas tempat tidur.


Setelah posisi Yulia aman, barulah Dika datang menghampiri istrinya, yang saat itu sedang meringis menahan rasa sakit.


“Gimana keadaan istri ku Bang?” tanya Dika cemas.


“Ketubannya udah pecah, sepertinya kita nggak sempat membawanya kerumah sakit.”


“Kalau begitu dia lahiran di sini saja, Bang.”


“Terserah Yulia, apakah dia mau atau nggak.”


“Gimana sayang, apakah masih ingin melahir di rumah sakit, atau di sini aja?” tanya Dika ingin tau.


“Terserah Abang aja, aku udah nggak tahan!”

__ADS_1


teriak Yulia mencoba menahan rasa sakit yang di alaminya.


Karena udah tak bisa di larikan lagi kerumah sakit, akhirnya Yulia melahirkan dirumah Mang Ojo. Dengan bantuan Zaki.


Dika yang berada di bagian kepala Yulia terus memberi semangat pada istrinya, agar Yulia tetap tenang.


Setelah beberapa saat kemudian, bayi Yulia pun lahir dengan selamat ke atas dunia, wajah cantik yang mungil itu membuat seisi rumah tersenyum gembira.


Tangisannya yang melengking membuat suasana rumah bergema, tangis yang belum pernah di dengar oleh Mang Ojo, setelah beberapa tahun terakhir, membuatnya meneteskan air mata bahagia.


Setelah bayi itu selesai di mandikan, dihadapan seluruh anggota keluarganya, Dika pun mengkomatkan nya.


Ranita yang melihat bayi kecil Yulia telah lahir dengan selamat, dia turut merasa bahagia, di dalam hatinya Ranita juga berharap kalau bayinya kelak akan lahir serupa dengan bayi Yulia seorang perempuan.


Alhuda yang melihat secercah harapan itu terlintas dipikiran istrinya, langsung menghampirinya.


“Gimana, kamu juga ingin bayi perempuan kan sayang?”


“Iya, juga sih. Biar satu pasang,” jawab Ranita polos.


Semua yang mendengarkan ucapan Ranita langsung tersenyum lebar, Mang Ojo dan Fatma begitu senang sekali, jika rumah yang mewah itu akan di isi oleh lengkingan dan tangisan cucu mereka berdua.


Di saat kebahagiaan mewarnai kehidupan mereka sekeluarga, putri Mang Ojo yang paling terkecil, Nurul aini, dia mendapat kabar menggembirakan pula dari fakultas tempat dia kuliah.


Nurul yang mengambil jurusan ilmu teknologi, mendapat nilai terbaik dari kampus tempat dia kuliah, untuk itu pihak kampus mengundang Mang Ojo sekeluarga, untuk menerima penghargaan.


“Kamu lagi ngapain sayang?” tanya Mang Ojo yang menghampirinya.


“Eh, ada Bapak,” jawab Nurul yang sedikit gugup dengan kehadiran Mang Ojo di sampingnya.


“Nggak usah berdiri, duduk aja!” perintah Mang Ojo pada Nurul yang mencoba menghormati Bapaknya.


“Tumben Bapak kesini, ada apa?” tanya Nurul heran.


“Nggak ada, Bapak Cuma ingin dekat dengan mu aja,” jawab Mang Ojo seraya menarik kursi yang ada di sudut balkon itu ke hadapannya.


“Bapak ada perlu ya, makanya datang kesini?” tanya Nurul penasaran.


“Iya, ada sedikit hal yang ingin Bapak bahas dengan mu.”


“Masalah apa ya Pak, aku jadi gemetaran nih,”


ujar Nurul dengan suara serak.

__ADS_1


“Tenang sayang, Bapak hanya membahas masalah kuliah mu saja kok.”


“Ooo, emangnya ada apa dengan kuliah ku Pak?”


“Setelah selesai wisuda bulan depan, apakah kamu masih punya niat untuk melanjutkan pendidikan mu?” tanya Mang Ojo ingin tau.


“Rencana sih begitu, Pak. Tapi untuk mencari gelar selanjutnya tentu butuh uang yang banyak, jadi sebelum itu kan aku harus minta pendapat dulu pada keluarga.”


“Uang hasil dari restoran mu gimana?”


“Kalau untuk biaya kuliah, aku nggak tau Pak, entah cukup atau nggak, lagian uangnya kan ada bersama Ibu.”


“Rencana mau melanjutkan kemana?”


“Aku mencari, S2 nya di Bandung, Pak.”


“Apakah hal itu udah kau pikirkan secara matang?”


“Udah Pak, karena hanya di sana aku bisa melanjutkan S2 ku, selain bagus, semua pasilitas lengkap tersedia disana.”


“Baiklah, nanti malam kita berkumpul, kasih tau Abang dan yang lainnya.”


“Baik Pak,” jawab Nurul dengan suara lembut.


Setelah siang mulai beranjak, malam pun datang menggantikan kedudukannya, suara gemericik air dari kolam yang terdapat di samping rumah menambah indahnya suasana malam itu.


Nurul yang saat itu sedang asik duduk sendiri, tampak begitu tenang sekali malam itu, sembari menunggu anggota keluarga berkumpul, Nurul mencoba menghubungi Randi yang saat itu sedang beristirahat di dalam kamarnya.


“Hai sayang ada apa?” tanya Randi ingin tau keadaan kekasih hatinya.


“Rencana aku mau melanjutkan kuliah ke Bandung Ran?”


“Hah, benarkah?”


“Iya, untuk apa aku bohong.”


“Kenapa harus kuliah lagi sayang, semakin tinggi derajat mu, maka semakin takut laki-laki menghampiri mu.”


“Ah, kau ini sok tau. Kamu tau nggak, semakin banyak ilmu yang kita tuntut, maka semakin banyaklah pengetahuan dan wawasan kita tentang ilmu alam ini.”


“Berarti harus menambah dua tahun lagi dong!”


“Emangnya kenapa sih, kok kelihatan ngotot banget?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*-


__ADS_2