
Zaki merasakan betapa hancurnya hati Gita saat itu, karena di hati Gita hanya ada Zaki selama ini, bahkan Gita rela beralih akidah asalkan dapat menikah dengan Zaki. Akan tetapi kedua orang tuanya tak memberi izin untuk itu.
“Abang juga nggak bisa berbuat apa-apa sayang, semuanya tergantung pada kedua orang tua mu.”
“kenapa hanya kedua orang tua ku saja, kenapa bukan Abang saja yang ikut bersama kami ?”
Mendengar harapan Gita seperti itu, Zaki tidak langsung marah, untuk tak ingin membahas masalah itu, Zaki hanya bisa diam.
“Kembalilah keruangan mu !” kata Zaki pada Gita, yang saat itu masih duduk disampingnya.”
“kenapa ? Abang takut membahas masalah ini ?”
“Iya, kalau kita bahas terus, ujung-ujungnya pasti nggak baik.”
“Ya udah, aku pergi dulu.”
“Baiklah.”
Lalu Gita pun menyelinap keluar dari ruangan dr. Zaki. Hati gita begitu senang saat itu, pikirannya yang kalut setelah beberapa hari ini kembali membaik.
Meski Gita merasa senang karena menurutnya hubungannya kembali membaik, namun bagi Zaki, dia akan tetap pada keputusannya, untuk segera memutuskan hubungannya dengan Gita.
Di saat Gita telah keluar dari ruangan Zaki, dr. Defi pun datang menghampiri ruangan Zaki.
“Tok, tok, tok !”
Mendengar suara pintu di ketuk dari luar, Zaki langsung mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.
Akan tetapi setelah yang mengetuk itu membukannya, alangkah terkejutnya Zaki ternyata Defi yang sedang berkunjung ke ruangannya.
“Hai !” sapa Defi dengan senyum manis di bibirnya.
“Eh, ada dr. Defi ?”
“Nggak usah panggil dokternya, sebut nama aja kan lebih dekat.”
“Baiklah ! silahkan duduk.”
“Terimakasih.”
“Gimana pekerjaannya hari ini, menyenangkan ?”
“Alhamdulillah, lumayan capek !” jawab Defi tersenyum simpul.
"Ya ! gitulah namanya bekerja, mana ada yang senang."
“O iya Ki, nanti pulangnya kita barenagn ya ? sekalian bantuin nyari rumah kontrakan yang layak huni.”
“Udah mau pindah rupanya ya ?”
“Iya, Ki. Lagian nggak enak terlalu lama numpang di rumahmu.”
“kenapa begitu ? tapi kami nggak merasa keberatan kok.”
“walau pun nggak merasa keberatan, tapi aku nggak enak dengan keluargamu.”
“Ah, santai ajalah ! lagian kalau kamu masih merasa aman tinggal dirumah ku, kan kami merasa senang juga.”
“Betul begitu ?”
“Iya, sayang !”
__ADS_1
“Apa ! sayang maksud mu ?”
“kenapa ? apakah kamu merasa keberatan, kalau aku bilang sayang ?”
“Bukan itu masalahnya, biasanya kata-kata sayang itu hanya di tujukan pada orang yang kita cintai saja.”
“Benarkah begitu ?”
“Iya.” Jawab Defi seraya menganggukkan kepalanya.
Melihat Defi tersenyum manis, pandangan mata Zaki pun tak bisa bekedip sedikit pun, dirinya merasa kagum pada dokter muda itu.
“Hei ! kenapa memandang ku seperti itu ?” tanya Defi agak sedikit gugup.
“Apakah kamu udah punya kekasih ?”
“Kenapa menanyakan hal itu pada ku ?”
“Waspada ! nanti kalau kamu udah punya kekasih, kan bahaya untuk kita bicara seperti ini.”
“Dulu pernah, setahun yang lalu, tapi dia meninggal karena kecelakaan.”
“kenapa bisa mengalami kecelakaan ?”
“Aku udah pernah menasehatinya, kalau mengendara itu usahakan jangan dalam keadaan mabuk. Tapi dia tetap melakukannya tanpa sepengetahuan ku.”
“jadi kekasih mu itu, suka mabuk ?”
“Iya, Ki !”
“Kenapa kau suka dengan pria pemabuk ?”
“Ooo, begitu ya, apakah kalian udah bertunangan ?”
“Hampir ! dimalam kami hendak bertunangan, dia mengalami kecelakaan.”
“Kasihan sekali dia.”
“Kalau aku sih, bersyukur dia pergi.”
“Kenapa begitu ? apakah kalian nggak cocok ?”
“Iya, dia selalu kasar dan suka merendahkan aku, sifat cemburunya terlalu berlebihan sehingga membuatnya sering kalap.”
“Wah ! kalau kamu dapat suami seperti itu, bahaya dong, habis dah ! makan tangan setiap hari.”
“Di zaman sekarang, mana bisa orang main tangan sembarangan, kan ada undang-undang perlindungan.”
“Iya, ya.” Jawab Zaki sembari tersenyum lebar.
“Ngomong-ngomong ! kenapa ya, kamu nanyain pacar aku segala ?” tanya Defi heran.
“Nggak ! aku hanya takut kekasih mu nanti marah, ketika melihat kita dekat.”
“Ooo, gitu. Tapi nggak ada yang lain kan ?”
“Ada juga sih ! tapi nanti aja kalau kita udah saling kenal lebih dekat lagi.”
“ya udah, kalau gitu aku keruangan dulu.”
“Baiklah, nanti ku tunggu didepan rumah sakit ya.”
__ADS_1
“Ok.” Jawab Defi sembari tersenyum manis.
Di saat Defi keluar dari ruangan Zaki, gita melihat jelas wajah Defi, di saat itu dia teringat dengan perempuan yang satu mobil dengan Zaki waktu itu.
“Astaga ! ternyata dia bekerja di rumah sakit ini, pantasan dia satu mobil dengan Bang Zaki waktu itu.” Kata Gita pada dirinya sendiri.
Melani yang melihat Gita menatap tajam kearah Defi, merasa heran sekali saat itu, untuk mengetahui jawabannya, Melani mencoba bertanya langsung pada Gita, tentang sosok yang diperhatikannya itu.
“Ada apa Git ? kau lagi memandang siapa ?”
“Perempuan itu !” jawab Gita, sembari menatap Defi tanpa berkedip sedikit pun.
“Ooo, perempuan itu ? dia itu bernama Defi, kata lengkapnya dr. Defi, di bekerja sebagai dokter ahli bedah di rumah sakit ini.”
“kapan dia mulai bekerja ?”
“Pagi ini, Git. Emangnya kenapa kau bertanya tentang dirinya ?"
“kemaren pagi aku melihat mereka lewat di pertigaan lampu merah.”
“Kau menegurnya ?”
“Nggak, Lani.”
“Kenapa ?”
“Hatiku begitu sakit saat itu, di bawah lampu merah, aku hanya bisa menangis sedih.”
“lalu gimana nanti kalau Zaki menikah dengan wanita lain ? bukankah untuk kali ini kau lebih merasakan sakit lagi ?”
"Aku sudah berulang kali bicara masalah ini pada Mama dirumah, tapi jawabannya tetap sama, hal itu ke itu juga yang harus kami bahas."
“Kenapa Mama mu menolak Zaki, apakah ada alasannya ?”
“Hanya karena perbedaan agama, Lani !”
“Keyakinan yang kita anut, sebenarnya merupakan hak yang mutlak yang tak bisa di ganggu gugat oleh siapa pun. Pesan ku pada mu, jangan cepat mengambil satu keputusan, sebelum kau memikirkannya terlebih dahulu."
“Maksud mu ?”
“Maksud ku, jangan terlalu cepat mengambil keputuan, apa lagi ini masalah aliran kepercayaan seseorang.”
“Mama ku juga bilang begitu.”
“Beralih kepercayaan kita hanya karena takut kehilangan kekasih yang di cintai, itu nggak baik, Gita.”
“Lalu aku mesti gimana Lani ?”
“kenapa kau nggak berusaha untuk melepaskan Zaki dalam genggamanmu, dari pada nanti, setelah cinta kalian tumbuh bersemi.”
“Aku nggak bisa, Lani.” Jawab Gita dengan jujur.
“Harus bisa, Git ! dari pada kau lebih menderita nantinya.”
“Tapi aku begitu mencintainya, di dunia ini, hanya dia pria yang paling aku cintai Lani, nggak ada yang lain, jika dia menikah dengan wanita lain maka hancurlah hidup ku ini.”
“kalau menurut ku, Zaki pasti akan menikah dengan orang lain, karena, nggak mungkin kan dia terus berharap pada wanita yang nggak dapat memberi jawaban cintanya."
Bersambung..
\* Selamat membaca\*
__ADS_1