Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 96 Nikah masal


__ADS_3

Penyesalan di hati Dela baru terasa, setelah kakinya menginjak panasnya jalan pada siang hari.


“Coba saja, aku nggak berlaku culas dan jahat pada semua anak panti, pasti hal semacam ini nggak bakalan terjadi.


Nasi telah menjadi bubur, penyesalan selalu datang di penghujung waktu, kesedihan hati Dela mengiringi langkah kakinya yang bersih dan putih. Karena selalu mendapatkan perawatan dari anak-anak panti.


Siang itu setelah jasad Tesa di kebumikan, Mang Ojo melihat ada kesedihan mendalam pada wajah putranya, dengan perlahan dihampirinya Dika yang saat itu sedang diam terpaku.


“Kenapa? Apakah kau masih kepikiran Tesa?”


“Eh, ada Bapak,” ucap Dika tersenyum lebar.


Senyuman yang keluar dari bibirnya, tampak palsu, senyum itu tidak asli, di hadapan Bapaknya Dika harus tersenyum, agar suasana tampah cerah.


“Jangan terlalu di pikirkan, Tesa telah kembali ke alamnya, jadikan hal ini pelajaran berharga dalam hidup kita.”


“Iya, Pak. Sebenarnya aku sedih, bukan karena Tesa meninggal, akan tetapi yang membuat aku sedih, kenapa selama ini, aku nggak memantau langsung ke panti yang sudah bertahun ku jaga dan ku rawat dengan sebaik-baiknya.


“Semua itu bukan karena kesalahan mu semata nak, ada kalanya kepercayaan itu kita serahkan kepada orang lain, yang sering di sebut amanah. Ada kalanya pula, hal itu kita kerjakan sendiri, itu pun kalau kita sanggup untuk mengerjakannya.”


“Tapi Pak, aku telah lalai mengawasi mereka, aku terlalu sibuk dengan urusan pribadi ku sendiri.”


“Kan kamu udah percayakan mereka semua pada pengawas panti, ya itu kan tugas mereka yang mendengarkan keluhan para anak panti.”


“Apakah kamu udah penuhin semua kebutuhan mereka?”


“Udah, Pak.”


“Apakah kamu, udah terima setiap keluhan dari mereka?”


“keperluan apa yang di sampaikan kepada ku, itu yang ku belikan terlebih dahulu, anak-anak butuh mesin cuci, aku juga udah belikan beberapa unit, meraka butuh kulkas, aku juga penuhi keinginan mereka, tapi sial, ternyata ada yang tak beres di dalamnya.”


“Lalu mana perempuan yang telah menyebabkan Tesa meninggal itu?” tanya Mang Ojo ingin tau.


“Dia telah ku usir Pak,” jawab Dika dengan rasa sedih yang mendalam.


“Kenapa harus di usir! Serahkan dia ke polisi, kan itu lebih baik agar dia tak berbuat semena-mena pada orang lain.”


“Tapi aku kasihan padanya, Pak.”

__ADS_1


“Justru lebih kasihan lagi, jika dia berkeliaran di luar sana menjadi gelandangan dan mencuri barang orang lain.”


Mendengar penjelasan dari Mang Ojo, Dika pun membenarkannya, tapi karena dia begitu emosi, sehingga dia pun bertindak, tanpa berfikir panjang lagi.


“Sudah, ini menjadi pelajaran untuk kita semua, kejadian ini adalah gambaran seorang anak yang ingin berontak karena nggak puas dengan pengawas yang ada didalam panti, mulai besok coba kamu benahi susunan para pengawas panti.”


“Baik Pak.”


“Jika ada yang nggak sesuai atau nggak cocok, sebaiknya kamu ganti saja dengan yang lain, untuk menjadi seorang, yang mengawasi begitu banyak anak, kamu harus cari yang paling rajin, paling cepat dan jangan yang pemalas,” perintah Mang Ojo dengan tegas.


Walau Mang Ojo terlihat begitu lembut, akan tetapi dia memiliki jiwa disiplin yang tinggi, karena menurut Mang Ojo, jika sedari kecil anak itu tidak didik dengan disiplin yang baik, maka sampai dia dewasa pun, mereka akan selalu bersikap malas dan acuh.


Setelah kepergian Tesa, panti tampak masih berduka, bayangan wajah Tesa sering datang di hati mereka semua, kesedihan mendalam, membuat anak-anak panti merasa malas.


Pagi itu, Zaki dan Dika datang ke panti, guna membenahi susunan kepengurusan panti, pada kesempatan itu, semua anak panti yang sudah berusia di atas dua puluh tahun, disuruh menghadap, ke pengurus.


Mereka yang datang di tanya satu persatu oleh Zaki, siapa di antara mereka yang ingin berkeluarga, ada sekitar lima belas orang yang saat itu datang pada Zaki, mereka semua ingin segera menikah.


Seorang anak yang sudah berusia dua puluh dua tahun, mendatangi Zaki, seraya berbisik.


“Kalau saya ingin menikah, lalu siapa yang akan menikahkan saya Pak?”


“Kami yang akan menikahkan kalian, kita panggil penghulu kesini, dan kita laksanakan nikah masal,” jawab Zaki dengan suara lembut.


“Kami yang akan menanggungnya, kalian hanya tinggal mencari pasangan kalian saja, siapa yang cocok menurut kalian, lalu laporkan ke Bapak.”


“Tapi saya belum punya calon yang pas, untuk saya nikahi Pak,” jawab Antoni dengan jujur.


“Kamu juga bisa cari di luar sana, mana yang kamu anggap cocok.”


“Tapi saya nggak mengenal perempuan yang ada diluar sana pak?”


“Kalau begitu kamu nikah saja dengan perempuan panti ini, mereka semua baik-baik kok, karena mereka semua telah terlatih untuk berbuat baik dengan sesama.”


“Baiklah, saya akan memikirkannya terlebih dahulu."


'Baiklah saya akan beri kalian waktu selama dua minggu, untuk memantapkan pilihan kalian semua, nanti kalau sudah selesai, kalian tinggal menghadap ke Bapak, biar Bapak yang akan mengurus kalian.”


“Baik, Pak,” jawab mereka serentak.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu hingga dua minggu, ternyata mereka semua telah mempersiapkan calon mereka masing-masing dan mengajukannya pada Zaki.


Dalam lima belas orang yang sudah berusia di atas dua puluh tahun, hanya enam pasang yang datang membawa pasangannya masing-masing, sementara itu, Antonio yang tadinya begitu bersemangat, tidak menampakkan keinginannya.


“Berarti ada enam pasang yang akan menikah besok, lalu Antonia mana, apakah dia belum mendapatkan pasangannya?”


“Belum Pak, kekasihnya saat ini masih berusia delapan belas tahun, jadi diputuskannya untuk menunggu.”


“Ooo, begitu. Baiklah, untuk yang dua belas ini, kalian udah sepakat untuk menikah?”


“Iya, Pak,” jawab mereka serentak.


“Sekarang kalian boleh bubar, persiapkan diri, besok akan kita panggil penghulu untuk menikahkan kalian semua.”


Betapa bahagia, para penghuni panti, mendengar kabar yang sangat menggembirakan itu, sementara itu, Zaki dan Dika membawa hal ini ke rapat keluarga.


“Jadi ada dua belas orang yang akan menikah?”


“Iya, Pak.”


Mendengar kabar itu, Mang Ojo tampak diam sejenak, suasana dirumah itu pun seakan mencekam saat itu, tak berapa lama kemudian barulah Mang Ojo angkat bicara.


“Alhuda, gimana pendapat mu tentang pernikahan masal ini,” tanya Mang Ojo pada putra sulungnya.


“Pernikahan ini kita adakan secara meriah, untuk total biaya resepsinya, biar aku bersama Ranita yang akan menanggungnya.”


“Bapak sangat setuju sekali. Lalu gimana dengan yang lainnya?”


“Untuk hidangannya, restoran ku bersama kak Intan yang akan mengambil alih,” jawab Nurul datar.


“Bagus untuk itu Bapak juga setuju.”


“Bagai mana menurut Zaki dan Dika?”


“setelah mereka menikah, tentu mereka belum bisa kita lepas begitu saja, apa lagi mereka tak punya apa-apa untuk masa depannya, jadi untuk itu, aku akan membuatkan enam unit rumah sederhana untuk mereka.”


“Ya, aku setuju,” timpal Zaki. “Dan untuk modal hidup mereka, sampai mereka bisa kita lepaskan, nanti aku yang akan menyediakan untuk mereka semua.”


“Bagus sekali, ternyata kalian berhati emas semuanya, ingat anak-anak, selagi kalian masih sempat membelanjakan harta kalian di jalan Allah, kalian nggak usah ragu dan takut untuk jatuh miskin,” jelas Mang Ojo dengan suara lantang.

__ADS_1


Bersambung..


*Selamat membaca*


__ADS_2