
“Ada Zaki di sana Bu.”
“Sedang ngapain dia disana Pak ?”
“Sedang menyendiri, merenungi dirinya.”
“Ibu kasihan padanya Pak ?”
“Sama, Bapak juga kasihan padanya, tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa, Bu.”
“Iya, semuanya sudah ada tercatat dalam Al Qur’an, kita nggak bisa berbuat banyak.”
“Lagian kita nggak ada melarang mereka semua, menikah dengan siapa, dan jodohnya siapa, asalkan mereka cocok dan seakidah, ya kita restui. Cuma masalah Zaki ini, udah bertentangan dengan syari’at islam.”
“Iya Pak.” Jawab Fatma seraya menarik nafas panjang.
“Sekarang ini kita udah bukakan jalan yang lebar untuknya dalam mengambil keputusan, terserah Zaki dalam menentukan pilihannya sendiri.”
“Lalu kita mesti gimana Pak ?”
“Ya, kita serahkan padanya, saatnya tidur dan kita pejamkan mata. Hilangkan semua beban dunia, ingat kepada Allah.”
Bukan hanya Zaki yang tampak begitu sedih. Gita, gadis yang di cintainya pun tampak sedang gusar malam itu, keinginanya untuk memeluk Agama Islam telah di tekad kan dalam dirinya, izin atau tidaknya kedua orang tuanya, namun Gita tetap akan masuk islam.
Siang itu, di saat Zaki masih di dalam ruangannya, Gita datang seraya menangis di pelukan Zaki. Zaki melihat raut wajahnya yang kusam dan pucat sekali.
“Hei, ada apa sayang ? kenapa menangis ?”
Gita tak menjawab, isak tangisnya telah menceritakan kepada Zaki betapa tertekan dirinya saat itu, Zaki berusaha menenangkan gadis yang dia cintai nya.
“Bicaralah sayang, Abang nggak ngerti kalau kamu diam !”
“Apa yang harus aku katakana Bang, semuanya udah aku ceritakan, Papa dan Mama tetap nggak setuju kalau aku masuk agama Islam.”
“Kalau mereka tetap nggak setuju, ya nggak usah dipaksakan ! karena itu kan hak azazi mereka, berpegang teguh dengan ajaran yang mana.”
“Tapi Bang, gimana caranya kita menikah ?”
“Tenangkan dulu dirimu, kan kita masih punya banyak waktu untuk itu, siapa tau orang tua mu dapat berubah.”
“Tapi sampai kapan, Bang ?”
“Sampai waktunya tiba sayang.”
“Aku nggak mau menunggu lama, Bang ? gimana kalau aku masuk Islam saja tanpa sepengetahuan mereka.”
“Masuk Islam, karena ingin mendapatkan sesuatu, juga nggak baik sayang.”
“Maksud Abang ?”
“Kamu bergegas ingin masuk Islam, sementara sewaktu kita belum pacaran kamu nggak punya niat untuk beralih akidah, berarti kamu masuk Islam itu karena mengejar sesuatu kan ? itu nggak baik hasilnya nantinya sayang ?”
“Lalu aku mesti gimana coba ? yang ini salah, yang itu juga salah.”
__ADS_1
“Yang baiknya kamu bersabarlah dulu, bujuk orang tuamu dengan lemah lembut, siapa tau dengan cara itu, mereka bisa memberi restu untuk mu.”
“Baik Bang, nanti malam akan kucoba.” Jawab Gita dengan suara lembut.
Benar saja, di saat suasana malam mulai terasa sunyi dan mencekam, Gita tak langsung tidur di kamarnya, dia mencoba mencari kesibukannya sendiri.
“Kamu belum tidur nak ?” tanya Leni pada putrinya.
“Belum Ma !” jawab Gita dengan suara serak.
“Kenapa ?”
“Aku nggak bisa tidur Ma, wajah Bang Zaki selalu saja terbayang di ingatan ku.”
“Kenapa nggak kau ajak aja kekasih mu itu menganut ajaran kita ?”
“Bang Zaki nggak bakalan mau Ma ?”
“Kenapa ?”
“Karena ajaran leluhurnya di anggap mulia di mata mereka.”
“Sama dong ! di mata kita ajaran leluhur kita juga mulia kan ?”
Mendengar ucapan Mamanya itu, Gita mencoba menarik nafas dalam-dalam, di cobanya untuk tetap tenang dalam menghadapi kedua orang tuanya tersebut.
“Mama mu itu benar Gita !” timpal Papa Ahong pada putrinya.
“Maksud Papa apa ?”
“Biasanya, kalau pria itu sangat mencintai kekasihnya, dia pasti mengikuti keinginan kekasihnya itu ? udah banyakkan, orang yang berbeda agama menikah, awal mulanya mereka memiliki agamanya masing-masing.”
“Iya ! Gita tau itu Ma ?”
“Tunggu jangan membantah dulu ! Mama kan belum selesai ngomong !”
“Lanjutkan lah !” jawab Gita ketus.
“Kau itu kalau Mama ajari yang baik, pasti bawaan wajah mu itu selalu kesal ! kenapa sih, sikap mu begitu ?”
“Aku nggak kesal Ma ?”
“Itu kesal Namanya !” bentak Leni, seraya menunjukkan pada putrinya akan sikapnya yang mendidik.
Mendengar Mamanya bicara dengan nada keras dan kasar, Gita langsung berlari kekamar seraya menangis.
Dalam situasi seperti itu, Gita benar-benar telah lelah berusaha membujuk kedua orang tuanya, pikirannya yang kalut membuatnya semakin merasa tidak dihargai.
Pagi itu secara diam-diam, Gita pergi kerumah sakit, padahal sebelumnya, Gita tak pernah melakukannya, namun karena rasa sakit hatinya, dia melakukan perbuatan itu.
Di saat Gita telah pergi, Leni langsung bangun dari tidurnya dan dia mendapatkan Gita sudah tak berada dikamarnya, Leni kaget, dia menyangka kalau Gita telah pergi meninggalkan dirinya.
“Kemana dia Len ?” tanya Ahong pada Leni istrinya.
__ADS_1
“Aku juga nggak tau Bang ?”
“Apa dia kabur, meninggalkan kita ?”
“Entahlah, aku juga nggak tau.”
“Gimana kalau kamu hubungi dulu pihak rumah sakit tanyakan pada mereka apakah Gita berada disana atau tidak ?”
“Baiklah Bang, akan ku coba.” Jawab Leni yang saat itu sudah berusia lanjut.
Dengan pelan perempuan itu berjalan menuju ruang tamu, guna menghubungi pihak rumah sakit.
“Hallo, bisa saya bicara dengan pihak rumah sakit ?”
“Ya saya sendiri Bu ? dengan Ibu siapa ?”
“Saya Mamanya suster Gita, apakah putri saya udah masuk kerja pagi ini ?”
“Suster Gita ? sebentar ya Bu, saya cari dulu.”
“Baikalah.” Jawab Leni yang mencoba bersabar menunggu di depan meja telfon.
Tak lama kemudian, perawat yang tanya tadi pun datang lagi seraya mengangkat gagang telfon yang telah ditaruhnya di atas meja.
“Halo, Ibu.”
“Ya.”
“Gita udah masuk kok Bu, dia udah datang sedari tadi.”
“ iya nak, biarlah.”
“Baik Ibu.”
Setelah gagang telfon itu diletakkan di tempatnya, Leni langsung terhenyak di atas sofa yang telah dibelikan Zaki untuk mereka.
“Kenapa Len ? kamu kok kelihatan sedih ?”
“Gita udah bekerja dia Bang.”
“ Udah bekerja ? bagus itu ! berarti dia itu nggak kabur dari kita ?”
“Iya juga sih, tapi yang aku sedihkan itu, selama ini dia tak pernah berbuat seperti itu pada kita, tapi karena kita menolak keinginannya, dia langsung saja memperlakukan kita seperti ini.”
“Biarkan saja Len ! nanti juga dia baik sendiri kok.”
“Iya, tapi aku takut Bang, kalau dia nekad dan menikah tanpa sepengetahuan kita gimana ?”
“Kita usir saja dia dari rumah ini !”
“Apa Abang nggak salah ngomong kayak gitu ?”
“Salah gimana maksud mu ?”
__ADS_1
“Ini kan rumahnya Gita ! yang di hadiahkan Zaki untuknya, kenapa dia pula yang mesti di usir, yang takutnya kita nanti yang malah dia usir, karena telah menolak keinginan dirinya.
Bersambung...