
Di dalam satu kamar yang cukup luas itu hanya ada satu tempat tidur yang cukup besar. Dan di sudut kanan terdapat sofa yang cukup besar, sisi yang berdekatan langsung dengan kaca besar yang memperlihatkan luas bangunan dan area sekitar. Rania menatap ke arah kaca besar itu dan melangkahkan kakinya pelan untuk sekedar melihat keindahan malam yang nampak jelas dari sudut kanan tepi kamar yang memang sengaja di desain dengan menggunakan kaca, agar bisa melihat keindahan saat malam hari. Rania terlihat salah tingkah dimata Zein yang saat itu sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi kedua tangan melingkar di bagian belakang kepala.
"Apa kau berniat untuk tidur di sofa malam ini?" Tanya Zein melirik Rania yang saat itu sedang duduk di atas sofa sambil melihat ke arah kaca berlagak melihat pemandangan malam.
Glek... Rania menelan ludah bercampur gugup menjawab pertanyaan dari Zein.
"Ka,, kasurnya lumayan kecil, dan sofa ini juga cukup besar. Aku tidak bisa diam ketika tidur dan takut menggangu tidurmu serta menindih tubuhmu saat tidur. Jadi sebaiknya aku tidur di sofa saja." Jawab Rania dengan terbata dengan gerakan salah tingkah.
Yang benar saja, bicaranya mulai ngawur. Jelas-jelas kasur ini sengaja ku pesan dengan ukuran yang cukup besar hingga muat lima sampai tujuh orang untuk tidur. Batin Zein tertawa melihat jawaban konyol Rania disertai gerakan tubuhnya yang terlihat salah tingkah.
"Oh, begitu. Baiklah mungkin besok pagi aku akan menggantinya dengan yang lebih besar agar kamu bisa merasa lebih nyaman tanpa takut menindihku ketika tidur bersama." Ucap Zein sambil tersenyum meledek.
"Ah, kurasa itu tidak perlu Zein!" Sahut Rania tergesa.
"Jelas itu perlu, bagaimana mungkin aku membiarkan istriku tidur di sofa?" Tegas Zein.
Ah.... sial, kenapa dia semakin menjengkelkan saja? Apa dia sangat ingin tidur berdua satu ranjang bersamaku? Batin Rania kesal.
__ADS_1
Sementara Rania masih tertegun di atas sofa, Zein menurunkan kedua kakinya dari kasur dan mendekati Rania perlahan.
Astaga dia mendekatiku, dia mau apa? Awas saja jika dia berani menyentuhku? Batin Rania gugup.
Zein sudah berada satu langkah dari sofa yang diduduki Rania. Matanya menatap ke arah Rania dengan tatapan mesra, lalu berjongkok dan menatap memandang wajah Rania dengan perasaan ingin mengecup keningnya. Rania yang hanya tertegun, semakin membuat Rania gugup dan tidak nyaman.
"Zein kau mau apa?" Tanya Rania gugup?
"Bangun dan pergilah tidur ke kasur!" Ucap Zein sambil menggerakkan dagunya ke kanan.
"Tidak apa-apa, aku tidur disini saja, Zein." Jawab Rania singkat.
Apa-apaan dia, beraninya ingin menggendongku ke atas kasur! Gerutu Rania
"Lalu kau tidur dimana?" Tanya Rania penasaran.
"Aku akan tidur di hotel." Jawab Zein singkat.
__ADS_1
Hotel? Apa dia sedang bercanda? Rania membatin.
"Tentu saja aku akan tidur di sofa, Hotel terlalu jauh dari sini." Jawab Zein meledek.
"Baiklah aku akan tidur di kasur!" Ucap Rania sambil beranjak bangun dan meninggalkan Zein yang masih duduk berjongkok. Rania mulai merebahkan tubuhnya yang lelah sudah terlalu lelah.
Melihat Rania yang sudah lelah dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, hanya dalam hitungan menit saja Rania sudah tertidur pulas, membuat Zein menggelengkan kepala tertawa di dalam hatinya, kemudian ia pun mulai lelap dalam gelapnya malam yang semakin sunyi.
Satu malam berlalu. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, sementara Rania yang sudah terbangun lebih dulu dari Zein. Mulai melirik ke arah sofa dan mendapati Zein yang masih tertidur di atas sofa dengan posisi memiringkan tubuhnya menghadap Rania dan melipat tangan kanannya di bawah kepala, membuat Rania merasa bersalah karena sudah membuatnya harus tidur di sofa.
Ah... dia sungguh-sungguh tidur di atas sofa, sebenarnya aku tidak tega berbuat ini padanya. Jelas-jelas ini rumahnya, tapi seolah akulah pemilik rumahnya. Ehh.. Tapi bukankah semalam dia bilang ini rumahku sekarang? Jadi terserah aku saja mau berbuat apa di rumah ini! Batin Rania disertai tertawa bangga.
Tidak lama Zein mulai membuka matanya dan bangun dari tidurnya, lalu duduk sebentar sambil menunggu nyawanya terkumpul, Ia mengedipkan matanya berkali-kali seolah masih sangat mengantuk. Tapi tubuhnya terlalu tidak nyaman tidur di atas sofa hingga membuatnya terbangun.
Matanya sudah mulai melebar dan sadar. Ia mendapati rania yang tengah duduk di atas kasur sambil memperhatikannya. Matanya berdecak kagum melihat wajah alami Rania ketika bangun tidur. Dengan rambut sebahu yang terurai dan sedikit acak-acakan, bibir tipis dan kemerahan, serta bola mata yang besar. Membuatnya berkhayal ingin sekali memeluk dan mengecup keningnya.
Astaga, dia cantik sekali saat bangun tidur. Wajahnya benar-benar imut dan manis seperti saat itu. Batin Zein kagum.
__ADS_1
Bersambung.