Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Mencari penjual es dawet


__ADS_3

Setelah selesai menerima panggilan dari Zein, Bibi Ros kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang Rania. Membuatkan bubur sayuran yang bergizi untuk ibu hamil serta memberikan minuman bervitamin yang mendukung kesehatan bagi ibu hamil.


Sementara itu, Rania Tampak tertidur pulas di dalam kamarnya.


Begitu bubur sudah matang dan siap di sajikan, Bibi Ros membawanya ke atas untuk Rania makan. Meski Rania hanya memakannya tiga sampai empat sendok, itu lebih baik dari pada tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Tok tok tok


Begitu mendengar suara ketukan di balik pintu, Rania yang masih tertidur akhirnya terbangun. Saat dirinya melirik ke arah jam dinding yang menempel di dinding kamarnya, ia tahu bahwa yang mengetuk pintu pasti Bibi Ros. Ini adalah jam makan siangnya.


Selama hamil, Bibi Ros jadi semakin sering datang ke kamarnya untuk membawakan makanan, Rania juga harus makan tepat waktu saat semenjak dirinya hamil. Tentu itu semua adalah perintah dari Zein.


"Ya... Masuk saja, Bi." sahut Rania dari dalam kamar, dan tak bergeming dari tidurnya di kasur.


Mendengar perintah Rania, Bibi Ros pun segera masuk ke kamar dengan membawa bubur di atas nampan yang dipegangnya.


Aroma bubur sayuran khas buatan Bibi Ros itu seharusnya dapat menggugah selera bagi siapa pun yang menciumnya. Berbeda dari biasanya, Rania justru merasa mual begitu mencium aroma menyengat yang keluar dari bubur buatan Bibi Ros.


Ueeek.... Ueeeek...


Rania mencoba menahan, agar kali ini tidak memuntahkan isi perutnya.


"Apa itu bubur sayuran, Bi?" tanya Rania penasaran.


"Betul, Nyonya." jawab Bibi Ros sembari berjalan mendekati Rania dan meletakkan bubur yang di bawanya di atas meja untuk segera di makan.


Seperti perintah Zein sebelumnya, Bibi Ros juga diperintahkan agar tetap berada di dalam kamar dan melihat apakah Rania benar-benar memakan bubur tersebut. Bibi Ros baru akan keluar dari kamar Rania, jika Rania sudah memakannya meski hanya tiga sampai empat sendok. Setelah itu, Bibi Ros baru akan keluar dari kamar dan melaporkan pada Zein bahwa Rania sudah benar-benar makan.


"Hem..." suara yang terdengar tidak semangat dari mulut Rania.


Melihat Bibi Ros yang masih saja memperhatikannya, akhirnya Rania pun terpaksa memakan bubur buatan Bibi Ros barang tiga atau empat sendok.


Meski terkesan memaksa, sejujurnya Bibi Ros kasihan melihat keadaan Rania saat ini yang tengah hamil payah. Bahkan untuk menelan makanan pun terasa mual meski sedikit saja.


Dengan terpaksa dan menahan mual, akhirnya Rania mencoba memakan bubur tersebut sebanyak empat sendok. Setelah itu, ia menyerahkannya pada Bibi Ros yang masih berdiri menunggunya selesai makan.


"Aku sudah tidak sanggup Bi..." ucap Rania sembari menyerahkan mangkuk berisi bubur yang masih tersisa.


Tak ingin terlalu memaksa, Bibi Ros pun meraih mangkuk tersebut dan membawanya ke bawah.


"Terimakasih Nyonya, sudah berusaha memakan bubur buatan Bibi." ucap Bibi Ros sembari tersenyum.


Rania mengangguk sambil tersenyum.


Setelah itu, Bibi Ros bergegas keluar dari kamar Rania untuk segera memberi laporan pada Zein.

__ADS_1


Trrrrd... Trrrd...


Masih dengan kesibukan memeriksa berkas yang ada di atas meja kerjanya, tiba-tiba ponsel milik Zein berbunyi.


Nomor rumah? Pasti laporan Bibi Ros. Batin Zein menerka.


Dengan segera Zein pun menerima panggilan yang berasal dari rumahnya.


"Halo, Tuan, selamat siang... " sapa Bibi Ros dari dalam telepon.


Mengenal bahwa itu adalah suara Bibi Ros, tanpa bertanya, Zein pun tahu maksud dari Bibi Ros menghubunginya.


" Ya, bagaimana dengan Nyonya Bi?" tanya Zein.


"Nyonya baru saja makan siang, meski hanya memakan empat sendok bubur sayuran." jelas Bibi Ros.


"Baguslah.. Terimakasih Bi, sudah membantuku merawat Rania." balas Zein dari dalam ponselnya.


"Sama-sama, Tuan." sahut Bibi Ros.


Zein pun mengakhiri panggilan tersebut dan meneruskan kembali pekerjaannya yang menumpuk.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya pada pukul tiga sore. Akhirnya Zein bergegas pulang untuk segera menemui istrinya yang begitu di rindukannya selama seharian ini di kantor.


Tidak begitu lama, Ronald datang dengan membawa laporan dan beberapa acara untuk pertemuan besok di Singapura.


"Ada apa, Ron?" tanya Zein tergesa.


"Ini tuan, ada beberapa laporan dan berkas untuk besok yang perlu di lihat." Ronald menyerahkan berkas yang di bawanya pada Zein.


"Aku sudah mau pulang, letakkan saja di dalam mobilku...!" perintah Zein.


"Baik, tuan." sahut Ronald.


Sambil merapikan jasnya, Zein berjalan tergesa menuju mobilnya. Begitupun dengan Ronald yang tampak mengikutinya di belakang.


Drrrt... Drttt...


Tiba-tiba ponselnya berbunyi di tengah langkahnya menuju mobil. Dengan segera Zein merogoh kantung jas nya dan meraih ponselnya.


Sayangku


Terlihat nomor kontak dengan nama sayangku yang artinya adalah istrinya.


Begitu tahu bahwa yang menghubunginya adalah Rania yang seharian ini tidak menghubunginya, dengan segera Zein menekan tombol berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


"Halo,, ada apa sayang? Apa kau merindukanku?" ledek Zein dengan suara manja.


"Sayang... Tiba-tiba aku ingin minum es dawet." ucap Rania dari balik ponselnya dengan suara manja.


Apa lagi ini? Setelah kemarin buah belimbing lengkap dengan pohonnya. Kali ini ia meminta es dawet yang aku sendiri tidak tahu di mana mendapatkan penjual tersebut? Batin Zein heran.


Seolah tak ingin mengecewakan istrinya yang saat ini sedang melawan rasa mual dan pusing akibat kehamilannya, Zein pun mencoba menuruti semua permintaan Rania demi buah hatinya yang kini ada di dalam perut Rania.


"Baiklah, sayang... Tunggu aku pulang dan membawakan es dawet untukmu." balas Zein penuh keyakinan.


"Heheh... Terimakasih, sayang..." balas Rania sambil tertawa senang mendengar jawaban dari Zein.


"Apa ada lagi yang kau mau, sayang?" tanya Zein memastikan, "Mumpung aku di luar, biar aku carikan apapun yang kau mau, sayang." lanjutnya.


"Untuk saat ini tidak ada, sayang." balas Rania, "Kalau nanti tiba-tiba ada sesuatu yang aku mau makan, aku akan menghubungimu lagi." lanjutnya antusias.


"Hem... Baiklah. Aku sudah mau pulang dan akan mencarikan es dawet untukmu, kau baik-baik di rumah ya... Muachh." balas Zein sembari melayangkan kecupan mesranya lalu mengakhiri panggilan tersebut.


Dalam perjalanan yang sudah hampir sampai menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan kantornya. Zein menghentikan langkahnya, begitupun dengan Ronald yang masih mengikutinya di belakang, ikut berhenti ketika Zein berhenti.


"Ron... Sepertinya kau harus ikut denganku sebentar." pinta Zein pada Ronald.


"Baik, Tuan." jawab Ronald tegas.


"Apa kau tahu di mana kita bisa mendapatkan penjual es dawet?" tanya Zein dengan wajah ragu.


Penjual es dawet? Batin Ronald bingung.


Namun Ronald sudah bisa menebak bahwa pasti ini ada hubungannya dengan Rania, karena semenjak Rania hamil, Zein kerap memerintahkan dirinya untuk melakukan hal yang aneh dan diluar pekerjaannya.


"Memang agak sulit sih, Tuan. Tapi aku usahakan untuk mencari dan mendapatkannya." balas Ronald penuh keyakinan.


"Baiklah... Aku percaya padamu, Ron." Zein memegang bahu Ronald seolah mempercayakan tugas ini pada Ronald, "Mari kita cari sekarang...!" lanjutnya sembari memasuki pintu mobil yang sudah di bukakan oleh supir pribadinya.


Lalu keduanya pun masuk ke dalam mobil, Zein dan Ronald duduk bersama di bangku belakang.


Selama dalam perjalanan, keduanya fokus pada jendela kaca mobil, memperhatikan setiap tepi jalan, kalau-kalau melihat penjual es dawet.


"Biasanya disekitaran sini, ada salah satu penjual es dawet, tuan." jelas Ronald sembari memandangi kaca mobil.


"Apa kau yakin, Ron?" tanya Zein ragu.


Bersambung\=\=\=>


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


TERIMAKASIH. 🙏🏻


__ADS_2