Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Teringat pada masa lalu


__ADS_3

"Sayang... Kenapa pagi ini kau begitu menggemaskan?" ucap Zein dengan nada merengek.


Rania tersenyum meledek, lalu mengecup kembali bibir suaminya dengan kecupan singkat.


Astaga... Aku bisa gila jika harus menahan seperti ini. Batin Zein kesal.


"Sayang... Cepat pakai bajumu..! Aku bisa hilang Kendali jika kau terus seperti ini, sudah tidak ada waktu untuk bercumbu, sebentar lagi Ronald akan datang." jelas Zein.


Rania memanyunkan bibirnya dan berjalan menuju lemari untuk memakai baju.


Sementara itu, Zein merapikan jasanya yang lusuh akibat bercumbu dengan Rania. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar.


Tok tok tok


Dengan segera Zein membuka pintu dan dilihatnya Bibi Ros yang sedang berdiri menunggu pintu di buka.


"Selamat pagi, Tuan." Bibi Ros menyapa sembari tersenyum.


"Pagi, Bi... Ada Ronald sudah datang?" tanya Zein penasaran.


"Benar, Tuan... Dia sudah datang dan sedang menunggu di bawah." jawab Bibi Ros dengan sopan.


"Baiklah, katakan padanya sebentar lagi aku turun." jawab Zein dengan nada cepat.


"Baik Tuan." Bibi Ros mengangguk lalu segera turun untuk menyampaikan pesan pada Ronald.


Sementara menunggu Zein turun, Ronald duduk di atas sofa di temani secangkir kopi hangat yang dibuatkan oleh pelayan.


Sesekali Ronald membuka lembaran demi lembaran berkas yang ia keluarkan dari dalam tas nya. Ia mencoba memeriksa kembali untuk menghindari terjadinya kesalahan.


Sejauh ini Ronald bekerja dengan sangat keras hingga membuatnya jarang sekali melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Ia selalu memeriksa berulang kali pekerjaannya agar tidak terjadi kesalahan.


Tiba-tiba saja terdengar suara yang cukup nyaring dari luar pintu.


"Kak Rania...." Tania berteriak memanggil Rania.


Padahal ia baru saja masuk melewati pintu, namun suaranya terdengar sangat nyaring hingga membuat Ronald terkejut dan menghentikan kegiatannya.


Astaga... Suara siapa itu? Sepertinya aku kenal suara itu...! Ronald membatin penuh selidik.


Dan benar saja, suara itu berasal dari Tania.


"Loh... Kak, Ron... Kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?" Tania bertanya dengan ekspresi terkejut.


Pagi itu, Tania memang sengaja di perintahkan oleh ibunya untuk menemani Rania sementara tidak ada Zein. Tania yang tidak memiliki kesibukan apapun di sela waktu menunggu pembagian raport dari sekolah, membuatnya membuatnya memiliki banyak waktu luang.


Ronald dan Tania yang sama-sama terkejut seketika diam dan saling memandang satu sama lainnya. Hingga sebuah suara datang dan membuyarkan lamunan mereka.


"Ayo kita berangkat...!" ucap Zein dari arah belakang Ronald, berjalan mendekati Ronald.

__ADS_1


Mendengar suara Zein, Ronald pun segera bangkit dari duduknya dan memberi sapaan pada Zein.


"Selamat pagi, Tuan..." sapa Ronald pada Zein.


"Pagi," balas Zein singkat.


Zein mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Tania.


"Kau sudah datang, Tania?" tanya Zein sembari tersenyum.


"Iya kak." jawab Tania sembari mengangguk.


"Kakakmu ada di atas, kau boleh ke atas, kami akan berangkat sekarang." ucap Zein pada Tania.


Tania hanya mengangguk dan sesekali melirik mata ke arah Ronald yang sedang merapikan berkas dan memasukkannya ke dalam tas.


Zein dan Ronald mulai bergegas pergi.


"Hati-hati..." Tania bersuara.


Suara Tania dari belakang tiba-tiba saja menghentikan langkah Zein dan Ronald.


Zein dan Ronald sama-sama menoleh ke belakang dan menatap wajah Tania yang masih berdiri di belakang mereka.


Dengan perasaan bingung bercampur malu, akhirnya Tania meneruskan kata-katanya.


"Hati-hati di jalan, kak Zein." ucapnya dengan jelas.


Mendengar ucapan Tania saat itu justru membuat Zein heran, kemudian Zein melirik ke arah Ronald seraya mengucapkan. "Terimakasih." dengan wajah tersenyum.


Zein hanya menduga, mungkin sebenarnya maksud Tania tertuju pada Ronald. Namun Tania malu mengatakannya langsung di depan Ronald, terlebih ada dirinya di sana.


Sementara itu, Ronald hanya diam membisu dengan ekspresi datar. Dalam hatinya sudah sangat berharap jika kalimat yang di ucapkan Tania adalah untuknya.


Menahan rasa malu di depan Ronald dan kakak iparnya, Tania memutuskan untuk segera pergi meninggalkan mereka. Ia memutar tubuhnya dan berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamar kakaknya.


Ronald tampak memperhatikan Tania dari belakang dan tidak lama keduanya melanjutkan langkah mereka memasuki mobil yang sudah terparkir di depan rumah Zein.


Begitu keduanya sudah berada di dalam mobil, tepatnya di bangku bagian belakang.


"Ron... Kira-kira berapa lama kita akan berada di sana?" tanya Zein sembari menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


"Kurang lebih sekitar dua atau tiga hari, Tuan." jawab Ronald dengan suara tegas.


"Hem... Apa tidak bisa di percepat? Misalnya... Sehari?" Zein berusaha menawar waktu.


Mendengar ucapan Zein, rasanya ingin membuat Ronald tertawa. Namun Ronald selalu bisa menahan tawanya di depan Zein, untuk pertama kalinya ia mendengar pertanyaan ini dari Zein, pasalnya, selama ia mengikuti Zein bertahun-tahun, Zein hampir tidak pernah mempermasalahkan waktu untuk urusan pekerjaan.


"Tidak bisa, Tuan... Paling cepat dua hari, dan paling lama tiga hari." Ronald menjelaskan.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Ronald, Zein hanya bisa pasrah.


Rania... Aku akan sangat merindukanmu, jaga kesehatanmu di rumah...! Zein membatin.


Sementara itu di tempat Rania.


Tania duduk di atas sofa yang menghadap jendela kaca lebar, memandangi area yang hanya menampakkan pepohonan yang hijau nan rimbun.


Sementara itu, Rania tampak sedang merapikan tempat tidur yang lusuh.


Meskipun ada banyak pelayan di sana, namun Rania tidak pernah sungkan untuk sekedar merapikan kasurnya. Sesekali ia merapikan kasurnya.


"Kak..." tiba-tiba Tania memangilnya.


"Ya... Kenapa dek?" jawab Rania.


Rania masih asik dengan kegiatannya merapikan kasurnya.


"Apa itu cinta?" tanya Tania.


Tania masih menatap jendela kaca.


Mendengar pertanyaan Tania yang cukup mengejutkan, Rania pun akhirnya menghentikan kegiatannya dari merapikan kasur. Ia berjalan mendekati Tania dan duduk di sebelah Tania.


Tania menoleh wajahnya ke arah kakaknya.


Meski ia merasa malu harus bertanya hal tentang cinta, namun hatinya yang saat itu gelisah memaksanya untuk bertanya agar lebih lega.


"Tania... Apa kau sedang jatuh cinta?" Rania bertanya sembari menatap dalam ke wajah Tania.


Berbalik dengan Rania, Tania justru membuang wajahnya dari tatapan Rania. Tania merasa malu atas pertanyaannya tersebut.


"Saat seusia-mu... Dulu kakak juga pernah jatuh cinta." Rania duduk menyandar di punggung sofa. "Saat itu... Kakak masih sekolah kelas tiga SMA, tidak ada yang salah dengan perasaan cinta, kau tidak perlu menahannya atau berusaha menghilangkannya." lanjutnya.


"Siapa cinta pertama kakak?" dengan entengnya Tania bertanya.


Seketika Rania diam, ada ingatan lalu yang kini tengah menggelayuti pikirannya, dengan cepat Rania menghentikan pikirannya dari masa lalu, Rania menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Siapa cinta pertama kakak... Itu bukanlah hal yang penting, Tania. Yang terpenting adalah, cinta terakhirmu, itulah yang harus kau ingat." jawab Rania dengan mata berkaca-kaca.


Menjelaskan tentang cinta, terlebih tentang cinta pertama sangatlah tidak mudah bagi Rania. Cinta pertamanya yang kandas hingga berujung pertengkaran justru membuatnya merasa trauma saat harus mendengar kata cinta pertama.


Tidak ada penyesalan baginya meski cinta ia tidak berakhir dengan cinta pertamanya, Rania justru merasa bersyukur karena bisa mendapatkan cinta kedua yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Bersambung\=\=\=>


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.

__ADS_1


TERIMAKASIH. 🙏🏻


__ADS_2