Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Maafkan jika aku memaksamu part 2


__ADS_3

Setelah membisikan kalimat itu di telinga Rania, dan tak ada jawaban apapun dari Rania yang hanya menutup matanya, diam tanpa perlawanan.


Masih dalam posisi di atas kasur berbusa berlapis sprei lembut dan wangi. Zein kembali melampiaskan kekesalannya dengan menggigit bibir bawah Rania yang tampak merah mekar dan menggoda. Sesekali Rania melenguh, kedua tangannya meremas sprei. Seolah masih belum puas, Zein kembali melampiaskan emosinya, perlahan bibirnya mulai menelusuri bagian leher Rania, lalu menyentuhnya dengan sentuhan lembut dan menghisapnya, kemudian hidung mancungnya mulai menciumi aroma wangi di bagian leher Rania, meresapi setiap garis leher jenjangnya dengan sentuhan lembut, dan menikmati seluruh bagian lehernya. Kemudian menggigit mesra di beberapa bagian leher Rania, menghisapnya hingga meninggalkan beberapa tanda merah.


Setelah beberapa kali mencumbu bagian bibir, telinga hingga leher Rania kecuali bagian yang sensitif, Zein mulai melepaskan cengkeramannya dan melemaskan tubuhnya, mengangkat kakinya dan tidak lagi menindih kaki Rania, kemudian memiringkan tubuhnya dekat dengan tubuh Rania, tangan kanannya mendekap erat tubuh Rania yang masih terlentang sembari membisikan kata di telinga kanan Rania. "Tidak bisakah kau mencintaiku, Rania? Tidak bisakah kita menjalani kehidupan suami istri yang penuh romansa layaknya pasangan suami istri lainnya? Tidak bisakah kau menghapus dia dari hatimu? Aku sungguh mencintaimu, Rania." bisikan yang bercampur tangisan kecil itu mulai merobek hati Rania.


Maafkan aku Zein... Jika saat ini aku bilang, aku mencintaimu... apa kau akan percaya begitu saja di tengah kehadiran Rey yang sedang berusaha menghancurkan kita? Tidak bisakah kau menyadarinya tanpa harus aku jelaskan? Aku sendiri masih meyakinkan hati ini untuk mencintaimu, setelah perlakuan Rey yang meninggalkanku begitu saja. Tidak bisakah kau bersabar? Percayalah, ini hanya soal waktu... Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri tanpa paksaan. Maafkan aku, Zein... Dalam situasi ini... Akulah yang paling bersalah. Rania membatin penuh rasa bersalah.


Rania mulai memiringkan tubuhnya, dilihatnya wajah lelaki dengan mata terpejam, ada air mata yang perlahan keluar dari sudut matanya dan mulai bergerak menyeberangi hidungnya yang mancung, Zein tengah lelap dalam tidurnya setelah melampiaskan kekesalannya pada Rania. Aku bisa merasakan lelah di hatimu, mulai saat ini, aku tidak akan membohongimu lagi, Zein... Aku janji...!! Batin Rania pilu, lalu di dekap-nya tubuh Zein dengan erat dan sesekali Rania menghela napas.



*Keesokan harinya.


Rania bangun lebih dulu, sementara itu Zein masih terbaring di atas tempat tidur berbusa dan berlapis sprei dengan selimut yang masih menyelimutinya.


Baiklah... Baju ini tidak buruk, ada manfaatnya juga aku memiliki baju ini...! Pyuuuh... Karena semalam, Zein meninggalkan bekas merah di seluruh leherku. Di depan cermin, dengan menggigit bibir bawahnya. Rania terus memandangi lehernya yang penuh dengan bekas merah, tangannya merapikan bagian leher. Baju yang menutupi hingga bagian leher itu menutupi tanda merah yang ditinggalkan Zein semalam. Kemudian ia berjalan mendekati tempat tidur, berdiri di tepi ranjang, dilihatnya Zein yang masih tertidur, lalu membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Zein... Ini sudah pagi. Bangunlah...!" bisik Rania di telinga Zein dengan posisi membungkuk. Dalam posisi setengah sadar, Zein menarik tubuh Rania hingga akhirnya Rania jatuh menindih tubuhnya. Dan telinga Rania menyentuh dada bidang Zein. Zein mulai membuka mata, cahaya matahari cukup menyilaukan matanya, lalu di lihatnya Rania yang tengah menindih tubuhnya akibat tarikan tangannya. Deg.. Deg.. Deg.. Terdengar detak jantung Zein yang mulai berdetak semakin cepat. Dengan segera Rania bangun dan merapikan bajunya yang tampak kusut akibat tarikan tangan Zein yang membuatnya hingga jatuh di pelukan Zein.


"Ma...maafkan aku Rania...!" dengan terbata Zein meminta maaf. Dilihatnya leher Rania yang tertutup oleh baju yang menutupi hingga bagian leher, ada rasa penasaran dibenaknya ingin melihat apakah semalam hisapannya meninggalkan jejak di leher Rania. Wajahnya merah merona dan salah tingkah. Begitupun dengan Rania. "Ti...tidak apa-apa Zein." Rania berlalu meninggalkan kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur dan berhenti tepat di sudut dapur di samping kulkas, memegang dadanya yang tidak berhenti berdetak. Ada apa dengan jantungku? Rasanya... Batin Rania menerka.


"Selamat pagi nyonya... Ada yang bisa saya bantu?" pertanyaan Bi Ros cukup mengagetkannya. "Ah... Tidak apa-apa Bi, aku hanya sedikit haus." tangannya mulai merahi gagang kulkas lalu membukanya dan di ambilnya botol berisi air putih dingin, lalu di minumnya.


Melihat Rania tampak salah tingkah, membuat Bi Ros diam dan bengong.


Setelah meneguk air, Rania berlalu meninggalkan Bi Ros, berjalan tergesa menuju ruang makan. Di sana sudah ada Zein yang tengah duduk. Dengan segera, Rania duduk di samping Zein.


"Iya, Zein." jawab Rania singkat dan melirik Zein yang tampak memperhatikannya selama makan.


"Apa lehermu baik-baik saja?" tanyanya lagi.


Pertanyaan macam apa itu? Kau membuatku terlihat malu di depan mereka, Zein. Batin Rania kesal sembari menunduk. Padahal tidak satupun dari mereka yang berani melihat wajah Rania di depan Zein meski mereka mendengar. Rasa malunya saja yang membuatnya jadi malu sendiri.


"Tidak ada apa-apa dengan leherku, Zein." jawab Rania tersipu malu. Wajahnya mulai memperlihatkan warna merah merona.

__ADS_1


Selesai makan yang di lalui dengan saling melirik, keduanya berjalan bersama menuju mobil yang sudah di parkir di depan rumah.


Di dalam mobil, rupanya Zein masih penasaran dengan bagian leher Rania hingga membuatnya ingin menyingkap sedikit bagian leher Rania. "Bisakah aku melihat bagian lehermu?" tanya Zein malu-malu.


"Memangnya kenapa, Zein?" sahut Rania dengan malu-malu.


"Aku ingin melihat tanda cintaku semalam." ucap Zein sembari menjulurkan tangannya menyingkap leher Rania. Di lihatnya tanda merah itu memenuhi leher Rania, dengan spontan Zein tersenyum geli melihatnya. Lalu tangannya menekuk sedikit kain yang menutupi hingga bagian atas leher, hingga memperlihatkan sebagian tanda cintanya di leher Rania. Tujuannya hanya ingin di akui oleh Rania, bahwa dirinya adalah suaminya, terutama agar Rey tahu dan berhenti mengejar Rania. Zein yakin sekali, bahwa Rey pasti mengikuti Rania dan berusaha melihat Rania dari jauh.


"Begini lebih cantik, kau harus menunjukkan ini pada semua orang, Rania...! Agar tidak ada yang mendekatimu termasuk Rey!!" ucap Zein tegas.


"Tentu saja, Zein... Aku akan menunjukkannya pada semua orang, terutama pada Rey. Dengan begitu, dia tidak akan menggangguku lagi." ucap Rania sembari tersenyum manis di depan Zein. Ia mengucapkannya dengan kondisi sadar, sebagai bentuk usahanya dalam mencintai Zein. Meski dalam hatinya merasa malu, tapi keinginannya melawan Rey agar berhenti mengganggu rumah tangganya jauh lebih besar.


Sadar atau tidak, sebenarnya Rania mulai menyukai Zein. Hanya saja, kehadiran Rey yang mengganggunya menjadi penghalang dirinya dalam meyakinkan hatinya pada Zein.


*Bersambung.


Terus dukung author dengan cara klik like, tinggalkan komen, jadikan favorit, kasih bintang lima dan bagi vote nya yah. Biar author makin semangat nulisnya. 🤗 terima kasih readers setia NYT. 🤗

__ADS_1


__ADS_2