Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Situasi yang tak terduga


__ADS_3

Lalu Ronald dan Evelin berjalan menuju area parkir di mana mobil Zein di parkir.


Rania dan Zein sudah kembali ke area parkir, mereka kini sedang menikmati makan siang mereka di sebuah kafe terdekat.


"Ngomong-ngomong... Di mana sebenarnya Tania dan Ronald ya?" tanya Rania sambil melirik wajah suaminya.


"Entahlah..." jawab Zein singkat.


Zein kembali menyendok nasi dan melahapnya. "Sayang... Bisakah tidak memikirkan Tania dan Ronald? Mereka bukan anak kecil, nikmatilah makan-mu dengan tenang...!" kata Zein sambil menatap wajah istrinya dengan penekanan.


Melihat tatapan suaminya, Rania pun hanya mengangguk lalu melanjutkan makan siangnya.


Sementara itu, di sudut dekat kolam kecil. Tampak seorang gadis duduk di atas batu berukuran cukup besar, terlihat sedang melemparkan batu-batu kecil dengan kasar ke dalam kolam tersebut.


Ya, gadis itu adalah Tania. Wajahnya terlihat sangat kecewa saat itu, berkali-kali Tania mencoba untuk tidak mengingat kejadian yang meretakkan hatinya yang mulai berkembang karena cinta terhadap seorang laki-laki. Meski Tania sadar, bahwa dirinya bukan siapa-siapa di mata Ronald dan tidak ada ikatan apapun, namun Tania tetap tidak bisa berbohong bahwa hatinya terluka melihat kejadian tadi.


Sementara itu, Ronald dan Evelin akhirnya sampai di area parkir. Sembari menyapu area sekeliling. Ronald berlagak mencari Zein, padahal ia sebenarnya sedang mencari Tania.


"Di mana kakak?" tanya Evelin yang saat itu ikut menyapu pandangan di sekitar mencari kakaknya.


"Entahlah.. Aku tidak melihatnya." jawab Ronald datar.


"Di mana mobil kakak?" tanya Evelin sembari menyapu pandangan pada setiap mobil yang berbaris rapi di area parkir.


"Di sana." Ronald menunjuk arah mobil Zein terparkir.


Kemudian Evelin berjalan menuju mobil kakaknya, membuka pintu depan, duduk di kursi bagian depan dan bersandar sambil meluruskan kakinya yang lelah akibat berjalan cukup jauh.


Sementara itu Ronald berusaha mencari Tania, menyapu pandangan pada setiap sudut area dengan mata yang begitu fokus. Sampai ia melihat seorang gadis sedang duduk di atas batu berukuran cukup besar membelakanginya. Ronald pun mencoba mendekatinya.


Dan benar saja, meski hanya terlihat dari belakang, namun Ronald bisa mengenali bahwa itu adalah Tania.


Begitu sudah sampai tepat di belakang Tania duduk.


"Sedang apa kau di sini sendirian?" pertanyaan Ronald cukup mengejutkan Tania hingga membuatnya menoleh dan menatap wajah Ronald.


"Bukan urusanmu...!!" jawab Tania dengan raut wajah yang masih di selimuti kekesalan.


Sekarang... Kau memang bukan urusanku, Tapi suatu saat, kau akan menjadi urusanku. Batin Ronald mengancam.


"Bangunlah... Batu yang kau duduki itu kotor." ucap Ronald.


"Sudah ku bilang bukan urusanmu...!!" lagi-lagi Tania membantah, namun kali ini dengan nada yang cukup keras.


"Apa karena kejadian tadi, kau bersikap seperti ini padaku? Bahkan kau tidak memanggilku kakak, ya... Meskipun aku bukan siapa-siapa bagimu dan tidak berhak memerintahmu. Tapi setidaknya jangan memperlihatkan kekesalanmu padaku...!" jelas Ronald sebelum meninggalkan Tania. "Dan satu hal... Kejadian tadi adalah ketidaksengajaan dan bukan kemauanku." lanjutnya.


Setelah menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Evelin pada Tania, akhirnya Ronald meninggalkan Tania.


Dalam keadaan ini, Ronald memang tidak berhak terlalu menjelaskan pada Tania apa lagi mencampuri Tania dengan banyak memerintah Tania, ia sadar bahwa dirinya dan Tania tidak ada status apapun. Meski sebenarnya keduanya saling merasakan cinta satu sama lainnya.


Entah karena ego masing-masing atau memang keduanya masih belum yakin dengan perasaan mereka.


Melihat Ronald pergi begitu saja tanpa memaksa dirinya atau mencoba merayunya layaknya seorang kekasih yang sedang marah. Tania merasakan sedikit kesedihan dan kekecewaan di dalam hatinya.


Astaga... Tania.. Tania.. Bodoh sekali kau, Apa yang kau lakukan? Sikapmu ini jelas akan menjadi pertanyaan baginya tentang perasaanmu padanya. Batin Tania tercengang.


Setelah menyadari bahwa aksi marahnya justru akan membuat Ronald beranggapan kalau dirinya menyukai Ronald. Tania pun segera beranjak dari duduknya dan kembali ke area parkir.


Sementara itu, Evelin yang sedang berada di dalam mobil milik Zein dan duduk di kursi bagian depan rupanya sudah terlelap.

__ADS_1


Ronald berusaha menyingkirkan perasaannya yang saat ini sedang bercampur gelisah dan kesal, ia kembali fokus pada tugasnya dengan mencari keberadaan Zein dan Rania lalu mendampingi mereka.


Baru saja Ronald memasuki sebuah kafe yang tidak jauh dari area parkir mobil Zein terparkir. Tiba-tiba Zein dan Rania keluar dari kafe dan berpapasan dengan Ronald yang hendak masuk ke dalam.


"Ronald..." panggil Zein.


"Tuan..." Ronald menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Apa Tania bersamamu?" tanya Rania.


"Iya Nyonya." jawab Ronald.


Tak ingin membuat keadaan rumit, Ronald pun akhirnya mengatakan iya. Padahal saat ini yang ia tahu, Tania sedang marah padanya.


"Syukurlah..." Rania tersenyum lega mendengarnya. "Ya sudah, sebaiknya kita kembali dan melanjutkan perjalanan kita ke Villa... Aku ingin sekali beristirahat." lanjutnya.


"Baik,Nyonya." Ronald mengangguk setuju.


Kemudian ketiganya berjalan menuju area parkir untuk segera melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda di kebun strawberry.


Begitu sampai di area parkir, Rania langsung memasuki mobilnya di ikuti dengan suaminya.


Saat Rania dan Zein sudah berada di dalam mobil, tepatnya di kursi bagian belakang. Keduanya terkejut begitu melihat Evelin yang tengah tertidur di kursi bagian depan.


Zein melirik ke arah Ronald yang saat itu sedang membukakan pintu untuk dirinya.


"Ron... Bagaimana Evelin bisa ada di sini?" tanya Zein pada Ronald dengan wajah penasaran dan bingung.


"Entahlah, Tuan... Aku pun terkejut melihatnya, kami berpapasan di sini, lalu Nona Evelin mencari Tuan, namun karena tidak menemukan Tuan, akhirnya ia menunggu tuan di dalam mobil hingga tertidur." jelas Ronald.


"Oh... Baiklah." selepas mendengar jawaban dari Ronald, Zein pun menganggukkan kepalanya. Lalu Ronald segera menutup pintu mobilnya.


Melihat Evelin bergabung bersama mereka di saat seperti ini, Rania hanya memperlihatkan raut wajah bingung.


"Iya... Di mana Tania?" imbuh Zein.


Zein pun membuka jendela kaca mobilnya seraya bertanya pada Ronald yang saat itu masih berdiri dan bergegas memanggil Tania.


"Ron... Di mana Tania?" tanya Zein dengan wajah yang ikut cemas.


"Sebentar, Tuan... Saya akan menjemputnya." jawab Ronald tersenyum.


Ronald berusaha untuk tidak membuat mereka panik dengan ketidakberadaan Tania saat ini.


Ronald berusaha menjemput Tania di tempat terakhir mereka bertemu, namun baru saja ia melangkahkan kakinya beberapa langkah dari mobilnya, tiba-tiba Tania sudah ada di depannya.


"Baguslah kau sudah datang... Baru saja aku akan menjemputmu." ucap Ronald pada Tania.


Tania tak membalas apapun pekerjaan yang keluar dari mulut Ronald. Ia hanya berjalan maju lalu membuka pintu mobil bagian depan.


Betapa terkejutnya, saat Tania melihat ada seorang wanita sedang tertidur di kursi depan tempatnya duduk sebelumnya.


Wanita ini. Batin Tania terkejut.


Untuk sesaat, Ia memperhatikan pakaian wanita yang saat ini sedang menduduki kursinya sbelumnya.


Tunggu... Bukankah wanita ini adalah wanita yang tadi berciuman dengan Ronald...? Tania kembali membatin.


Begitu memperhatikan wajah wanita tersebut, Tania mulai sadar. Bahwa ternyata wanita yang tadi berciuman dengan Ronald tidak lain adalah iparnya sendiri, yaitu adik dari kakak iparnya yaitu, Zein.

__ADS_1


Sontak membuat Tania semakin terkejut, kekecewaannya kini semakin dalam bercampur rasa kesal yang kian menguasai hatinya saat itu. Bagaimana mungkin ini terjadi padanya? Pikir Tania.


Ronald hanya melihat dan memperhatikan Tania dari belakang. Ronald sendiri tidak tahu harus berkata apa.


Sial... Evelin dan benar-benar merusak kedekatan-ku dengan Tania. Batin Ronald kesal.


Melihat Tania sudah kembali dan kursi tempatnya duduk sudah di tempati oleh Evelin, Rania pun meminta Tania untuk duduk di kursi bagian belakang.


"Tania... Kau duduk di kursi belakang ya..!" perintah Rania pada Tania sembari melempar senyum.


Meksi jauh di dalam hatinya merasa sangat kesal, namun Tania berusaha mengendalikan perasaannya dengan tetap bersikap santai.


"Baiklah..." jawab Tania sembari berlalu dan menggeser pintu mobil dan duduk di bagian belakang.


Cih... Evelin, kapan kau akan berubah dan tidak membuat kekacauan..? Batin Zein.


Zein hanya bisa menghela napas dengan kehadiran Evelin yang tidak direncanakan hadir di tengah-tengah mereka. Sebenarnya Zein tidak akan marah dengan kehidupan Evelin di tengah-tengah merek jika keadaannya memang sudah terencana, bukan dengan cara seperti ini, tiba-tiba hadir di tengah mereka dan mengejutkan mereka. Apa lagi sampai membuat Tania berpindah posisi duduknya.


Zein merasa tidak enak pada Tania. Namun Zein tidak ingin membuat keadaan jadi tidak nyaman, ia memilih membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya tanpa banyak bicara. Bagaimana pun, Zein lebih memahami karakter adiknya.


Setelah Ronald sudah berada di dalam mobil, Zein pun memerintahkan Ronald untuk segera memacu mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju Villa yang sudah di pesan oleh Ronald sebelumnya.


"Jalan, Ron...!" ucap Zein dengan nada memerintah.


"Baik, Tuan." jawab Ronald dengan sopan.


Perjalanan pun kembali di lanjutkan, untuk sampai ke Villa sebenernya hanya tinggal sepuluh menit lagi.


Baru beberapa menit mobi itu melaju dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba Evelin terbangun dari tidurnya.


"Heeeeem..." Evelin mulai menggeser tubuhnya dan duduk dengan posisi seharusnya.


Sebelumnya ia tidak dengan posisi menyandar pada punggung kursi dan meletakkan kedua kakinya di dekat kaca mobil depan.


Setelah nyawanya di rasa cukup terkumpul, sambil mengusap-usap kedua matanya dengan kedua tangannya, Evelin menoleh wajahnya ke belakang.


Terlihat Zein dan Rania sedang memperhatikannya dan menatapnya.


"Eh kakak..." ucap Evelin sembari tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada Rania di samping Zein. "Halo kak Rania..." sapa Evelin sambil melempar senyum.


"Halo juga, Evelin..." balas Rania sembari tersenyum terpaksa.


"Evelin..." belum sempat Zein meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Evelin menyelanya.


"Nanti aku jelaskan, Kak...! Heheh." ucap Evelin sembari tersenyum malu.


Dan setelah menyapa Rania dan kakaknya, pandangan Evelin tertuju pada Tania yang sedang duduk di belakang sambil memainkan ponselnya dengan wajah kesal.


"Tania..." panggil Evelin dengan nada terkejut.


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah cukup seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah... Dengan cara


LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2