Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Buah belimbing


__ADS_3

Tidak lama Zein dan Rania pun datang menghampiri mereka.


"Bagaimana Ron? Apa kau mendapatkannya?" tanya Zein dengan wajah penuh harap.


Rania yang berada di samping Zein hanya memperlihatkan wajah senangnya karena Ronald berhasil mendapatkan pohon belimbing beserta buahnya.


Belum sempat Ronald menjawab pertanyaan Zein, Rania meraih lengan suaminya dan menariknya untuk berjalan perlahan.


"Sayang... Ayo kita lihat!" ajak Rania dengan wajah sumringah.


Mendengar ucapan Rania, Zein tahu, mungkin Ronald benar-benar mendapatkan pohon belimbing tersebut.


Kemudian Zein pun mengikuti istrinya dan berjalan keluar rumah untuk melihat pohon belimbing yang sudah ada di halaman rumahnya.


Sementara itu Tania tampak bingung dengan pembicaraan mereka dan hanya menyimak tanpa bertanya.


Setelah Rania dan Zein menuju halaman rumah. Tania pun penasaran dan mencoba bertanya pada Ronald yang duduk di depannya.


"Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Tania pada Ronald dengan wajah bingung.


"Memangnya kau belum tahu?" tanya Ronald dengan raut wajah heran.


Tania menggelengkan kepalanya.


"Hem... Kau lihat saja ke depan, apa yang mereka lakukan, nanti kau akan tahu." balas Ronald dengan datar.


Hem... Tinggal bilang saja susah banget sih. Batin Tania cukup kesal mendengar jawaban dari Ronald.


"Hem... Ya sudah." ucap Tania sembari beranjak bangun dari duduknya dan berjalan perlahan menghampiri kakaknya.


Sementara itu Ronald mengikutinya dari belakang.


Sementara itu di luar, Rania tampak berlari kecil mendekati pohon belimbing yang sudah ada di depan halaman rumahnya.


Pohon belimbing yang berukuran cukup besar lengkap dengan pot besar.


Seolah tidak sabar ingin segera memetik buah belimbing dengan tangannya sendiri dan melahapnya. Rania berlari kecil menuju pohon tersebut dengan wajah sumringah.


"Sayang... Jangan lari-lari seperti itu...! Kau bisa jatuh nanti...! Pohon belimbing itu tidak akan lari juga." ucap Zein memperingatkan istrinya agar tidak berlarian dan sembari mengejarnya dari belakang.


Tania yang sedang menyaksikan percakapan keduanya daro belakang sembari memperhatikan tingkah kakaknya yang seperti anak kecil merasa sedikit heran.


Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Batin Tania bingung.


Tanpa menunggu lama, Rania pun segera memetik buah belimbing yang hanya dengan menjulurkan tangannya ke atas saja dapat di raih dan dipetiknya.


Sementara itu Zein hanya berdiri dan berdecak sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang berbeda dan kekanak kanakan.


"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan kakak?" ucap Tania yang saat itu berdiri di samping Zein.


Ucapan Tania cukup mengagetkan Zein yang saat itu sedang berdiri mengamati kelakuan istrinya yang sedikit aneh.


"Hem... Entahlah, apa semua wanita hamil akan bersikap seperti itu?" Jawab Zein dengan tatapan kosong dan masih tertuju pada istrinya yang sedang asik memetik buah belimbing.


Mendengar ucapan Zein, Tania pun cukup terkejut.


"Apa kakak sedang hamil?" tanya Tania dengan wajah terkejut menatap ke arah Zein yang tak bergeming dari pandangannya pada istrinya dan hanya mengangguk.


Apa...? Kakak hamil? Ayah dan ibu harus tahu soal ini. Pasti mereka sangat bahagia mendengar kabar ini. Batin Tania penuh kegembiraan.


Tania pun segera menghampiri kakaknya.


Eh... Dia mau apa? Batin Zein bingung melihat Tania berlari kecil mendekati kakaknya.


Cih... Mereka sama saja, sama-sama ceroboh dan suka berlari. Batin Zein.


Namun Zein tetap berdiri ditempat ia berdiri dan hanya menyaksikan mereka dan mengamati sembari menaruh kedua tangannya ke belakang.

__ADS_1


Sementara itu, Ronald mulai mendekati Zein dan berdiri di samping Zein.


"Tuan, bagaimana pohon belimbing yang saya pilih?" tanya Ronald yang saat itu berdiri di samping Zein.


Mendengar ucapan Ronald, Zein pun memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Ronald.


"Aku tidak perduli tentang pohon belimbingnya yang kau bawa, Ron? Karena aku tidak pernah membayangkan pohon belimbing itu akan berbuah jeruk?" ucap Zein dengan nada sedikit kesal.


Mendengar perkataan Zein, sontak membuat Ronald merasa ingin tertawa. Namun ia hanya menahannya dan tertawa di dalam hati.


Kedua laki-laki tersebut hanya mengamati Rania dan Tania dari jauh sampai keduanya selesai memetik buah belimbing tersebut.


"Kakak, apa benar kakak sedang hamil saat ini?" tanya Tania sembari meraih buah belimbing dan ikut membantu memetik.


Mendengar ucapan tersebut, Rania pun langsung menghentikan tangannya yang begitu asik memetik buah belimbing.


Rania menatap wajah Tania untuk sesaat.


Begitupun dengan Tania, di tatapnya wajah kakaknya itu dan bersiap mendengarkan jawaban dari kakaknya.


Lalu keduanya saling bertatapan.


Tanpa bicara sedikitpun dan menjawab pertanyaan Tania, Rania hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dengan wajah sumringah.


Melihat anggukkan dari kakaknya dan juga senyum sumringah di raut wajah kakaknya, Tania sudah bisa menyimpulkan bahwa kakaknya memang benar-benar sedang hamil.


Spontan saja, Tania langsung memeluk tubuh kakaknya dan tersenyum penuh haru.


Menandakan bahwa dirinya ikut bahagia atas kehamilan kakaknya.


Keduanya kini saling berpelukan.


Sementara itu, Zein dan Ronald tampak bingung melihat tingkah mereka yang tiba-tiba berpelukan.


"Ada apa dengan mereka?" ucap Zein dengan wajah bingung.


"Baiklah, kita lihat saja mereka...!" jawab Zein masih dengan tatapan kosong.


Ronald hanya mengangguk setuju.


Tidak lama setelah saling berpelukan, Rania dan Tania pun berjalan mendekati Zein dan Ronald sembari bergandengan tangan.


Begitu sampai beberapa langkah dari suaminya, sebelum menaiki beberapa anak tangga menuju pintu rumah. Tiba-tiba Tania berhenti hingga mengejutkan Rania yang sedang berjalan menaiki anak tangga.


Rania pun menghentikan langkahnya dan menoleh wajahnya ke arah Tania dengan wajah bingung.


"Tania?" ucap Rania heran.


"Heheh..." tawa kecil Tania.


"Aku langsung pulang aja kak, aku mau memberitahukan kabar baik ini pada ayah fan ibu...! Mereka pasti sangat senang. "ucap Tania sembari tersenyum.


"Hem... Apa sebaiknya tunggu beberapa waktu dan makan bersama dulu? Kebetulan ada Ronald juga kan." ucap Rania merayu adiknya.


Mendengar namanya di sebut, Ronald pun cukup terkejut. Namun ia hanya diam dan menahan untuk tidak berbicara.


Lalu Tania melirik beberapa detik ke arah Ronald dan memalingkan kembali wajahnya yang berubah jadi salah tingkah.


Begitupun dengan Ronald, ia tampak salah tingkah saat keduanya saling bertatapan beberapa detik.


"Iya benar apa yang di bilang kakakmu Tania, sebaiknya nanti saja pulangnya." bujuk Zein pada Tania.


Berdekatan dengan Ronald sudah cukup membuat jantungku tidak karuan... Apa lagi ditambah dengan adanya kalian di sini? Batin Tania.


"Heheh... Aku masih ada urusan di luar kak." jawab Tania meyakinkan kakaknya.


"Hem... Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa." balas Rania setuju. "Oh ya... Biar nanti Ronald yang akan mengantarmu pulang." lanjutnya.

__ADS_1


Apa? Yang benar saja? Batin Tania terkejut.


Meskipun jauh di dalam hatinya, Tania merasa senang mendengar pernyataan dari kakaknya tersebut. Namun ia lebih senang jika jantungnya bisa terkendali dengan baik dengan tidak berdekatan dengan raut Ronald. Apa yang akan terjadi saat dirinya berduaan di dalam mobil bersama Ronald? Pikirnya.


"Tapi kak..." bantah Tania dengan wajah malu.


"Loh... Memangnya kenapa sih dek? Kan cuma di antar." balas Rania.


Sementara itu Zein dan Ronald hanya diam mendengarkan pembicaraan antara kakan dan adik itu.


"Hem... Ya sudahlah kalau kakak memaksa." balas Tania.


Jadi terpaksa nih? Batin Ronald.


Ronald masih diam tanpa suara, tidak sopan baginya jika harus membantah perkataan Rania yang adalah istri dari tuannya.


Meski sedikit merasa kesal karena ucapan Tania yang seolah terpaksa. Namun Ronald tetap merasa senang jika ia bisa mengantar Tania.


"Ron... Tolong antar Tania pulang yah...!" pinta Rania pada Ronald sembari tersenyum.


"Baik, Nyonya." jawab Ronald sopan sembari menundukkan kepalanya dengan sopan.


Tania berjalan mendekati Rania dan memeluk tubuh kakaknya sembari mengelus perut kakaknya yang saat itu sedang mengandung.


"Jaga diri kakak baik-baik yah! Jangan ceroboh dan hati-hati." Tania berpesan agar kakaknya selalu bersikap hati-hati karena Tania tahu, kakaknya sering kali bersikap ceroboh.


Untunglah... Kau sudah mengatakannya, setidaknya itu cukup mewakili perintahku yang tidak bisa di dengarnya. Batin Zein lega mendengar pernyataan dari Tania untuk istrinya yang keras kepala.


"Aku pergi ka... Daaaa..." ucap Tania sembari berjalan menuju mobil Ronald.


"Daaaa... " balas Rania tersenyum sembari melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menahan buah belimbing yang di sikap di depan perutnya dengan di sanggah lengan tangan kirinya.


" Tuan, Nyonya... Aku permisi." ucap Ronald sebelum akhirnya pergi mengantar Tania.


"Ya." Zein dan Rania menjawab secara bersamaan sembari tersenyum.


Kemudian Ronald menyusul Tania yang sedang berjalan menuju mobilnya. Ia berjalan lebih cepat dan mendahului Tania yang berjalan lebih dulu, membuka pintu mobil depan dan mempersilahkan Tania untuk masuk ke dalam mobilnya.


Mendapat perlakuan seperti itu, tentu membuat Tania merasa semakin malu dan hanya tersenyum. Tanpa membantah, akhirnya Tania pun masuk ke dalam mobil. Ia tahu bahwa kakak dan iparnya sedang memperhatikan mereka. Sebisa mungkin Tania ingin terlihat wajar di depan kakaknya dan iparnya.


Setelah kepergian Ronald dan Tania, Zein pun menggandeng tubuh istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Alih-alih senang atas perlakuan manis dari suaminya yang romantis. Rania justru merasa kesal dan alergi dekat-dekat dengan suaminya.


"Cih..." Rania berdecak di ikuti dengan tubuh menggeser dari gandengan suaminya.


Kenapa lagi dia? Batin Zein bingung melihat sikap istrinya yang tak ingin di gandeng.


Seolah tidak ingin menyerah, dengan sengaja Zein mendekati istrinya lagi dan memeluknya sembari berjalan menyusuri ruang tengah menuju kamarnya.


Lagi-lagi Rania menghindarinya.


"Cih..." Rania berdecak lagi, namun kali ini sembari menghentikan langkahnya dan menatap tajam wajah suaminya dengan tatapan sinis.


Astaga... Dia ini kenapa sih? Kenapa wajahnya begitu menyeramkan? Batin Zein heran.


"Sayang.... Kamu ini kenapa sih? Tiap aku peluk pasti menghindar." tanya Zein penasaran.


"Entahlah... Yang jelas saat ini aku tidak ingin dekat-dekat denganmu..!!" Jawa Rania dengan mata melotot seolah mempertegas ucapannya.


"Sayang... Tolong jangan bersikap konyol...!" balas Zein dengan dahi mengkerut. "Itu permintaan yang aneh sayang... Mana ada suami istri yang berjauh-jauhan?" lanjutnya.


Bersambung\=\=\=\=>


Halo readers. Mohon maaf baru bisa update hari ini setelah sekian lama gak update.


Sebelumnya saya mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. 🙏🏻


Selanjutnya saya akan usahakan update lebih sering lagi. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2