Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Sepucuk surat dari Yina


__ADS_3

Zein melepas bajunya yang setengah kering itu, lalu mendekati Rania yang pura-pura tidur. Zein membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan kepalanya dekat dengan kepala Rania yang hanya menyisakan jarak lima sentimeter saja. Lalu mendaratkan kecupan sayangnya di kening Rania sambil tangan kanannya mengelus rambut Rania dengan lembut dan tersenyum tipis.


Dia mengecup keningku... Tapi kenapa aku tidak marah...? Kenapa kecupan itu terasa hangat? Rania membatin heran.


Hanya sepersekian detik saja, kemudian Zein langsung berdiri dan bergegas menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang lengket akibat cipratan air laut.


Dari luar kamar mandi, di atas tempat tidur. Rania mengamati suara gemericik air yang jatuh dari shower.


Gemericik air dari dalam kamar mandi sudah tidak terdengar lagi, pasti Zein sudah selesai mandi, pikirnya. Ia jadi bingung sendiri harus gimana, seperti orang yang salah tingkah.


Sreeeet... Terdengar suara pintu di geser.


Ah... Bagaimana ini, dia sudah selesai mandi? Sebaiknya aku pura-pura tidur lagi saja. Kebingungan sendiri.


Selesai mandi, Zein mendekati Rania dan mendapati Rania yang masih tertidur pulas.


Apa menahan kepalaku tidur di pangkuanmu semalaman membuatmu kelelahan, Rania? Batin Zein heran sambil menggelengkan kepalanya melihat Rania masih belum bangun juga.


Sementara itu Rania tampak bingung sendiri dengan kepura-puraan nya tidur. Cara terbaiknya adalah tetap pura-pura tidur, sampai Zein membangunkannya, pikirnya.


Sebaiknya aku tidak membangunkannya, pasti ia kelelahan menahan kepalaku semalaman menindih kakinya. Batin Zein justru kebalikannya.


Selesai berganti pakaian kemeja dan jas, Zein pun duduk di sofa dengan posisi kedua tangan melipat tepat di dadanya dan memandangi wajah Rania. Ia sengaja memakai pakaian rapih karena berencana pulang siang ini.


Dalam tidurmu saja... Kau sangat cantik dan menggemaskan, Rania. Gumamnya dalam hati memuji istrinya, Tiba-tiba.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan di balik pintu.


Siapa? Batin Zein.


"Masuk!" suara Zein mempersilahkan dari dalam dan masih duduk di sofa.


Kemudian pintu di buka, dan terlihat seorang pelayan wanita sedang memegang nampan berisi makanan dan minuman untuk sarapan pagi.


"Tuan, saya mengantar breakfast khusus untuk Tuan dan Nyonya dari Nona Yina Carolin." Kata pelayan, sambil berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Apa maksudnya melakukan itu? Jangan-jangan dia mau meracuniku? Wanita itu... Siapa sebenarnya wanita itu...? Rasanya aku kesal sekali padanya. Apa dia tidak tahu Zein itu milikku...? Rania yang sedang pura-pura tidur itu hanya bisa menggerutu dalam hati seolah cemburu mendengar ucapan dari pelayanan tadi yang mengantarkan kiriman dari Yina.


"Hahahah... Dia, ada-ada saja dia." spontan Zein tertawa dengan kelakuan sahabatnya itu. "Bawa ke sini dan letakkan di meja saja." pinta Zein pada pelayan itu.


Dengan segera pelayan itu berjalan mendekati Zein dan meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman itu tepat di meja samping dekat dengan sofa yang sedang di duduki Zein.


"Terima kasih." ucap Zein pada pelayan itu.


"Sama-sama, Tuan apa masih ada yang perlu saya bantu?" Tanyanya lagi.


"Tidak ada, terima kasih." jawab Zein singkat.


"Kalau begitu, saya permisi Tuan." balasnya sembari menundukkan kepala dengan sopan dan bergegas keluar.


Selepas kepergian pelayan tadi, Zein segera melihat sarapan pagi yang katanya khusus dari Yina. Dilihatnya dua potong sandwich lengkap dengan dua gelas lemon tea dan dua potong chocolate cake sebagai penutup. Dan sepucuk surat bertuliskan. Selamat berbulan madu, sarapan ini khusus ku buat untukmu, semoga kau menyukainya, zein!! Begitulah kira-kira isi dari suratnya. Membacanya di dalam hati saja membuat Zein tertawa geli dibuatnya.


Rania melirik ke arah Zein dan dilihatnya wajah Zein yang sedang menahan tawa, terlihat kedua bibirnya mengepal dan bahunya bergetar menahan tawa.


Cih... Apa maksudnya mengirim surat? Apa sih isi suratnya, sampai Zein tertawa begitu? Gerutu Rania kesal, masih bertahan dengan kepura-puraannya tidur.


Zein pun bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Rania, duduk di tepi kasur dan merebahkan sedikit badannya. Mulai mengarahkan wajahnya mendekati telinga Rania. "Sayang... ini sudah siang. Apa kau masih ingin tidur? Atau kau ingin berlama lama di kasur berdua denganku? bisiknya mesra.


Mendengar bisikan itu, cukup membuat Rania bergidik. " hmmmm... " Rania mulai membuka matanya, betapa terkejutnya ketika melihat wajah Zein berada dekat sekali dengan wajahnya. Hanya menyisakan jarak sepuluh sentimeter saja.


Spontan ia mengangkat kepalanya untuk segera bangun hingga akhirnya membentur kepala Zein." Awwww... Sakit." Rania meringis kesakitan. Namun Zein tampak hanya memegang keningnya dengan ekspresi menahan sakit.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Zein khawatir sambil mengelus kening Rania.


"Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit saja." ujar Rania menahan sakit.


Keduanya terlihat salah tingkah.


"Rania, segeralah mandi! Lalu sarapan dan setelah itu kita akan kembali ke kota." ucap Zein singkat.


Eh... Dia bilang kembali sekarang? Tapi... Bagaimana jika nanti Rey datang menggangguku lagi? Ah... Sekarang aku sangat membencinya. Batin Rania cemas setiap kali mengingat Rey mengganggunya waktu itu.


Rania tahu pasti Rey akan terus mengusik hubungannya dengan Zein, tentu Rey juga sudah mencari tahu rumah yang saat ini di tempatinya dengan Zein. Tempat teraman saat ini menurutnya adalah di sini, di resort milik Yina. Meski sejujurnya ia kesal dengan Yina, tapi setidaknya untuk beberapa hari ini ia lebih memilih untuk bersembunyi di resort itu.

__ADS_1


"Tapi Zein... Sepertinya aku masih ingin di sini sampai besok atau bahkan lusa." ucap Rania sembari senyum merayu.


Zein tampak terkejut, alih-alih senang mendengar ucapan Zein untuk kembali ke kota, Rania justru ingin berlama-lama di resort bersamanya. Batin Zein tidak percaya bercampur senang.


"Apa kau menyukai tempat ini, Rania?" tanya zein penasaran.


"A... Aku suka pantai Zein." jawabnya terbata.


Cih... Siapa yang senang berada di tempat ini lebih lama? Apa lagi jika harus melihatmu dekat dengan perempuan itu...? Batinnya kesal.


Dalam benaknya, ia lebih memilih menahan kesal melihat kedekatan Zein dengan perempuan yang selalu membuatnya kesal, daripada harus bertemu dengan Rey lagi. Setidaknya untuk sementara, ia ingin bersembunyi di pantai itu sambil berpikir bagaimana caranya agar dirinya terlepas dari gangguan Rey terhadapnya. Jujur pada Zein tentang Rey saat ini di rasanya belum tepat. Ia berencana mengatakannya nanti, ketika waktunya sudah tepat.


Rey, laki-laki yang dulu begitu dicintainya, kini berbalik dibencinya. Sikap Rey yang tidak menerima kenyataan bahwa dirinya sudah menikah dan sempat mengancam akan menghancurkan rumah tangganya dengan Zein justru membuatnya kecewa terhadap Rey.


"Baiklah, tentu kita akan lebih lama di sini, jika itu membuatmu senang." ucap Zein sembari membelai atas rambut kepala Rania dan menyematkan senyum pada Rania.


"Terima kasih, Zein." ucap Rania sembari tersenyum.


*Bersambung.


Halo pembaca setia NYT 🤗


Terus dukung aku yah, dengan cara:


➡️klik suka (like)


➡️klik favorit


➡️tinggalkan komen (kritik dan saran)


➡️beri tanda bintang lima


➡️tolong beri aku vote sebanyak-banyaknya.


Please jangan pelit-pelit buat vote, karena dari vote kalian lah author merasa terdukung dan lebih semangat lagi buat up sebanyak-banyaknya.


Terimakasih. 🤗😊

__ADS_1


__ADS_2