
Dengan sambungan GPS yang terpasang di ponsel Rania. Zein dapat mengetahui lokasi Rania hanya dari ponsel miliknya yang sudah di setting. Zein berlari menuju mobilnya, tidak sabar ingin segera menolong Rania. Tampak jelas raut Kekhawatiran seorang suami terhadap istrinya di wajah Zein. Begitupun dengan Ronald yang ikut berlarian di sampingnya.
Zein tidak membawa banyak orang. Ia hanya membawa beberapa pengawalnya yang sudah terlatih. Dengan segera ia masuk ke dalam mobil bersama Ronald dan yang lainnya berada di mobil yang berbeda. Kedua mobil tersebut langsung melaju dengan kecepatan maksimal. Satu mobil besar berkapasitas hingga mencapai delapan orang berada di belakang mobil Zein.
Sementara itu, mobil yang di tumpangi Zein hanya muat untuk dua orang saja. Ronald yang sudah sangat mahir mengendarai mobil Bugatti Chiron milik Zein. Tampak cekatan dalam mengendarainya.
Sepanjang perjalanan, Zein begitu cemas memikirkan Rania, ia sudah bisa menebak, bahwa di balik semua kegilaan ini. Pasti tidak lain ulah dari mantan kekasih istrinya.
Banyak sekali ketakutan Zein terhadap Rey, salah satunya adalah. Takut Rey menyentuh Rania. Dia tidak bisa membayangkan jika sampai itu terjadi. Pasalnya Rey begitu terobsesi dengan Rania, bahkan ingin memiliki dan merebut kembali Rania dari tangannya.
"Apa menurutmu Rania akan baik-baik saja?" tanya Zein pada Ronald yang duduk di sampingnya sambil memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Tentu saja, tuan. Dia tidak akan berani menyakiti Nyonya." balas Ronald, mencoba menghalau rasa takut yang kini merajai tuannya.
"Aku tahu soal itu, maksudku... Apa dia sanggup menyentuhnya?" tanya Zein sekali lagi. Dengan wajah geram, mengepal kedua tangannya dan memukulkan tangan kanannya pada pijakan tangan, di sebelah kanan sisi mobil.
"Semoga saja dia masih punya nurani, tuan. Tenanglah...!" sahut Ronald, masih dengan mata yang fokus menatap jalanan di depannya. Pasalnya ia mengendarai mobil itu dengan kecepatan yang melebihi kecepatan mobil biasa pada umumnya.
Mendengar ucapan Ronald, seketika Zein langsung memalingkan wajahnya ke arah Jeremi dan menatap tajam. "Apa kau pikir, orang yang memiliki nurani, sanggup melakukan hal gila seperti ini?"
Glek... Ronald diam, dan hanya menelan ludah, dan masih tetap fokus pada mobil yang dikendarainya. Selama ia mengikuti Zein bertahun-tahun, bari kali ini ia melihat Zein begitu cemas dan marah. Jelas terlihat ada raut kemarahan yang mendalam serta tatapan mata yang mencekam layaknya seekor singa yang ingin memangsa lawannya.
"Ayolah... Apa kau bisa lebih cepat lagi memacu mobilnya? Kapan kita akan sampai jika kecepatan mobil ini begitu lelet?" Zein meminta Ronald untuk memacu mobilnya lebih cepat lagi.
Ya Tuhan... Yang benar saja? Tuan, aku sudah memacu mobil ini dengan kecepatan di atas rata-rata...! Bagaimana mungkin mobil tercepat di dunia sekelas Bugatti Chiron dengan kecepatan mencapai hingga 463 km/jam ini masih bisa kau sebut lelet? Batin Ronald heran.
Pasalnya, untuk ukuran mobil tercepat di dunia seperti Bugatti Chiron buatan amerika yang dimiliki Zein itu, bisa membuatnya sampai di lokasi dengan waktu yang lebih cepat di banding mobil biasa pada umumnya yang memerlukan waktu berjam-jam.
Namun meski demikian, Ronald harus tetap mengkondisikan kecepatan mobil itu ketika ia mengendarainya di jalanan umum.
"Tuan, mohon untuk tenangkan pikiran anda! Kita akan segera sampai di lokasi itu lebih cepat dengan mobil ini." Ronald meminta Zein untuk tetap bersikap tenang dalam perjalanan. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Zein terlihat sedang mengatur emosinya agar tetap tenang.
Awas saja kau Rey... Jika kau berani macam-macam pada istriku...!! Batin Zein mengancam.
Sementara itu di tempat Rey.
Di sebuah rumah mewah, di tengah perkebunan cengkeh milik Rey, tempat yang terpencil dan jauh dari perkotaan.
Rania terkunci di dalam kamar dan masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat penenang. dengan posisi tidur di atas ranjang kedua tangan dan kakinya yang masih terikat. Sebelumnya ia tidak sadarkan diri karena di berikan obat penenang, saat dirinya melakukan perlawanan dan mencoba keluar dari dalam mobil. Hingga akhirnya orang suruhan Rey terpaksa memberikan obat penenang lalu mengikat kedua tangan dan kakinya, begitu sampai di rumah milik Rey, dengan cepat Rey berjalan mendekati mobil tersebut dan menggotong tubuh Rania yang sudah tidak sadarkan diri akibat obat pemenang. Lalu meletakkan tubuh Rania di atas ranjang dan menyelimutinya dalam keadaan kedua tangan dan kaki yang masih terikat. Sambil menunggu Rania sadar, Rey duduk di atas sofa hingga membuatnya lelah dan memejamkan matanya.
Rania yang sudah mulai sadarkan diri, perlahan membuka kedua matanya. Pandangannya sedikit kabur akibat pengaruh obat penenang. Berkali-kali ia mengedipkan kedua matanya, memutar kedua bola matanya. Dilihatnya langit-langit kamar, lalu matanya mulai memutari seluruh ruangan.
Aku ada di mana? Batinnya menerka bahwa dirinya sedang berada di mana.
Perlahan ia mulai menggerakkan kedua tangan dan kakinya, namun sayangnya kedua tangan dan kakinya terikat hingga membuatnya sulit bergerak. Rania mencoba mengingat hal terakhir yang di lakukannya sebelum tidak sadarkan diri. Beberapa detik kemudian ia mulai mengingat. Arggh... Sialan, beraninya dia mengikat tangan dan kakiku seperti ini? Batinnya meronta kesakitan.
Rania mencoba bangun dengan memiringkan dan melengkingkan tubuhnya. Begitu ia bangun, betapa terkejutnya ketika ia melihat Rey sedang duduk di sofa dengan kedua tangan melipat dan masih dalam kondisi mata terpejam.
Cih... Sialan, benar saja dugaan-ku. Rania menggerutu kesal begitu tahu dalang dibalik semua ini adalah mantan kekasihnya sendiri.
__ADS_1
Dengan segera Rania menggeser tubuhnya secara perlahan karena sulit baginya untuk bergerak cepat dengan kondisi tangan dan kakinya terikat, baru saja ia menurunkan kedua kakinya yang terikat hingga menyentuh bagian lantai.
"Apa kau sedang berusaha melarikan diri dariku?" suara Rey mengagetkannya, hingga membuatnya terkejut dan berbalik melihat ke arah Rey dengan tatapan mata sinis.
"Hah... Aku tidak menyangka kau bisa melakukan tindakan sepengecut ini..." ucap Rania dengan nada sinis.
"Kaulah yang membuatku menjadi seperti ini, Rania." balas Rey sembari tersenyum getir.
"Dasar tidak tahu diri, sudah meninggalkanku begitu saja, kini mengganggu kehidupan yang sudah bahagia dengan suamiku." timpal Rania.
Mendengar ucapan Rania barusan, membuat Rey menggertakkan giginya, seketika wajahnya berubah terlihat merah padam. Ada raut wajah penuh amarah, seolah cemburu dengan pernyataan Rania yang menegaskan bahwa dirinya sudah bahagia bersama suaminya.
Rey pun mendekati Rania, duduk di samping Rania yang tengah duduk di tepi ranjang. Namun seolah tampak jijik dirinya berdekatan dengan Rey, Rania pun menjatuhkan dirinya hingga tergeletak di atas lantai."Aw..." Teriak Rania kesakitan karena jatuh dalam kondisi tangan dan kakinya yang masih terikat.
Cih... Apa kau merasa jijik padaku, Rania? Gumam Rey kesal. Membuatnya tersenyum getir, begitu banyak hinaan yang ia dapatkan dari mantan kekasihnya sekarang.
Kini ia pun beralih dari atas ranjang dan mendekati Rania kembali.
"Mau apa kau, brengsek?" belum sempat Rey mendekatinya, Rania langsung memakinya dengan kata brengsek. Membuatnya merasa semakin geram dan terhina oleh kata-kata wanita yang sangat dicintainya.
"Jangan sekasar itu padaku, Rania...!!" ucap Rey dengan tegas.
"Cih... Kau bilang aku kasar? Apa tidak sebaliknya? Bukankah kau yang lebih dulu bersikap kasar padaku?" bentak Rania.
"Aku tidak pernah berbuat kasar padamu. Sebaliknya, aku sangat menyayangimu, Rania." balas Rey dengan suara lembut.
"Lalu apa artinya ini, Rey? Kau sengaja membuatku hilang kesadaran, mengikat kedua tangan dan kakiku, lalu mengurungku di sini...! Ini jauh lebih kasar daripada perkataan buruk manusia yang melukai. Bahkan kau tidak pantas mengucapkan kata sayang untuk perlakuan burukmu saat ini terhadapku...!!" dengan penuh emosi, Rania mengatakan kalimat itu di depan wajah Rey, hingga membuat Rey hilang kesabaran dan mencoba membungkam mulut Rania yang terus memaki dirinya dengan tangan kanannya.
Dengan segera Rania menepis dan memalingkan wajahnya, menggeser tubuhnya perlahan demi menjauhi laki-laki di depannya yang memperlihatkan wajah merah padam seolah ingin menerkam dirinya. Sampai akhirnya gerakannya berhenti di ujung tembok hingga membuatnya tak mampu lagi bergerak, sementara itu Rey justru merangkang dan mendekati Rania hingga berhenti tepat di depan kaki Rania yang terlihat menekuk ke atas mencoba membuat perlindungan diri.
"Cih... Mimpi, Jangan harap aku bisa berlaku baik padamu setelah perlakuan kasar-mu padaku...! Aku tidak perlu memohon ampun pada laki-laki brengsek sepertimu...! Dan bersiaplah, karena sebentar lagi suamiku akan datang dan memukul tubuhmu hingga seluruh tulang-mu remuk di buatnya...!!" Alih-alih menuruti permintaan Rey, Rania justru menantangnya dengan kalimat yang menohok hingga merobek hati dan harga diri laki-laki yang begitu tertunduk mencintainya hingga melakukan segala cara demi mendapatkannya.
"Hahahaha... Kau pikir dia akan selamat begitu saja melewati orang-orangku di sini? Sebelum dia bisa masuk dan berhasil menolong-mu, kau akan melihat mayatnya tergeletak di depan mata kepalamu sendiri. Apa itu yang kau inginkan?" ucap Rey dengan nada menggertak.
Deg... Mendengar kalimat tak berhati yang dilontarkan mantan kekasihnya itu. Membuat tubuh Rania bergidik dan bergetar hebat. Nampak jelas ada raut ketakutan di wajahnya.
"Jangan pernah menyakitinya, atau kau akan menyesal." balas Rania meski dengan suara bergetar.
"Hahaha... Apa barusan kau sedang mengancam-ku?" dengan santainya, Rey malah membalas ucapan Rania dengan tawa yang merendahkan.
"Tentu saja! Lebih dari itu, kau akan menyesal seumur hidupmu." Jawab Rania singkat.
"Wah...wah...wah... Ancaman-mu terdengar sangat manis di telingaku." timpal Rey sembari tersenyum meledek.
"Kau berubah Rey... Kenapa kau berubah seperti ini? Aku bahkan kehilangan dirimu yang dulu, bisakah kau menerima kenyataan ini tanpa melukai hatiku untuk kedua kalinya?" ucap Rania dengan lirih dan mata yang siap menumpahkan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
"Kaulah yang membuatku berubah, Rania!! Andai kau setia dan menungguku kembali!! Andai kau tidak menghianati-ku atas pernikahanmu dengannya, andai kita bisa bersama lagi? Kita tidak akan saling melawan seperti ini, dan kau juga tidak akan membenci-ku seperti ini. Jujur saja hatiku sakit setiap kali dengan entengnya kau memakiku. Tidakkah kau melihat ketulusanku? Kau tega melukaiku begitu dalam." Rey meluapkan semua perasaannya yang masih utuh terhadap Rania.
"Andai kau dulu tidak meninggalkanku, andai kau tidak berubah sekasar ini, dan andai kau bisa menerima semua ini? Mungkin aku tidak akan membencimu Rey! Saat ini, aku hanya mencintai suamiku, dialah orang yang telah menyembuhkan luka di hatiku karenamu. Dialah malaikatku yang akan terus mendampingiku. Jadi, aku mohon. Berhentilah membuat kekacauan dalam hidupku...!!" Rania mencoba mengungkapkan isi hatinya pada Rey, hatinya yang telah mengering terhadapnya, hatinya yang kini telah di penuhi oleh semua kebaikan dan kasih sayang suaminya.
Mendengar Rania mengungkapkan isi hatinya yang kini telah mencintai suaminya, justru membuat Rey semakin marah.
__ADS_1
"Apa kau tahu, Rania? Bagaimana aku melewati kehidupan beberapa tahun lalu tanpamu? Bagaimana aku berusaha melindungi-mu meski aku harus mendapat predikat buruk di hatimu? Aku mengikuti keinginan orang tuaku untuk meneruskan bisnis mereka yang mengharuskan-ku tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun, jika aku tidak mengikuti mereka dan tetap tinggal di sini, mereka mengancam-ku akan melukaimu jika sampai aku menentangnya. Mereka tidak mengizinkan-ku untuk berkirim pesan dengan alasan takut mempengaruhiku dalam berbisnis, apa kau tahu? Betapa kerasnya mereka terhadapku. Bahkan untuk sekedar bertemu denganmu dan memberikan penjelasan sekaligus melihat wajahmu saja mereka tidak mengizinkan. Sampai pada akhirnya mereka telah tiada dan harapanku padamu kembali memuncak. Namun yang aku dapatkan hanyalah berita kehancuran atas hatiku yang kau khianati. Dan kini, dengan mudahnya kau mengatakan bahwa aku tidak lagi ada di hatimu. Dalam hal ini, kaulah yang lebih kejam, Rania." sekali lagi, Rey mengungkapkan seluruh isi hatinya yang terluka.
Rania yang termenung dalam diamnya, mencoba menghayati setiap perkataan Rey yang begitu panjang, sesekali ia menghela napas, perlahan bulir kecil di pelupuk matanya mulai turun dan membasahi pipinya, mengalir hingga jatuh. Meski ia merasa sesak ketika mendengar kenyataan yang sesungguhnya dari mulut Rey. Namun tetap saja, baginya. Zein adalah laki-laki yang akan tetap ia dampingi sampai kapanpun, dan menganggap Rey bagian dari masa lalunya yang harus terkubur dalam.
"Meski kau menjelaskannya sekarang, kenyataannya aku sudah bukan lagi milikmu Rey. Suka atau tidak! Kau harus menerima kenyataan ini...! Dan lepaskan aku dari sini...!" ucap Rania pelan, sambil sesekali mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Mari kita perbaiki semuanya dan memulai dari awal, Rania... Aku mohon kembalilah padaku...!! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." bujuk Rey sambil berusaha memegang tangan Rania, namun dengan cepat Rania melepaskan dan menangkisnya.
"Cukup Rey...! Aku mohon hentikan omong kosong-mu. Dan lepaskan aku...!" pinta Rania.
"Maafkan aku Rania, aku terpaksa melakukan ini..! tidak ada seorang pun yang bisa memilikimu." ucap Rey seolah kehilangan akal sehatnya.
"Apa maksudmu Rey?" tanya Rania cemas.
"Aku akan mengurungmu di sini, memiliki seluruh tubuhmu untuk bisa ku sentuh setiap hari." ucap Rey sambil mencoba mencium bibir Rania, namun sayang ia tidak berhasil. Dengan cepat Rania mendorong tubuhnya meski dengan kaki terikat, hingga membuatnya bergeser. Tubuhnya yang kuat dan kekar cukup untuk bisa menahan dirinya dari tendangan kaki Rania yang tak seberapa, terlebih dengan kaki yang terikat.
Tidak menyerah, Rey kembali mendekat dan berusaha menciumi bibir Rania. Namun Rania melawan dengan memukulkan tangannya yang terikat itu ke wajah Rey, hingga mengenai bagian hidungnya dan membuat hidungnya mengeluarkan darah perlahan.
"Ma... Maafkan aku, Rey!" melihat darah yang mengalir dari lubang hidung Rey, membuatnya takut.
"Meski kau menyakitiku, aku tidak akan melepaskan-mu!" ucap Rey dengan senyum getirnya seolah menantang. Kini ia memegang tangan Rania yang masih terikat dan menindih kaki Rania hingga membuatnya tidak bisa melawan.
"Rey aku mohon jangan lakukan ini, hiks." sambil terisak tangis, Rania meminta belas kasih agar Rey melepaskannya.
Melihat Rania menangis saja tidak membuat Rey merasa iba, justru ia semakin menjadi dan melancarkan aksinya, ia berusaha mendaratkan bibirnya pada bibir Rania. Namun belum sempat ia mendaratkannya dan ******* habis bibir mungil Rania, Rania justru menutup bibirnya dengan sangat kencang dan memilih menggigit bibirnya sendiri.
Melihat perlawanan Rania justru membuatnya semakin menjadi. Ia justru merobek paksa lengan baju Rania hingga memperlihatkan setengah bagian dada Rania.
"Aku mohon jangan lakukan ini Rey...! Bagaimana mungkin kau ingin menyentuhku? Sementara suamiku saja belum pernah menyentuhku...! Jika kau menyentuhku, aku pastikan kau akan melihat mayatku di depan wajahmu...! Hiks... Hiks..." sambil terisak tangis, Rania berteriak menangis sejadi jadinya hingga membuat darah mengalir dari dalam bibirnya.
Melihat bibir Rania yang berlumur darah, membuat Rey terkejut bukan main. Seketika ia lemas dan menghentikan amukannya. Perlahan air mata menetes dari pelupuk matanya, ia tampak gugup, dengan tangan bergetar, ia mencoba menyentuh bibir Rania dan berusaha mengusapnya. Namun Rania memalingkan wajahnya penuh kemarahan. Pipinya basah berlumur air mata yang mengalir deras sepanjang dirinya melakukan pemberontakan atas amukan Rey yang ingin menyentuhnya.
Rey tampak bingung melihat darah yang mengalir deras dari bibir Rania hingga menetes dan membuat bintik noda merah di baju putih yang dikenakan Rania.
"Ma.. Maafkan aku, Rania!" dengan gugup Rey meminta maaf dan merasa bersalah.
Sementara itu Rania tampak lemas dan menyandarkan kepalanya di tembok dengan bibir yang terus mengalirkan darah.
Belum sempat Rey mengusap bibir Rania yang penuh darah. Suara pintu terpental dengan sangat keras akibat dobrakan dari luar pintu, membuat Rey terperanjat. Dan membalik badan.
Sementara itu Rania tampak lemas dan menutup matanya. Ia tidak bisa melihat darah, apa lagi darah itu keluar dari bibirnya sendiri hingga membuatnya lemas hampir tak berdaya.
*Bersambung.
**Please jangan pelit-pelit buat VOTE...!
Mohon hargai tulisan author yang butuh waktu dan pikiran di balik setiap UPDATE yang kalian minta.
Cuma minta dukungan➡️LIKE, KOMEN, KLIK FAVORIT, KASIH BINTANG LIMA DAN VOTE...!!
inget yah readersku tercinta 🤗
__ADS_1
VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🤗❤️**