
Setelah Tania duduk dan menutup pintu mobilnya, Ronald pun segera memacu mobilnya dengan kecepatan standar. Saat ini ia sedang tidak membawa mobil sendirian, melainkan membawa Tuan dan Nyonya beserta adiknya. Terlebih kondisi Rania yang saat ini sedang hamil, membuatnya harus berhati-hati saat mengendarai mobil.
Kini mereka sudah memasuki jalan tol, puncak tujuan mereka masih lumayan jauh dan memakan waktu yang tidak sebentar dari jakarta. Rania ingin perjalanan liburan menjadi kesan yang indah baginya dan yang lainnya, seolah tak ingin melewatkan waktu berharga dalam setiap momennya. Rani meminta Ronald untuk menyalakan musik bertemakan liburan.
"Ron... Coba setel musik, dari pada sunyi gini." perintah Rania pada Ronald.
Ronald mengangguk setuju. "Baik, Nyonya."
Tangannya mulai bergerak menekan tombol ON pada audio mobil.
Seperti perintah Nyonyanya, Ronald pun memilih beberapa lagu bertema liburan. Musik pun mulai menemani perjalanan mereka.
"Sayang... Kau istirahatlah, perjalanan masih sangat panjang." pinta Zein pada Rania.
" Aku tidak ngantuk." balas Rania singkat.
Cih... Zein hanya berdecak mendengar jawaban Rania.
"Ron... Aku tidak suka musik ini, bisakah kau. Menggantinya?" Rania meminta Ronald untuk mengganti musik.
"Baik, Nyonya... Nyonya ingin lagu yang seperti apa?" dengan sopan Ronald bertanya musik pilihan Rania.
"Hem... Aku mau lagu naik-naik ke puncak gunung." kata Rania sambil tersenyum.
Entah kenapa, begitu Rania mengucapkan permintaannya tentang lagu pilihannya, semua mata seolah tertuju pada Rania dengan lirikan penuh rasa heran. Namun tidak termasuk Ronald, Ronald tetap fokus pada pandangannya melihat jalan meski ia pun terkejut mendengarnya.
"Kakak... Itukan lagu anak-anak." Tania menoleh wajahnya ke belakang dan menatap wajah Rania dengan heran.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" jawab Rania dengan wajah santainya.
"Sayang... Kita tidak sedang berlibur bersama anak TK...!" Zein membela Tania.
Tania tampak tersenyum geli mendengar ucapan Zein barusan. Begitupun dengan Ronald, ia tampak sedang menahan tawanya.
"Sayang... Memangnya kau tidak pernah menjadi anak kecil?" bantah Rania.
Zein hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya.
"Sudah... Lakukan saja perintahnya." ucap Zein sambil melirik wajah Ronald.
Ronald mengangguk setuju. "Baik, Tuan."
Dan akhirnya Ronald pun menyalakan lagu yang di minta oleh Rania.
Ya, sepanjang jalan menuju puncak, lagu naik ke puncak gunung itu menemani telinga mereka. Rania tampak begitu menikmati lagu tersebut sembari menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Tania dan Ronald hanya diam sepanjang jalan. Tania yang asik melihat pemandangan alam di balik jendela kaca mobil, sedangkan Ronald tetao fokus pada pandangannya melihat jalan meski sesekali ia melirik pandangan ke arah Tania.
__ADS_1
Sementara itu, Zein yang biasanya tertidur di jalan saat perjalanan jauh dan memakan waktu, ia tampak terjaga sambil memeluk tubuh istrinya yang menyandar di bahunya dengan mata terpejam. Seolah tak ingin melewatkan waktu liburannya bersama istrinya.
Jarak perjalanan yang cukup lama, akhirnya Zein memilih merebahkan Rania di kursi mobil yang bisa di ganti posisi menjadi seperti kasur. Begitu pun dengan Zein, ia ikut menidurkan kursinya menjadi posisi seperti kasur.
Sesekali Tania menoleh ke belakang.
Cih... Mereka sudah tidur saja. Batin Tania berdecak.
Sementara itu, Ronald masih tetap fokus pada jalan di depan.
"Kak..." panggil Tania.
Tanpa menoleh wajah dan tetap fokus pada arah jalan, Ronald hanya menjawab. "Ya..."
Dia terlihat semakin tampan dengan baju santai seperti itu. Batin Tania memuji.
Untuk pertama kalinya ia melihat Ronald dengan pakaian santai seperti itu. Ada raut kekaguman dalam hati Tania.
"Ada apa?" tanya Ronald.
"Hem... Lagunya di ganti saja...! Lagi pula, kak Rania tidak akan mendengar karena sedang tidur" ucap Tania mengalihkan maksudnya.
Sebenarnya ia ingin bertanya kenapa Ronald ikut dalam acara liburan kakaknya. Tapi Tania terlalu malu di depan Ronald yang selalu bersikap dingin dan cuek.
"Oh... Ganti saja." jawab Ronald datar.
Cih... Giliran kak Rania yang minta setel lagu, dia langsung patuh, aku malah suruh ganti lagu sendiri. Dasar cowok kaku. Batin Tania kesal.
Cih... Tania berdecak sembari melirik dengan lirikan tajam.
Tanpa menjawab, Tania langsung mengarahkan tangannya pada audio mobil memilih-milih lagu yang ingin di dengarnya.
Ah... Lagu ini saja. Gumamnya.
Kenapa selera musiknya sama denganku? Batin Ronald heran.
Ronald pun menoleh wajahnya dan melirik wajah Tania untuk beberapa detik.
Melihat dirinya sedang dilihat, Tania pun bersuara.
"Kenapa...? Kalau kakak tidak suka dengan lagunya, ganti saja sendiri." ucap Tania dengan nada kesal.
Ronald hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar kalimat itu dari Tania.
Kini mereka sudah memasuki daerah puncak, sudah terlihat pemandangan bukit nan hijau serta jalan yang mulai berlaku dan tajam. Sesekali kabut mulai menutupi pandangan mereka.
Dengan sangat hati-hati Ronald mengendarai mobil yang sudah mulai menanjak.
__ADS_1
"Wah... Indahnya, sudah lama tidak melewati tempat sejuk ini." kata Tania dengan wajah menatap jendela kaca.
Tania membuka sedikit jendela kaca mobilnya, berusaha menikmati sejuknya udara puncak saat itu dengan menarik napas.
Ronald yang melihat tingkah Tania saat itu hanya tersenyum sembari sesekali mencuri pandangan ke wajah Tania di sela-sela mengemudinya.
Ada satu hal yang membuat Ronald penasaran saat mendengar Tania mengatakan bari menikmati udara sejuk lagi. Dalam pikirannya, apa mungkin di pernah pergi ke puncak bersama pacarnya?
Karena terlalu penasaran, akhirnya Ronald yang biasanya jarang bertanya pun memberanikan diri untuk bertanya pada seorang wanita yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
"Kau pernah ke puncak sebelumnya?" Ronald bertanya dengan nada penasaran.
"Ya... Tentu saja." jawab Tania singkat. Matanya masih menikmati pesona alam yang membuatnya tak berkedip saat melewati setiap sudut jalan.
"Dengan siapa kau ke sini?" tanya Ronald lagi.
"Tentu saja dengan temanku." jawab Tania datar.
"laki-laki atau perempuan?" tanyanya lagi.
Ada apa dengannya? Kenapa dia perduli sekali? Apa bedanya laki-laki atau perempuan? Cih... Dasar aneh. Batin Tania heran.
"Memangnya kenapa?" tanya Tania.
Tania tampak menatap wajah Ronald.
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya." jawab Ronald menepis rasa penasarannya.
"Oh..." Tania hanya membalas dengan suara.
Ronald tampak kesal karena pertanyaan tidak mendapatkan Jawaban dari Tania. Ia tampak fokus pada arah jalan dan berhenti bertanya.
Tiba-tiba Rania terbangun dari tidurnya, begitupun dengan Zein. Melihat Rania bangun, Zein pun ikut bangun.
Hoaaaam... Rania menguap.
"Apa kita sudah sampai, Ron?" tanya Rania saat dirinya sudah bangun dari tidurnya.
Sementara itu, Zein tampak sedang menekan tombol agar kursinya dan Rania kembali ke posisi semula.
Bersambung\=\=\=>
Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.
Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊
Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗
__ADS_1
Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.
Terimakasih. 🙏🏻