
Dengan segera Rania menghubungi suaminya.
Ada apa Rania menghubungiku? Batin Zein ketika melihat kontak dengan tulisan Sayang memanggilnya melalui telepon.
Tanpa menunggu lama, Zein yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju kediaman Rey, segera menjawab panggilan dari Rania.
"Sayang... Ada apa tiba-tiba menghubungiku? Apa kau merindukanku?" jawab Zein menggoda istrinya dari seberang telepon.
Tuh... Kan, pasti jawabannya seperti ini jika aku menghubungi duluan. Batin Rania kesal karena suaminya berusaha menggodanya melalui panggilan telepon.
"Em... Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu, sayang? Apa kau baik-baik saja hari ini di kantor?" tanya Rania dari dalam telepon.
"Astaga... Ternyata istriku tercinta ini bisa menghawatirkanku juga yah." ledek Zein dari seberang telepon.
Yah... Mulai deh, percaya dirinya keluar lagi. Batin Rania.
"Pffft... Syukurlah kalau kau baik-baik saja." jawab Rania singkat.
Memangnya kenapa menghawatirkanku? Biasa juga dia tidak pernah menghubungiku di waktu seperti ini. Batin Zein penuh selidik.
"Sayang... Kau baik-baik saja kan?" tanya Zein penasaran.
"Iya... Aku baik-baik saja di rumah." Rania menjawabnya pelan.
"Ya sudah... Aku sedang dalam perjalanan, jika urusan pekerjaan sudah selesai, aku akan segera pulang. Kau baik-baik di rumah dan jangan lupa makan siang." balas Zein dari seberang telepon.
"Ya... " jawab Rania singkat lalu mengakhiri panggilannya.
Setelah selesai berbicara melalui ponsel dan mengetahui keadaan suaminya baik-baik saja, Rania pun merasa sedikit lebih tenang.
Eh... Tunggu, dia bilang sedang dalam perjalanan? Memangnya mau ke mana? Batin Rania penuh selidik. Ah... Bodoh sekali sih, kenapa tadi aku tidak sekalian menanyakannya? Pikiran lainnya, sembari memukulkan tangan ke sofa dengan lembut.
Aw... Rania kesakitan setelah memukulkan tangan kanannya di sofa meski tidak terlalu keras. sebab, luka dijari telunjuknya belum kering.
Apa aku telepon lagi yah? Rania membatin. Ah... Tapi pasti dia akan semakin besar kepala jika aku menghubunginya lagi. Batinnya lagi.
Lalu Rania pun segera beranjak dari duduknya untuk pergi ke dapur dan meneruskan kembali membuat kue yang sempat tertunda akibat gelas yang terjatuh hingga melukai jari telunjuknya. Namun kali ini Rania lebih berhati-hati.
🍀Di tempat Rey🍀
Setelah memakan waktu perjalanan selama satu jam setengah, akhirnya Zein beserta yang lainnya sampai di kediaman Rey.
Rumah yang berada di tengah-tengah perkebunan yang luas itu tampak besar dan megah. Terdapat pintu gerbang yang tinggi dan besar dan juga para penjaga yang berada di luar maupun di dalam rumah.
Begitu keluar dari dalam mobil, seketika Zein tertegun. Tempat yang mengingatkan tentang kejadian tragis beberapa minggu lalu hingga membuat istrinya terkena tembakan di bagian perutnya. Dalam benaknya, Zein tidak ingin menginjakkan kakinya lagi ke tempat itu, namun sayangnya saat ini ia harus kembali ke tempat itu untuk mengajar laki-laki yang sudah mencoba melukai istrinya untuk kedua kalinya.
"Tuan, mari kita ke dalam..!" suara Ronald membuyarkan lamunan Zein yang saat itu diam dan berdiri di depan gerbang.
"Tentu saja." jawab Zein singkat.
__ADS_1
Begitu sudah berada di depan gerbang, seorang penjaga datang dan menghampiri Zein dan yang lainnya.
"Tuan mencari siapa? Dan ada apa datang ke tempat ini?" tanya penjaga tersebut dengan wajah garang.
Baru saja Ronald ingin menjawab, tiba-tiba Zein menahannya bicara dengan gerakan mengangkat tangan setinggi kepala. Lalu berjalan mendekati penjaga tersebut.
"Panggil bos-mu keluar...! Dan katakan Zein menunggunya di luar." ucap Zein dengan suara tegas.
"Baik, tunggu sebentar." balas penjaga tersebut sembari berjalan mendekati sebuah pos dan menghubungi Rey melalui sambungan telepon.
Rey yang saat itu sedang asik menatap layar televisi di depannya sembari memegang segelas air mineral di tangan kanannya terkejut ketika mendengar suara telepon.
"Jeremi, angkat teleponnya." ucap Rey masih dengan tatapan menatap layar televisi.
"Baik, tuan." jawab Jeremi lalu berjalan mendekati telepon yang berada tidak jauh dari dirinya saat itu. "Ya, halo." Jeremi menyapa dari dalam telepon.
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Tuan Rey." ucap penjaga tersebut.
"Siapa?" tanya Jeremi penasaran.
"Namanya Zein, tuan." jelas penjara tersebut.
Zein... Apa aku tidak salah dengar? Ada perlu apa dia nekat datang ke kandang macan dan mencoba mengganggu macan yang sedang asik menonton televisi. Batin Jeremi penuh selidik.
"Siapa?" tanya Rey dengan suara lantang.
"Em... I-itu tuan." jawab Jeremi gugup, ia takut akan ada keributan lagi di rumahnya jika keduanya bertemu.
"Zein ingin menemui tuan." jawab Jeremi dengan lancar.
Zein... Ada perlu apa dia datang ke sini? Batin Rey penasaran.
"Apa dia sudah ada di sini?" tanya Rey tergesa, masih menikmati acara televisinya di atas sofa.
"Iya, tuan. Zein saat ini sudah ada di depan gerbang dan menunggu tuan menemuinya di sana." balas Jeremi.
Sudah di depan...? Apa dia bersama Rania? Batin Rey penuh selidik.
Memikirkan Rania tiba-tiba membuatnya bersemangat hingga membuatnya segera beranjak dari duduknya di atas sofa lalu berjalan mendekati Jeremi.
"Buka gerbangnya dan suruh dia masuk ke dalam...!" Rey memerintahkan Jeremi sambil tersenyum getir.
Begitu Jeremi menyampaikan ucapannya, Rey kembali duduk di atas sofa sembari memegang gelas berisi air putih dan meneguknya.
"Tuan, silahkan masuk. Tuan Rey meminta tuan untuk masuk ke dalam." ucap penjaga gerbang tersebut.
Dengan segera Zein dan yang lainnya masuk ke dalam. Sembari berjalan menuju rumah Rey, sesekali Ronald memperingatkan. "Tuan, tolong kendalikan emosi tuan, jangan sampai terjadi kekacauan, pastikan apa Rey benar-benar terlibat. Karena aku tidak yakin dia benar-benar terlibat, aku takut ini hanya tipuan untuk mengkambinghitamkan Rey."
"Kau tidak perlu khawatir, setidaknya aku masih bisa berpikir dengan kepala dingin daripada laki-laki brengsek itu." jawab Zein dengan napas tersengal karena sembari berjalan.
__ADS_1
Begitu sampai di depan rumah, tanpa mengetuk pintu, Zein langsung membuka kasar hingga membuat Rey yang berada di dalam terkejut.
"Wah... Wah... Jadi begini caramu bertamu?" ucap Rey sembari bertepuk tangan dengan posisi sudah berdiri.
Tanpa basa-basi, Zein langsung melayangkan tinjunya pada wajah Rey.
Rey tidak mampu menangkis pukulan Zein saat itu, karena terlalu cepat. Terlebih dirinya tidak tahu menahu alasan Zein memukulnya.
Lalu Jeremi yang saat itu sedang berdiri di hadapan mereka melayangkan pistolnya dan mencoba mengarahkan pada tubuh Zein yang saat itu tengah merenggut baju Rey.
Menyadari Jeremi memegang pistol, Ronald pun segera mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan pada kepala Jeremi. Keduanya saling memegang senjata api di tangan dan bertatapan penuh selidik, sementara itu Zein kembali melayangkan pukulannya pada wajah Rey, namun kali ini Rey menangkisnya dengan cepat.
"Brengsek... Apa-apaan kau datang dan memukulku." ucap Rey dengan napas tersengal menahan sakit di wajahnya, lalu melemparkan tinjunya pada wajah Zein lalu mendorong tubuh Zein dengan keras hingga membuat Zein mundur beberapa langkah ke belakang namun tidak sampai membuatnya terjatuh.
Setelah keduanya saling memukul dan mendapatkan luka berdarah di sudut bibir mereka masing-masing.
Zein kembali mendekati Rey seraya berkata. "Dasar laki-laki pengecut, beraninya melakukan hal seperti ini pada mantan kekasihmu sendiri." sambil melayangkan pukulannya lagi ke arah wajah Rey, sayangnya Rey menangkis pukulannya.
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan Rania?" tanya Rey dengan suara lantang. Dan mencoba melayangkan pukulan ke wajah Zein.
Bugh, Rey melayangkan pukulan tepat ke wajah Zein hingga membuat Zein tersentak dan mengelap darah yang mulai mengucur di sudut bibir akibat pukulan dari Rey.
Dia pura-pura tidak tahu atau apa? Batin Zein.
Zein berdiri tegak lagi, mendekati Rey dan mencoba melayangkan kembali tinjunya tepat ke wajah Rey hingga akhirnya Rey tersungkur.
Kekuatan bela diri Zein memang lebih dari Rey hingga membuat pukulan keduanya membuat Rey jatuh tersungkur.
Sementara itu, Ronald dan Jeremi masih saling menodongkan pistol dengan tatapan penuh awas.
"Sepertinya ada kesalahpahaman, biarkan mereka menjelaskan satu sama lain." ucap Ronald pada Jeremi yang masih bingung dengan kondisi yang ada di depannya saat itu, keduanya masih dengan tangan memegang pistol dan saling menodong.
Rey masih tersungkur di atas lantai. Zein mendekati Rey seraya berkata. "Kau otak dari kejadian di Resort saat itu kan? Bagaimana mungkin kau menyuruh orang lain untuk mencelakai Rania?"
Mencelakai Rania? Apa dia sudah gila...? Batin Rey emosi mendengar pernyataan dari Zein.
Rey segera bangkit dari atas lantai seraya berkata. "Apa kau sudah gila? Kau pikir aku sanggup untuk menyakiti wanita yang masih aku cintai sampai detik ini?" Rey mengucapkannya dengan lantang hingga membuat Zein mengurungkan pukulannya lagi.
"Ini buktinya...!" Zein melempar berkas yang sengaja di bawanya untuk menunjukkan bukti pada Rey.
Lalu Rey meraih berkas itu dan dibukanya.
Braaaaak
Rey melempar berkas itu setelah selesai melihat dan membacanya. "Brengsek... Siapa orang yang beraninya menyakiti wanita yang aku cintai dan mengkambinghitamkan diriku atas kejadian ini?" ucap Rey dengan suara lantang, wajahnya berubah menjadi merah padam dan sorot mata tajam penuh amarah.
Bersambung\=\=\=\=>
Jangan lupa dukung author yah.
__ADS_1
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
Terimakasih untuk setiap dukungan dari kalian. 🤗