Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Mencurigai Yina


__ADS_3

Kemudian Zein melepaskan pelukannya seraya berkata. "Oh ya... Sayang, Kau bilang tadi membuat kue untukku ya? Mana kuenya...?" Zein merayu.


"Ada di bawah, nanti aku ambilkan sekalian temanmu juga." balas Rania dengan ekspresi datar karena masih kesal dimarahi suaminya.


"Sayang... Jangan cemberut dong... Atau kau sedang memancingku untuk menciummu?" goda Zein seraya menggelitik pinggang Rania.


"Ah.. Geli... Apaan sih kamu, Zein?" Rania berjingkak dengan sedikit teriakan karena merasa geli dikelitiki suaminya.


"Makanya... Senyum dong." bujuk Zein sembari menunjukkan senyumnya.


Cih... Kekanak-kanakan sekali kalau lagi begini. Batin Rania berdecak melihat tingkah suaminya yang kadang terlihat kekanak-kanakan di depannya.


"Sayang... Memangnya apa yang terjadi sampai wajahmu jadi seperti itu?" tanya Rania dengan wajah penasaran.


"Hmmm... Sebenarnya aku habis berkelahi dengan mantan kekasihmu." Zein berusaha untuk jujur pada Rania.


"Apa...? Bagaimana bisa?" tanya Rania terkejut.


"Sebenarnya ini hanya salah paham saja, dari sekian bukti yang diberikan Ronald tentang penyelidikannya terhadap laki-laki itu mengarah pada Rey." jelas Zein dengan wajah bersalah karena telah memukuli Rey beberapa kali. Rania mendengarkannya dengan serius tanpa bergeming dari menatap wajah suaminya yang sedang memberi penjelasan.


"Tapi ternyata... Setelah aku menemuinya, pelakunya bukanlah dia, melainkan orang lain yang mengkambinghitamkan dirinya, hingga membuatku mendatanginya dan terjadilah baku hantam antara aku dan dia sampai terjadi seperti ini." jelas Zein.


"Lalu?" tanya Rania lagi dengan wajah penasaran.


Kenapa dia tampak penasaran? Apa dia masih menyimpan rasa padanya? Batin Zein menerka raut wajah istrinya yang menunjukkan kecemasan. Entah mencemaskan dirinya atau mantan kekasihnya?


"Ya akhirnya kami saling baku hantam, kau bisa lihat dari wajahku?" jelas Zein dengan ekspresi datar.


Seketika Rania diam dan berusaha mencerna penjelasan suaminya. Dalam benaknya, pasti keduanya saling memukul satu sama lain, apa lagi mengenal sifat Rey yang lebih tempramental daripada suaminya.


"Sayang... Apa kau sedang mencemaskannya?" ucapan Zein membuyarkan lamunan Rania.


"Tentu saja aku mencemaskanmu, sayang... " sahut Rania sembari tersenyum dan memeluk tubuh suaminya.


Cih... Bagaimana mungkin dia berpikir aku mencemaskannya? Batin Rania kesal karena Zein mencurigainya masih memiliki rasa pada Rey.


Rania sudah membuang jauh rasa cintanya terhadap Rey. Laki-laki yang telah mengabaikannya selama enam tahun dan terlebih melukainya hingga ia harus mendapatkan bekas luka tembak di bagian perutnya. Membayangkan kejadian itu saja sudah membuat tubuhnya bergidik, seolah membuka luka lamanya.


"Astaga... Aku melupakan David lagi, sayang... Aku turun dulu dan menemui David ya. Kau istirahatlah." ucap Zein sembari mengecup kening Rania, beranjak dari duduknya dan berjalan menuruni tangga dengan tergesa.


Begitu sampai di ruang tengah, Zein melihat David sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan santai.


"Cih... Bangunlah, jangan pura-pura tidur." ucap Zein sembari melihat David dengan tatapan sinis.


"Haaah... Aku pikir kau melupakanku lagi." David mengangkat tubuhnya dan merubah posisinya dari tiduran menjadi duduk dengan kepala miring ke samping.


"Jadi... Apa yang mau kau katakan kemarin di telepon, Vid?" tanya Zein penasaran sembari duduk si samping David.


"Hmm... Apa yah... Aku sampai lupa." David berusaha meledek dengan menunjukkan wajah pura-pura lupa.


"Apa kau ke sini hanya untuk mengatakan ini? Kau ingin aku mengembalikanmu ke london? " balas Zein sembari mendekatkan wajahnya pada David.

__ADS_1


"Hahaha... Ternyata memiliki kekuasaan itu enak ya." jawab David sembari tertawa meledek.


"Hahaha... Apa aku terlihat seperti itu?" balas Zein tertawa.


"Sedikit." balas David tersenyum meledek.


Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba Rania datang dengan membawakan sepiring kue cokelat buatannya yang sengaja dibuatnya untuk Zein.


"Silahkan di nikmati kue nya." ucap Rania sembari menaruh kue itu di atas meja.


Tanpa basa-basi, David langsung meraih kue yang terlihat menggoda di depan matanya tidak sabar untuk melahapnya.


Belum sempat David meraih kue itu, tiba-tiba Zein menangkis tangan David.


"Eits... Aku dulu yang mencobanya...! Ini kue pertama buatan istriku, kau beruntung bisa mencobanya malam ini." ucap Zein meledek.


Melihat tingkah suaminya, membuat Rania yang saat itu masih berdiri di samping Zein hanya tersipu malu.


Cih... Hanya kue saja sampai seperti itu. David bergumam sembari menggelengkan kepalanya.


Begitu Zein sudah melahapnya duluan, barulah David memakannya.


"Sayang... Ini enak sekali kuenya, pasti kau membuatnya dengan cinta ya?" Zein memuji kue buatan Rania.


Rania tersenyum mendengar pujian dari suaminya.


Hmmm... Mulai deh percaya dirinya keluar lagi. Lebih baik aku kembali ke kamar. Batin Rania.


Zein mengelus tangan Rania yang masih berada di atas bahunya seraya berkata. "Iya sayang... Pergi dan istirahat, sebelum kita memulai perang lagi nanti malam." sembari mengedipkan matanya ke wajah istrinya.


Cih... Mentang-mentang sudah menikah, seenaknya dia mengatakan itu di depanku. Dasar kau, Zein. David berdecakesal, tidak ada hentinya temennya memarkan kehidupan pernikahan di depannya.


Rania menepuk bahu suaminya dengan wajah malu karena ucapan suaminya barusan di depan David. Cih... Bisa-bisanya dia mengatakan itu di depan temannya? Rania berdecak kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke kamar.


Setelah Rania kembali ke kamar.


"Ngomong-ngomong... Apa yang ingin kau katakan kemarin di telepon?" tanya Zein sembari melahap kue buatan Rania.


"Sebenarnya aku tidak tahu ini benar atau hanya dugaanku saja." ucap David dengan wajah berpikir.


"Dugaan... Maksudnya bagaimana?" Zein semakin penasaran dengan ucapan temannya itu.


David meraih gelas berisi lemon tea yang di suguhkan Bibi Ros sebelumnya, kemudian meneguknya lalu meletakkannya kembali ke atas meja.


"Aku baru ingat, saat laki-laki itu tidak sengaja menabrak tubuhku, seingatku ia keluar dari arah yang tidak jauh dari kamar Yina." jawab David serius.


"Yina...? Maksudmu, kau mencurigai Yina dalam kasus ini?" tanya Zein penasaran.


"Argh... Bagaimana yah?" David menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa dan melipat kedua tangannya di atas dada. "Sebenarnya aku tidak ingin mencurigainya, namun entah kenapa dugaanku padanya semakin kuat ketika aku mencoba mencari tahu dengan meminjam ponselnya." lanjutnya.


"Apa yang lihat di ponsel Yina?" tanya Zein dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


David mengeluarkan ponselnya dari dalam jaketnya kemudian menyodorkannya pada Zein sembari menggeser layar ponselnya mencari foto screenshot dengan percakapan aneh antara Yina dengan seseorang. "Nih... Baca saja...!" David menyerahkan ponselnya pada Zein.


Zein pun penasaran dan segera melihat dan membaca isi pesan singkat itu. Setelah Zein melihat dan membacanya, sejenak ia berpikir.


Apa benar ya dugaan David? Kalau di hubungkan, memang tidak masuk akal juga laki-laki itu bisa keluar tanpa adanya koneksi dari dalam Resort yang sudah ditutup. Terlebih Yina adalah pemilik Resort itu. Batin Zein penuh selidik.


"Tapi jika dugaanmu benar? Apa motif Yina melakukan itu?" Zein bertanya dengan nada heran.


"Aku tidak tahu apa alasan Yina melakukan itu? jika benar Yina adalah otak dari kejadian di Resort kemarin. Tunggu... Apa mungkin Yina cemburu pada istrimu hingga melakukan hal nekat seperti itu?." sahut David sembari berpikir.


"Cemburu? Yang benar saja? Maksudmu dia memiliki perasaan untukku? Apa itu mungkin?" pertanyaan Zein memecah lamunan David hingga membuat David menatap penuh selidik ke wajah Zein yang saat itu menatap wajahnya penuh selidik.


Mendengar ucapan temannya, David pun berpikir sejenak dengan tatapan penuh selidik. Ia mengingat kembali pertemanannya dulu bertiga sewaktu masih kuliah.


"Zein... Sebenarnya dulu aku merasa seperti itu, aku merasa dia memang memiliki perasaan padamu, hanya saja. Setiap kali aku iseng bertanya padanya tentang siapa laki-laki yang dia cintai? Dia tidak pernah menjawab pertanyaanku dan hanya menertawaiku. Semenjak saat itu, aku tak pernah bertanya lagi tentang kehidupan cintanya." jelas David serius.


Zein diam dan berpikir.


"Kau sendiri... Apa kau tak tidak menyadari bagaimana perasaanya padamu? Apa kau tidak merasa aneh dengan sikapnya padamu selama ini?" David melayangkan pertanyaan yang membuat Zein semakin bingung hingga Zein masih diam dalam pikirannya yang sedang mengingat pertemanannya dengan Yina sebelumnya.


"Kalau dipikir, selama ini Yina tidak pernah mengenalkan pacarnya ataupun dekat dengan laki-laki manapun, menurutmu aneh gak sih Zein? Untuk seorang wanita yang cantik seperti dia tidak mungkin tidak ada laki-laki yang mendekatinya?" sambung David.


Dia benar. Batin Zein membenarkan ucapan David.


"Vid, bagaimana jika kita ke tempat Yina sekarang juga untuk memastikannya?" usul Zein.


"Apa kau memiliki bukti yang lebih akurat selain hanya foto screenshot yang aku miliki?" tanya David memastikan.


Pffft... Zein menghela napas lalu menggelengkan kepalanya.


"Entahlah... Pasalnya Aku tidak menaruh curiga sedikitpun pada Yina, terlebih bukti-bukti yang di dapat oleh Ronald mengarah pada Rey, dan setelah aku mendatanginya, dia bahkan terkejut dengan semua tuduhanku padanya." balas Zein dengan nada bicara lemas.


"Rey? Siapa itu Rey?" tanya David penasaran.


"Mantan kekasih istriku." jawab Zein malas. "Sudahlah, jangan membahas laki-laki itu." sambungnya.


"Cih... Kau mencurigai orang yang tidak pantas untuk dicurigai, Zein? Bagaimana mungkin mantan kekasihnya sanggup melakukan hal itu? Jika dia mau, dia bisa melakukannya sendiri tanpa meminta laki-laki lain untuk menyakitinya." David berdecak.


"Yah... Kau benar, aku terlalu diliputi rasa cemburu padanya hingga berakhir salah paham seperti ini." sahut Zein.


"Lalu bagaimana rencanamu, Zein?" tanya David.


"Kita ke tempat Yina sekarang juga!! Aku ingin memastikan apa benar dia pelakunya?" Zein bangun dari duduknya dan segera menghubungi Ronald beserta yang lainnya untuk menemaninya.


Sebenarnya bisa saja Zein memerintahkan orang suruhannya untuk menggeledah kediaman Yina dan memaksa Yina untuk datang padanya. Namun ia tidak sampai hati melakukan hal itu pada temannya sendiri. Untuk itu, ia memilih mendatangi Yina bersama David.


Bersambung\=\=\=\=\=>


Jangan lupa dukungannya ya.


➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.

__ADS_1


Terimakasih sudah setia membaca NYT.🤗


__ADS_2