Nama Yang Tertinggal

Nama Yang Tertinggal
Kemesraan Rania dan Zein


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tiga sore.


Setelah merasa bosan dengan kegiatan membacanya, Rania pun bergegas turun untuk menyiram tanaman dan bunga di halaman rumahnya yang luas.


Saat sudah selesai menyiram bunga dan Rania belum mendapati suaminya pulang. Ia pun berjalan menuju taman di belakang rumahnya.


Ada si Ponny di sana, Ya. Ponny adalah kuda milik Zein. Namun karena kesibukan Zein, membuatnya jarang sekali bermain bersama ponny untuk sekedar mengelilingi area rumahnya yang luas.


Namun Rania tidak pernah lupa pada Ponny, sesekali ia melihat Ponny untuk sekedar memberikan makan. Ada petugas khsusu dan merawat Ponny di sana. Meski Zein jarang sekali menengok Ponny, namun Ponny tidak pernah sendirian karena ada petugas yang menemaninya hingga mengurusnya.


Tidak lama Zein akhirnya kembali ke rumah.


"Rania sedang apa Bi?" tanya Zein pada salah seorang pelayan paruh baya, sembari meletakkan tasnya di atas meja.


Karena Bibi Ros sedang menemani Rania di belakang rumah melihat Ponny.


Ya, begitulah Zein menyayangi istrinya, ia bahkan tidak pernah tidak mengingat nama istrinya sekalipun di kantor, bahkan saat dirinya sedang sibuk pun. Ia tetap menghubungi orang rumah sebentar untuk sekedar tahu kegiatan istrinya di rumah.


Seperti saat ia datang, begitu sampai rumah, hal pertama yang ditanyakan Zein adalah keadaan istrinya.


"Nyonya sedang berada di belakang, tepatnya sedang melihat Ponny, Tuan." jawab pelayanan tersebut.


"Ok, terima kasih Bi." balas Zein sambil tersenyum.


"Sama-sama, Tuan." sahut pelayan tersebut.


Masih dengan pakaian kantornya, Zein menuju area belakang rumah untuk memastikan Rania memang benar ada di sana. Sambil berjalan ia berusaha melepaskan dasinya terasa tidak nyaman dan ingin segera di lepas.


Langkahnya mulai sampai, Rania yang melihat Zein berjalan mendekatinya sembari berusaha melepaskan dasi yang melingkar di lehernya pun mendekati Zein.


"Sayang... Kau sudah pulang." ucap Rania tersenyum sambil membantu Zein melepaskan ikatan dasi di lehernya.


Zein tersenyum lebar melihat Rania tersenyum saat dirinya pulang.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Rania sambil tersenyum.


"Berjalan lancar dan tidak ada masalah." jawab Zein.


Zein berjalan mendekati Ponny.


"Waaah... Kau sudah semakin tua ya Ponny. Maafkan atas kesibukanku ya." ucap Zein pada Ponny.

__ADS_1


Berbicara dengan Ponny, yaitu kuda kesayangan memang hal yang biasa bagi Zein. Menurutnya, meskipun ia hanya seekor hewan. Namun ia bisa melihat gerakan bicara dari manusia, meski tidak tahu apakah Ponny mengerti apa yang di bicarakannya, namun Zein percaya bahwa interaksi terhadap binatang itu perlu demi menguatkan hubungan mereka atas hobinya sebagai penunggang kuda si sela-sela kesibukannya.


Kini keduanya sudah berada di kamar mereka.


"Sayang..." panggil Rania.


Zein masih sedang melepaskan jas nya sambil bergegas untuk membersihkan diri. Zein sudah terbiasa membersihkan diri saat dirinya sampai dari kantor maupun saat dirinya tiba di rumah setelah perjalanan.


"Apa sayang...?" sahut Zein dengan nada menggoda.


Ia masih sibuk melepaskan pakaian hingga tersisa celana bagian dalam berukuran pendek.


"Besok... Apa boleh aku pergi ke butik?" tanya Rania dengan wajah mengiba.


Sesaat setelah melepaskan semua pakaiannya kecuali celana bagian dalam. Zein berjalan mendekati Rania yang saat itu sedang duduk menyandar di punggung kasur dengan kaki selonjor.


Zein duduk di tepi kasur sembari memegang tangan istrinya.


"Sayang... Apa kau yakin bisa menghadapi rasa mual dan juga pusing di kepalamu saat berada di butik?" tanya Zein dengan suara lembut.


"Tentu saja." jawab Rania dengan tegas penuh dan percaya diri.


"Hem..." Zein berdehem.


Ada tatapan penuh harap di mata Rania saat itu. Zein cukup mengerti, bahwa menjalani aktivitas di rumah seharian memang akan sangat menjenuhkan. Namun Zein juga tahu, bahwa di tengah kondisinya yang saat ini sedang hamil muda, tentu saja Rania tidak akan bekerja dengan fokus. Dari pada membuat istrinya stres karena lelah menghadapi teguran maupun saran dari para pelanggannya, lebih baik Rania tetap berada di rumah. Setidaknya itu lebih baik untuk beberapa bulan ke depan, saat kandungnya sudah bisa dikendalikan. Mungkin Zein akan mengizinkannya pergi mengurus butiknya.


"Tapi, sayang... Pekerjaanmu nanti bisa membuat pikiranmu stres, aku tidak mau ada apa-apa denganmu dan juga kandungamu." balas Zein mengingatkan.


"Tenang saja sayang... Aku bisa kok mengatasi kehamilanku saat di butik." jawab Rania percaya diri. "Dan lagi pula aku bosan di rumah terus." lanjutnya dengan wajah mengiba di depan suaminya sambil memegang tangan Zein seolah memohon.


Melihat Rania yang begitu kekeh, Zein yang tidak tega melihatnya hingga akhirnya mengizinkannya ke butik lagi mulai besok.


Mendengar anggukan dari suaminya, Rania tampak tersenyum sumringah. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Melihat Rania tersenyum lebar dan memancarkan aura bahagia, tentu saja membuat Zein ikut senang.


Tidak lama setelah membujuk suaminya, Rania pun mulai bergegas untuk pergi ke dapur membuatkan teh hangat untuk suaminya. Namun belum sempat ia beranjak dari duduknya di atas kasur. Zein menarik tangannya dan mendekap tubuh Rania seraya berbisik.


"Sayang... Sepertinya aku mulai oleng, bisakah kau. Memberi vitamin?" Bisik Zein di telinga Rania.


Vitamin...? Batin Rania bingung.


"Vitamin...? Bukankah Bibi selalu menyiapkan vitamin untukmu, sayang?" jawab Rania dengan wajah heran.

__ADS_1


Zein mengedipkan matanya seolah sebuah tanda.


Melihat suaminya mulai aneh, apa lagi mengedipkan matanya. Rania semakin bingung.


"Oh... Sebentar, biar aku ambilkan untukmu." jawab Rania sambil bangun dari duduknya.


Lagi-lagi Zein menghalanginya, seraya berbisik.


"Bukan vitamin yang itu, sayang... Kau tidak perlu mengambilnya di bawah...! Karena vitamin itu ada pada dirimu, kau hanya cukup membuka bajumu." bisik Zein dengan suara mesra.


Astaga... Hal itu saja ia sebut sebagai vitamin. Batin Rania Rania heran.


Saat sudah mulai paham kemana arah pembicaraan suaminya, Rania hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Karena sudah mendapatkan izin untuk pergi ke butik, Rania pun dengan senang hati mengiyakan tanpa menolak.


Melihat anggukan Rania sambil melempar senyum lebar, semakin membuat Zein tidak sabar untuk menikmati setiap bagian tubuh istrinya.


"Sayang... Kau mau aku yang melepaskan pakaianmu? Atau kau sendiri yang akan melepasnya?" untuk pertama kalinya Zein memberikan penawaran, biasanya tanpa menunggu istrinya membuka pakaian pun, Zein sudah tidak sabar dan langsung membukanya sendiri.


Sesekali Zein ingin sesuatu yang berbeda saat melakukan hubungan intim dengan istrinya.


Rania tersenyum menggoda seraya melepaskan kencing bajunya satu per satu, Zein menatap penuh hasrat pada setiap gerakan tangan Rania yang mulai membuka kancing bagian bawah dada. Dan benar saja, Zein akhirnya tidak sabar menunggu Rania membuka sendiri kancing bajunya, dengan tubuh yang setengah telanjang. Zein tidak perlu melepas pakaian dirinya.


Saat seluruh pakaian istrinya sudah terbuka dan hanya menyisakan celana bagian dalam, Zein langsung mendaratkan bibirnya pada bagian dada Rania, menelusuri setiap kelembutan dan keharuman dari tubuh istrinya, sampai bibirnya berhenti pada bagian menonjol tepat di tengah-tengah dadanya, tanpa menunggu waktu lama, Zein langsung menghisapnya dalam-dalam tanpa ampun.


Ia pikir, saat istrinya sudah melahirkan, tentu bagian itu akan menjadi bagian eksklusif yang hanya bisa di nikmati oleh anaknya nanti. Jadi, Zein benar-benar ingin menikmati area itu dengan puas sambil sesekali menggigitnya hingga membuat desahan bahkan teriakan mesra dari Rania.


Setelah di rasa sudah puas menikmati area itu, Zein kembali menelusuri seluruh bagian tubuh Rania dengan menjulur kan lidahnya. Sampai berhenti pada satu area yang sangat sensitif. Dan di situlah ia mengakhiri penelusurannya lalu menikmati setiap aromanya dengan penuh gairah.


Rania tak kuasa menahan gejolak yg kian merasukinya karena cumbuan suaminya tersebut, hingga pada klimaksnya ia mendesah dengan desahan yang luar biasa hingga membuat Zein semakin merasakan kenikmatan terdalam dan akhirnya terjadilah.


Yang mau berlalu-halu dengan wajah para pemain NYT, bisa liat di IG yah. Jangan lupa Like IG author juga yah. ( @senja3295 ).


Bersambung\=\=\=>


Untuk yang sudah setia membaca cerita NYT, aku ucapkan terimakasih, untuk yang sudah like juga Terimakasih, yang udh sempetin buat komen juga Terimakasih, apa lagi yang udah rela kasih vote, terimakasih banyak pokoknya.


Dan buat yang kasih like tapi gak sempet komen, please tunjukkan bahwa kalian bener-bener baca dan like ceritaku dengan tinggalkan komen kalian, cukup komen NEXT aja, aku udah seneng banget kok. 😊


Jangan lupa dukung author yah. LIKE➡️KOMEN➡️FAVORIT➡️BINTANG LIMA➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 🤗

__ADS_1


Ingat... Ingat... VOTE➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE ➡️VOTE.


Terimakasih. 🙏🏻


__ADS_2