
Sebelum membaca, author mau ingetin kalian untuk selalu dukung author dengan cara:
➡️LIKE ➡️KOMEN ➡️VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL BARUKU BERJUDUL
➡️TERJEBAK CINTA DALAM PENCARIAN.
Terimakasih. 🤗
Setelah membuka celana pendeknya hingga menyisakan bagian dalam saja. Zein perlahan menyusuri tangannya membuka secara perlahan kencing baju istrinya. Rania tampak diam dan gugup.
Dia terlihat begitu bersemangat, bagaimana ini... Aku tidak menyangka bisa melakukannya di sini. Batin Rania gugup.
Zein melemparkan dress putih yang dikenakan Rania di lantai begitu saja dengan tergesa ia melepaskannya dengan penuh hasrat. Ketika Zein sudah melepaskan bajunya hingga menyisakan bagian dalam penutup dada dan bawah saja. Ia mulai mengapit kedua kaki Rania dan membentangkan kakinya di tubuh mungil Rania, ia menelusuri bibirnya menyentuh halus seluruh tubuh Rania, dari ujung perut hingga tepat bagian dadanya.
Rania tampak memejamkan matanya demi menghalau rasa takut dan gugup yang di rasakannya saat itu, kedua tangannya mulai meremas sprei begitu suaminya mulai melepaskan bagian penutup dadanya, sementara itu tangan kanan Zein mulai bergerak membuka penutup bawah Rania hingga akhirnya menelanjangi istrinya.
Sesekali Rania membuka matanya dan melihat ekspresi wajah suaminya yang begitu berhasrat pada tubuhnya saat itu.
Astaga... Tamatlah riwayatku hari ini. Batin Rania pasrah.
Jantungnya berdegup kencang sekaligus merasakan aura berbeda kala itu. Aura hasrat nya yang mulai timbul. Ketika suaminya mulai mendaratkan bibirnya dan menyesap dadanya tanpa ampun. Melumatnya habis.
Rania mulai melepaskan remasan kedua tangannya pada sprei lembut berwarna putih. Perlahan tangannya bergerak melingkar di punggung suaminya dan terhanyut dalam cumbuan suaminya kala itu.
__ADS_1
Seolah hasratnya sudah memuncak. Zein pun kini mulai menindih tubuhnya di atas tubuh Rania, dan mendaratkan kecupan secara bertubi-tubi pada leher Rania hingga meninggalkan jejak merah di seluruh leher istrinya. Lalu berpindah menciumi bibir mungil istrinya, sesekali ia menyusuri bibirnya pada telinga istrinya. Hingga hasratnya semakin memuncak dan melancarkan aksinya pada bagian intim dan sensitif milik istrinya hingga Rania tak kuat menahan segala rasa kala itu, rasa sakit yang mulai menderanya ketika suaminya mulai menyentuh bagian intim hingga akhirnya meninggalkan bercak darah di atas sprei berwarna putih itu. Namun ia begitu menikmati rasa sakit yang nikmat sampai pada puncak kenikmatan terdalam itu hingga membuatnya diam tanpa melawan serangan ganas dari suaminya.
Keduanya begitu menikmati kenikmatan terdalam mereka kala itu. Hingga membuat seluruh tubuh mereka bergidik hanyut dalam kenikmatan.
Di waktu pagi pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Zein melancarkan aksinya yang begitu penuh gairah dan hasrat pada istrinya.
Begitu Selesai melancarkan aksinya hingga membuat istrinya lemas dan tak berdaya di buatnya, Zein kembali mendaratkan bibirnya dengan lembut, mengecup mesra telinga istrinya seraya berbisik. Terima kasih sayang... Atas kenikmatan yang kau beri padaku hari ini. Aku mencintaimu. Dengan napas yang masih tersengal, Zein mengucapkan kalimat itu lalu tersenyum dan membalik tubuhnya, melepaskan cengkeramannya yang tak terkendali pada istrinya kala itu. Zein merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang kala itu menutup tubuhnya dengan selimut dan menampakkan wajahnya yang merona. Perasaan takut bercampur malu serta kenikmatan.
Rania masih memejamkan matanya, namun Zein mencoba menggeser tubuh Rania hingga berada dalam pelukannya.
Kini Rania sudah dalam posisi dekat sekali dengan tubuh suaminya hingga wajahnya berada tepat di wajah suaminya. Namun Rania masih memejamkan wajahnya. Ia tidak bisa menahan rasa malunya di depan suaminya saat itu.
"Sayang... Aku benar-benar menikmatinya." ucap Zein masih dengan napas sedikit tersengal dan melingkarkan tangannya di pinggang Rania.
Namun Rania diam tak menjawabnya. Ia begitu malu untuk sekedar menjawab pertanyaan dari suaminya.
Apa...? Ini saja masih terasa sakit, dia mau melakukannya lagi? Batin Rania lemas.
Namun Rania tetap tidak menjawab pertanyaan suaminya yang ingin mengulang kemesraan itu. Antara bingung karena masih merasakan sakit membawa nikmat, namun di sisi lain ia juga menikmatinya.
"Baiklah, jika kau tak menjawab pertanyaanku. Itu artinya kau setuju dan menyukainya." sambung Zein lagi dengan bersemangat setelah keduanya beristirahat dalam beberapa menit.
Mendengar perkataan suaminya, membuat Rania membuka matanya dengan ekspresi terkejut, belum sempat ia membuka suara. Namun suaminya yang sudah terlanjur merasakan kenikmatan saat mencumbu seluruh tubuhnya, langsung menerkam kembali tubuh Rania dan melancarkan aksinya sama seperti sebelumnya.
Aksi yang di lakukan Zein pada istrinya berlangsung lama selama tiga kali berturut-turut dengan beberapa kali jeda istirahat.
__ADS_1
Setelah puas melancarkan aksinya hingga membuat dirinya dan istrinya lemas tak berdaya dalam cumbuannya. Zein bangun dari tidurnya dan duduk menyandar di punggung kasur lalu meraih air mineral dalam botol yang berada di meja samping ranjang, meneguknya beberapa kali lalu diberikan pada istrinya yang tampak lelah seperti dirinya saat itu. Rania pun meraih botol itu dan meneguknya beberapa kali, terlihat sangat lelah dan kehausan setelah melayani suaminya yang begitu berhasrat kala itu.
Setelah keduanya meneguk air mineral. Rania yang masih sangat lemas kala itu, merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang.
Sementara itu, Zein bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan membersihkannya dari sisa-sisa keringat akibat serangannya yang begitu menggebu pada istrinya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Zein keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Namun Rania tampak masih tiduran di atas ranjang dengan posisi tubuh miring ke kanan dan menghadap jendela kaca yang langsung menampakkan langit kala itu dengan gorden transparan. Tubuhnya masih di balut selimut menutup tubuhnya yang masih telanjang.
Ia masih tidak percaya bisa melakukan malam pertamanya dengan suaminya di tempat itu. Namun bagaimana pun rasa puas dan kenikmatan itu jauh lebih besar dari apapun. Membuatnya tersenyum senyum sendiri sambil menatap jendela kaca yang tertutup gorden transparan.
Melihat Rania yang tampak masih berbaring di atas ranjang, sejujurnya membuat Zein kembali berhasrat atas tubuh istrinya yang baru saja di nikmatinya. Namun ia melirik wajah istrinya yang tampak lelah, membuatnya mengurungkan kembali niatnya, dan melancarkannya di lain waktu.
Sebaiknya aku keluar dulu, jika masih berada di kamar apa lagi melihat tubuhnya yang masih bertelanjang begitu. Aku tidak sanggup menahannya lagi. Batin Zein.
Setelah memakai kaos dan celana pendek, Zein berjalan mendekati Rania yang masih berbaring di atas ranjang.
"Sayang... Aku akan keluar sebentar yah? Sepertinya kau masih lelah, istirahatlah." Kata Zein sambil mengecup kening Rania.
Mendengar perkataan suaminya, Rania yang kehabisan kata-kata karena masih terbayang jelas serangan yang di lakukan suaminya, hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Setidaknya dia ingin istirahat dulu di atas ranjang melemaskan tubuhnya yang lelah.
Melihat anggukan istrinya disertai senyum. Membuat Zein ikut tersenyum. Lalu mengelus rambut Rania dan pergi meninggalkannya.
Baru beberapa langkah sebelum keluar dari kamar itu, Zein memalingkan tubuhnya dan berkata. "Sayang... Jangan lupa kunci pintunya setelah aku keluar...!"
__ADS_1
"Iya." jawab Rania singkat.
💕Bersambung💕